
Hanya bisa menunggu di balik pintu, seluruh badan masih terus gemetaran, kedua tangan penuh dengan noda merah, air mata terus menerus membasahi pipi, duduk dengan tatapan kosong, masih begitu sangat syok dengan yang menimpa dirinya ini, masih belum mempercayai dengan apa yang dilihat kedua matanya ini.
Nyatakah ?
Mimpikah ?
Satu per satu orang yang datang, memberi Winda pertanyaan yang sama, tapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Winda, bukannya tidak ingin, tapi dirinya bingung harus mulai dari mana ? Bagaimana menjelaskannya ? Semua terjadi begitu cepat, bahkan dirinya tidak sempat bereaksi apa-apa, hanya diam dan melihat semuanya terjadi.
" Tenang saja, Niko akan baik-baik saja, dia sudah ditangani oleh dokter yang ahli, jangan khawatir " kata Noel menenangkan Winda.
Jangan khawatir. Tapi hati Winda tidak bisa, tidak bisa berhenti tidak khawatir, menatap tangannya yang penuh noda merah, benar-benar membuatnya khawatir, semua noda merah di badannya ini, bukan darah miliknya, melainkan darah milik Niko.
Merasa sedikit lega, saat mendengar operasinya berjalan baik walaupun belum dapat dikunjungi, karena masih di tempatkan di ruangan khusus. Kondisinya masih dalam masa kritis, harus terus dipantau, sampai dinyatakan aman untuk dipindahkan ruangan.
Ketika sudah bisa dijenguk, Winda orang pertama yang bergegas duluan, hatinya begitu sakit melihat Niko terbaring dengan selang oksigen, selang infus dan kepala yang diperban. Koma, itulah yang dokter katakan, sekali lagi hanya bisa menunggu, terus berdoa agar cepat sadar dan pulih seperti sedia kala.
Harapan tinggal harapan, doa selalu dipanjatkan, meminta kesembuhan dari sang pemberi kehidupan. Winda baru saja kembali dari masjid, selesai menjalankan sholat isya, ketika dirinya masuk ruang, ternyata sudah ada kakak perempuannya ( Wika ) beserta dengan suaminya ( Bagas ) duduk berbincang-bincang dengan para seniornya ( Noel, Rey dan Juan ).
" Assalamualaikum " Winda mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam. Sini Dek, Mbak bawakan makanan buat kamu dan juga teman-temanmu " kata Wika.
" Terima kasih. Mbak sama Kak Bagas sudah dari tadi ? " tanya Winda.
Mereka semua berbincang-bincang ringan bersama, walau pun baru pertama bertemu tetapi pembicaraan mereka terjalin dengan baik, baik Wika atau pun Bagas, keduanya bicara terbuka. Hingga Bagas datang menghampiri Winda yang sedang duduk di samping ranjang tempat Niko terbaring.
" Kakak dengar, dari teman-temanmu, pelakunya sudah diproses dan pada saat kejadian pengemudi dalam keadaan mabuk " Bagas memulai pembicaraan.
" Aku dengar juga begitu " jawab Winda.
" Dek, jangan salahkan dirimu. Semua ini kecelakaan, semua ini takdir yang harus kalian lewati, saat ini kita hanya bisa berdoa dan berusaha untuk kesembuhan Niko. Kita semua berharap semua akan baik-baik saja dan kembali seperti sedia kala ( berhenti sejenak ), selain itu kamu juga harus menyiapkan hatimu, jika terjadi sebaliknya ( menatap Winda ).
Kita boleh meminta, berdoa, berusaha tetapi itu semua rencana dan harapan kita sebagai umat, namun Allah memiliki rencana yang jauh lebih tepat untuk kita. Kamu bisa melewatinya, karena Allah tau, kamu mampu menghadapinya " kata Bagas menasehati.
" Terima semuanya dengan ikhlas ya Dek, sedih boleh saja, tapi kamu tetap harus jaga kesehatanmu. Makan ya Dek, teman-temanmu bilang, kamu dari tadi belum makan" kata Wika.
" Iya Mbak, Kak. Insyaallah Wiwin ikhlas menerima dan menjalani ini semua, mungkin ini memang takdir kami. Terima kasih Mbak, Kak " kata Winda.
" Sama-sama. Oh ya Mbak juga bawakan baju ganti, kamu mau bermalam di rumah sakit kan ? " kata Wika.
Winda hanya menganggukkan kepalanya. Setelah beberapa saat kemudian, Wika dan Bagas berpamitan untuk pulang. Hari mulai semakin larut, tinggal Noel dan Winda yang masih terjaga, sementara Juan dan Rey sudah tidur terlelap sedari sejam yang lalu.
" Winda " panggil Noel.
" Iya Kak " jawab Winda.
" Apa kamu merasa bersalah ? " tanya Noel.
