Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 78 Mangga dan Tes...???


__ADS_3

Winda berdiri di pinggir lapangan, pandangan mata tertuju pada pohon mangga yang ditanam tepat di depan ruang kelas Tata Busana kelas tiga. Melihat buah mangga yang sudah besar-besar, dalam kepala terlintas, bikin rujak enak nih ???


Winda pun menyusun rencana akan rujakan bersama teman-teman satu kelas, awalnya tentu saja ditolak tapi karena banyak yang setuju, akhirnya dibuat. Ada yang bawa mentimun, bengkuang, pepaya, nanas, kedondong, pokoknya buah yang mereka kehendaki saja dan tepat hari yang mereka rencanakan tiba.


Kini di hadapan mereka sudah lengkap buah-buahan dan bumbu rujak hasil patungan bersama-sama satu kelas. Belum makan saja air liur sudah serasa mau menetes.


" Wuuiihh mantap, ada mangga dong " kata Vera.


" Iya dong. Sebelum makan, aku mau sisihkan dulu untuk Pak Hadi " kata Winda.


" Pak Hadi ? " tanya Nansi.


" He'eh. Pak Hadi dengar kita mau rujakan, beliau minta " kata Winda.


" Kalau begitu, sekalian Ibu Ana juga dikasih, ntar iri lagi " kata Echa menambahi.


" Ogah ah...!!! Kalau mau kasih, kamu saja. Ntar kita semua disangka yang aneh-aneh lagi " kata Winda.


" Cepet Win, aku sudah nahan air liur ini " kata Lovely tidak sabar.


" Kalian makan dulu, aku mau antar ke Pak Hadi. Jangan dihabiskan, sisain aku " kata Winda.


Berjalan secepat mungkin, pas banget ruangan pribadi Pak Hadi terbuka, mengintip dulu, kosong gak ada orang, melihat kanan kiri, aman gak ada yang lihat, meletakkan rujak dan Winda pun secepat kilat kembali ke dalam kelas.


Di dalam kelas suasana sudah ribut, heboh pada makan rujak, Winda segera bergabung, memandang bergantian, kalau satu kelas akur gini kan, enak. Seneng deh lihatnya, damai.


" Mangganya enak, masih segar banget " kata Lovely.


" Tentu saja, mangga baru petik di pohon, enak kan " kata Winda.


" Hem, enak. Kriuk kriuk " kata Vera.


" Baru petik ? Di pohon ? ( berfikir ) Win... jangan bilang.... ??? " Nansi mulai menduga-duga.


" He'eh ( mengangguk ) Mangga ini - aku petik - dari pohon - depan kelas tiga Tata Busana " kata Winda dengan jelas.


" WINDAAA....!!! "


Seketika teman-teman sekelas kompak membentak Winda, ada yang mengumpat, langsung gak jadi makan mangga, memandang dengan tatapan sinis, ada yang hanya bergumam, pokoknya mereka kesal dengan kelakuan Winda.


Di saat teman-teman kelas lagi mengomel, Winda justru asyik makan dengan lahapnya, santai saja, serasa gak punya dosa.


" Santai saja. Gak akan kita dihukum. Ini kan mangga sekolah, jadi siapa pun boleh makan dong. Kalau pun dihukum, setidaknya kita dihukum rame-rame " Winda mengutarakan pendapat.

__ADS_1


" Wahhh... parah kamu Win...!!! " kata Vera.


" Makanya tadi, Pak Hadi kamu kasih ? " tanya Nirmala.


" Benar. Buah mangganya kan, dibungkus plastik sama Pak Hadi " sambung Echa.


" Gak juga. Pak Hadi beneran tau, kalau kita mau rujakan, makanya beliau minta ( masih berbohong ). Haaiiss... kalian, gak akan gak akan, kita gak kena marah, tenang saja, percaya sama aku, aku jamin " kata Winda.


Teman-teman memandang Winda dengan tatapan tidak percaya, barusan saja mereka semua berhasil kena tipu, kali ini disuruh percaya ? Kurang meyakinkan. Saling memandang satu sama lainnya, bicara berbisik-bisik, musyawarah, bagaimana ?


" Aku jelas kan. Mangga ini mangga sekolah, yang bungkus Pak Hadi, kita yang buat rujak dan rujaknya kita bagi dengan Pak Hadi. Nah... otomatis Pak Hadi ikutan makan dong mangganya ? Iya kan ? Iya dong ? Jadi... kita gak akan kena marah, apalagi kena hukum, karena apa ? Karena Pak Hadi, ikutan makan " kata Winda.


Para teman-teman sebagian tambah bingung mendengar penjelasan Winda, sedikit terdengar aneh, rada tidak meyakinkan, tapi sedikit masuk akal juga sih ? Ada benarnya juga ? Tapi, entah kenapa ? Terasa ada juga yang sedikit janggal ? Janggal tapi masuk akal juga ? Bagaimana itu ?


" Kalau nanti ada masalah gara-gara mangga ini ? Kamu yang jelas kan, loh ya ? " kata Nirmala memperingatkan.


" IYA. Aku jelaskan. Tenang saja. Kalau kalian gak mau makan, ya... sudah, aku akan habiskan " kata Winda.


" Lupakan, urusan mangga. Kalau gak makan, beneran dihabiskan sama Winda " kata Lovely.


