
Sehabis upacara selesai, murid-murid langsung pada berteduh, ada yang ke kelas, ke kantin dulu dan duduk santai di bawah pohon.
" Masih pagi, kenapa sudah panas betul ya " Winda mengeluh.
" Siapa suruh, berdiri di barisan depan " kata Nansi.
" Nansi, kamu meledekku ya...? Percuma aku berdiri di barisan belakang pasti di seret juga ke depan " kata Winda.
Winda melepaskan topi dan menjadikannya kipas, pandangan mata tiba-tiba tertuju pada Pak Hadi yang berada di kejauhan sana.
" Lihat apa Win ? " tanya Nansi.
" Lihat Pak Hadi " jawab Winda.
" Kenapa dengan Pak Hadi ? " tanya Nansi.
" Pak Hadi..." kata Winda terpotong.
" Pak Hadi ganteng ya " Vera tiba-tiba gabung, entah muncul darimana.
" Datang tiba-tiba tak diundang, pulangnya jangan minta antar ya " kata Winda asal bicara.
" Emangnya aku jelangkung apa ? " Vera kesal.
" Entah belum pernah lihat aslinya sih " kata Winda.
" Ngomong-ngomong tentang Pak Hadi, kalian sudah dengar gak ? " kata Vera.
" Apa...??? " Winda dan Nansi serentak.
" Dengar-dengar Pak Hadi itu masih single belum merrid " kata Vera.
" Yang benar ? Gak mungkin ? " jawab Nansi.
" Gak tau juga sih, dengar-dengar begitu " kata Vera.
" Memang benar, Pak Hadi belum menikah " kata Winda.
" Tau darimana ? Jangan bilang cuma dengar-dengar ya " kata Nansi.
" Dari Pak Hadi sendiri " jawab Winda.
" HAH...??? SERIUSAN...??? " Vera dan Nansi terkejut.
Winda melebarkan pandangannya, heran dengan reaksi temannya yang dinilai berlebihan.
" Biasa saja dong reaksinya " kata Winda.
" Dengar langsung dari Pak Hadi ? Gimana ceritanya ? Kamu tanya gitu ? " Vera benar-benar ingin tau.
" Iya, aku tanya langsung sama Pak Hadi " jawab Winda.
" Seriusan ? Kapan ? " tanya Nansi.
" Kemarin " jawab Winda.
" Wahhh... kamu ada sesuatu nih dengan Pak Hadi " Vera asal ngomong.
" IIHH... MULUT...!!! SEMBARANGAN...!!! Pak guru itu, jangan asal ngomong, jatuhnya fitnah loh " kata Winda meninggikan suaranya.
" Maaf. Trus gimana bisa tau ? Gak mungkin kan, tanpa sebab apa pun, tiba-tiba tanya ke Pak Hadi • Pak Hadi sudah menikah belum?• Gak mungkin kan ? " kata Vera.
" Iya Win benar, gimana ceritanya ? " tanya Nansi.
" Kemarin di pasar. Aku bantuin di warung, nah... Pak Hadi singgah makan, terus ngobrol deh panjang lebar. Pas ngobrol itu Pak Hadi kasih tau kalau belum menikah, GITU...!!!" kata Winda menjelaskan.
" Iihhss... bikin iri..." kata Vera.
" Iri kenapa lagi ? " tanya Winda.
" Iyalah bikin iri, bisa bicara santai dengan Pak Hadi, bicaranya berdua saja ? " tanya Vera.
" Kebetulan pas sepi pembeli, ya cuma bicara berdua " kata Winda.
" Waahhh... keren...!!! " Vera dan Nansi bersamaan heboh.
" Ssstt...!!! Mulut ehh.... kenceng bener " kata Winda memperingatkan.
Entah muncul darimana, tiba-tiba datang si Lovely gabung.
" Cerita apaan sih ? rame bener ? " tanya Lovely.
" Ini loh, cerita tentang Pak Hadi yang masih single itu " kata Vera.
" Trus ? " tanya Lovely.
__ADS_1
" Gosipnya ternyata benar " kata Nansi.
" Tau darimana ? " tanya Lovely.
" Nihh... dari Winda ( sambil menunjuk ). Dia tau dari sumbernya langsung, Pak Hadi, keren gak tuh " kata Vera.
" Seriusan...??? " Lovely memandang tidak percaya.
