
Satu minggu kemudian, setelah insiden Amel datang melabrak, kini Amel datang menemui Winda kembali, komplit bersama dua kawannya yang mendampingi. Sempat berfikir negatif, tapi akhirnya Winda mencoba untuk tenang mendengarkan terlebih dahulu, apa tujuan mereka menemui dirinya.
" Ada perlu apa ? " tanya Winda.
" Kalian mau melabrak Winda lagi ? " Nansi ikutan berbicara.
" Nansi...!!! " kata Winda.
" Aku mau bicara, tapi gak di sini. Mari bicara di cafe yang dulu sering kita datangi. Please " kata Amel.
" Dengan membawa kedua temanmu ? " kata Winda sambil mengarahkan pandangan kepada dua kawannya Amel.
" Tidak, hanya kita berdua. Sungguh " kata Amel.
" Aku..." kata Winda.
" GAK BOLEH...!!! ( Nansi memotong pembicaraan ). Bisa saja kan, kamu bohong, nanti di tengah perjalanan kalian keroyok rame-rame, aku gak percaya, kalian pasti ada rencana " Nansi merasa curiga.
" HEHH....!!! " salah satu teman Amel.
" APPAA....???? " Nansi gak kalah galaknya.
" Nansi, gak apa-apa ( menahan ). Baik, ayo kita bicara " kata Winda mengiyakan permintaan Amel.
" Win, kamu yakin ? " tanya Nansi.
" Gak apa-apa. Aku yakin, sebelumnya Amel pasti sudah bicara dulu dengan Mas Widi, lagian kita memang harus bicara, supaya masalahnya selesai " kata Winda.
" Tapi Win..." Nansi masih saja gak percaya.
" Jangan su'uzhon " kata Winda.
Akhirnya Winda dan Amel pergi bersama-sama, Nansi memandangi kepergian mereka, dalam hati sangat tidak tenang, dirinya rada gelisah, takut terjadi seperti kemarin, tapi bener kata Winda, mereka harus bicara, supaya masalah diantara mereka cepat selesai.
" Winda pergi sama siapa tuh ? " tanya Vera.
" Sama Amel " jawab Nansi.
" Amel ??? Siapa ??? " tanya Vera.
" Mantannya Mas Widi, cewek yang melabrak Winda kemarin " Nansi menjelaskan.
" Ooohhh... mantan... ( tersadar sesuatu ) HEHH...!!! DIA...??? ( menunjuk ) Kok kamu biarain sih...? Kalau dikeroyok lagi gimana ? " kata Vera.
" Winda bilang mereka berdua harus bicara, menyelesaikan masalah diantara mereka. Yakin aja lah, Winda bilang, jangan su...su...su... ( mencoba mengingat ) Apa tadi Winda bilang ya ? " kata Nansi berfikir.
__ADS_1
" Jangan su'uzhon " Vera menebak.
" Nah... itu dia. Semoga aja beneran niat baik itu anak, gak ngapa-ngapain Winda " kata Nansi.
" Aku yakin Winda gak bakalan dikeroyok lagi, pasti sudah dapat peringatan dari kakaknya Winda, gak berani macam-macam " kata Vera.
" Semoga " kata Nansi.
***
Sekarang ini Winda dan Amel sudah berada disebuah cafe yang tidak terlalu ramai, dulu mereka sering datang ke cafe ini, untuk belajar bareng atau pun hanya sekedar nongkrong kumpul bareng dengan teman-teman yang lainnya, menghabiskan waktu bersama.
" Nahh, aku pesankan minuman kesukaanmu" kata Amel.
" Bicara saja langsung ke intinya, gak usah basa basi " kata Winda berbicara terus terang.
Amel terdiam sesaat, menutup kelopak matanya beberapa saat, mengembuskan napas dari mulutnya dan Winda tau kalau Amel sedang gugup untuk memulai pembicaraan.
" Aku minta maaf atas kejadian kemarin " kata Amel.
" Hanya itu...??? " kata Winda.
" Dengar dulu. Aku minta maaf, aku sadar aku salah paham, sudah menuduh kamu sebagai dalangnya. Waktu aku cari tau tentang cewek itu dan ternyata dia merupakan teman sekolahmu. Aku benar-benar marah dan langsung berfikir kamu sengaja melakukannya.
Karena dari awal kan, kamu memang gak suka sama aku, jadi aku beranggapan, ini sebagai upayamu untuk memisahkan kami, untuk balas dendam terhadapku " kata Amel.
" Kamu bisa menilaiku Mel. Aku memang gak suka kalian pacaran tapi bukan berarti aku membencimu. Apa kamu beneran lupa ? Kenapa aku gak menyukai hubungan kalian ? ( terdiam sejenak, menarik napas dan menghembuskannya ) Aku tidak suka caramu Mel, caramu mendapatkan Mas Widi, aku benar-benar gak suka, sampai segitunya kamu menginginkannya ??.
Seandainya kamu mengatakannya, memberitahuku, mungkin... bisa saja, ceritanya akan berbeda. Mungkin, kita masih bisa berteman sekarang ini. Sama seperti dulu " kata Winda.
