
Dengan langkah penuh semangat, Rey berjalan menghampiri Niko, dirinya sudah tidak sabar ingin menunjukkan rekaman vidio yang didapatnya tadi di dekat lapangan. Rey benar-benar penasaran, bagaimana reaksi Niko saat melihat vidio tersebut, pasti bakalan gak percaya.
" Woi, Nik. Aku dapat vidio keren, dijamin pasti kamu bakalan kaget lihatnya " kata Rey saat menemui Niko.
" Cewek lagi itu " ledek Juan.
" YOI, tapi yang ini berbeda. Nih... lihat dulu " kata Rey.
Rey menyodorkan hp nya dan memutar vidio, seketika mata Niko dan Juan terbelalak melihat rekaman vidio tersebut, sungguh tidak dapat dipercaya, apa iya itu dia ? Rey tersenyum puas, sesuai ekspektasinya melihat wajah Niko yang benar-benar terkejut.
" Kalian gak percaya kan ? " kata Rey.
" Yakin itu Winda ? " kata Juan masih mempertanyakan.
" Gimana menurut kalian ? keren kan " tanya Juan.
" Benar-benar sisi lain dari Winda ini " kata Juan.
Sementara Niko hanya diam tidak berkomentar apa pun, dirinya justru asyik menikmati vidio tersebut, melihat wajah Winda yang sangat imut bahkan saat membuat wajah yang meledek sekali pun. Kalau orang lagi kasmaran, memang begitu apa pun itu tetap aja indah di matanya.
Tanpa bilang terlebih dahulu sama Rey sebagai pemilik hp, tangan Niko sudah bergerak, mengirimkan vidio tersebut ke hp pribadinya. Setelah berhasil terkirim, Niko lagi-lagi tanpa izin menghapus vidio tersebut dari hp Rey. Tanpa rasa bersalah Niko mengembalikan hp pada pemiliknya.
Rey mengecek hp nya, langsung kesal sendiri, mendapati vidionya sudah dihapus, Rey menatap tajam ke arah Niko, namun Niko pura-pura gak melihat Rey dan bersikap santai. Yang dilakukannya itu sudah benar, jadi buat apa merasa bersalah, apalagi harus minta maaf, ya ngapain, kan gak buat salah.
*
Saat sedang berbicara dengan Karin, pandangan Noel tidak sengaja mengarah pada Winda yang berada di kejauhan dari tempatnya berdiri, namun demikian tatapan mereka saling bertemu, saling melihat satu sama lainnya dari jarak jauh.
Terlihat sangat jelas tatapan Winda begitu tajam, tidak suka dan kejadian selanjutnya benar-benar membuat Noel kaget. Melihat Winda yang menendang bola, tendangan cukup kuat, sampai membuat bolanya melesat jauh dari tempat semula.
Ditambah lagi, mendengar kata-kata Winda yang menunjukkan kekesalannya, lalu membuat wajah yang meledek. Itu benar-benar pemandangan baru dari seorang Winda. Noel tersenyum, melihat tingkah Winda tersebut.
{ Apa dia cemburu ya ? } batin Noel.
Noel memutuskan untuk mengikuti Winda, saat Winda berbalik dan pergi sendiri, terpisah dengan kedua temannya. Noel berhenti sejenak kala Winda memasuki toilet, memperhatikan sekeliling, melihat kanan kiri aman dan beberapa saat kemudian Noel memutuskan ikut masuk ke dalam toilet.
Membuka pintu toilet dengan pelan-pelan, kemudian masuk dengan langkah tak bersuara, mata Noel kembali mendapati pemandangan yang langka. Untuk pertama kalinya Noel melihat pundak Winda, melihat dirinya hanya mengenakan baju minim, yang melekat sempurna, menempel di badan.
__ADS_1
Sebagai cowok yang normal, wajar kalau jiwa lelaki mulai bangkit, kaki mulai melangkah mendekati, pandangan mata terus lurus ke depan, menahan dan menelan air liurnya. Belum benar-benar dekat, pandangan mata keduanya saling bertemu.
Bola mata Winda terlihat bulat sempurna, terdiam beberapa detik saling memandang, menutupi badan dengan baju, segera membalikkan badan dan cepat memakai bajunya kembali. Winda berbalik menatap ke arah Noel, dengan sudah berpakaian lengkap.
" Kakak salah masuk toilet " Winda memulai pembicaraan.
" Enggak. Aku gak salah masuk. Aku memang ingin masuk ke sini. Melihat mu dan... aku mendapat pemandangan yang... cukup bagus" kata Noel malah senang dong.
" Sudah saling lihat kan. Sekarang aku mau keluar " Winda bersikap senatural yang dia bisa buat.
