Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 19 Edisi cuci piring


__ADS_3

Hari ini di sekolah kegiatan belajar mengajar diliburkan, tapi bukan berarti semua murid dipulangkan. Melainkan diganti dengan acara bersih-bersih.


HAH...??? BERSIH-BERSIH...???


Bersih-bersih kali ini spesial karena sekolah habis menerima catering makanan untuk sebuah acara pesta nikahan.


Tentu saja bersih-bersih kali ini para murid membersihkan panci, wajan, baskom, sendok, piring dan lain sebagainya yang berkaitan peralatan dapur.


Winda menghela napas panjang saat melihat tumpukan panci yang ada dihadapannya. Begitu juga dengan Nansi, Vera dan Shanti yang menjadi tim satu kelompok dengan Winda.


" Semua ini harus kita cuci ? " kata Vera mengeluh duluan.


" Siap-siap keriput tangan " kata Shanti.


" Sudahlah, ayo cepat kerjakan. Dilihati terus, gak bakalan bersih sendiri " kata Winda mulai bergerak.


Tanpa diarahkan lagi mereka pun segera bergerak, ada yang menyiapkan air, menggosok dengan sabun, membilas dan menyusun yang sudah selesai di bersihkan.


Saat pekerjaan hampir selesai.


" Haduchh. Tanganku sampai keriput. Dari tadi kena air terus " kata Shanti mengeluh.


" Pinggangku serasa mau copot " kata Nansi.


" Berdiri sebentar, renggangkan badan, capek juga " kata Winda.


" Anak Boga dapat duitnya, kita yang ketiban bersih-bersihnya. Benar-benar deh " kata Vera.


" Kemana lagi ini anak-anak Boga, gak kelihatan batang hidungnya satu pun. Harusnya mereka ikut bersih-bersih kan, ini malah gak ada " Shanti mulai menggerutu.


" Entahlah. Sibuk di dapur, lagi masak kayaknya " kata Winda.


" Mungkin habis ini kita makan-makan " kata Vera.


" Bisa jadi " kata Winda.


" Semoga saja. Gantian Win, kamu yang gosok. Pinggangku sakit dari tadi bungkuk terus " kata Nansi.


" Kamu ini masih muda, punya penyakit pinggang. Mirip simbahku di kampung " Winda meledek.


" Kamu gak lihat itu, sudah berapa banyak panci yang aku gosok " kata Nansi menunjuk tumpukan panci bersih.


" Iya iya aku tau. Baiklah kita gantian. Lagi pula tinggal ini sajakan ? kata Winda.


" Sepertinya tidak " kata Vera sambil menunjuk ke arah Nevan.


Nevan datang dengan setumpuk panci kotor.


" Nih...!!! Cuci yang bersih ya " Nevan meletakkan setumpuk panci kotor di dekat Winda.


" WOOOIII...!!! Kenapa diantar ke kita ? Antar sana ke teman jurusan mu. Gak lihat apa, ini saja belum selesai " kata Nansi protes.


" Iya nih. Antar sana ke yang lainnya " kata Shanti.


" Aku cuma di suruh antar ke sini, kalau mau protes, sana sama Ibu guru. Sabun yang bersih, masih berminyak tuh " kata Nevan sengaja meledek.


" Benar-benar itu anak nambahin pekerjaan saja " Shanti kesal.


" Sabar Shanti, dia juga cuma di suruh " kata Winda.


" Sepertinya yang lain juga kena tambah juga deh " kata Vera.


" Sudahlah. Ayo selesaikan, biar cepat istirahatkan " kata Winda.


" Semangat, selesai, kita istirahat " Nansi menyemangati.


" Benar, semoga gak ditambahi lagi " Winda tersenyum.


Menarik napas panjang dan mulai melanjutkan lagi. Mereka pun kembali fokus membersihkan dan beberapa saat kemudian akhirnya semua selesai dicuci bersih.


" Alhamdulillah selesai " ucap Shanti.


" Kita antar dulu panci-panci ini ke dapur Boga, kalian bereskan sisanya " kata Winda.


" Sini aku bantu mengangkat " kata Nansi.


" Aku dan Vera bereskan sisanya " kata Shanti.

__ADS_1


Winda dan Nansi pun membawa panci-panci bersih menuju dapur, sesampainya di dapur justru disuruh bantu susun kembali di rak gudang penyimpanan peralatan.


Iyakan sajalah perintah dari guru.


" Aku saja yang susun, kamu kembali ke Shanti dan Vera. Bantuin mereka, kasihan " kata Winda.


" Yakin ? " tanya Nansi.


" Iya gak apa-apa, ada anak Boga juga " kata Winda.


" OK. Aku tinggal ya " kata Nansi.


Saat Winda sedang menyusun peralatan di rak, ia pun dikejutkan seseorang yang menyapanya.


" Winda " Niko menyapa.


" Eh... kak Niko " kata Winda.


" Kok kamu masih di sini ? Teman-teman mu yang lain sudah pada antri ambil makanan di luar " kata Niko.


" Nanti nyusul kak, sebentar lagi selesai, dikit lagi " kata Winda.


" Ini tugas anak Boga, kenapa jadi kamu ? " kata Niko.


" Di suruh bantuin sama guru " kata Winda.


" Sini, aku bantuin biar cepat selesai " kata Niko ikut membantu.


