
Tanpa pikir panjang Niko, Rey dan Juan, langsung bergegas pergi ke rumah Winda untuk menemui Widi. Sudah tidak sabar menunjukkan rekaman video yang baru ditemukan. Niko semakin gelisah memikirkan bagaimana keadaan Winda sekarang ini, kekhawatirannya ternyata benar dan kini hanya bisa berharap Winda baik-baik saja dan tidak kenapa-kenapa.
" Niko...??? " kata Widi yang bertepatan keluar dari rumah.
" Maaf Mas, aku datang tiba-tiba, soalnya aku ... " kata Niko.
Belum saja Niko menyelesaikan kalimatnya, mereka dikejutkan dengan sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti tepat di depan rumah Winda. Juan yang mengenali mobil tersebut, kemudian berbisik memberitahu pada Rey dan Niko, kalau itu merupakan mobil milik keluarga Noel.
Benar saja setelah itu terlihat Noel dan Winda keluar dari dalam mobil, mereka semua sama-sama terkejut, saling memandang untuk beberapa saat dan Widi segera bergegas menghampiri sang adik.
" Dek ... !!! Kamu kemana saja ? Kamu ini bikin orang khawatir ? Kamu pergi kemana sama cowok ini ? " Widi tak bisa menahan kekesalannya.
" Maaf Mas, hp ku ilang, jadi aku gak bisa ngabarin ke rumah. Lagi pula, aku gak hafal nomor. Maaf ... !!! Bapak dan Ibu bagaimana ?" kata Winda menunduk karena merasa bersalah.
" Aman. Bapak dan Ibu kan, tadi siang ke pesta, besok sore baru pulang. Sekarang jelas kan ... !!! Kamu dari mana ? Dan ngapain saja ? Kalian berdua gak macam-macam kan ? " kata Widi.
" Tadi aku ke rumah teman dan ketiduran ( bicara pelan ). Waktu pulang gak dapat ojek, trus ketemu Kak Noel, diantar pulang. Emm ... Kakak bertiga ada perlu apa ya ke sini ? " kata Winda mengarah pada Niko, Rey dan Juan.
" Tadi Niko yang ngabarin Mas, dia yang kasih info tentang kamu, hp mu ada sama dia " kata Widi.
" Benarkah ... !!! Mana ... ? " Winda berjalan mendekat ke Niko.
Saat Niko mengulurkan tangannya, hp ditarik mundur kembali, menatap Winda kemudian berganti ke arah Noel. Tatapan curiga ??? Itu lah yang Winda rasakan.
" Temanmu yang mana Win ? Si Nansi ? " tanya Niko.
" He'eh Nansi. Kakak temukan dimana hp ku ?" kata Winda.
" Di cafe tempat kamu bicara dengan Amel, aku yang mengambilnya " kata Rey.
" Aku tau, kamu berbohong Wiwin " Niko bicara berbisik di dekat Winda.
Winda terdiam menatap Niko dengan terkejut, begitu juga dengan Rey yang menatap dengan tatapan curiga.
" Akan aku jelaskan, tapi tidak sekarang. Please ... kalian pulang dulu " Winda balas bicara berbisik.
" Teman-teman, lebih baik kita pulang, biarkan Winda istirahat dulu, pasti dia capek " kata Noel mengalihkan pembicaraan.
" Jangan sampai kehilangan lagi ya " Niko memberikan hp tersebut.
" Kami pulang dulu. Bye Winda " kata Juan.
Setelah berpamitan mereka berempat segera meninggalkan rumah Winda, hanya tinggal berdua saja, Winda segera masuk dan membersihkan badannya. Lama Winda duduk di kamar mandi, sengaja menyalakan air keran supaya suara tangisannya tidak terdengar keluar. Saat keluar dari kamar mandi, ternyata sudah ditunggu oleh sang kakak.
" Dek ... !!! Kamu tadi bicara dengan Amel kan ? " tanya Widi.
" Iya, dia minta maaf. Kenapa Mas takut aku hajar dia ? Mas khawatir ? Mas mau balikan sama dia ? " Winda mulai rada kesal.
" Enggak kok. Mas cuma tanya saja. Tadi itu Niko kasih tau, kalau pulang sekolah tadi, kamu pergi sama Amel ke cafe. Niko khawatir, waktu tau kamu belum pulang ke rumah, Mas tadi sampai telepon Amel tapi sayangnya gak diangkat, mungkin dia masih marah " kata Widi.
