Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 31 Gantungan bunga matahari


__ADS_3

Selesai sholat dhuhur, Winda dan Vera sengaja tidak cepat kembali ke dalam kelas, melainkan malah asyik berbaring di sudut bagian belakang dengan masih menggunakan mukena.


" Win...!!! Mukamu kalau pakai mukena gini kelihatan lebih tembem tapi gemesin " kata Vera mencubit pipi Winda.


" Em... em... hen... ti... kan " Winda memberontak.


" Gemes aku lihatnya " ungkap Vera.


" Hentikan Ver, SAKIT...!!! " kata Winda.


" Lucu kamu Win, jadi tambah imut " kata Vera.


" Jangan meledekku ya...!!! " kata Winda.


" Seriusan Win, pakai seragam SD masih cocok kamu " ledek Vera.


" SI...." Winda tak jadi mengumpat, sadar kalau di dalam mushollah.


Vera justru cengengesan godain Winda.


" Oh ya Win, hari minggu kamu ada acara gak ?" tanya Vera.


" Enggak, kenapa ? " tanya Winda.


" Kita jalan yuk, ke air terjun " ajak Vera.


" Air terjun ? berdua ? " tanya Winda.


" Iya air terjun kilo, kebetulan aku ada kerabat di sana, mau gak ? mau ya ? please....??? " Vera memohon.


" Air terjun kilo ? itu jauh gak ? " tanya Winda.


" Tidak jauh, sekitar satu jam perjalanan, bawa motor santai itu, gak terlalu laju " kata Vera.


" Trus kita naik apa ke sana ? " tanya Winda.


" Ya naik motor, Winda " jawab Vera.


" Kamu gitu yang bawa motornya ? " tanya Winda.


" Itu sudah jelas Winda, pakai di tanya lagi. Mau kan ? " tanya Vera.


" Yakin aman Ver, kamu kan belum punya SIM, KTP juga belum punya, kalau ada pos polisi bagaimana ? " Winda terlalu khawatir.


" Dijamin aman, aku sudah sering ke sana bawa motor sendiri, tiba-tiba pengen ke sana, makanya aku ajak kamu " kata Vera.


" Boleh deh, tapi aku izin dulu ya ke orang tua ku, untung kamu kasih tau nya sekarang, kalau mendadak sudah pasti, aku gak dibolehin " kata Winda.


" Iya, aku tau. Makanya aku ajak kamu dari jauh-jauh hari, bener ya, kita jalan ke air terjun, nanti jam nya kita atur " kata Vera.


" Belum juga minta izin Ver, sudah atur jam saja " kata Winda.


" Ya gak apa-apa, eh... balik ke kelas yuk " ajak Vera.


Setelah melipat mukena dan mengembalikan pada tempatnya semula, mereka berdua segera keluar dari mushollah, namun dalam perjalanan kembali ke kelas, Winda melihat Kak Noel dari kejauhan.


{ Duchh... Kak Noel, kalau aku lewat jalan ini pasti berpapasan, gimana ini ? kalau Vera aku ajak mutar jalan ? alasannya apa ? } batin Winda.


Winda berfikir cepat, bagaimana caranya menghindari Noel.


" Ver, kamu duluan saja, aku mau balik ke mushollah, ada barangku ketinggalan " Winda beralasan.


" Mau ditunggu ? " tanya Vera.


" Gak usah, kamu duluan saja, gak apa-apa " kata Winda.


" Ok, duluan ya...!!! " kata Vera.

__ADS_1


Winda berbalik pura-pura berjalan kembali ke mushollah, setelah Vera sedikit jauh, Winda mengambil jalan memutar lewat bagian belakang bangunan.


Winda berjalan dengan tergesa-gesa sambil sesekali menoleh ke belakang, takut kalau-kalau ada yang mengikuti dirinya. Winda terus berjalan dengan cepat, ketika di belokan sudut bangunan, dirinya bertabrakan dengan seseorang.


" Astaghfirullah...!!! " Winda benar-benar terkejut, Winda melihat siapa yang ditabraknya barusan.


" Kak Niko...!!! " Winda sedikit lega karena itu Niko.


" Dikejar siapa ? jalannya buru-buru banget dan kenapa kamu lewat sini ? lewat depan lebih dekat " tanya Niko.


" Gak apa-apa Kak, pengen saja " jawab Winda.


" Yang benar ? " Niko menatap curiga.


" Kalau aku bilang, aku sengaja cari Kak Niko, Kakak percaya ? " kata Winda berusaha senormal mungkin.


" Ada perlu apa, cari aku ? " tanya Niko.


" Rada ke sini deh Kak, biar gak dilihat orang " Winda menarik tangan Niko ke tempat yang diinginkan.


{ Anak ini kenapa ? } batin Niko.


Winda melepaskan genggaman tangannya, lalu dia duduk di pinggiran parit kecil untuk jalannya air hujan, otomatis Niko ikutan duduk di sebelah Winda tanpa diminta.


" Kak...!!! " Winda memulai pembicaraan.


" Iya " jawab Niko.


" Tentang rumor yang beredar, Kakak sengaja melakukannya kan ? " tanya Winda sambil menatap Niko.


" Rumor apa ? " Niko pura-pura tidak paham.


" Jangan pura-pura, aku tau, karena aku sudah bicara dengan Kak Noel, jadi aku ingin tau alasan Kakak ? " tanya Winda.


" Kapan kamu bicara dengan Noel ? " tanya Niko.


" Tadi pagi di...( berhenti sejenak ) perpustakaan " kata Winda.


" Kak Niko...!!! Aku mau dengar alasannya Kakak. Terus terang saja telingaku rada panas mendengarnya, ceritanya melantur kemana-mana. Dugaanku yah... Kakak sengaja melakukannya, menciptakan rumor agar keributan di tempat wudhu tidak tersebar di kalangan para murid. Semoga dugaanku salah " kata Winda.


