Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 93 Melakukan itu...


__ADS_3

Winda benar-benar bingung dengan situasi sekarang ini, mengumpulkan keberanian diri, mengangkat kepala, melihat ke atas, melihat wajah orang yang berada di sampingnya sekarang ini dan seketika mata Winda terbuka lebar. Tidak mempercayai dengan apa yang ada dihadapannya ini.


" Kak Noel...??? " kata Winda sangat lirih.


Bagaimana ... ???


Kenapa ... ???


Ada apa ... ???


Kok bisa ... ???


Winda benar-benar sangat syok dengan situasinya, kesadarannya belum bisa mencerna apa pun, masih ling lung. Winda tersentak kala tangan Noel memeluk dirinya dan saat itu Winda baru sadar, kalau dirinya juga berbantalkan lengan.


Menggeliatkan badan, mencoba melepaskan diri secara berlahan, namun pelukkan Noel semakin erat, Noel menggeliatkan badannya dan kemudian juga membuka mata ikut terbangun.


" Kamu sudah bangun Win ? " kata Noel.


Winda hanya diam, menatap sesaat dan kemudian menundukkan pandangannya. Winda benar-benar masih sangat bingung, terlalu banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalanya tapi tak bisa satu pun terucap dari mulutnya.


" Bingung ? ( memecahkan keheningan ). Aku tau, sekarang ini pasti kamu bingung, bertanya-tanya apa yang terjadi ? " Noel memulai pembicaraan.


Winda masih saja diam dan tertunduk, sedikit pun tak berani menatap ke arah Noel, tangannya terus mencengkeram selimut.


" Lihat aku ( menarik dagu ). Kamu pilih mana ? Bangun tidur melihatku atau bangun tidur melihat orang asing di sampingmu ? ( terdiam sejenak menunggu jawaban, tapi Winda hanya diam ). Lebih bagus, bangun tidur melihatku kan ? " kata Noel.


Winda masih saja diam, terus berfikir, tidak mengerti apa maksud dari perkataan Noel, bukannya perkataannya tidak menjelaskan apa pun ???


" Maaf Winda. Aku melakukan itu padamu " kata Noel.


Seketika hati Winda benar-benar sakit mendengarnya, hal yang dari tadi Winda takutkan, terjawab sudah. Air mata mengalir membasahi pipi, menangis tanpa suara, hanya menangis, terus menangis, kenapa ?


Kenapa ... ???


Bagaimana mungkin ... ???


" Aku harus melakukannya, untuk menyelamatkan mu " sambung Noel.


Winda kembali dibuat bingung, bagaimana bisa ? Melakukan itu tapi untuk menyelamatkan dirinya ? Alasan macam apa itu ???


" Kenakan bajumu, aku akan menjelaskan semuanya, lalu mengantarmu pulang " kata Noel saat Winda mulai tenang.


Noel lebih dulu bangkit dari tidurnya, mengenakan baju dengan posisi membelakangi Winda. Setelah Winda beres berpakaian lengkap, barulah Noel membalikkan badannya. Noel berjalan mendekat, meraih tangan dan kemudian duduk bersimpuh dihadapan Winda.


" Maaf Winda, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa menahan diriku, aku sangat menyukaimu. Sangat susah bagiku untuk menahannya, kamu boleh marah, kamu boleh memakiku, lakukan, aku akan terima konsekwensinya, apa pun itu. Tapi please, jangan menjauhiku " kata Noel.


Tampak butiran bening keluar dari sudut mata Noel, menangis, untuk pertama kalinya Winda melihat seorang Noel menangis. Menyesal ? Ya, sudah pasti menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Tapi ... ???


Entah kenapa tiba-tiba ada yang mengusik pikiran Winda saat ini, merasa ada yang janggal, ada yang mencurigakan, serasa tidak mungkin jika Noel bekerja sama dengan ???


" Kak ! Bagaimana bisa aku denganmu ? Terakhir aku bersama Amel, sebelum aku jatuh pingsan ? Apa kakak ... ??? " tanya Winda.


" Siapa Amel ??? " Noel bertanya balik.


Lohh kok ... ???


Winda kembali dibuat bingung, ternyata Noel tidak mengenal Amel ? jadi bagaimana mereka bisa kerja sama ???


" Kakak gak tau Amel siapa ??? " Winda memastikan lagi.


" Tidak. Memangnya dia siapa ? " Noel tetap tidak tau.


" Gimana ceritanya ? aku bisa dengan kakak ?" tanya Winda.


" Sebenarnya... " kata Noel.


Flash back on.


Noel baru saja keluar dari ruangan, saat dirinya berpapasan dengan dua orang yang memakai pakaian serba hitam dan memakai jaket bertudung. Salah satunya sedang menggendong seseorang, dilihat dari rok yang dikenakan, sepertinya seorang gadis pelajar.


Awalnya Noel cuek tidak perduli, tapi saat melihat sepatu yang dipakai gadis tersebut. Kenapa rasa familiar ? Tidak asing ?? Mirip dengan yang dipakai ??? Noel kembali melihat ke belakang, dari kejauhan terlihat ikat rambut yang juga familiar.


Noel terus berfikir, sepatu ? ikat rambut ??. Nama Winda seketika melintas di dalam kepalanya. Buru-buru Noel mengejar, namun kehilangan jejak kedua orang tersebut. Berlari ke depan, menuju resepsionis, dengan memaksa dan marah-marah, akhirnya Noel mendapatkan informasi letak kamar mereka beserta kunci cadangannya.


