Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 18 Kakak adik


__ADS_3

Winda sedang asyik menonton TV, sesekali dirinya tertawa melihat siaran yang diputar di TV.


" Nduk Win...!!! " panggil Ibu.


" Dalem Bu ( iya Bu ) " jawab Winda.


" Ibu sama Bapak mau pergi ke undangan, pulangnya rada malam. Ibu sama Bapak mau singgah dulu di tempat Mbak mu " kata Ibu.


" OK " jawab Winda.


" Mas mu mana ? " tanya Bapak.


" Mungkin di kamarnya " jawab Winda.


" Widi...!!! " panggil Bapak.


" Dalem Pak ( iya Pak ) " Widi keluar dari kamar.


" Ojo dolan, kancani adine ( Jangan main, temani adiknya ) " kata Bapak.


" Bapak sama Ibu ada undangan, pulangnya malam. Jadi kamu di rumah temani adiknya " sambung Ibu.


" Injeh Bu " jawab Widi.


Setelah kepergian Ibu dan Bapak nya, Winda lanjut menonton TV lagi, pandangannya begitu fokus pada acara TV.


" Kalau mau pergi, pergi saja. Aku gak apa-apa di rumah sendirian, aku berani kok " Winda memulai pembicaraan.


" Siapa yang mau pergi " bantah Widi.


" Trus ngapain, dari tadi mondar-mandir mondar-mandir, sudah mirip setrika uap " kata Winda.


" Dek...!!! Mas mau ngomong " kata Widi.


" Ya sudah ngomong saja " jawab Winda.


" Mas mau bahas serius dek " kata Widi.


" Ya sudah. Mas bicara, aku dengarkan " kata Winda.


" Tapi janji, gak boleh marah ? " kata Widi.


" Tentang apa dulu " kata Winda.


Widi diam sejenak, sebelum memulai pembicaraan.


" Gimana, kalau pulang sekolah, kamu tidak mas jemput " kata Widi.


" Ok. Gak masalah " jawab Winda.


" Beneran ? Kamu setuju ? " Widi tidak percaya.


" Iya, gak apa-apa. Tapi... Mas juga ngomong ke Bapak " Winda mengingatkan.


" Aku sudah ngomong ke Bapak. Malah Bapak yang minta untuk bicara dulu ke kamu " kata Widi.


" Ohhh...!!! " kata Winda.


" Aku sudah pikirkan baik-baik. Kamu tidak aku jemput dan Amel juga gak, dengan begitu jadi adil kan ? " kata Widi.


" Yakin Mas ? " tanya Winda.


" Itu yang terbaik. Dengan begitu kalian tidak saling iri dan cemburu satu sama lainnya. Jadi tidak dijemput dua-duanya " kata Widi.


" Kalau aku sih, gak masalah. Mana-mana saja. Gimana dengan si Amel ? Mas sudah ngomong juga ke Amel ? " tanya Winda.


Widi diam tak menjawab.


" Pasti belum kan ? " tebak Winda.


" Rencananya kamu dulu, baru kasih tau Amel. Deal ya siang gak dijemput ? " kata Widi.


" Iya deal. Nanti aku bicara ke Bapak, sekalian saja Mas, pagi gak usah diantar " kata Winda.


" KAMU MAU MAS DI MARAH BAPAK YA ? " Widi meninggikan suaranya.


" Dimarah kenapa ? Lagian nih Mas, aku males lah. Setiap hari selalu bangunin Mas, selalu nunggu Mas, selalu ribut dulu dengan Mas, Wiwin bosan lah Mas. Sudah tau sekolah Wiwin jauh tapi mas.... Mas selalu susah bangun pagi, iyakan...!!! Mas gak bosan apa ? " kata Winda.

__ADS_1


" Dek...!!! Sama saja kamu mancing emosi Bapak. Nanti Bapak pasti marahnya ke aku lagi " kata Widi.


" Ya gak lah. Nanti aku jelaskan ke Bapak. Bapak pasti juga paham. Tenang saja nanti aku ngomongnya baik dan jelas ke Bapak " kata Winda.


