
Selesai melakukan ibadah, saat orang-orang mulai keluar dari bangunan gereja satu per satu, Nansi segera berlari menghampiri Jessi yang sudah sedikit jauh.
" Kenapa ? Tumben ? " kata Jessi saat Nansi sudah sampai dihadapannya.
" Aku peringatkan, JANGAN BUAT BUAT GOSIP YANG TIDAK BETUL " Nansi menekan nada bicaranya.
" Buat gosip ? siapa ? " Jessi tidak paham.
" Jangan pura-pura ! Winda " kata Nansi mengingatkan.
Saat nama Winda disebutkan, seketika ekspresi Jessi langsung berubah, pasti karena gosipnya sudah menyebar, sudah sampai di telinga Nansi, namun Jessi kembali bersikap biasa seolah-olah tidak melakukan kesalahan apa pun.
" Aku, hanya cerita yang sebenarnya " bantah Jessi.
" Jangan pura-pura ! cerita yang kalian buat, sudah kalian tambahi. Kamu dan Karin ! sengaja menyebarkan gosip yang gak betul tentang Winda. Apa sih tujuan kalian ? " kata Nansi.
Jessi memutarkan bola matanya, pakai tanya lagi ? masa tidak tau ? Jessi menatap lurus Nansi, menyilangkan kedua tangannya, menegakkan postur badannya dan mendehamkan suaranya.
" Aku tidak suka, kamu dekat Winda " ucap Jessi tegas dan jelas.
Nansi mengernyitkan dahinya, heran ? tidak masuk akal ? itulah yang ada dibenaknya saat ini. Tapi dari tatapan Jessi, sepertinya dia serius, tidak bercanda. Kemudian Jessi mengeluarkan semua unek-uneknya, ketidaksukaannya terhadap Winda, menyebutkan semuanya satu per satu dengan nada bicara yang menggebu-gebu dan justru membuat Nansi bertambah heran.
Ya benar heran ?
Heran ? karena Jessi begitu mengkhawatirkan tentang pertemanannya, mengkhawatirkan sesuatu yang tidak masuk akal menurut Nansi, sebenarnya Jessi itu mengkhawatirkan siapa ? apa ?. Nansi hanya menanggapi dengan senyum lebar yang merekah karena terasa lucu baginya.
" Jessi...!!! Terserah aku mau berteman dengan siapa ? kenapa kamu yang repot ? " kata Nansi.
" KARENA KAMU BERUBAH " bentak Jessi.
Seketika mereka terdiam sesaat, Jessi mengambil napas dan menghembuskan secara kasar, dirinya sudah benar-benar kesal, serasa percuma dari tadi dirinya mengeluarkan semua unek-uneknya di hati.
" Kamu sadar gak ? kamu berubah ! Kamu sudah lupa dengan teman-teman seagamamu, kamu lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dengan Winda, SADAR NANSI, dia itu Islam " kata Jessi.
" Lalu kenapa ? " Nansi menjawab dengan nada sangat santai yang membuat Jessi bertambah sangat, sangat, sangat kesal banget.
" NANSI...!!! " bentak Jessi.
Nansi tersenyum, kemudian dirinya balik memberi penjelasan kepada Jessi. Terserah dirinya mau berteman dengan siapa ? Dirinya sendiri lah yang berhak memutuskan, bukan orang lain, karena itu adalah kehidupannya, urusannya, dirinya lebih tau, bisa membedakan, mana yang baik buat dirinya ? dan mana yang buruk buat dirinya ?
Tidak perduli dia mau dari agama mana ? kalangan apa ? suku mana ?. Terlepas dari semua itu, kalau dirasa baik, kenapa tidak ?. Apa hanya karena beda ? Jadi tidak boleh berteman ? Apa harus sama, untuk menjalin sebuah pertemanan ? Bukan kah intinya, kita merasa nyaman satu sama lainnya ?