" Kamu tidak suka ? " tanya Niko.


" Aku tidak suka ( tegas ), karena mereka bicaranya melantur, tapi... ada bagusnya juga sih, mereka tidak bicara yang buruk tentang kalian " kata Winda.


" Jadi... kamu itu sebenarnya suka atau tidak suka ? " tanya Niko.


" Entah lah Kak, aku bingung sendiri " kata Winda.


" Sudah lah cuekin saja, nanti juga berlalu dengan sendirinya, aku sudah terbiasa mendengarnya " kata Niko dengan santai.


" Tapi perkataan Kak Noel, cukup menganggu pikiranku " kata Winda.


" Apa yang mengganggu mu ? " tanya Niko.


" Kalian sengaja menambah hukuman mereka, hanya karena aku ada di dalamnya " kata Winda.


Niko terdiam sejenak sebelum menjawabnya.


" Jawab Kak, aku ingin tau ? " kata Winda.


" Noel sudah menjelaskan, alasan mereka melakukannya, iyakan ? " kata Niko yang disambut anggukkan oleh Winda.


" Tapi kamu tidak memakai kerudung Winda ( menatap Winda dengan serius ). Tempat itu dikhususkan untuk cewek, seorang cowok sampai melakukan itu, pasti punya niatan tidak bagus Winda. Aku cowok makanya aku paham mereka " kata Niko menjelaskan.


Kali ini Winda yang gantian terdiam, karena yang dikatakan Niko memang masuk akal.


" Untung cepat ketahuan, bagaimana kalau tidak ? bisa kamu bayangkan akibatnya ? siapa yang paling dirugikan ? ( terdiam sejenak ). Kamu dan teman-temanmu yang lainnya, kamu mengerti...??? " kata Niko menasehati.

__ADS_1


Winda tertunduk melihat ke arah sepatunya, dirinya tidak berfikir sampai sejauh itu. Benar yang Niko bilang, beruntung cepat ketahuan, kalau tidak, bisa berakibat buruk.


" Aku tidak marah padamu. Maaf, kalau suaraku sedikit keras " kata Niko.


" Aku tidak marah sama Kakak. Apa yang Kakak bilang ada benarnya, mungkin awalnya iseng karena penasaran ingin tau, tapi... bisa berakhir menjadi kebiasaan yang buruk. Bodohnya aku, tidak berfikir sampai sejauh itu" kata Winda tetap tertunduk.


" Jangan menyalakan dirimu. Mereka sudah janji tidak akan melakukannya lagi dan sekolah akan lebih memperhatikan supaya kejadian ini tidak terulang kembali ke depannya " kata Niko.


" Benar-benar beruntung waktu itu ada Kak Niko dan Kak Noel. Terima kasih ya Kak, sudah melindungi kami " kata Winda.


" Sama-sama " kata Niko.


Tiba-tiba pandangan mata Winda tertuju pada gantungan hp berbentuk bunga matahari, dari saku celana Niko.


" Bunga matahari...!!! Boleh lihat kak ? " tanya Winda.


" Boleh " kata Niko mengeluarkan dari sakunya.


" Cantiknya...!!! Lucu deh...!!! Tapi Kak, gak salah ? gantungan hp nya bunga matahari ? " tanya Winda.


" Memangnya kenapa ? " tanya Niko.


" Kakak kan, cowok. Apa gak aneh suka bunga" kata Winda.


" Apa kamu lupa ? Aku cowok tapi jurusanku Tata Boga dan ada juga cowok di jurusan Kecantikan. Jadi apa anehnya, kalau hanya suka bunga " kata Niko.


" Iya juga ya, tapi... bunga ini mirip " kata Winda.


" Mirip ? " tanya Niko.


" Mirip dengan punyaku yang dulu, kebetulan kali ya, soalnya kan, gantungan seperti ini ada banyak, gak mungkin cuma ada satu " kata Winda.


" Memangnya punyamu kemana ? " tanya Niko.


" Aku kasih kan, pada seorang Kakak " kata Winda.


" Kakakmu ? " tanya Niko.


" Aku juga gak tau siapa itu Kakak, aku bertemu di pasar, dia lagi duduk dekat tangga di lantai atas. Kelihatannya habis berantem, karena tangannya terluka, aku balut lukanya, aku bagi kue dan aku kasih gantungan ku " Winda bercerita.


" Kenapa ? karena kasihan ? " tanya Niko.


" Tidak. Hanya ingin saja, gak ada alasan untuk berbuat baik kan ? " jawab Winda.


" Apa kamu..." kata Niko.


" Sayangnya, aku lupa menanyakan namanya, sekarang pun aku sudah gak ingat bagaimana rupanya " kata Winda.


Winda terdiam asyik mengamati gantungan hp.


" Winda..." kata Niko.


Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng tanda istirahat sudah berakhir.


" Bel masuk. Ini Kak aku kembalikan, harus cepat kembali ke kelas " kata Winda.


Namun saat Winda hendak berdiri, dirinya teringat sesuatu.


" Sekali lagi terima kasih ya Kak, karena sudah menolong aku dan teman-temanku. Sekalian aku minta maaf, gara-gara kami Kakak jadi kena masalah dengan jurusan Perhotelan. Aku pergi dulu, bye Kak Niko " kata Winda.


Winda segera bangkit berdiri dan segera berlari menuju ruang kelasnya. Sementara Niko masih duduk terdiam, memandang kepergian Winda.


{ Aku selalu mengingatmu } batin Niko.


.


.

__ADS_1


.


( bersambung )


__ADS_2