" Biasa saja " kata Winda.
" Gimana ceritanya ? " Lovely bertanya hal sama.
" Ceritanya panjang, intinya sih kebetulan saja" Winda malas menjelaskan lagi pada Lovely.
" Hemmm... ada kesempatan nih " Lovely tersenyum mencurigakan.
" Kesempatan apa ? Lovely ? Jangan aneh-aneh ? " kata Winda.
" Kesempatan jadi istrinya dong...!!! " Lovely dengan PD.
" Kamu...??? " Winda, Vera dan Nansi serentak.
" Iya lah aku. Siapa lagi, kalian mau saingan sama aku ? Ayo saingan yang sehat ? " tantang Lovely.
Seketika mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.
" JANGAN NGETAWAIN YA...? " kata Lovely.
" Lovely... Lovely... SADAR DIRI WOI...!!! Kita ini masih sekolah " kata Vera meledek Lovely.
" Menghayalnya terlalu tinggi...!!! " tambah Nansi.
" Aduhai...!!! Lovely, gak mungkin lah Pak Hadi suka sama anak didiknya sendiri. Kecuali nanti... kalau sudah tamat sekolah dan kalau jodoh " kata Winda dengan bijaksana.
" Tuchh... dengerin omongan Winda " ledek Vera.
" Maksudku ya itu..." kata Lovely tak mau kalah.
" Waaduuhh...!!! Pak Hadi perhatian kita dong, tau nih kalau lagi di omongin " kata Nansi.
" Masa...??? " Winda malah menoleh.
Entah kebetulan atau apa, Pak Hadi tersenyum lebar, Seketika itu juga mereka langsung membubarkan diri dan menuju ruang kelas. Pas banget sebentar lagi sudah waktunya pelajaran akan dimulai.
" Nanti aku ceritakan, berdua saja, pas istirahat pertama " kata Winda.
" OK. Malas juga kalau Vera dan Lovely ikut, terlalu heboh " kata Nansi.
" Wahhh... serakah juga dirimu Nansi " kata Winda.
***
Saat jam istirahat tiba Winda dan Nansi pergi ke belakang sekolah, andalan dekat pohon jambu lagi.
" Cepat ceritakan aku penasaran " Nansi tak sabar.
" Belum juga duduk, langsung tanya " jawab Winda.
" Aku benar-benar penasaran, biasanya kebetulan gitu " kata Nansi.
" Jadi gini. Pak Hadi kan, habis belanja trus singgah makan di warung ortu, kebetulan ortu lagi pulang dulu dan yang bantu-bantu lagi makan siang. Otomatis aku dong yang melayani, kamu tau Pak Hadi itu sudah sering makan di warung, tapi... baru kemarin Pak Hadi tau kalau aku anak nya pemilik warung " kata Winda.
" Trus...? " tanya Nansi.
" Karena gak ada pembeli lainnya dan posisi cuma berdua, ya diajak ngobrol lah, awalnya biasa saja, santai " kata Winda.
" Siapa yang duluan ngajak ngobrol ? " tanya Nansi.
" Tentu saja Pak Hadi duluan. Nah pas ngobrol, mataku gak sengaja lihat tas belanjaan Pak Hadi. Isinya keperluan dapur, karena penasaran iseng lah aku tanya •kenapa tidak belanja dengan istri Bapak ?• Awalnya Pak Hadi diam dulu gak langsung jawab " kata Winda.
" Trus... trus...!!! " kata Nansi.
" Pak jawab •Nanti kalau Bapak sudah menikah, tentu akan belanja dengan istri Bapak, untuk sekarang ini ya sendiri dulu• Jangan tanya reaksiku sama seperti Vera tadi, gak percaya " kata Winda.
" Kok bisa kebetulan gitu ya...? " kata Nansi.
" Entah...!!! " kata Winda.
" Kira-kira kenapa ya ? ( berfikir ) Pak Hadi belum menikah juga ? Padahal kan, secara umur sudah lebih dari cukup, pekerjaan ada, mapan, wajahnya juga ganteng " kata Nansi.
" Nah... sama aku juga berfikir begitu. Malahan sangking mulutku gak bisa ngerem, aku sampaikan ke Pak Hadi " kata Winda.
" Apa jawaban Pak Hadi ? " tanya Nansi.
" Belum ketemu jodoh " jawab Winda.