" Win...!!! " saat Noel menghampiri Winda, menepuk pipi dengan lembut tapi kemudian Noel menyadari sesuatu. Ada yang aneh dengan sikap Winda, sesekali Winda membuka matanya tapi tidak ada kesadarannya.


" APA YANG KALIAN BERIKAN PADANYA ??? " Noel mencengkeram baju salah satu pelakunya.


" Kami memberinya obat, kami membayar untuk gadis itu " begitulah kalimat yang keluar dari mulutnya.


Tambah menjadi amarah Noel, dirinya kembali melayangkan beberapa pukulan kepada mereka berdua.


" Amankan mereka berdua, jangan dilepaskan...!!! Sebelum aku memberi perintah...!!! " kata Noel memberi perintah kepada bawahannya.


Noel kembali menghampiri Winda, efek dari obatnya semakin menjadi, irama nafas semakin cepat dan berat, secara tiba-tiba Winda membuka matanya, menatap lurus Noel, tersenyum, menarik Noel dan menciumnya. Kejadian selanjutnya ???


Flash back off.


Seketika tangan kanan Winda menutup mulut Noel, seketika itu juga Noel tak melanjutkan ceritanya. Noel menarik tangan, lalu mengusap pipi Winda dengan lembut.


" Maaf Winda, aku sudah mencoba menahannya semampuku. Biar bagaimana pun aku ini laki-laki normal dan aku bertambah kesal saat melihat bekas tanda yang mereka tinggalkan. Jadi... aku menghapusnya " kata Noel.


Winda benar-benar tidak bisa berkomentar lagi, terlalu banyak yang perlu dicerna, dipahami dalam waktu bersamaan. Sakit semua-muanya, itu yang Winda rasakan saat ini.

__ADS_1


" Untuk ke depannya, aku akan ... " kata Noel.


" Enggak Kak. Enggak perlu ( buru-buru memotong pembicaraan ) Tapi aku minta sama Kakak, kejadian ini, tolong dirahasiakan, cukup kita berdua saja yang tau. Aku gak kuat hati, kalau sampai keluargaku tau, aku gak bisa menghadapinya " kata Winda.


Buliran air bening kembali membasahi pipi Winda, dirinya tak bisa membayangkan betapa hancur hati orang tua dan para kakaknya, jika sampai mengetahuinya. Dan bisa dipastikan, Winda akan mendapatkan akibat yang bukan main-main dari sang Bapak.


" Maaf Win, aku benar-benar minta maaf...!!! " Noel memeluk Winda.


Menangis. Hanya bisa menangis. Mau marah pun serasa percuma, semua sudah terlanjur, sudah terjadi, mau diapakan pun tidak bisa kembali seperti semula. Anggap lah ini nasib yang harus Winda terima sebagai pengalaman, sebagai pelajaran, agar ke depannya, dirinya lebih berhati-hati lagi dalam bertindak.


Kehormatan satu-satunya seorang gadis, kini Winda sudah tidak memilikinya lagi. Sedih, sudah pasti. Mau marah, gak guna. Dalam setiap musibah tak semuanya selalu buruk, pasti ada sisi baiknya. Entah itu bisa dibilang sisi baik atau bukan ? Setidaknya Winda bisa kehilangan itu dengan orang yang menyukai dirinya, bukan dengan orang asing yang tidak dikenalinya.


Winda melepaskan pelukan Noel, memperhatikan sekeliling ruangan mencari tas punggung miliknya, diantara barang-barang yang berantakan.


" Mencari apa ? " tanya Noel.


" Mencari tasku. Mau lihat jam " kata Winda.


" Sekarang sudah jam 7 malam. Nah... itu dia tasmu" kata Noel.


Segera membuka, mencari hp nya, harus segera mengabari orang rumah, pasti pada khawatir karena dari siang belum pulang ke rumah. Terus mencari setiap bagian tas, namun barang yang dicarinya tidak ada di dalam tas. Winda mencoba mengingat, dimana terakhir dirinya memegang hp tersebut. Bayangan di dalam cafe, terlintas dalam kepala.


" Apa terjatuh di cafe ya ? " Winda bergumam lirih.


" Kenapa Win ? Ada yang hilang ? " tanya Noel.


" Hp ku hilang Kak, gak ada di dalam tas. Mungkin terjatuh di cafe, sesaat sebelum aku pingsan atau jangan-jangan hp ku dibuang sama Amel " kata Winda.


" Amel. Siapa Amel itu ? " tanya Noel.


" Amel, cewek yang melabrak aku tempo hari, dia mantannya Mas Widi. Dia ngajak aku ke cafe untuk bicara dan dia juga yang memesankan minumanku " kata Winda menjelaskan.


" Amel menjualmu, pasti dia yang sudah taruh obat dalam minumanmu. Balas dendam, itu dia motifnya " kata Noel.


" Masuk akal, tapi ... apa iya, Amel sampai setega itu padaku " Winda masih meragukan kalau itu inisiatif Amel sendiri, pasti ada orang lain dibaliknya.


" Orang yang membelimu, masih aku tahan, kita bisa gali informasi dari mereka. Biar aku saja yang urus, kamu tidak perlu bertemu mereka. Aku akan urus tuntas masalah ini sampai selesai, akan aku temukan semua orang yang terlibat. Kamu tenang saja. Kamu bisa mengandalkan aku. Kamu percaya kan ?" kata Noel.


" Hem ( mengangguk ) Aku percaya sama Kakak " kata Winda.


Sikap baik inilah yang membuat Winda tidak bisa marah kepada Noel, bagaimana tidak, walau pun Winda pernah menolak dirinya, tapi masih saja Noel bersikap baik terhadapnya.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗


__ADS_2