" Sejujurnya. Sangat. Seandainya Kak Niko tidak mendorongku, mungkin kami berdua akan sama-sama terluka parah. Semua terjadi begitu cepat, dalam sekedip mata, mobil datang menghantam, sekedip kemudian semuanya hancur berantakan.
Semuanya terjadi di depan mataku, tapi aku hanya bisa menangis, tanpa berbuat apa-apa. Hanya menangis, memeluk Kak Niko, hingga ada orang-orang datang menolong. Sampai saat ini aku masih berharap semua ini mimpi buruk, yang akan berakhir saat aku bangun " kata Winda.
" Saat itu, kamu pasti takut, maaf aku tidak segera datang menolongmu ( memeluk Winda ). Kita hadapi semua ini sama-sama, OK, kamu gak sendirian " kata Noel.
Beberapa saat kemudian ruangan begitu sunyi, semua orang sudah tampak tertidur pulas, termasuk juga Winda yang tertidur di samping ranjang sambil menggenggam tangan Niko. Sebuah panggilan seseorang yang berulang-ulang membangunkan dirinya dari tidur pulasnya.
" Wiwin ... Wiwin bangun ... "
__ADS_1
Dengan berlahan Winda membuka kedua matanya, mengedipkan mata beberapa kali, kemudian tersenyum lebar dan segera memeluk orang yang ada dihadapannya tersebut.
" Kakak, akhirnya Kak Niko bangun juga " kata Winda terus memeluk Niko dengan erat.
" Aku rindu kamu " kata Niko.
" Akan aku bangun kan, yang lainnya " kata Winda melepaskan pelukan.
" Jangan. Biarkan mereka tidur. Aku hanya ingin bicara denganmu, nanti mereka malah berisik, ganggu. Naik lah, duduk di sebelahku" kata Niko.
menuruti permintaan Niko, dengan perlahan Winda duduk di sebelah Niko, saling memandang dan kembali saling memeluk.
" Aku senang Kakak sudah bangun, aku khawatir banget, aku takut, aku benar-benar takut " kata Winda.
" Maaf sudah membuatmu khawatir ( mencium kening Winda ) Mana Winni ? " tanya Niko.
" Winni dicuci, masih ada di loundry. Kak Niko baik-baik saja ? Perlu aku panggilkan perawatan ? Supaya diperiksa " kata Winda.
" Gak perlu. Aku hanya butuh kamu menemaniku. Aku rindu kamu, aku mau memelukmu terus " kata Niko terus memeluk Winda.
Untuk beberapa saat keduanya asyik bercerita tentang apa saja, saling tersenyum, tertawa kecil, bahagia itulah yang mereka rasakan saat ini, sampai lupa, kondisinya kalau sedang berada di rumah sakit.
" Winda, jika aku pergi nanti, jangan sedih ya, jangan menangis, jangan menyalahkan dirimu, kalau kangen aku, peluk saja Winni, Winni kan, anak kita " kata Niko.
" Kakak bicara apa sih ? Kok tiba-tiba ? " kata Winda bingung.
" Kan, kamu yang bilang. Sebelum pergi harus berpamitan, gak boleh main pergi begitu saja. Jadi aku berpamitan. Janji ya, jangan sedih, ikhlas kan aku pergi " kata Niko.
Niko menutup kalimatnya mengecup bibir Winda, mengecup kening, menatap Winda dan kemudian tersenyum lebar. Winda masih bingung, tidak memahami maksud ucapan Niko. Kemudian cahaya putih bersinar dari belakang tubuh Niko, semakin lama semakin terang dan menyilaukan mata.
" Kak Niko ... !!! " Winda memanggil.
" KAK .... !!! " Winda berteriak.
Suara Winda menggema, yang membangunkan Noel, Juan dan Rey. Suasana malam yang sunyi tiba-tiba berubah menjadi suatu kepanikan, perawat yang berjaga segera datang untuk memeriksa, melakukan tugas mereka.
Sekali lagi Winda harus melihat pemandangan yang menyayat hati, menyaksikan napas Niko yang tinggal satu satu. Winda tersadar dengan mimpi barusan yang dialaminya.
Mungkinkah ... ???
Winda menggenggam tangan Niko, membungkukkan badannya, meletakkan satu tangannya di atas kepala Niko, mendekatkan wajah tepat di samping telinga Niko dan kemudian Winda berbicara berbisik.
" Aku ikhlas Kakak pergi " ucap Winda berbisik.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut terdiam, ikut menyaksikan hembusan napas terakhir Niko, perawat kembali memeriksa dan menyatakan Niko telah berpulang.
***
Winda duduk termenung di depan teras rumahnya, sejak kepergian Niko, Winda lebih suka menyendiri dulu, setiap ada yang bertanya dengan keadaannya, maka dirinya akan menjawab semua baik-baik saja.
" Wid, ngomongo karo adekmu ( Wid, bicara dengan adikmu ) " perintah Ibu.
