Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 40 Tidak sia-sia


__ADS_3

Datang sebuah motor dan langsung berhenti, memarkirkan motornya tepat di sebelah motor Noel, dari celana yang dikenakan sepertinya anak sekolah juga.


Noel menghembuskan napas dengan kasar, nampak jelas kalau Noel merasa terganggu dengan kedatangannya, pengendara motor turun dan segera membuka helmnya.


" Kak Niko ? " Winda benar-benar terkejut.


" Hai " Niko menyapa.


Niko berjalan mendekat, berhenti tepat di samping Winda, tiba-tiba berhembus atmosfer yang terasa sedikit aneh, seolah-olah Niko sedang memergoki pacarnya yang selingkuh.


Tatapan mata Niko begitu serius, begitu juga dengan Noel, semakin menjadi saat melihat salah satu tangan Noel melingkar di pinggang Winda, karena bingung mau bicara apa, Winda pun hanya diam saja.


" Tumben, kamu lewat sini Nik ? " tanya Noel.


" Pengen saja sih, lagi gak mood cepat balik ke rumah " kata Niko.


" Ohh... " kata Noel.


Hp Noel berdering ada telepon masuk, anoel menatap layar hp membaca siapa yang menelpon dirinya, saat menjawab panggilan telepon Noel sedikit menjauh.


" Winda, kenapa jaketmu kebesaran ? " Niko pura-pura bertanya padahal tau itu jaket siapa.


" Jaket ? Oh... ini jaketnya Kak Noel, untung Kakak ngomong, kalau gak bisa lupa gak di lepas " kata Winda melepaskan jaket tersebut.


" Kenapa pakai jaketnya Noel ? " tanya Niko.


" Ini tadi aku pinjam untuk menutupi badan, supaya gak dilihat oleh seseorang " kata Winda.


Niko menyipitkan matanya, saat mendengar alasan Winda mengenakan jaketnya Noel, dalam hati langsung bertanya-tanya, seseorang itu siapa ? siapa yang tidak boleh lihat ?


Disaat Niko sedang berfikir, menebak, menerka siapa orang yang dimaksud oleh Winda, datang seekor capung yang tiba-tiba hingga di rambut Winda, timbul lah niatan Niko untuk menangkap capung tersebut.


" Winda, jangan bergerak " Niko tiba-tiba memberi peringatan.


" Hem ? ada apa Kak ? " Winda bingung tapi patuh dong.


" Diam... ja...ngan ber-ge-rak " Niko dengan pelan mendekati Winda.


" Apa sih Kak ? " Winda mulai sedikit khawatir.


" Yahh...!!! terbang deh..." Niko kecewa gagal menangkap capung tersebut.


" Terbang ? apa Kak ? " tanya Winda.


Niko pun menjelaskan, bahwa tadi ada capung hinggap di rambut Winda, tapi saat hendak ditangkap sudah keburu terbang.


" Iissh... Kak Niko ( memukul lengan Niko ) bikin takut lah, kirain ada apaan " kata Winda.


" Jarang-jarang bisa lihat capung " kata Niko.


" Pergi saja ke sawah, pasti banyak capung, eh... tapi ( berfikir ) di sini ? sawah ? di mana ya ? " kata Winda.


" Ada tapi jauh " kata Niko.

__ADS_1


Niko menceritakan ada satu wilayah yang menanam padi sawah, yang bisa ditempuh dengan naik motor, perjalanannya memang lumayan jauh, tapi menyuguhkan pemandangan yang sangat cantik.


Winda sangat antusias mendengarnya, terakhir dirinya ke sawah waktu kecil, sudah bertahun-tahun yang lalu, Winda tersenyum bahagia kala Niko, akan mengajaknya melihat area sawah.


" Emmm... tapi gak bisa hari Minggu ini, karena aku sudah janji dengan Vera, mau ke air terjun " kata Winda.


" Begitu ( kecewa ), gak apa-apa kita bisa pergi hari Minggu depannya, bagaimana ? " kata Niko.


" Hari Minggu kan, Kakak ibadah " Winda mengingatkan.


" Eee...." Niko tidak bisa menjawab.


" Jangan bilang mau bolos ? Ibadah cuma seminggu sekali trus di lewat kan, lagi " kata Winda.


" Kan bisa pergi setelah ibadah " jawab Niko.


Winda baru sadar, benar juga dapat pergi setelah ibadah selesai ? Winda mengeluarkan hp nya, meminta no hp Niko untuk kabar selanjutnya. Niko mengetik nomor di hp Winda, setelah itu Winda membuat panggilan telepon, tak berapa lama hp Niko berdering.


