
Habis hujan makan makanan yang panas memang yang paling cocok, walau pun hanya di pinggir jalan, tetap saja enak. Winda dan Reza makan pentol rebus di pinggir jalan, seperti biasanya sepiring berdua, beli bersama dan juga makan bersama.
" Za, Lovely beneran gak marah sama aku kan ? " tanya Winda.
" Enggak. Tenang saja. Lagian sekarang ini, dia tau kalau kita lagi makan bareng " kata Reza.
" Haaiiss, pakai laporan lagi. Emm... itu kok mirip...??? " kata Winda.
Pandangan mata Winda, tiba-tiba tertuju pada dua orang yang dikenalnya, mengamati dari kejauhan, sambil bertanya-tanya, sejak kapan mereka saling kenal ? Berfikir ? Jangan Bilang ??
" Za, kamu di sini dulu ya " Winda berpamitan.
" Mau kemana ? " tanya Reza.
" Mas Widi, sama cewek, itu bukan Amel " kata Winda sambil bergegas untuk pergi.
" Hemmm, mulai deh isengnya itu anak " kata Reza.
Reza memilih menunggu sambil makan, dirinya malas ikut campur urusan kakak beradik tersebut. Winda berjalan pelan-pelan, setengah mengendap-endap supaya tak ketahuan, bersembunyi di balik pohon, hendak mendengarkan percakapan mereka, namun sial, malah sudah pergi dan hanya tinggal Widi seorang yang senyum-senyum sendirian.
Entah apa yang mereka bicarakan, tampak Widi senyum-senyum bahagia, yang menimbulkan penasaran yang lebih lagi di hati Winda, melihat pohon, mendongakkan kepala ke atas dan tersenyum dengan liciknya.
Melihat Widi masih berdiri tegap di tempatnya, Winda memberi kode orang-orang di sekitar Widi untuk menjauh dari bawah pohon, mengambil posisi ancang-ancang dan kemudian.
BUUAAKKK
BRAAASSS
Seketika hujan lokal turun dari pohon tersebut, mengguyur Widi, spontan Widi berteriak karena kaget, melihat sekeliling, sadar kalau cuma dirinya yang kena dan mendapati sang adik yang tertawa girang tak jauh dari pohon tersebut.
" Adek...!!! " kata Widi menahan amarahnya.
" Ada hujan lokal Mas ? Atau penghuni pohonnya marah kali ? Gak suka sama Mas Widi ? " kata Winda pura-pura gak melakukanya.
" Pintar betul. Kamu itu penghuni pohonnya " Widi menyentil kening Winda.
" Mana ada penghuni pohon imut begini " kata Winda memasang wajah imut yang dibuat-buat.
Widi justru menyambut dengan wajah yang ingin muntah, Winda menggandeng tangan sang kakak, mulai menatapnya sambil senyum-senyum yang semanis mungkin, menggerakkan alis dan Widi gak paham kode tersebut.
__ADS_1
" Kamu ngapain ? " tanya Widi sambil mendorong kepala adiknya.
" Cewek barusan, bukan pengganti Amel kan ?" tanya Winda.
" Harapanmu bagus juga, jadi kamu setuju kalau cewek tadi penggantinya Amel ? " Widi malah godain adiknya.
" HIIISSS !!! GAK LAH...!!! " Winda langsung menolak mentah-mentah.
" Kamu sama siapa Dek ? " tanya Widi mengalihkan pembicaraan.
" Sama Reza, tuh dia di sana ( sambil menunjuk ). Cewek barusan siapa Mas ? " Winda pura-pura gak tau.
" Namanya Shanti, hanya kenalan. Aku ada janji dengan Amel, apa kamu...." kata Widi.
Mendengar kata Amel, seketika mood Winda langsung berubah, tanpa menunggu kalimat sang kakak selesai, Winda cepat-cepat pergi begitu saja, Widi tak mempermasalahkannya, dirinya menyalakan motor dan tancap gas pergi.
Winda kembali duduk di samping Reza dengan perasaan kesal, memakan pentol rebus dengan membabi buta, sampai Reza gak kebagian lagi.