Mendengar penjelasan dari Nansi, membuat Jessi diam tak bisa menyangkal, memberi jawaban balik, Jessi hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, karena menahan rasa kesalnya.
" Aku suka berteman dengan Winda, dia baik, itu yang aku rasakan " kata Nansi.
__ADS_1
" BAIK ? DIA BAIK ? Kamu lupa, perbuatannya kemarin ? kalau dia baik, dia tidak akan melakukan itu. DIA sudah mengkhianati kamu, dia tidak baik, dia hanya pura-pura ! " kata Jessi mengingatkan kejadian kemarin.
" Itu karena kita sendiri yang salah, kita yang tidak mengerjakan tugas dan Winda sendiri yang mengerjakan tugas. Apa salahnya menjadi murid yang baik, bukannya memang harus begitu ? " jawab Nansi.
Jessi tersenyum sinis, murid yang baik ? terdengar sangat lucu di telinganya, MUNAFIK, itu lah yang di kepalanya.
" Dia itu...!!! " kata Jessi.
" CUKUP....!!! " Nansi melebarkan tangannya tepat di hadapan Jessi, untuk menghentikan ucapan buruk tentang Winda lagi.
Nansi menggelengkan kepalanya, memberi isyarat, kalau dirinya sudah tidak mau dengar hal buruk terucap dari mulut Jessi lagi. Sudah cukup alasannya, sudah terlalu banyak dan jangan menambah lagi.
" Terserah aku, mau berteman dengan siapa, TITIK " ucap Nansi.
Nansi segera berbalik dan pergi menjauh meninggalkan Jessi begitu saja. Jessi benar-benar bertambah marah dan kesal, dirinya benar-benar gregetan terhadap Nansi, kenapa Nansi masih saja membelanya ? Sudah jelas-jelas dikhianati, tapi mengapa masih percaya dia ? Apa yang sudah dia lakukan ? Sampai Nansi begitu percaya kepadanya ?
Seketika Jessi mendapatkan ide, rencana yang bagus, pasti berhasil, Jessi berniat akan mengadu pada keluarga Nansi, pasti akan dinasehati, diberi perintah menjauh, menjaga jarak, kalau tau Nansi berteman baik dengan yang berbeda agama.
Ide yang sempurna, karena Jessi tau kalau keluarga Nansi itu sangat taat tentang ibadah, tidak ada toleransi, tawar menawar kalau menyangkut tentang kepercayaan, semuanya harus sesuai dengan alurnya, disiplin dan tidak boleh main-main.
" Tunggu saja, kamu akan menjauhinya...!!!" ucap Jessi.
Mata Jessi berbinar, kala melihat Kakaknya Nansi yang baru saja keluar dari dalam gereja, kesempatan bagus, niatnya benar-benar didukung, tanpa ragu lagi, Jessi datang menghampiri Kakaknya Nansi dan menceritakan semuanya secara detail dan lengkap, tentu saja sudah ditambahi bumbu-bumbu agar menyakinkan.
***
Sementara itu, Vera dan Jevi memandangi kedatangan Winda dengan tatapan heran, tentu saja karena ada Noel di sampingnya, ditambah lagi melihat jaket yang Winda kenakan, makin penasaran lah mereka berdua.
Winda hanya bisa tersenyum lebar dong, setidaknya dengan keberadaan Noel di sini, Vera tidak jadi marah-marah mengomeli Winda, karena sudah ditinggal secara diam-diam. Vera juga hanya tersenyum, menahan amarahnya, sekarang aman tapi nanti gak tau deh.
" Kak Noel, juga ke sini ? " tanya Vera.
" Hem. Kebetulan ya. Aku dengar dari seseorang tempat ini bagus, masih alami, hawanya sejuk dan ternyata memang benar. Bagus " kata Noel.
" Jadi Kak Noel, pertama kali ke sini ? " tanya Vera.
Noel hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, seketika Vera ikutan tersenyum dan Jevi hanya diam tidak berani menatap langsung ke arah Noel, pasti ada sesuatu ini ?