" Aku misscall nomor Kakak " kata Winda.


" Ok. Aku save dulu " Niko pura-pura mengetik di hp nya, supaya Winda tidak curiga kalau ia sudah menyimpan nomornya.


Sambil menjawab telepon, sesekali pandangan mata Noel melihat ke arah Winda dan Niko yang sedang asyik mengobrol, entah kenapa timbul perasaan tidak suka melihat pemandangan tersebut.


{ Benar-benar sial, harusnya ini kesempatan yang bagus } batin Noel.


Selesai berbicara ditelepon, Noel kembali menghampiri Winda dan Niko, memberitahu mereka kalau dirinya tiba-tiba ada urusan mendadak dan harus segera pergi. Noel pun meminta maaf karena tidak bisa mengantar Winda pulang ke rumahnya.


" Gimana kalau aku yang antar ? " Niko menawarkan diri.


" Aku bisa antar sampai rumah " kata Niko.


" Yakin ? gak ngerepotin ? " tanya Winda memastikan.


" Yakin " jawab Niko tegas.


Winda menganggukkan kepalanya, sebelum Noel pergi, Winda mengembalikan jaket yang di kenakan tadi, tak lupa dirinya mengucap terima kasih sebab sudah membantu dirinya.


" Ok, tolong ya Niko " kata Noel.


" OK, SIPP " Niko mengacungkan jempolnya.


Noel memakai jaket tersebut, mengenakan helm, menyalahkan mesin motor dan segera cabut tancap gas.


" Orang tua Kak Noel itu kerjanya apa sih Kak ? " tanya Winda.


" Kenapa memangnya ? " tanya Niko.


" Di lihat dari motor, sepertinya Kak Noel dari keluarga yang cukup berada" kata Winda.


" Entah lah, aku juga tidak tau, selama ini Noel tidak pernah membicarakan orang tuanya. Naksir kah ? " goda Niko.


" Ya enggak lah Kak ( langsung membantahnya ), mana berani aku naksir Kak Noel, diamuk para fans nya takut aku " kata Winda.

__ADS_1


" Kalau gak ada fans nya ? berarti berani ? " goda Niko.


" Ya enggak juga " kata Winda.


Pandangan mata Winda teralihkan pada seekor capung yang hinggap di rambut Niko, Winda memberi isyarat diam, jangan bergerak, dengan pelan-pelan Winda mendekatkan tangannya untuk menangkap dan berhasil.


" Ketangkap...!!! " Winda girang berhasil menangkap capung tersebut.


" Wahh... kamu hebat, bisa menangkap " puji Niko.


" Keberuntungan. Foto dulu lah, capung nya cantik, warna merah terang " kata Winda.


Winda menyalahkan kamera hp nya dan saat akan mengambil foto nya.


" Kak Niko, lihat kamera dong " pinta Winda.


Niko dan Winda menatap ke arah kamera, namun saat tombol akan di tekan, pegangan tangan Winda sedikit longgar dan capung di tangan pun melesat terbang jauh.


" Yahh.... lepas...!!! " Winda kecewa.


" Capung nya gak mau difoto " kata Niko.


" Maaf ya Kak, harusnya aku pegang yang kuat tadi " kata Winda merasa bersalah.


" Kenapa kamu minta maaf ? kamu kan, gak salah " Niko menghibur Winda.


" Harusnya bisa jadi foto kenangan, gagal deh" kata Winda tertunduk.


" Fotonya, kita berdua saja, sini aku yang foto" kata Niko.


Pada akhirnya mereka tetap berfoto berdua, Niko benar-benar sangat senang, tidak sia-sia dia nekad mengikuti Winda.


Flash back on


Niko melihat Winda ditarik oleh Noel ke parkiran motor, memakaikan Winda jaket dan menutup wajah Winda dengan tudung jaketnya.


{ Ngapain mereka ? } batin Niko.


Niko benar-benar penasaran, pada akhirnya Niko memutuskan untuk membuntuti Noel dari jarak yang aman, Niko sempat tertinggal saat Noel menambah kecepatan motornya.


Dalam hati terus bertanya-tanya, mau kemana mereka ?. Niko melihat dari kejauhan motor Noel berhenti di atas, Niko pun memutuskan berhenti dan mengamati sejenak. Setelah beberapa saat, pandangan mata Niko melebar seketika, saat Noel memeluk Winda dari belakang.


{ Tidak boleh jadi ini } batin Niko.


Tanpa pikir panjang lagi, Niko segera menyalakan motornya, menghampiri mereka dan bersikap seolah-olah kebetulan lewat.


Flash back off


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


__ADS_2