" Makan dengan setan kah, kamu ini ? Telan dulu yang di mulut, main masukin saja " kata Reza.
" Pesan saja lagi " Winda berkata dengan mulut penuh makanan.
Winda mengangguk tanda setuju, ketika hp Winda bergetar buru-buru membuka untuk melihat pesan dari siapa. Tertera di layar *Noel Ganteng* dan saat membuka, seketika Winda tersedak makanan di mulutnya. Sampai terbatuk-batuk, meminum teh kemasan sambil melihat ke sekeliling, mencari seseorang dan tidak menemukan yang dicarinya.
Kembali melihat layar hp, terasa sangat lucu melihat vidio tentang diri sendiri, tapi bagus juga, dari vidio tersebut terekam wajah terkejut sang kakak dan cukup menghibur.
Reza datang dengan piring yang penuh terisi pentol rebus, beserta saos bumbu dan banyak sambal. Winda memandang bergantian ke arah piring lalu ke arah Reza, menggelengkan kepala, ini doyan apa lapar sih ?
" Janji loh, kamu yang bayar " kata Reza.
" Banyak makan tambah tinggi, lari ke tulang semuanya yang kamu makan ini " kata Winda.
" Ya bagus dong. Daripada kamu, banyak makan, gemuk enggak, tinggi juga enggak, tetap mungil saja " Reza balas ngatain.
" S*alan. Za, kamu pacaran dengan Lovely, orang tuamu gak masalah gitu ? " kata Winda.
" Orang tuaku kan, gak tau. Lagian orang tuaku bukan tipe orang tua begitu. Kenapa memangnya ? " Reza mulai curiga ada yang salah.
" Enggak. Maksudku. Kalian kan, beda keyakinan. Gak apa-apa tuh ? Ya... orang tua, biasanya kan...??? Ya kamu tau lah...!!! Begitu" Winda sedikit enggan mengatakan detailnya.
__ADS_1
" Hemmm pasti kamu dilarang pacaran ya ? Makanya cepat gede, biar di izinkan " Reza malah ngantain.
" Bukan...!!! Bukan itu...!!! " Winda membantah.
" Lah ??? Trus apa ??? " tanya Reza mulai mode serius mendengarkan.
Winda pun menceritakan nasehat yang di berikan kakaknya, semua yang disampaikan kepadanya, diceritakan juga ke Reza, bukannya mempermasalahkan, hanya saja Winda ingin tau, bagaimana pendapat Reza, selaku yang menjalani hubungan beda keyakinan.
" Ini cuma pacaran lah Win, bukan pernikahan ? Serius betul tanggapanmu ! " kata Reza.
" Enteng betul ngomong " kata Winda.
" Iya lah. Jalani saja dulu yang sekarang ini. Masalah itu sih, masih panjang, masih jauh, jauh banget, belum waktunya " kata Reza.
" Haaiiss.... percuma nih, aku cerita panjang lebar. KAMU SALAH TANGGAP...!!! " Winda malah kesal sendiri.
" Ini cuma pacaran, bisa putus di jalan kapan saja. Kenapa ? Ada yang kamu suka kah ? Trus kamu ragu, karena nasehat kakakmu itu ? " tanya Reza menatap serius Winda.
" Untuk sekarang sih, belum ada, hanya teman" kata Winda.
" Hemmm...!!! ( menyipitkan mata ) hanya teman " Reza dengan nada menggoda.
Winda mengarahkan pandangan ke arah lain, entah kenapa ada rasa malu yang muncul tiba-tiba saat menatap wajah Reza. Tambah menjadi lah, Reza melontarkan godaannya, menyentuh pipi Winda dengan jari telunjuk, beralih ke dagu dan terakhir mengacak-acak rambut poni Winda dengan gemes.
" HENTIKAN...!!! NIH MAKAN...!!! " Winda menyuapi Reza dengan setengah memaksa agar cepat diam.
Bukannya merasa kesal, Reza justru masih bisa senyum-senyum menggoda dan Winda hanya diam.
Malas meladeni godaan Reza.
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗
__ADS_1