" Win, kayaknya kita harus balik dulu sebentar ke rumah, sepupuku barusan telepon, dia nyusul dan kayaknya kita bakalan pulang malam. Sebelum tengah malam sampai rumah " kata Vera.
" HAH ??? Tengah malam ? Jangan bercanda Ver ? Bisa dimarah Bapak aku ? Jam sepuluh deh sampai rumah, gimana ? " Winda menawar.
" Masalahnya ( berfikir ) aku sudah bilang iya ke sepupuku " kata Vera.
" WHAT...??? " Winda benar-benar terkejut, Vera seenaknya sendiri mengambil keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu padanya.
__ADS_1
" Sorry, aku pikir kamu gak masalah pulang malam " kata Vera.
" Ya emang gak, tapi gak tengah malam juga Ver, bisa dikubur hidup-hidup sama Bapak aku, MAU LIHAT ??? " kata Winda.
Vera pun mencari cara bagaimana baiknya, lalu terlintas sebuah ide yang cukup bagus di kepalanya, namun beresiko gagal yang lebih besar, tapi patut diutarakan dulu.
" Aku yang minta izin deh ke Bapak mu bagaimana ? " kata Vera.
" Ver, ke depannya gak bakalan dikasih izin lagi, kalau mau jalan, mau kamu ? Tega ke aku ? " kata Winda.
Vera kembali berfikir mencari ide, kemudian Noel menawarkan tumpangan, kebetulan dirinya sendiri tidak ada bawa teman. Tanpa pikir panjang Vera menyetujuinya dong, itu merupakan solusi yang tepat dan terbaik untuk semuanya.
" Itu ide yang bagus Win, pas banget kan ?" Jevi ikutan mendukung keputusan Vera.
Winda menatap tajam ke Jevi, dasar kasmaran, tentu saja setuju karena itu adalah Vera, coba yang lainnya, pasti beda ceritanya. Winda beralih memandang ke Noel, dirinya langsung teringat betapa lajunya Noel saat mengendarai motornya.
{ Nyawaku sampai rumah, gak nih ? } batin Winda.
Tidak ada pilihan lainnya, akhirnya Winda menyetujuinya. Karena Vera dan Winda berjalan kaki menuju air terjun, tentu saja pulangnya juga jalan kaki. Sementara itu Noel mengikuti dengan mengendarai motornya dengan pelan-pelan, serasa gak cocok motor besar jalannya macam siput.
Awalnya Jevi menawarkan akan mengantar, tapi langsung ditolak dengan tegas oleh Vera, alasannya sederhana, karena basah kuyup. Winda sebenarnya sedikit tak enak hati, berangkatnya dengan Vera, giliran pulang, masa dengan Noel ? Apa yang akan dijelaskan nanti, kalau orang rumah tanya ?
Sesampainya di rumah kerabat Vera, Noel menunggu di teras rumah, sementara Winda mandi, membersihkan diri dan ganti baju terlebih dahulu. Setelah semuanya siap, Winda segera berpamitan untuk duluan pulang, gak enak juga, sudah numpang pulang trus membuat Noel menunggu lebih lama lagi.
" Maaf ya Win " kata Vera merasa bersalah.
" Iya gak apa-apa, untung ada Kak Noel. Kami balik duluan ya, bye bye " Winda berpamitan.
" Terima kasih ya Kak " kata Vera.
Noel hanya memberi isyarat dengan tangannya, OK. Winda segera naik, melambaikan tangan sebentar dan motor segera melaju di jalan raya.
{ Semoga nyawaku sampai rumah ) Winda berdoa dalam hati.
Winda mengeratkan pelukannya, setiap Noel menarik gas motornya lebih, lebih dan lebih. Dirinya benar-benar takut kalau sampai jatuh, masih sayang nyawa ceritanya.
.
.
.
( bersambung )
Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗
__ADS_1