Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 79 Perkara rujak


__ADS_3

Baru saja memasuki ruang kelas, Winda langsung disambut dengan berbagai pertanyaan dari para teman-teman sekelasnya.


" Ditanya apa saja Win ? "


" Beneran itu kamu ? "


" Bagaimana bisa ? "


" Sudah berapa lama ? "


" Dengan siapa ? "


Lah ??? Kok pertanyaan aneh-aneh sih ? Mereka ini beranggapan apa ? Gak bener ini, harus dijelaskan, supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Akhirnya Winda pun bercerita.


Winda menceritakan semua yang terjadi di dalam ruang BP, dari pertanyaan guru, jawaban Winda dan tentang rujakan rame-rame. Gara-gara rujak itu lah kelasnya menjadi yang paling mencurigakan dan sangat berpotensi terjadi hal tersebut.


" Jadi itu beneran test peck ? " tanya Lovely.


" Hem, begitu aku baca tadi. Aku heran lah, siapa kira-kira ? " kata Winda.


" Aku pikir, itu beneran punyamu loh Win. Aku beneran sampai kaget tadi, waktu kamu ngaku " kata Vera.


" Haaiiss, jelek betul lah perkataanmu " kata Winda jadi kesal.


" Ya wajar lah aku kaget, tiba-tiba kamu ngaku begitu ke Ibu Ana. Syukurlah ini hanya salah paham " kata Nansi.


" Tapi, kalian rasa aneh gak sih ? Berani betul itu anak, melakukan tes kehamilan di sekolah ? " kata Nirmala.


" Bener banget dan begonya, dia asal main buang saja kertasnya, cari masalah sendiri namanya ? " sambung Echa.


" Aku rasa bukan asal buang, lebih tepatnya terjatuh dengan tidak sengaja. Tes itu kan, bukan main-main, dia pasti juga berhati-hati, tapi ya itu, berani betul dia melakukannya di sekolah ? Atau mungkin, dia sudah kepepet, gak ada pilihan lain ? " kata Winda.


" Bukan itu yang jadi permasalahannya ? Tapi hasilnya ? Kalian gak penasaran ? " kata Lovely.


Hemmm... semua tertunduk, terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, menerka-nerka, kira-kira siapa ? Bagaimana hasilnya ? Sampai sebuah perkataan membuyarkan pikiran mereka.


" Di lihat saja nanti. Siapa yang perutnya besar ? Itu sudah yang hamil " kata Shanti tiba-tiba ikut bicara.


" Mulutmu itu Shan...!!! ( menegur ) Kalau aku lebih berharap, semoga hasilnya negatif dan semoga bukan dari kelas kita. Amin. ( terdiam sejenak ). Eh... amin kan, dong...!!! Doa yang baik loh barusan " kata Winda.


AAMIIN


Para teman-teman pun kompak.


***


Saat pulang sekolah tiba, Winda dihadang oleh Rey, tanpa basa basi segera menarik tas punggung yang Winda pakai, membawa dirinya pergi menjauh ke tempat tongkrongan biasa. Tapi cara bawanya itu loh, tas punggung Winda diangkat tinggi-tinggi, komplit dengan Winda nya, sudah mirip baju digantungan.


" Kak Rey...!!! " Winda memanggil agar dilepaskan.


Rey tidak memperdulikan panggilan Winda, terus berjalan sambil menenteng dan saat sampai di tempat tujuan, Winda di dudukkan. Entah dari mana di tempat tersebut, muncul kursi, di sana juga sudah menunggu Niko, Noel dan Juan.


" Ada apa sih, Kak ? " tanya Winda memulai pembicaraan.


Keempat seniornya berdiri tegak di depan Winda, menyilangkan kedua tangannya, menatap dengan tatapan tajam dan terlihat sedang tidak bercanda.

__ADS_1


" Benar itu punya kamu ? " tanya Rey


" Kamu melakukan dengan siapa ? " tanya Noel.


" Bagaimana hasilnya ? " tanya Niko.


" Cerita saja, kami dengarkan " kata Juan.


Winda mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat untuk diam dan tidak melanjutkan lagi pertanyaan. Ini sudah gak benar, sudah pasti salah dengar informasi ini atau gak salah menduga ini. Gantian Winda yang memberikan tatapan tajam kepada para seniornya.


" Pertama, itu bukan punyaku. Kedua, aku gak melakukan itu. Ketiga, aku gak tau hasilnya apa. Dan terakhir KALIAN SALAH PAHAM " Winda berkata sambil menatap bergantian ke arah mereka.


" Syukurlah...!!! " mereka kompak.


" Kelasmu yang paling mencurigakan " kata Rey.


" Gara-gara kalian buat rujak rame-rame " kata Juan.


" Haaiiss...RUJAK LAGI...!!! ( kesal ) Emangnya orang makan rujak, sudah pasti lagi hamil ? Kan, enggak ? Kalau memang hanya karena rujak ? Pak Hadi juga ikutan makan rujak. Trus Pak Hadi ikutan hamil gitu ??? " kata Winda nada sedikit ngegas.


" Pak Hadi ? Ikutan makan ? " tanya Noel.


" He'eh. Soalnya, mangga yang aku petik, Pak Hadi yang bungkus " kata Winda.


" Jadi kamu pencurinya...??? " Juan tiba-tiba ngegas.


" Enak saja...!!! Aku petik dulu, baru izin " kata Winda gak mau kalah.


" Jadi...??? Bagaimana ceritanya ? Sampai kamu yang ngaku ? " tanya Niko.


