Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 77 Jangan diambil hati


__ADS_3

Semenjak dikatain gemuk, di hari-hari berikutnya Winda mengurangi porsi makannya dan karena perubahan sikap tersebut, menimbulkan rasa curiga di hati Nansi. Biasanya rajin mengajak ke kantin untuk makan tapi ini diajak pun menolak, alasan belum lapar. Bahkan saat Nansi bawa bekal tanpa ditawarin, Winda akan penasaran ingin mencicipi, tapi ini malah dicuekin dan hanya melihat saja.


Mulai lah bertanya-tanya, ada apa ? Sakit kah ? Kok tumben ? Satu hari, dua hari, tiga hari dan beberapa hari seterusnya, kok malah makin jadi ? Akhirnya, karena sudah merasa sangat janggal dan aneh, lebih tepatnya mengkhawatirkan.


" Kamu kenapa Win ? Akhir-akhir ini kamu jadi jarang makan ? Sakit ? Coba cerita, khawatir aku " kata Nansi memulai pembicaraan.


" Coba kamu lihat aku ? Aku yang berubah gak ? " kata Winda.


" Gak ada tuh, biasa saja, masih sama " jawab Nansi.


" Yakin ? Coba lihat baik-baik ! Tambah gemuk aku kan ? " kata Winda.


Nansi menatap serius, mengamati Winda dari bawah sampai atas. Gemuk apanya ? Badan mungil gini, perasaan masih sama ? Dari mana gemuknya ? Semakin bingung lah Nansi.


" Tuhh...!!! Bener kan aku gemuk " kata Winda cemberut.


" HEHH...!!! ( menyentil kening Winda ). Yang bilang kamu gemuk itu siapa ? Begini gemuk ? Gemuk dari mana ? " Nansi malah kesal.


" Shanti yang bilang. Katanya aku gemukan " kata Winda.


Seketika Nansi menyentuh keningnya, menggelengkan kepala, tak habis pikir, bisa-bisanya Winda percaya begitu saja perkataan Shanti. Kalau Winda yang kecil mungil dikatain gemuk ? Trus badan Nansi yang lebih gede darinya, disebut apa dong ???


" Jadi karena itu, kamu menolak setiap makanan yang aku tawarkan ? Karena kamu diet ? Sengaja kurangi porsi makanan ? " Nansi jadi kesal sendiri, semakin tambah kesal saat Winda menganggukkan kepalanya, itu benar-benar pengen ??? ( gak boleh disebutkan ).


" Aku ini pendek, kalau sampai gemuk, ntar aku bulet dong. Gak lucu kan, kalau pas duduk melantai disangka batu " kata Winda pesimis.


" Oh... Tuhan. Kamu ini pintar tapi stu juga ya " Nansi sampai tidak bisa berkomentar apa-apa lagi.


" Kamu kenapa Nansi ? Banyak pikiran kah ? " Vera yang baru datang, segera bertanya saat melihat Nansi bersikap lain dari biasanya.


Dengan perasaan kesal, Nansi menceritakan pembicaraan barusan dan tentu saja disambut gelak tawa oleh Vera. Vera sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya, sama halnya dengan Nansi, Vera juga beranggapan sama, atas sikap Winda yang langsung percaya begitu saja.


" Winda, kalau kamu gemuk ? Trus Nansi sebutannya apa ? Drum ??? " kata Vera.


" Malah ngantain aku, kamu ya...!!! " spontan Nansi memukul pundak Vera.


Bukannya menghibur Winda, malah pada saling membalas perkataan. Winda malas mendengarnya untuk saat ini, terlintas pikiran untuk pergi ke perpustakaan, bangkit dari duduk dan langsung pergi tanpa permisi.


Niatnya sih mau ke perpustakaan, tapi kok, tiba-tiba kepikiran pohon jambu ya ? Akhirnya berubah niatan, berubah haluan, melangkah kan kaki menuju pohon jambu belakang. Setibanya di bawah pohon, segera memperhatikan, mencari buah jambu yang sudah matang.


Baru saja Winda hendak memanjat, terdengar suara seseorang berdeham, spontan menoleh, berbalik melihat dan mendapati Niko sudah berdiri tegak, menyilangkan kedua tangannya.

__ADS_1


" Eh... Kak Niko...!!! " kata Winda tersenyum malu-malu dan sedikit menjauhi pohon jambu.


" Sudah dibilang...!!! Jangan panjat...!!! " kata Niko tegas.


Niko memandang pohon jambu, melihat sejenak, nampak sedikit heran, buah jambunya masih pada kecil-kecil, trus mau panjat ? Petik apa coba ?.


" Apa yang mau petik ? Masih pada kecil-kecil buahnya ? Sini duduk, aku punya sesuatu untukmu " kata Niko.


Keduanya segera duduk berdampingan tak jauh dari pohon jambu, Niko memberikan sebuah kotak dan saat Winda buka, ternyata berisi cokelat. Terdapat beberapa bentuk cokelat dalam kotak tersebut, ada bentuk daun, bunga, persegi, bulat dan juga bentuk LOVE. Semakin terlihat cantik karena setiap cokelat dihiasi dengan cokelat berwarna warni.


" Cantiknya...!!! ( girang saat melihat ) Kakak buat sendiri ? " tanya Winda.


