Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 73 Ternyata benar


__ADS_3

AAAAAAAA


Winda berteriak sekuat tenaga, mendengarkan gema suara sendiri, melihat hamparan tanaman padi yang masih menghijau, pemandangan dan suasana seperti ini mengingatkan masa kecil Winda saat berada di kampung dulu.


" Kamu sedang apa ? " tanya Niko yang berdiri tepat di belakang Winda.


" Tes suaraku, bisa nakutin burung apa gak. Ternyata gak ngefek " kata Winda.


" Bukannya kita mau lihat capung, kenapa jadi burung ? " kata Niko berjalan mendahului Winda dengan tangan yang penuh barang bawaan.


Mereka berdua jalan beriringan menuju gubuk kecil yang berada tepat di bagian tengah sawah. Yang membuat Winda terkesima justru bukan pemandangan sawah, tapi justru perlakuan Niko terhadap dirinya.


Sesampainya di gubuk, sebelum duduk, sempat-sempatnya Niko membersihkan dengan tisu yang dibawanya, gak tanggung-tanggung satu pak gede yang dibawa dan mulai lah menata satu per satu bekal dari dalam tasnya. Semua bekal tertata rapi dalam kotak-kotak kecil, yang setiap kotaknya berisi lain-lain makanan.


Ada nasi, ayam goreng, telur dadar, sayur tumis, beberapa buah jeruk, kue bolu kukus, beberapa botol air mineral, teh kemasan dan juga satu termos kecil. Winda tersenyum lebar melihat semua hidangan tersebut, pantasan saja, dirinya dilarang bawa bekal apa pun, ternyata semua sudah dipersiapkan dengan komplit.


" Selamat menikmati " kata Niko mempersilahkan.


" Kak Niko niat betul. Sajiannya lengkap loh ini, beneran piknik ya kita ini ? Semuanya Kak Niko masak sendiri ? " kata Winda.


" Tentu saja, malam aku siapkan, paginya tinggal masak " kata Niko.


Tanpa menunggu lagi, Winda mulai mencicipi hidangan yang ada, pas banget perut juga sudah lapar dan ini sudah lewat dari waktunya jam makan siang. Beberapa saat kemudian nasi, lauk dan sayur sudah ludes, gak tersisa, hanya tinggal kotak-kotaknya saja.


" HEEEKKK...!!! "


Suara sendawa keluar dari mulut Winda, Winda memalingkan wajahnya ke arah lain, sedikit malu karena kelepasan bersendawa dan sementara Niko justru hanya tersenyum.


" Alkhamdulillah, kenyang " Winda tersenyum.


" Syukurlah, kalau kamu suka " kata Niko sambil membereskan kotak-kotak bekas bekal makanan.


Suasana kembali hening, mereka berdua hanya duduk diam, menikmati pemandangan sawah, mau jalan-jalan di pematang sawah, malas juga rasanya, matahari lagi bersinar dengan teriknya dan cukup menyilaukan mata sebenarnya.


Tatapan mata Winda mengarah pada gantungan bunga matahari dari hp Niko, terlihat juga tangan kanan yang terbalut kain slayer dan hal tersebut kembali membuat Winda penasaran ingin tau kebenarannya.


" Eemmm, Kak Niko, boleh tanya ? " Winda memulai pembicaraan.


" Tanya apa ? " kata Niko.


" Gantungan bunga matahari itu ( sambil menunjuk ) Kakak membelinya atau diberi oleh seseorang ? " tanya Winda.


Seketika Niko berbalik menatap Winda, pandangan sedikit terkejut, Niko menatap untuk sesaat kemudian berpaling pura-pura menatap yang lainnya. Terdiam, tidak segera menjawab, nampak ada sedikit rasa gelisah, terlihat dari gerakan tangan Niko. Menunggu itu lah yang Winda lakukan saat ini, menunggu dengan was-was, sambil berharap kalau dugaannya itu benar.


"Kenapa ? Tiba-tiba kamu ingin tau ? " tanya Niko.

__ADS_1


" Ya karena penasaran " kata Winda.


" Baik lah akan aku ceritakan. Gantungan ini adalah pemberian dari orang yang berharga bagiku, dia spesial " kata Niko.


" Spesial ??? " tanya Winda.


" Hem ( mengangguk ). Dia spesial bagiku, walau pun kala itu, dia hanya gadis kecil yang biasa saja, tapi karena baikannya, aku menyukainya dan barang pemberiannya masih aku jaga sampai sekarang " kata Niko lanjut menjelaskan.


" Gadis itu ? Kak Niko tau keberadaannya ? " tanya Winda.


" Tau. Dia sangat dekat denganku, tapi sayangnya dia tidak sadar dengan keberadaan ku. Jadi hanya aku yang memiliki perasaan ini " kata Niko


" Kenapa ? Kenapa tidak sadar ? " tanya Winda.


" Karena dia lupa sama aku dan wajar sih. Kejadian itu kan, sudah lama, wajah orang kan, berubah " kata Niko.