Winda pun menceritakan kejadian awal dirinya menemukan kertas bungkus tersebut, tanpa memperhatikan langsung masukkan saja ke tong sampah dan tidak menaruh curiga apa pun. Sampai lah terjadi penggeledahan secara mendadak tersebut, dibawa ke ruang BP, diintrogasi dan keluar lagi dengan aman, tidak ada masalah lagi.


" Ya memang begitu kenyataannya. Seumur-umur baru itu aku lihat test peck, tapi karena itu, aku jadi kepikiran. Itu punya siapa ya ? Hasilnya bagaimana ? Sekarang ini, pasti dia lagi setress banget " kata Winda.


" Makanya jangan buat tindakan yang aneh-aneh ? Kenak kan, kamu " kata Rey.


" Aneh-aneh apa sih ? Cuma rujak juga " kata Winda.


" Lain kali, kamu harus hati-hati, untung ini salah paham dan bagus lah kalau sudah diselesaikan " kata Noel sambil duduk jongkok dihadapan Winda.


Situasinya sedikit terasa aneh, kalau dalam film-film, pasti sudah terdengar musik lembut sok-sok romantisan dan muncul bunga-bunga pink kelap kelip. Sayangnya gagal romantis, mata Winda berbinar lihat buah jambu yang mulai menguning.


" Buah jambu....!!! " Winda spontan berdiri dan mendekati pohon jambu.


Sangking kagetnya Noel sampai jatuh terduduk, begitu juga dengan yang lainnya tak kalah kaget dan sementara Winda tersenyum lebar, tanpa rasa dosa sama sekali.


" Kakak....!!! Tolong petik kan...!!! " Winda meminta tolong dengan nada yang dibuat semanis mungkin.


Para senior masih terdiam, saling memandang, berbicara lewat telepati dan bersamaan menggelengkan kepala mereka. Mendapat penolakan, tak mematahkan keinginannya untuk mendapatkan jambu. Panjat saja.


" JANGAN...!!! " berteriak bersamaan.


" Iya iya, aku petik kan " kata Niko.


***

__ADS_1


Harapan tinggal harapan.


Sebulan setelah penemuan test peck di toilet sekolah, yang membuat geger para penghuninya, kini sudah menemukan titik terang. Sedih banget waktu dengar kabar tersebut, serasa hati ini ditampar berulang-ulang dan kenapa pas banget. Harus gitu, dari kelasnya Winda.


" Bagaimana Karin ? " tanya Winda.


" Di keluarkan dari sekolah, apalagi ? " jawab Karin.


" Ternyata, beneran dari kelas kita ya " Nansi kecewa.


" Aku gak sangka loh, kalau itu Jessi " Vera sama terkejutnya.


" Jangan-jangan, kamu sudah tau kalau itu Jessi ? " tanya Lovely pada Winda.


" Karena aku yang ngajak rujakan ? Gitu ? " jawab Winda rada sinis.


" Habis kejadian ini, pasti kita semua bakalan diberi ceramah sama Ibu Ana " kata Echa.


" Aku jamin, bukan hanya Ibu Ana saja, semua guru akan menasehati hal yang sama " kata Nirmala.


" Kasihan Jessi. Iya gak sih ? " kata Lovely.


" Buat apa kasihan ? ( nada tegas ) Itu kesalahannya sendiri, sekarang dia harus tanggung jawab dengan perbuatannya, bikin malu sekolah saja " Shanti tiba-tiba berbicara dengan nada ketus, tanpa sungkan sama sekali.


" SHAN...!!! ( membentak ). Sekali saja...!!! Gunakan simpati dan empati mu itu, gak bisa kah ? " Winda benar-benar kesal dengan ucapan Shanti.


Dengan kesal Winda meninggalkan ruang kelas, yang disusul oleh Nansi dan Karin dari belakang. Winda mengepalkan kedua tangannya, mencoba agar dirinya tidak marah lebih lanjut lagi.


Sebuah sentuhan di pundak Winda, menyadarkan dirinya, segera berbalik dan mendapati Nansi yang mencoba menghiburnya. Tiba-tiba Winda memeluk Nansi, mencoba menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Kamu ini, seperti gak kenal tabiat Shanti saja bagaimana " kata Nansi.


" Tapi aku kesal. Enteng betul dia ngomong. Gak kasihan apa sama Jessi ? Jessi itu kan, teman kita juga, kita semua kan, cewek, bisanya dia ngomong gitu ? " kata Winda terus memeluk Nansi.


" Kapan-kapan kita jenguk Jessi, gimana mau gak ? " Nansi mencoba menghibur.


" Boleh...!!! ( mendongakkan kepala ) Emang kamu tau rumah Jessi ? " kata Winda melepaskan pelukannya.


" Mereka bertetangga, depan belakang " sambung Karin.


Winda tampak terkejut mendengar suara Karin, dirinya pikir hanya ada Nansi saja yang mengikutinya, Winda pun tersenyum malu-malu, mengingat kejadian main peluk Nansi.


" Kalian benar-benar dekat ya " kata Karin memuji keduanya.


" Haaiiss...!!! Perkara rujak, buntutnya jadi panjang gini. Besok-besok kalau mau rujakan lagi, kita ajak anak Tata Kecantikan, biar aman" kata Winda.


" Apa hubungannya coba...? " Nansi malah bingung.


Menatap Karin pun, sama bingungnya.


.


.


.

__ADS_1


( bersambung )


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗


__ADS_2