" Maaf Win...!!! Aku benar-benar minta maaf..!! Mau kan, maafin aku...??? Ya...??? " kata Amel.
Winda terdiam menatap lurus Amel, dari sorot matanya sih... sepertinya Amel bicara jujur, benar-benar menyesali perbuatannya, tapi kala mengingat perbuatan sebelumnya...??? Kok masih sakit juga ya...!!! Winda mengambil minuman di hadapannya, meminumnya beberapa teguk dan meletakkannya kembali di atas meja.
" Aku tidak berharap kita dapat berteman seperti dulu lagi, kamu maafin aku saja, itu sudah lebih dari cukup. Kemarin itu aku benar-benar marah dan sekarang aku benar-benar menyesalinya, aku tau perbuatanku itu benar-benar buruk " kata Amel.
" Sadar diri juga, kalau perbuatanmu buruk ? tapi kenapa masih kamu lakukan juga ? Kamu itu pintar tapi bisanya berfikir dangkal seperti itu !!! Kebanyakan main sih...!!! " kata Winda.
" Apa kamu harus ngatain aku begitu ? " kata Amel.
" Kamu itu memang begitu, kebanyakan main, apalagi ketemu teman baru, gampang banget dipengaruhi. Ini ikut, itu ikut, gampang goyah " kata Winda.
" Win...!!! " kata Amel.
" APAA...??? ( melebarkan mata ) kenyataannya begitu " Winda mengatakan kebenarannya.
__ADS_1
Kembali saling menatap dengan tatapan sinis, terdiam beberapa saat, berpaling, saling menatap kembali, tersenyum dan seketika secara bersamaan keduanya tertawa. Entah apa yang lucu...???
Dalam hati Winda, ada rasa sedikit plong, untuk sesaat kenangan masa dulu terlintas di dalam benak Winda, saat itu juga mereka duduk berdua, menikmati minuman yang sama dan di tempat yang sama pula.
" Win, aku minta maaf " Amel mengulangi permintaan maafnya.
" Sudah lah. Semua sudah terjadi, mau marah pun percuma, gak ada gunanya, buang-buang tenaga " kata Winda.
Mereka berdua pun menikmati minuman yang ada dihadapan mereka, meminumnya sampai habis tak tersisa. Mereka berdua berbicara dengan santai, tidak ada amarah dan tidak ada kekesalan lagi.
Mereka berdua terus berbicara, tiba-tiba Winda merasa pusing, semakin lama semakin tambah pusing, pandangan mata mulai kabur, semua yang ada dihadapannya mulai terlihat blurr.
" Kenapa Win ? Kamu sakit ? " tanya Amel.
" Gak tau. Tiba-tiba pusing " kata Winda.
Winda menggelengkan kepala, meraba-raba ke dalam tas punggungnya mencari hp, berusaha untuk fokus ke layar hp, hendak memanggil seseorang, namun pandangannya semakin blurr, tidak dapat membaca jelas nama yang tertera, Winda pun asal tekan.
Entah siapa nama yang tertera dilayar hp, Winda sudah tidak perduli, sakit di kepalanya semakin menjadi, hp pun terlepas dari genggaman tangan yang bersamaan kepala Winda tertunduk menabrak meja.
" Win... Winda... kamu kenapa Win ? Win...!!! " Amel mendekat.
Winda masih dapat mendengar suara Amel memanggil-manggil namanya, merasakan tangannya mengguncang-guncang tubuhnya, pandangan semakin bertambah blurr, Winda dapat melihat bayangan dua orang mendekatinya, setelah itu pandangan menjadi gelap gulita dan tak mendengar suara apa pun lagi.
***
Berlahan Winda membuka kedua matanya, pandangan mata masih samar-samar, Winda masih merasakan sakit kepalanya sehingga menutup matanya kembali, namun tangannya meraba sesuatu ? Guling, itu lah yang dipikiran Winda. Winda pun melingkarkan tangannya, tapi dirinya merasakan ada yang berbeda.
Guling ini sedikit lebih besar, terasa sangat halus dan juga terasa hangat, sangat berbeda dengan guling yang biasa dipeluknya saat tidur. Winda kembali membuka matanya, berkedip-kedip beberapa kali mencoba untuk memfokuskan pandangan matanya.
Alangkah terkejutnya Winda, saat menyadari bahwa yang dipeluknya ini bukan lah guling, tapi...??? Winda memperhatikan langit-langit, ruangan ini tampak asing, ini bukan kamarnya, lalu ini di mana ? Kenapa bisa dirinya di sini ??? Ngapain dia di sini ???
Mulai tersadar, merasakan ada yang aneh dengan badannya, dirinya dapat merasakan permukaan sprei dan selimut secara bersamaan. Merasakan badan sendiri, serasa polos tidak mengenakan apa pun, menutup mata dan bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah terjadi ???
Winda benar-benar bingung dengan situasi sekarang ini, mengumpulkan keberanian diri, mengangkat kepala, melihat ke atas dan selanjutnya lebih membuat Winda terkejut lagi.
" Kak...??? " Winda berkata sangat lirih.
Mata terbelalak, terbuka bulat sempurna, bagaimana bisa ??? Apa yang terjadi ???
.
.
.
__ADS_1
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