Winda berjalan melewati Noel begitu saja, namun sebelum dirinya membuka pintu, tangan Noel sudah lebih dulu menahan pintu tersebut. Winda menghembuskan napas, menenangkan diri, jangan sampai terbawa perasaan, harus tenang, tetap tenang.
" Lepas...!!! Aku mau keluar " kata Winda tegas.
" Apa kamu marah ? Karena aku dekat dengan cewek lain ? " Noel berbicara berbisik di telinga Winda.
" Enggak tuh, punya hak apa ? sampai aku marah ? " kata Winda.
" Lalu kenapa menghindar ? " kata Noel.
Winda menghembuskan napas dengan kasar, melepaskan gagang pintu dan berbalik menatap lurus ke arah Noel. Dirinya menjadi kesal sudah dituduh marah dan menghindar, gak sadar diri siapa yang mulai duluan.
" Kalau begitu, kamu cemburu ? " kata Noel.
" Enggak sama sekali. Kalau Kakak percaya dengan rumor yang beredar, silahkan, itu hak Kakak, tapi setidaknya, Kakak bisa bertanya ke aku, mendengar dulu versi dari aku itu bagaimana, tidak langsung main telan bulat-bulat begitu saja " Winda menumpahkan kekesalannya.
" Kamu berfikir aku percaya rumor murahan seperti itu ? " kata Noel.
Winda mulai berfikir, jadi Noel tidak terhasut ? Lalu sikapnya itu ? Noel menundukkan wajahnya, kini wajah mereka berdua sejajar, sangat dekat dan bahkan hembusan napas sampai terasa.
" Aku tidak termakan trik murahan seperti itu, aku mempunyai cara sendiri untuk menyelesaikannya dan masih proses " kata Noel.
" Jadi... Kakak...??? " Winda terbata.
Noel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Winda membalas tersenyum dan seketika memeluk Noel, dirinya begitu senang, bertambah lagi orang yang mempercayai dirinya.
" Terima kasih Kak Noel " kata Winda.
__ADS_1
Noel pun membalas pelukkan Winda, satu tangan di punggung dan satu tangan di kepala Winda, sambil sesekali mengusap-usap. Senang, sudah pasti senang, ini kali pertamanya Winda memeluk dirinya terlebih dahulu.
" Kak...!!! Tolong lepas, mulai sesak " kata Winda kala merasakan pelukkan Noel sangat erat.
" Aku tidak mau " Noel justru mengeratkan pelukannya.
Sayangnya waktu tidak mendukung keinginan Noel tersebut, karena sayup-sayup terdengar suara bel masuk, tanda waktu istirahat sudah berakhir. Dengan kesal dan terpaksa Noel melepaskan pelukannya, yang disambut gelak tawa kecil oleh Winda.
Pelukkan Noel terlepas, secepat kilat Winda segera membuka pintu dan berlari keluar meninggalkan Noel begitu saja. Winda sengaja melakukannya karena pasti Noel akan melakukan sesuatu yang tak terduga lagi.
Noel menyusul keluar, menatap kepergian Winda yang sudah melesat menjauh duluan. No tersenyum, menggaruk keningnya yang tak terasa gatal sama sekali.
*
Sesampainya di dalam kelas, Winda langsung duduk di bangkunya, napasnya masih terengah-engah karena efek berlari tadi. Beruntung bisa masuk sebelum guru datang, pandangan Winda tak sengaja melihat ke arah Karin yang seolah-olah sengaja meledek dirinya.
Flash back on
Memang benar, tadi waktu di lapangan, Winda melihat Karin yang berbicara begitu akrab dengan Noel, dirinya memang marah, karena berfikir, pasti Karin mulai mengarang cerita lagi untuk menjatuhkan dirinya dihadapan Noel.
Pas banget dihadapannya sekarang ini ada bola nyasar, untuk melepaskan emosinya, Winda menendang sekuat tenaga, bola tersebut sampai melesat begitu jauh.
Sudah kesal malah nambah perkara baru, kena sasaran amarah jadinya kan ? Nevan dan kawan-kawannya nampak kesal, menggerutu dengan bola yang melesat jauh, tidak puas hati, Winda menambah meledek mereka semua.
Flash back off
Saat ini di kelas, Winda kembali berfikir, tadi itu dirinya memang marah lihat Karin dan Noel berduaan, ini bisa dibilang cemburu gak sih ? Kalau Winda marah wajar juga dong, masa Noel bisa bertanya, bicara ke Karin, tapi dirinya dicuekin begitu saja ? Gak adil dong ? Harusnya ditanyain dua-duanya.
Winda pun kembali tersadar, tadi dirinya kenapa gak tanya, apa saja yang mereka berdua bicarakan ? Winda memukul keningnya sendiri, menggerutu dalam hati, meratapi kebodohannya yang tidak bertanya pada Noel.
{ B*go betul, harusnya tadi tanya } batin Winda.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