
Pagi-pagi sekali Winda sudah datang ke sekolah, ia buru-buru segera masuk ke dalam kelas, memeriksa laci meja. Winda bernapas lega saat menemukan buku yang dicarinya.
" Alhamdulillah... ketemu juga. Harus cepat dikerjakan ini " ucap Winda.
Winda segera duduk dan mulai fokus mengerjakan PR Matematika, karena buku catatan yang ketinggalan di laci meja sekolah, semalam Winda kesulitan mengerjakan PR.
" Kamu baru ngerjain PR Win...??? " Nirmala tiba-tiba berdiri di samping Winda.
" Astaghfirullah al adhim...!!! " Winda benar-benar kaget.
" MALA...!!! NGAGETIN...!!! " sambung Winda.
Nirmala tertawa kecil.
" Lagian serius betul, sampai gak dengar aku datang. Baru kerjakan PR ? " tanya Nirmala.
" Iya nih, buku catatan ku ketinggalan di laci meja sekolah. Jadi... baru ngerjakan " jawab Winda.
" Sudah selesai semua ? " tanya Nirmala.
" Boro-boro, separuh saja belum. Apalagi nomor 4 nih, susah betul. Dari tadi aku hitung-hitung kok, gak ketemu jawabannya " kata Winda.
" Coba lihat..." kata Nirmala.
Nirmala melihat buku Winda, baru sebentar Nirmala langsung sadar dimana letak kesalahan Winda.
" Kamu salah rumus. Rumus itu harusnya kamu pakai untuk nomor 6 bukan nomor 4 " Nirmala memberitahu.
" Seriusan ? ( tidak percaya ). Pantesan dari tadi kok malah muter-muter gak jelas. Begini nih kalau stu.... " kata Winda.
" Sudah lihat buku catatan, masa salah Win ?" ledek Nirmala.
" Dari dulu aku memang payah, kalau pelajaran matematika. Serasa lihat jaring laba-laba di mataku " kata Winda.
" Bisa ya, berubah jaring laba-laba ? Kerjain sama-sama yuk...!!! Aku juga belum selesai, aku lihat buku catatanmu cukup lengkap " kata Nirmala.
" Boleh. Kepalaku sudah mulai pening ini " kata Winda.
Winda dan Nirmala pun kerja sama menyelesaikan PR matematika. Teman-teman yang lain pun, satu-satu mulai berdatangan.
" Nah... itu Echa datang. Cha...SINI CEPAT...!!!" Nirmala memanggil.
" APA...??? " jawab Echa sedikit jutek.
" PR matematika sudah selesai semua ? " tanya Nirmala.
" Ada yang belum selesai, satu nomor. Susah, jawabannya gak ketemu " kata Echa.
" Nomor delapan ? " Nirmala menebak.
" Kok tau ? " jawab Echa.
" Kayaknya nomor delapan memang susah deh. Ini kita juga lagi mengerjakan nomor delapan, tapi... gak dapat-dapat " kata Winda.
" Kalau begitu, ayo kita selesaikan bareng-bareng, pasti kalau rame-rame bisa dapat jawabannya " kata Echa.
Echa menarik kursi mendekat ke arah Winda dan Nirmala. Mereka bertiga pun mulai fokus dengan buku matematika dihadapan mereka.
Beberapa saat kemudian, akhirnya dengan bekerja sama PR matematika selesai juga. Winda tersenyum bangga lihat buku tugasnya.
" Kenapa kamu Win ? Senang betul kelihatannya ? " tanya Nirmala.
" Baru kali ini tugas matematika ku selesai semua aku kerjakan. Selama ini selalu ada yang bolong. Makasih ya Mala... Echa... " kata Winda.
" Padahal buku catatan mu cukup komplit " kata Echa.
" Biar komplit kalau akunya yang stu. Tadi saja aku salah pakai rumus, untung di kasih tau Mala " kata Winda.
" Bisanya...??? " Echa tidak percaya.
" Beneran, gak bohong...!!! " Winda serius.
" Hemmm... kalau aku perhatikan... kalian berdua ini...." kata Echa.
" Kami kenapa ? " tanya Winda.
__ADS_1
" Wajah kalian... mirip...!!! " kata Echa.
" Yang benar...??? " tanya Nirmala.
" Iya beneran. Kalau Winda pakai jilbab, akan beneran mirip banget " kata Echa.
" Pandangan matamu mulai kabur kayaknya. Kebanyakan lihat rumus matematika sih..." kata Winda tidak percaya.
" Ehh... beneran...!!! Mungkin kalian masih ada hubungan keluarga, makanya wajah kalian mirip " kata Echa.
" Hubungan keluarga dari mana ? Ngaco aja !!!" kata Winda.
" Itu ada Vera, minta pendapat dia coba. VERA...!!! " kata Echa.
Vera yang baru datang, menghampiri Echa.
" Apaan ? " tanya Vera.
" Coba perhatikan baik-baik, mukanya Mala dengan Winda " kata Echa.
" Hemmm...." Vera mengamati wajah Nirmala dan Winda.
" Mereka berdua rada mirip kan ? " kata Echa.
" Iya juga ya, wajah kalian sedikit mirip " kata Vera.
" Tuhh kan... bener. Kalian berdua itu mirip " kata Echa.
" Jangan sem.... " kata Winda.
" Ada apa ? Tumben kalian kumpul di mejaku ? " tanya Nansi yang sudah datang.
" Nah... coba minta pendapat Nansi " kata Echa.
" Pen...dapat apa ya ? " Nansi bingung.
" Coba lihat Nirmala dan Winda, mereka berdua mirip gak ? " kata Vera.