" Sudahlah Mas, aku males bahas Amel " Winda berlalu melewati sang kakak begitu saja.
" Dek, matamu kok merah gitu ? kayak habis nangis " kata Widi.
" Kena air sabun " Winda menjawab tanpa berbalik.
__ADS_1
Sesampainya dikamar, Winda menatap dirinya di depan cermin, memperhatikan dari atas ke bawah, dadanya terasa begitu sesak, air mata kembali membasahi pipi dan meratapi nasib sekali lagi.
***
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali Winda sudah dikejutkan dengan kedatangan Niko yang sudah menunggu di depan rumah tapi anehnya berpakaian biasa, tidak memakai seragam sekolah. Tanpa banyak bicara mengajak Winda berkendara dan ternyata di bawa ke kosan.
Begitu masuk ke dalam kosan, pemandangan lebih membuat terkejut lagi, ada Noel, Rey dan Juan, mereka bertiga masih tidur dengan arah posisi malang melintang tidak karuan, tapi anehnya mereka semua pulas banget tidurnya. Niko sengaja menutup pintu dengan suara keras dan seketika mereka terbangun karena kaget.
" Kenapa kalian tidur lagi ? Kan, aku sudah bilang siapkan sarapan " kata Niko.
" Berisik lah. Kita beli saja. Sana jemput Winda " kata Rey masih belum begitu sadar.
" Selamat pagi para Kakak ... !!! " Winda mengucapkan salam.
Seketika mereka bertiga mulai duduk, menggosok-gosok matanya, ada yang menguap lebar-lebar karena masih mengantuk. Mereka bertiga gantian ke kamar mandi untuk mencuci wajah mereka. Setelah semuanya sudah sadar, kumpul duduk bareng di ruang tamu.
" Semalam kalian begadang apa ? Terlihat masih mengantuk " kata Winda.
" Bahas kamu. Kami bicara sampai gak sadar waktu " kata Juan sambil menyeruput teh hangatnya.
" Maaf ya, aku tidak mengangkat telepon darimu ( memeluk Winda ). Padahal kamu sedang butuh pertolongan waktu itu " kata Rey.
" Kenapa kamu harus berbohong ? Yang mereka lakukan itu, sudah termasuk tindakan kriminal " kata Niko.
" Bahkan kami, sudah mengantongi buktinya " kata Juan.
" Kak Noel cerita apa saja ? " tanya Winda menatap ke arah Noel.
" Semuanya. Sekarang kita tinggal tunggu kabar saja, aku sudah suruh orang untuk mengurusnya, aku sudah janji kan ? " kata Noel.
" Untuk hari ini. Kita semua akan bolos " kata Rey.
" HAH ... !!! ( terkejut ). Kalian ini sudah kelas tiga, mana boleh main bolos saja, kalian akan ... " kata Winda.
" STOP ... !!! Gak usah dibahas " kata Niko.
" Kamu lihat dech, rekaman video ini " Juan menunjukkan rekaman video lewat laptopnya.
Dalam video tersebut terlihat jelas saat Winda berbicara dengan Amel, begitu Winda jatuh pingsan, datang lah dua orang teman Amel, tak lama kemudian datang dua orang laki-laki dan segera membawa Winda pergi
Winda sangat terkejut, dirinya benar-benar tak menyangka kalau Amel benar-benar setega itu kepada dirinya. Kembali ingin menangis, namun Winda berusaha menahannya, jangan sampai jatuh. Jika sampai sang kakak tau semua kejadian ini, maka dia akan benar-benar sangat sedih.
Mendapati orang yang pernah disukai, orang yang dicintai, orang yang pernah menjadi pacarnya, dengan tega menjual adiknya kepada orang lain. Jika ini merupakan tindakan balas dendam, sesakit apa yang sudah sang kakak berikan pada Amel ?.
Winda melihat kembali rekaman video tersebut, terlihat Amel sedikit terkejut ketika Winda dibawa pergi oleh dua orang laki-laki, sempat melakukan protes kepada dua orang temannya. Namun hanya sesaat saja dan setelah itu Amel hanya mengikuti kedua temannya tanpa melakukan protes lagi.