" Kamu beneran gak mau lagi antar jemput dengan Mas ? " tanya Winda.


" Mas ini bagaimana sih ? Kan Mas yang gak mau ? Kok jadi aku yang gak mau ? " Winda membalikkan kata-kata Widi.


" Kan... aku cuma gak jemput saja, bukan gak mau antar " kata Widi.


" Ya mending sekalian gak usah semuanya. Lagian loh, Mas paling susah bangun pagi " kata Winda.


" Ya... bagaimana...!!! " Widi tidak bisa menjawab.


" Aku tau, kenapa Mas gak bisa jawab " kata Winda.


Widi diam menatap sang adik.


" Karena Bapak tidak akan memberi uang tambahan ke Mas Widi, jika Mas tidak antar aku ke sekolah. Aku benerkan ? " kata Winda.


Widi kembali diam tak bisa menjawab perkataan Winda


" Yang Mas sayangkan adalah uangnya, bukan aku nya " kata Winda.


" Dek...!!! Kamu ngomong apa sih ? Ngaco ya " bantah Widi.


" Memang iya. Karena uang yang Mas dapat dari Bapak akan berkurang dan itu pasti akan. berpengaruh pada Mas juga " kata Winda.


" Pikiranmu beneran jelek, aku Mas mu loh " kata Widi.


" Trus kenapa ? Memang iya kan ? Jujur saja deh Mas ? Aku ini adeknya Mas, makanya aku paham Mas bagaimana. Aku tau pacaran dengan Amel memerlukan dana, karena Mas cowok " kata Winda.


Winda diam sejenak mengambil napas panjang.


" Sebagai cowok memang harus antar jemput pacar kemana pun dia pergi, membelikan ini dan itu, memenuhi kebutuhan sebisa mungkin harus ada dan itu semua di bilang wajar. Makanya aku heran ini cari pacar ? ojek gratisan ? atau mesin ATM ? Sedangkan mesin ATM juga bisa habis, harus diisi ulang lagi " kata Winda.


" Tidak seperti itu dek...!!! " sangkal Widi.


" Tapi seperti itu, yang aku lihat Mas " jawab Winda.


" Itu yang aku lihat. Seolah-olah dunianya Mas itu hanya berisi Amel, Amel, Amel, Amel dan Amel. Semuanya tentang Amel, apa-apa Amel, bahkan Mas lebih percaya sama Amel. Mata Mas Widi sudah buta. Buta tidak bisa melihat selain Amel, hanya Amel di mata Mas " kata Winda benar-benar kesal.


" Kamu salah paham dek...!!! " kata Widi.


" Aku gak salah paham dan aku gak buta " kata Winda.


" Dek...!!! " kata Widi.


" Aku gak mau dengar " kata Winda.


Winda begitu kesal, sampai-sampai dia memalingkan wajahnya ke arah lain karena tak ingin menatap kakak nya.


" Dek...!!! " Widi memanggil dengan suara lembut.


" Kenapa, kamu jadi benci sekali dengan Amel ? Dulu kamu gak gini loh dek ? Apa alasannya ? " Widi bertanya lagi.


" Mas gak tau ? Apa Mas pura-pura gak tau ? ( menatap sang kakak ). Setelah insiden itu, aku sudah kasih tau Mas kan ? Tapi apa jawaban Mas ? Mas selalu bilang salah paham, Mas gak percaya sama aku " kata Winda.


" Amel beneran lupa dek...!!! " kata Widi.


" Ya berarti Mas lebih percaya pada si Amel kan ? " kata Winda.


" Dek...!!! Please...!!! Aku gak mau ribut " kata Widi.


" Ok. Anggap saja aku salah paham. Selama ini aku salah memahami Amel, tapi Mas... AKU GAK SUKA PERLAKUAN DIA KE MAS " kata Winda.


Winda diam, menarik napas panjang dan menghembuskan secara kasar.


" Mas gak keberatan, karena perlakuan itu dianggap wajar untuk orang pacaran, tapi aku gak suka Mas. Di mataku, Mas diperlakukan seperti pembantu. Aku benar-benar gak suka" kata Winda.