" Hemm... menurutku... sedikit mirip dibagian mata dan hidung. Bisa jadi karena wajah mereka yang kecil " kata Nansi.
" Perhatikan baik-baik dech...!!! " kata Vera.
" Sudah deh... jangan dibahas, kasihan Mala kalau dibilang mirip aku " kata Winda.
" Kenapa ? " tanya Echa.
" Nihh lihat baik-baik..." kata Winda.
Winda menyandingkan tangannya di sebelah tangan Nirmala dan terlihat sangat jelas perbedaannya.
" Sudah lihat kan ? Tidak perlu dijelaskan ? Iya kan Mala ? " kata Winda mengarah ke Nirmala.
" Kata orang, kita itu memiliki 7 kembaran. Anggap saja kita sudah menemukan satu kembaran " kata Nirmala tersenyum.
" Jangan bilang...??? " kata Winda menatap Nirmala.
" Mungkin saja kita memang ada hubungan keluarga " kata Nirmala.
" Kembar tapi tak sedarah " kata Echa.
" Hemm... iya lah terserah kalian saja " Winda mengalah.
" Eh... nyontek PR matematika dong, aku belum selesai " Vera mengalihkan pembicaraan.
Echa, Nirmala dan Winda saling menatap, seolah-olah sedang bicara batin lewat telepati.
" Berapa nomor ? " tanya Echa.
" Ada sekitar enam nomor " jawab Vera.
" BUSET...!!! SEPARUH LEBIH ITU. ENAK SAJA...!!! GAK BOLEH...!!! " Echa menolak dengan tegas.
" Ayolah...!!! " Vera membujuk.
" Gak akan. Kita bertiga ini, sampai kerja sama untuk menyelesaikannya dan kamu dengan enteng mau nyontek. Enak betul...!!!" Nirmala sepakat dengan Echa.
__ADS_1
" Iya benar. Aku berusaha keras menyelesaikan PR matematika, kamu tinggal mau salin. Gak boleh... " kata Winda.
" Huuu... pelit....!!! " kata Vera.
" Biar saja...!!! " Echa kembali ke mejanya.
" Kamu baru kerjakan ??? " tanya Nansi pada Winda.
" Iya. Buku catatan ku ketinggalan, sengaja datang pagi-pagi untuk mengerjakan PR. Lalu Mala datang membantuku " Winda menjelaskan.
" Kalau aku nyontek, boleh gak ? " tanya Nansi.
" Semuanya ? " Winda menatap tajam.
" Cuma nomor delapan. Susah jawabannya gak ketemu " kata Nansi.
" Boleh. Tapi... aku ajari caranya. Aku tidak mau kamu nyontek, main salin saja, nanti... pas ditanya pak guru, kamu gak bisa jawab lagi, kan gak lucu " kata Winda.
" Iya. Yang penting bisa selesai " kata Nansi.
Saat Winda menjelaskan kepada Nansi.
" Wahh... curang nih. Nansi kamu kasih lihat, tapi aku gak, mentang-mentang kalian berdua..." Vera protes.
" MANA ADA...??? Ini aku jelasin ke Nansi, caranya bagaimana, bukan nyontek main salin saja " bantah Winda.
" Sama saja kelihatannya " Vera masih tidak terima.
" Ya beda dong. Nansi cuma nomor delapan saja tidak sebanyak dirimu " kata Winda.
" Kalau mau sini, kita kerjakan bareng-bareng tapi cuma nomor delapan saja. Gimana...??? Mau gak...??? " Nansi menawarkan pilihan.
" Vera mana mau...!!! Maunya Vera kan, tinggal salin doang. Gak usah repot-repot mikir, mau enaknya...!!! " ledek Winda.
" Jahat betul mulut mu Winda " kata Vera.
" Jadi... mau gak ? " Nansi bertanya sekali lagi.
" Iya deh... ayo kerjakan " Vera setuju.
" Kamu kerjakan sesuai yang aku jelaskan. Lalu jelaskan lagi pada Vera, supaya kamu lebih paham " kata Winda.
" OK " kata Nansi.
Winda membuka tas dan mengeluarkan sebungkus roti, Winda berangkat buru-buru jadi tidak sempat sarapan dari rumah.
" Kalian mau...? " Winda menawarkan pada Nansi dan Vera.
" Kamu saja yang makan " kata Nansi.
" Mau Ver...? " Winda mengarahkan pada Vera.
" Tidak, makasih. Kamu belum sarapan ya ? " kata Vera.
" Begitulah. Tadi ku datang pagi-pagi sekali, buku catatan ku ketinggalan, makanya PR matematika ku baru selesai. Itu pun setelah dapat bantuan dari Nirmala dan Echa " Winda menjelaskan.
" Sekarang paham kan ? Kenapa tidak boleh main salin saja ? " kata Nansi.
" Helleh... kamu sendiri, juga sering nyontek Winda " sindir Vera.
" Nyontek itu jangan asal main contek salin saja. Dipahami caranya, selama ini Nansi tidak pernah main salin tugasku, pasti aku jelaskan dahulu. Jadi... jangan asal main tuduh saja. MENGERTI...!!! " kata Winda menjelaskan pada Vera.
" Iya maaf...!!! " Vera meminta maaf.
.
.
.
( bersambung )
**Maaf jika cerita saya ini terkesan biasa saja, cerita Pelangi Diwarna abu-abu ini memang menceritakan kehidupan Winda dan teman-temannya. Ceritanya bertahap teman-teman jadi jangan bosan membaca.
Mohon dukungannya teman-teman, silahkan tinggalkan like dan komen, terima kasih 🙏🤗**
__ADS_1