" Boleh kak, pas banget bagian atas gak sampai " kata Winda.


" Kamu suka sekolah di sini ? " tanya Niko.


" Suka. Kegiatan bersih-bersih panci kan, gak ada di sekolah lain. Cuma sekolah kita yang ada " kata Winda tersenyum.


" Begitu ? " kata Niko.


" He'eh. Kesannya jadi unik " kata Winda.


" Iya sih sekolah kita memang unik. Sudah selesai. Sana kamu ikut antri ambil makanan" kata Niko.


" Baik kak dan terima kasih sudah membantu" kata Winda.


" Shan, mau...." kata Winda.


Shanti berjalan melewati Winda begitu saja.


{ Lah ? Itu anak kenapa ? } batin Winda.


Winda pun segera pergi menemui Nansi dan Vera yang sudah mulai makan duluan.


" Tadi, aku ketemu Shanti, dia kenapa ? " tanya Winda.


" Buru-buru ke toilet, dia mau muntah " kata Vera.


" Muntah ? ( lirih ) Salah makan ? " Winda bertanya lagi.


Nansi berdiri dan membisikkan sesuatu pada Winda.


" Gak mungkin. Pasti ada yang ngerjain ini " kata Winda tidak percaya.


" Sialnya, Shanti percaya " kata Nansi.


Antrian mulai berkurang, Winda mengambil makanan dengan santai dan saat hendak mengambil sup kacang merah.


" Winda, kamu gak boleh makan sayur itu " kata Jevi tiba-tiba melarang Winda.


" Kenapa gak boleh ? " tanya Winda.


" Agama mu kan, melarangnya. Kamu ambil makanan yang lain saja " kata Jevi.


" Ooohhh.... jadi... kamu pelakunya...!!! Mau bilang kalau sayur ini pakai tulangan B2, iya ?" kata Winda.


" Beneran tau, aku gak bohong " Jevi masih kekeh..


" Mana ada...!!! Gak mungkin lah, mau dimakan sama-sama trus pakai B2 " kata Winda.


" Salah orang nih aku " kata Jevi malu sendiri.

__ADS_1


" Sini piringmu, aku ambilkan " kata Winda.


Winda mengambil potongan tulang yang cukup besar dan meletakkan di piring Jevi, bukan hanya satu tetapi tiga potong tulang sekaligus.


" Ini yang kamu incar kan ? " kata Winda.


Jevi pun tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.


" Sudah aku duga " kata Winda.


" Terima kasih ya, aku mau makan dulu. Bye Winda " kata Jevi, ia pun pergi dengan gembira.


" Dasar kelakuan, sampai segitunya " gumam Winda.


Saat Winda hendak mengambil sayur kembali.


" Winda, kamu gak boleh makan sayur itu " Nevan datang melarang Winda.


" Hemmm datang pengganggu lagi " kata Winda.


" Agama mu kan, melarangnya. Jadi kamu gak boleh makan " kata Nevan.


" Hemmm, trik yang sama dengan Jevi " kata Winda.


" Jevi...??? " tanya Nevan.


" Iya, Jevi. Kalau kamu mengincar potongan tulang, dirimu telat. Tuhh sudah diambil Jevi duluan " kata Winda.


" Waahhh, Jevi curang, makan sendirian. Gak bisa dibiarin ini " kata Nevan kesal.


" Jevi berjalan ke arah sana ( sambil menunjuk ), kamu susul saja belum lama kok" kata Winda.


" Terima kasih Winda " kata Nevan segera pergi menyusul Jevi.


" Dasar...!!! Ribut-ribut lah kalian cuma gara-gara potongan tulang " kata Winda.


Winda pun segera mengambil sayur dan rejeki nomplok dapat potongan daging yang cukup besar, Winda pun tersenyum lebar.


{ Benar-benar rejeki } batin Winda.


Selesai mengambil, Winda kembali berkumpul dengan Nansi dan Vera, nampak Shanti sudah kembali dengan wajah yang nampak pucat.


" Kamu ambil sayur itu Win ? " kata Shanti saat melihat sayur di piring Winda.


" Iya. Lihat aku dapat potongan daging cukup besar kan " kata Winda menunjukkan dengan bangga.


" Kita gak boleh makan itu, haram tau gak ! " kata Shanti.


" Mana ada. Dirimu kena tipu. Percaya saja " kata Winda.


" Masa sih ? " Shanti tidak percaya.


" Nevan atau Jevi yang menghampiri kamu ?" tanya Winda.


" Nevan " kata Shanti.


" Dia itu mengincar potongan tulang. Lagian nih Shan, gak mungkin sekolah bakalan menyediakan B2 kalau untuk dimakan sama-sama. Guru Boga kan, juga ada yang Islam " kata Winda.


" Benar yang Winda bilang, secara logika itu gak mungkin " kata Vera.


" Tapi geli aja, tiba-tiba dengar pas lagi makan" kata Shanti.


" Lanjutin tuh makannya. Mubazir makanan dibuang-buang, menangis nanti nasinya " kata Winda.


" Nasi menangis ? " tanya Nansi.


" He'eh. Begitu Ibuku bilang kalau menyisakan nasi " kata Winda.


.


.


.


( bersambung )


Catatan : B2 adalah istilah yang sering digunakannya untuk menyebutkan babi.

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, jangan lupa beri dukungan teman-teman dengan like dan komen 🙏🤗


__ADS_2