" Hem ( mengangguk ) Kamu suka cokelat kan. Sebenarnya aku mau kasih, pas liburan kemarin, tapi kamu sudah dapat banyak cokelat kan " kata Niko.


" Ini semua untukku ? Semuanya ? ( berhenti sejenak menatap Niko ). Boleh aku makan sekarang ? " tanya Winda.


Winda segera mengambil satu buah cokelat setelah Niko menganggukkan kepalanya, mengamati cokelat, melihat depan belakang, terlihat sangat cantik, jadi kepikiran sayang banget kalau dimakan ? Ntar rusak dong ? Tapi penasaran juga, bagaimana rasa cokelatnya ?


Tanpa menggigit, Winda memasukkan cokelat ke mulutnya, mengemut sejenak, terasa meleleh di dalam mulut, rasa manis langsung menyebar, bibir Winda tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.


" Hemmm...!!! " Winda menyentuh kedua pipinya, begitu menikmati rasa manis cokelat di dalam mulutnya.


Winda tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Niko, dirinya mengambil satu cokelat lagi, mengemut cokelat kembali dan tersenyum lagi. Winda begitu terlena dengan rasa manis cokelat di mulutnya. Benar-benar lembut dan enak banget.


" Bagaimana ? ( menelan ) Bagaimana Kak Niko bisa buat cokelat seenak dan selembut ini ? Sumpah. BEDA BANGET " kata Winda.


" Itu hanya cokelat batangan yang dilelehkan dan dibentuk kembali, mana bisa aku buat cokelatnya " kata Niko.


" Gak mungkin. Pasti ada campurannya. Enak loh Kak " kata Winda sambil memasukkan satu cokelat lagi ke mulutnya.


Keduanya saling menatap sambil tersenyum-senyum, begitu lah hubungan keduanya, hanya duduk sambil bercerita saja sudah membuat Niko merasa senang dan nyaman. Dapat membuat Winda tersenyum, merupakan kepuasan tersendiri bagi Niko.


Seketika Winda terdiam memandangi cokelat di tangannya, dirinya tiba-tiba teringat dengan ucapan Shanti. Gemuk...!!! Winda masih saja terpengaruh dan berfikir kalau dirinya ini beneran gemuk. Lagi makan cokelat seenak ini ? Malah keingetan kata-kata buruk ? Rada hilang mood kan.


" Emmmm Kak...!!! Menurut Kak Niko, aku gemukan gak sih ? " tanya Winda lirih.


" Kamu ? Gemuk ? " Niko menatap.


Niko terdiam sejenak, memperhatikan Winda dengan pandangan mata yang menyipit, tersenyum kecil dan kemudian tertawa. Hal tersebut justru membuat Winda manyun, karena kesal Winda memukul lengan Niko, dirinya beranggapan Niko menertawakan dirinya yang gemukan.


" Kok, aku dipukul ? " Niko mengentikan suara tawanya.

__ADS_1


" BIAR...!!! " Winda tambah manyun.


" Siapa yang ngatain kamu gemuk ? Hahh...!!! Pasti matanya rabun " kata Niko.


" Ada. Teman bilang * Habis liburan kamu gemukan ? Pasti kerjamu makan terus * Gitu dia bilang " kata Winda malah curhat.


" Coba aku lihat dulu. Hemmm ( mengamati ) Mungkin benar sih ??? Nih pipi tembem " Niko menyentuh pipi Winda dengan jari telunjuk.


" Hemmm... Kak Niko...!!! Seriusan...!!! " Winda dengan nada terdengar sedikit manja.


" Aku serius. Jangan diambil hati perkataannya temanmu itu ( menepuk pundak Winda ) Dia itu hanya iri denganmu ( merapikan poni Winda ) Dia tidak bisa seperti kamu, jadi dia ngatain kamu, untuk menjatuhkan mentalmu. Jadi..??? Apa kamu ingin tujuannya itu berhasil ? Enggak kan ?? " Niko menasehati Winda.


Winda mendengarkan setiap perkataan yang Niko ucapkan, dirinya baru berfikir, benar juga ?? Kenapa diambil hati ? Kalau begini, tujuannya berhasil dong ? Mental kena, jadi gak percaya diri ? Dia yang menang dong ?


" Kamu gak mau kan ? Tujuannya berhasil ? " Niko mengulangi perkataannya.


" Gak mau " Winda menggelengkan kepalanya.


" Ya makanya, jangan dimasukkan hati. Cuekin saja, anggap suara sumbang yang lewat. Mengerti...!!! " Niko mencubit pipi Winda dengan lembut.


" Hem " Winda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" Kalau begitu, makan cokelatnya lagi. Biar moodmu tambah bagus " kata Niko.


Winda hanya mengangguk, kembali mengambil satu cokelat, kembali makan cokelat sambil terus melihat ke arah Niko. Winda seketika kagum, atas sikap dewasa yang dimiliki Niko, tanpa sadar malah membandingkan antara Niko dan Widi, sang kakak.


{ Pengen deh jadi adiknya Kak Niko. Eh... bukannya aku sudah jadi adik kelasnya ya } batin Winda.


keduanya pun tersenyum.


Hari-hari berikutnya Winda kembali seperti biasa, mau makan ya makan, sudah gak ada lagi kurang-kurang jatah makanan, pokoknya makan apa saja yang mau dimakan tapi tetap gak berlebihan.


.


.


.


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2