Butiran bening air mulai keluar dari sudut mata Winda, turun membasahi pipi dengan bebasnya.


Widi terdiam mendengar ucapan sang adik, Widi benar-benar tak mengira kalau adiknya justru tak tega melihat dirinya.


" Dek...!!! Aku jelasin ya. Orang... kalau menjalin hubungan memang terlihat seperti itu, seolah-olah terlihat seperti pembantu. Tapi sebenarnya tidak. Mas ini cowok, cowok harus menghargai cewek dan begitulah cara menghargainya " kata Widi.


Widi menghapus air mata Winda dengan perlahan.

__ADS_1


" Mengerti sekarang ? " tanya Widi.


" Tapi aku gak suka " kata Winda.


" Trus, seandainya Mas jodoh nih dengan Amel. Trus Amel jadi kakak ipar mu, bagaimana ? " tanya Widi.


" Ya, itu bea ceritanya. Iya kalau Bapak dan Ibu setuju Mas nikah dengan Amel, bisa juga Bapak dan Ibu gak setuju " jawab Winda.


" Seandainya...??? " Widi mengulangi lagi.


" Nauzubillah minzalik, jangan sampai aku jadi adik ipar Amel " kata Winda.


" Hemmm... susah nih...!!! " kata Widi.


" Mas cari sajalah yang lain " kata Winda.


" Seandainya adek. Se-an-dai-nya " kata Widi.


" Tapi, Mas seperti orang... " Winda mengurungkan lanjutannya.


" Kayak orang bego ? " Widi melanjutkannya.


" Iya " kata Winda.


' Berani kamu ya...!!! ( mencubit pipi Winda ). Ngatain Mas mu ini bego hah...!!! " kata Widi.


" Em...em...am...pun... Mas " kata Winda.


Widi tersenyum melihat tingkah Winda, sementara Winda terus mengusap-usap pipinya yang sakit.


" Aduuhhh...!!! Sakit...!!! " Winda mengeluh.


" Terima kasih ya dek ( mengusap kepala Winda ). Kamu perhatian, karena kamu sayang Mas " kata Widi.


" Idihhh GR. Gak tuh...!!! " Winda menyangkalnya.


" Yang benar.... " goda Widi.


" Enggak kok, siapa yang perhatian ke Mas " Winda tetap menyangkal.


" Ya sudah deh. Aku tinggal ketemuan sama Amel ya " goda Widi.


" Silahkan. Tapi... kalau Bapak pulang trus ditanyain karena Mas gak ada di rumah, maka akan aku jawab dengan jujur ke Bapak. Kalau Mas dapat hukuman, aku gak akan belain " kata Winda.


" Ngancam ya ? " kata Widi.


" He'eh " Winda mengakuinya.


" Iiihhh benar-benar adikku ya kamu...!!! " Widi kembali mencubit pipi Winda.


" Pipiku tambah tembem nih ( memberontak ). Sadar punya adik aku " kata Winda.


" Dulu... kamu lucu loh dek...!!! Gemesin...!!! Kok sekarang beda ya...? Lucunya ilang " goda Widi.


" Ngatain...!!! Mas juga berubah, Mas jadi pelit sama aku. Emm... Mas, belikan jajanan dong di warung sebelah saja, ya...??? " kata Winda merayu sang kakak.


" Tadi ngatain pelit, sekarang malah minta jajan. Gimana sih...? " kata Widi.


" Mas Widi...!!! Maass...!!! " Winda dengan nada dibuat-buat.


" Hehh...!!! Iyalah...!!! ayo beli jajanan " kata Widi mengalah.


" Yeee... asyik...!!! Ditraktir...!!! Tak akan aku sia-siakan. Akan aku manfaatkan dengan baik. He...he...he..." kata Winda.


" Hadechh...!!! Tanda-tanda ini " gumam Widi.


.


.


.


( bersambung )


**Siapa yang punya pengalaman yang sama seperti Winda selalu ribut dengan kakak laki-laki ???


Jangan lupa like dan komen teman-teman, terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗**.

__ADS_1


__ADS_2