" Tapi Kakak masih mengenalinya ? " kata Winda.


" Sudah aku bilang, karena dia spesial " kata Niko.


" Bagaimana kalau gadis itu ingat Kakak ? Apa yang akan Kakak lakukan ? " tanya Winda.


Mereka berdua kembali diam, saling menatap dengan pikiran mereka masing-masing. Niko mengambil napas panjang sambil menegakkan posisi punggungnya, mengarahkan pandangan ke depan untuk sesaat, nampak ragu untuk memberikan jawabannya.


Winda menunjukkan sebuah foto yang seketika membuat mata Niko melebar, terbuka sempurna, keduanya kembali saling memandang, Niko dengan tampang terkejutnya dan sementara Winda tersenyum kecil.


" Kalau ingatanku benar. Orang itu adalah Kak Niko dan berarti gadis kecil itu adalah aku. Apakah aku benar ? " kata Winda.


" Sejak kapan ? " tanya Niko.


" Jadi benar ??? Sungguh Kak ?? Beneran ? " tanya Winda.


Niko menganggukkan kepalanya dengan berlahan, Winda terdiam sesaat karena ternyata semuanya benar, sesuai dengan yang dirinya ingat, saling memandang dan saling tersenyum. Terutama Winda yang tak bisa menahan untuk tidak tertawa.


Winda pun menceritakan dari siapa dirinya dapat foto lama Niko, karena foto itu, dirinya mulai merasa terusik, penasaran, mencari tau dan ingatan-ingatan lama mulai kembali terlintas dalam kepala. Seketika Niko bergumam mengumpat, saat nama Rey disebutkan.


Flash back on


Pada hari Winda mulai mendapatkan ingatannya tentang Niko, malam harinya Winda segera menelpon Rey, karena dalam pikiran Winda pasti Rey juga tau dikarenakan mereka berdua sudah berteman lama dan satu SMP bareng.


Percakapan dalam telepon


Winda : Kak, tolong kirim foto Kak Niko yang waktu itu.


Rey : Kenapa ? Niko ganteng ??

__ADS_1


Winda : Mau memastikan sesuatu, ingatanku ini benar apa gak.


Rey : Ingatan ? Kamu ingat apa ?


Winda : Sepertinya aku pernah ketemu sebelumnya dengan Kak Niko, jaketnya, luka lebam, penampilannya, mirip banget.


Rey : Mirip dengan siapa ?


Winda : Dengan seseorang yang aku temui waktu kecil, mirip banget dengan Kak Niko yang difoto itu, tapi aku masih ragu, itu beneran Kak Niko atau bukan.


Rey : Coba kamu tanyakan ? Bisa saja benar, itu dia.


Winda : Ya, makanya kirim kan, aku mau pastikan dulu. Kirim kan ya...!!! Bye Kak Rey.


Winda mematikan panggilan telepon dan tak lama kemudian ada pesan masuk, kiriman foto dari Rey. Winda membuka pesan tersebut, mulai mengamati foto tersebut baik-baik, memperhatikan setiap detail di dalam foto, untuk memastikan dugaan Winda.


Flash back off


Kembali pada Niko dan Winda yang duduk berdampingan sambil menikmati pemandangan sawah, angin sepoi-sepoi berhembus, walau terasa sedikit panas tapi cukup bikin nyaman dan betah untuk duduk berlama-lama.


" S*alan, Rey benar-benar tidak bisa jaga rahasia " umpat Niko.


" Ya bagus lah, dengan begitu ingatanku kembali, kalau gak ? Mau sampai kapan, Kak Niko diam ? Ada hikmahnya juga waktu itu Kak Niko sakit. Iya kan ??? " kata Winda.


" Tentang itu. Terima kasih karena waktu itu, kamu sudah merawatku, membelikan makanan dan juga obat. Bodohnya aku, malah mengira Amara yang merawatku waktu itu. Rey yang menjelaskan semuanya " kata Niko.


" Kakak tau. Waktu itu aku cukup sakit hati loh, perbuatanku diklaim orang lain ? Sudah dibela-belain, pagi-pagi antri beli bubur, pas antar, cewek yang buka kan pintu, mana gak bilang makasih, main tutup pintu gitu saja. Tapi aku, akui sih, Amara cantik, bangun tidur saja kelihatan cantik apa lagi kalau sudah dandan " kata Winda malah curhat dong.


" Amara bukan pacarku loh " kata Niko buru-buru memberitahukan.


" Aku tau. Kak Rey sudah kasih tau aku " kata Winda.


" Dari dulu yang aku suka itu kamu Wiwin. Aku menyukaimu dari awal kita bertemu, dari pertemuan kita, aku terus menyukaimu hingga saat ini, aku masih menyukaimu " kata Niko.


Winda terdiam, keduanya diam saling menatap, suasana kembali hening. Mendapat pernyataan cinta dari Niko !!!


.


.


.


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2