__ADS_1
" HAH...??? Pak jawab gitu ? " kata Nansi.
" He'eh, dengan santai, biasa saja " kata Winda.
" Hemmm ( berfikir ) kira-kira kenapa ya ? " Nansi bertanya-tanya.
" Hanya Pak Hadi yang tau jawabannya " kata Winda.
" Kalau menurutmu, kenapa ? " Nansi ingin tau pendapat Winda.
" Mungkin... Pak Hadi menunggu seseorang yang beliau sukai itu, bisa jadi kan, Pak punya pacar trus pacaran jarak jauh. Itu yang aku pikirkan " kata Winda mengutarakan pikirannya.
" Bisa jadi juga sih. Biasanya orang kalau berumur seleranya tinggi, suka pilih-pilih, tidak sembarangan, apalagi menentukan pasangan hidup pasti dipilih betul-betul " kata Nansi.
" Pikirannya orang mana bisa ditebak, tapi... Pak Hadi cukup baik, ramah sama setiap murid, kalau bicara dengan Pak Hadi bawaannya santai, kayak bicara dengan teman, padahal lagi bicara sama guru " kata Winda.
" Kamu lupa ya, Pak Hadi itu kan, Wakasek kesiswaan " kata Nansi.
" HAH...??? MASA SIH...??? " kata Winda.
" Lah...??? Baru sadar...? " kata Nansi.
" Selama ini aku gak perhatikan secara detail" jawab Winda.
" Astaga kamu ini...!!! " Nansi heran dengan Winda.
" Kalau begitu, pantas saja Pak Hadi dekat dengan para murid, ternyata Wakasek Kesiswaan toh " kata Winda.
" Hemm... gini nih kalau gak perhatikan " kata Nansi.
" Yang aku tau Pak Hadi guru bahasa Indonesia, sudah itu saja. Aku pikir memang kepribadian Pak yang ramah, makanya dekat dengan para murid. Wakasek Kesiswaan, tugas Pak Hadi berat juga ya " kata Winda.
" Memangnya kamu paham, tugasnya bagaimana ? " tanya Nansi.
" Ya tau lah " jawab Winda.
" Apa coba kalau tau ? " tantang Nansi.
" Mengamati setiap murid, mencari tau masalah setiap murid, mendengarkan keluh kesah murid, intinya Pak Hadi merupakan jembatan setiap permasalahan yang murid hadapi. Kira-kira seperti itu " jawab Winda.
" Tau darimana ? " tanya Nansi.
" Aku karang sendiri barusan " jawab Winda.
" HEEEHHH... jawaban asal ternyata " kata Nansi tersenyum kesal.
" Kamu juga fansnya Pak Hadi ya Nansi ? " goda Winda.
" Siapa yang gak suka Pak Hadi ? Coba sebutkan ? Gak ada kan ? " tanya Nansi.
" Iya juga ya " kata Winda.
" Karena apa ? Karena Pak Hadi baik, pengertian, memahami murid, makanya para murid suka dengan Pak Hadi. Tau Pak Hadi belum menikah ya wajar lah kalau ada yang ingin jadi istrinya " kata Nansi.
" Itu lah yang buat aku tambah heran " kata Winda.
" Heran kenapa ? " tanya Nansi.
" Pak Hadi itu kan, baik, ramah, pengertian tapi kenapa belum menikah ? Apa perempuan di sekitar Pak Hadi itu buta ? Gak bisa lihat Pak yang segitu baiknya " kata Winda.
" Hemmm iya juga ya...!!! Nansi baru ngeh.
" Iya kan...??? Mikir juga dirimu kan...??? " kata Winda.
" Coba kamu tanya sama Pak Hadi, kali saja dijawab " kata Nansi.
" Sudah aku tanya kan " kata Winda.
" Trus...??? " Nansi semangat.
" Gak dijawab sama Pak. Selesai makan Pak Hadi pulang, ya sudah gak bikin tanya-tanya lagi " kata Winda.
" YAAHHH....!!! " Nansi kecewa mendengarnya.
.
.
.
( bersambung )
Pak Hadi beneran sosok guru yang baik dan berwibawa, walaupun dekat dengan murid-murid tapi gak pernah memanfaatkan kesempatan yang mengarah ke negatif.
Terima kasih sudah mampir membaca teman-teman 🙏🤗.
__ADS_1