Wajah dua orang laki-laki tersebut, tidak terlihat jelas karena mereka memakai pakaian serba hitam dan tudung jaket dikenakan di kepala mereka. Noel segera menutup laptop secara tiba-tiba, saat menyadari bola mata Winda mulai berkaca-kaca.
" Sudah jangan dilihat lagi, aku jadi kesal mengingatnya " kata Noel.
" Kesal kenapa ? Bukannya mereka sudah kamu hajar ? " kata Juan.
" Tentu saja aku kesal dan marah. Berani-beraninya dia menyentuh Winda dan juga ... " kata Noel.
" Kak ... !!! " Winda buru-buru memotong perkataan dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Dan juga apa ? " tanya Rey penasaran kelanjutannya.
" Dan juga membeli Winda dengan harga yang sangat murah. Menyebalkan bukan ... ??? " sambung Noel menatap bergantian.
" Keluargamu harus tau Win, ini tindakan kriminal, mereka harus mendapatkan hukumannya, mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka " kata Niko.
" Aku tidak mau. Aku benar-benar malu kalau sampai orang lain tau, apa lagi kalau berurusan dengan aparat hukum, keluargaku akan sangat malu. Bukan hanya masa depanku saja yang jadi taruhannya, tapi juga mereka bertiga, kasihan orang tua mereka " kata Winda.
" Aku sudah bilang, Winda tak mau melibatkan siapa pun " sambung Noel.
Mereka bertiga kompak menghembuskan nafas secara kasar, kesal sendiri mendengar jawaban Winda. Kalau orang lain, sudah akan murka sejadi-jadinya, tidak perduli dengan masa depan bagaimana, yang penting pelaku dapat balasannya. Tapi Winda malah repot-repot berfikir sebaliknya.
" Kak ... !!! Aku lapar " kata Winda.
" Rey, pergi sana, beli sarapan. Bukannya tadi kamu bilang beli saja " kata Niko mengingatkan.
" Iya lah, aku pergi beli. Ayo Juan, temani aku " Rey mengajak Juan pergi bersamanya.
Rey dan Juan pergi, Noel juga keluar karena menerima telepon, tinggal lah Winda dan Niko berdua di ruang tamu. Niko terus memperhatikan Winda, dari semalam ada yang mengusik pikirannya, mumpung hanya berdua, kesempatan untuk bertanya dan melihat yang mengganggunya.
" Wiwin, tolong buka baju seragammu " pinta Niko.
" HAH ... ??? " seketika Winda menatap dengan mata lebar.
" Dari tadi malam, ada yang mengganggu pikiranku, aku ingin melihatnya, seperti ada luka lebam di dekat lehermu " kata Niko menjelaskan.
" Ohhh ... itu..., gak apa-apa kok Kak, gak sakit. Kelihatan kah ? " kata Winda secara refleks menarik kerah bajunya.
Namun Niko memaksa ingin melihatnya, sehingga Niko menarik paksa kerah baju yang Winda kenakan.
" Gak apa-apa Kak ... !!! " Winda berusaha menolaknya.
" WIWIN ... !!! " Niko meninggikan suaranya sambil menatap serius.
Pada akhirnya Winda mengalah, membiarkan Niko melihat yang diinginkan, menarik kerah baju, memperhatikan. Winda menutup wajahnya dengan kedua tangan, benar-benar merasa sangat malu.
" Wiwin ... !!! Ini ... ??? Berapa banyak ? ( menarik tangan Winda ). Jawab Win ... !!! Mereka Melakukan apa saja ? Wiwin jawab, jangan diam saja ... !!! " Niko mencengkeram kedua lengan Winda.
" Jangan tanya lagi Kak ( mulai berkaca-kaca ) Please ..... aku gak bisa jawab " jawab Winda.
Seketika butiran kristal bening meluncur membasahi pipi Winda, kembali menangis, menangis tanpa suara. Niko memeluk erat Winda, kini dirinya mengerti, kenapa Winda lebih memilih diam, tidak memberitahu kepada keluarganya.
" Maaf ( mengusap punggung ). Maaf kan aku, aku tidak akan membahasnya lagi, aku janji ... !!! " kata Niko ikut meneteskan air mata.
Keduanya diam dengan saling memeluk, sementara Noel hanya diam terpaku di balik pintu, yang tak tertutup rapat dan mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua.
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.
__ADS_1