Mereka pun kembali menikmati rujak, sudah tidak mempermasalahkan asal usul mangga lagi, terus makan dan saat buah mangga hanya tinggal beberapa potong. Potongan terakhir diambil oleh Winda, buru-buru diberikan kepada Karin, karena dirinya tau Karin menginginkannya.


" Nih ambil " kata Winda menyerahkan.


*


Sementara itu di ruang pribadi, Hadi menikmati seporsi rujak yang tiba-tiba ada di atas meja kerjanya. Karena ini di mejanya, sudah pasti rujak itu untuknya dan saat rujak tersebut sudah habis, barulah tau, kalau ada catatan di bawah wadahnya.


" Buat Pak Hadi. Semoga Bapak suka, yang di pohon, hilang, jangan dicari ya Pak. Kita sudah makan rame-rame, termasuk Bapak. Selamat menikmati " Hadi membaca isi catatan tersebut.


Kemudian dirinya berfikir. Yang di pohon hilang jangan dicari? Maksudnya apa ? Hadi terus berfikir, menatap wadah kosong. Kita sudah makan rame-rame, termasuk Bapak. Seketika Hadi tersenyum, sudah paham dengan isi pesan tersebut.


" Haaiiss, benar-benar kena jebakan aku " kata Hadi.


***


Dua minggu setelah hari rujakan rame-rame tersebut, sepanjang itu, tidak ada masalah apa pun yang timbul menyangkut dengan mangga. Winda aman, teman-teman aman, semuanya aman termasuk juga dengan sang guru Hadi. Pokoknya gak ada masalah.


Hingga suatu hari, tiba-tiba ada penggeledahan secara mendadak, semua tas murid-murid diperiksa, ruang kelas setiap sudut juga, bahkan badan setiap murid pun, juga diperiksa. Penggeledahan mendadak ini benar-benar membuat murid-murid bingung ? Ada apa ? Apa yang dicari ?


" Memangnya, ada apa Bu ? Apa yang dicari ? " tanya Nirmala.


" Kalian lihat ini ( memperlihatkan ) Ini ditemukan di dalam tempat sampah, di toilet yang di dekat perpustakaan. Kalian tau ini apa ? " kata Ibu Ana dengan lantang.

__ADS_1


Semua pandangan mata setiap murid, langsung tertuju pada kertas di tangan Ibu Ana. Mulai lah terdengar suara bisik-bisik, pembicaraan pelan di antara para murid.


" Saya yang buang itu ke tong sampah Bu " Winda mengaku karena mengenali kertas tersebut.


Seketika semua pandangan mata beralih kepada Winda, baik guru atau pun murid, menatap tajam kepada Winda, tambah bingung lah Winda, tanpa basa basi Winda langsung dibawa menuju ruang BP dan pintu ditutup rapat-rapat.


Di dalam ruang BP, Winda terus diberi pertanyaan seputar tentang kertas tersebut dan tentu saja Winda jawab sesuai dengan apa yang dia tau saja. Hal tersebut malah menimbulkan kecurigaan baru terhadap Winda, jangan-jangan Winda hanya pura-pura ?.


" Saya menemukan kertas itu di lantai, lalu saya membuangnya ke tempat sampah. Apa salahnya Bu ? Kan, buang sampah ditempatnya ? " Winda bercerita sebenarnya.


" Winda, coba kamu baca kertas ini " Ibu Ana memberikan pada Winda.


Baru saja Winda membaca kata pertama, matanya langsung terbelalak, melebar bulat sempurna. Waaduuhh....!!! Gawat...!!! Begitulah dalam hati Winda, seketika dirinya sadar, sudah masuk terlibat dalam urusan hal yang benar-benar, tidak bisa dipandang remeh.


Winda menatap para guru yang berada dihadapannya, menelan air liurnya, walau pun tidak salah, tapi rasa takut tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh Winda. Kenapa bisa ada ini di sekolah ? Siapa yang melakukan pengetesan di sekolah ? Ini stu atau apa sih ? Pintar betul jadi murid !!!


" Winda, kamu tidak berbohong kan ? " tanya Ibu Ana.


" Tidak Bu. Saya bicara yang sebenarnya. Saya saja baru tau, kalau ini alat tes kehamilan, tapi disini gak ada alatnya " kata Winda.


" Kelasmu itu yang paling mencurigakan, kapan hari itu, kalian semua rujakan rame-rame dan sekarang ditemukan ini ( menunjuk kertas ) Bagaimana kamu menjelaskan ? " tanya Ibu Ana.


" Hanya kebetulan Bu. Makan rujak belum tentu hamil kan Bu ? " kata Winda jelas.


" Saat kamu masuk. Kamu ada lihat orang lain di dalam toilet ? " tanya Ibu Ana.


" Gak ada Bu. Eh...( teringat sesuatu ) ada orang di dalam ruangan sebelahnya, tapi saya gak ketemu orangnya, hanya terdengar suara air mengalir saja " kata Winda.


Setelah hampir satu jam di ruang BP, diintrogasi habis-habisan, akhirnya Winda keluar dengan wajah yang terlihat kusut dan sesampainya di dalam kelas pun, langsung disambut dengan berkerumun mengelilingi Winda.


Lagi-lagi para teman-temannya melontarkan banyak sekali pertanyaan yang membuat kepala Winda semakin sakit. Malas jawab, tapi teman-teman pasti juga penasaran ingin tau, kejadian yang sebenarnya.


{ Hemmm, baiklah harus diceritakan } batin Winda.


.


.


.


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2