" Percaya sama Wiwin Bu, dia baik-baik saja. Ibu tau selama proses pemakaman Niko, Wiwin sama sekali gak ada nangis, dia mengikuti semua prosesnya dari awal sampai akhir. Wiwin itu tegar Bu, Wiwin kuat " kata Widi.
" Wes genne, sing penting bocahe dijak ngomong isek nyemaur, ijek gelem maem, ijek eleng addus, wayae sholat yo ijek sholat, jar ne wae, lagi pengen dewekan ( Biarkan, yang penting dia diajak bicara masih balas, masih mau makan, masih ingat mandi, waktu sholat ya ingat sholat, biarkan lagi pengen sendirian ) " kata Bapak.
" Iya sih Pak, tapi Ibu khawatir " kata Ibu.
__ADS_1
" Lihat Pak, Bu " kata Widi.
" Nak Rey datang " kata Ibu seketika tersenyum.
Rey ikutan duduk di teras, menemani Winda, memandang langit malam yang bertabur bintang kelap kelip tanpa ada sinar rembulan. Rey datang menjenguk Winda sekaligus, mengantarkan sebuah buku catatan milik Niko.
" Aku sempat baca isinya dan aku rasa kamu pantas menyimpannya. Kamu pasti akan terkejut saat membacanya " kata Rey.
" Ini ... buku harian Kak Niko ? " tanya Winda.
" Bukan. Baca saja tapi nanti, jangan sekarang" kata Rey.
Hp Rey berdering namun hanya Rey lihat tanpa berniat menjawabnya, panggilan pertama mati, kemudian ada panggilan lagi dan dengan kesal Rey justru menonaktifkan hpnya.
" Kenapa gak diangkat Kak ? " tanya Winda.
" Aku sedang tidak mood, sudah aku jelaskan berulang-ulang tapi dia tetap tidak mengerti. Aku benar-benar capek menghadapinya " kata Rey.
" Ajeng ? " Winda menebak.
" Hem ( mengangguk ) Dia marah karena akhir-akhir ini aku rada cuek, maunya setiap kirim pesan harus dibalas, setiap hari harus kasih kabar, minimal telepon sehari dua kali. Pusing aku " Rey menggerutu.
Terlihat jelas, kalau Rey sedang serius saat ini, Rey yang biasanya bersikap ceria, ternyata bisa pusing juga karena seorang pacar ? Pasti Ajeng melihat Rey masuk gang, makanya ditelepon terus menerus, pasti dikira yang enggak-enggak.
" Kak Rey, Ajeng akan lebih marah saat ini, karena dia tau kalau Kak Rey bersamaku, walau pun Kakak bohong sekali pun, Ajeng akan tau keberadaan Kakak " kata Winda.
" Bagaimana mungkin ??? " bantah Rey.
" Kak Rey, lihat rumah depan gang, yang ada pohon mangganya ? Gang masuk rumahku ini ? " kata Winda.
" Iya lihat, emangnya kenapa ? " tanya Rey.
" Itu kan, rumahnya Ajeng. Pasti Ajeng lihat Kakak, waktu masuk gang, makanya ditelepon" kata Winda.
Rey tampak terkejut, menyipitkan pandangan mata, menganggap perkataan Winda adalah candaan. Tapi Winda menyakinkan bahwa perkataannya adalah sesuatu yang serius, sesuai dengan faktanya.
" Seriusan ??? " tanya Rey.
Winda menganggukkan kepalanya, seketika Rey langsung berdiri, pamitan, tancap gas, langsung menuju rumah yang dikatakan Winda barusan. Winda sedikit tersenyum, melihat tingkah Rey tersebut dan hal tersebut membuat ketiga orang yang sedari awal mengintip merasa sedikit lega.
" Alhamdulillah ( bersyukur ) Wiwin masih waras " kata Ibu.
" Sudah Widi bilang, Winda itu tegar " kata Widi.
" Wes, ayo bubar, slak anake ngerti ( Sudah, ayo bubar, keburu anaknya tau ) " kata Bapak.
Winda segera masuk ke dalam kamarnya, mulai membaca buku yang Rey berikan barusan, Winda membaca dengan seksama, setiap halamannya, rupanya buku tersebut seperti buku diary, namun berisikan dari awal kisah pertemuan mereka berdua dan yang membuat Winda sangat terharu adalah tulisan tangan Niko begitu rapi, begitu cantik, semakin cantik di tempeli dengan foto-foto kebersamaan mereka.
Mata Winda mulai berkaca-kaca membacanya, namun Winda menahan, berusaha untuk tidak menangis, karena dirinya sudah janji tidak akan bersedih dan harus ikhlas menerima semua ini.
Winda meraih boneka Winni yang berada di hadapannya, mencium wajahnya beberapa kali, kemudian memeluk boneka Winni di depan perutnya.
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.