Pelangi Diwarna Abu-abu

Pelangi Diwarna Abu-abu
Bab 58 Menangis, karena apa ?


__ADS_3

Gosip yang beredar dan drama Karin ketumpahan minuman pas di kantin sekolah, benar-benar menjadi topik hangat, menjadi cerita yang panjang, para murid terus membicarakannya, cerita terus berkembang menjadi tak terkendali. Satu hari, dua hari, tiga hari dan masih juga menjadi topik yang hangat.


Berusaha sabar mendengarkan, karena bingung mau melakukan pembelaan yang bagaimana ? Orang yang lebih percaya dan menyakini yang mereka lihat, siapa yang mau repot-repot mencari tau kebenaran ceritanya bagaimana ?


Setelah kejadian itu, Winda lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kelas, dirinya benar-benar mulai muak, mendengarkan, dilihatin dengan tatapan yang beraneka ragam. Pengen jelasin ! Tapi pasti ribut ! Itulah yang di kepala Winda, karena terlalu rumit, kalau mau menjelaskan satu per satu. Ditambah lagi suasana masih benar-benar hangat begini, yang ada malah jadi masalah lebih besar lagi.


Bertambah hari dada Winda semakin sesak, teman-teman yang lainnya seperti serasa menjaga jarak, bukan hanya teman-teman sekelas saja, bahkan Noel juga seperti menghindari Winda. Beberapa kali berpapasan dengan Noel, dia selalu berlalu begitu saja, seperti tidak melihat Winda dan itu terasa menambah sakit di dalam dada Winda.


Winda memasuki gudang di belakang sekolah, duduk diantara tumpukan meja dan kursi yang tidak terpakai. Sengaja mencari tempat, agar dirinya benar-benar bisa menyendiri. Rasa sakit di dalam dada semakin sakit, mengingat kejadian hari minggu kemarin, antara dirinya dan Noel. Itu benar-benar hanya mimpi, khayalannya saja, bukan nyata.


Flash back on


" Aku menyukaimu, Winda "


Pernyataan cinta yang begitu tiba-tiba, benar-benar membuat Winda sangat, sangat, sangat, sangat terkejut. Tidak disangka-sangka. Tidak terduga. Tidak dapat dipercaya. Tidak mungkin. Serasa mimpi.


Sangking kagetnya mendengarnya, Winda hanya terdiam, terpaku, seperti mendapat serangan jantung mendadak secara bertubi-tubi, otaknya masih berfikir, masih mencerna, yang dirinya dengar barusan itu hanya mimpi atau halusinasi dirinya saja.


Winda mencubit pipinya sendiri dan terasa sakit, berarti ini bukan mimpi ? ini nyata dong ? bukan khayalan Winda semata. Winda berbalik menatap wajah Noel, memastikan kembali ini bukan lah mimpi.


" Aku menyukaimu, Winda" Noel mengulangi kembali kalimatnya.


" Kakak bercanda, ya ? " Winda masih belum bisa mempercayainya.


Noel menggelengkan kepalanya, tatapan Noel begitu serius, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan keanehan. Winda terus melihat ke arah Noel, benar-benar masih tidak bisa mempercayai ini.


Noel mengambil sesuatu dari saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kalung berliontin bentuk hati, meraih tangan dan meletakkan kalung tersebut di telapak tangan Winda.


" Aku menyukaimu, ayo pacaran " kata Noel.


Lagi-lagi Winda terdiam, dirinya benar-benar sangat, sangat, sangat terkejut, belum bisa percaya sepenuhnya, tidak tau harus menjawab apa ? Dalam kepalanya justru muncul pertanyaan, bagaimana bisa ? Sejak kapan ? Sejak kapan menyukai dirinya ?


" A...a...ak..." Winda terbata-bata.


" Aku tau ini mendadak ( menggenggam tangan Winda ). Kamu tidak harus menjawab sekarang, pikirkan dulu, pertimbangkan, aku akan menunggu jawaban mu, sampai kamu siap mengatakannya " kata Noel.

__ADS_1


" Tapi kak, ba....??? " kata Winda.


" Pikirkan dulu, setelah kamu yakin, kamu pakai kalung itu " Noel tersenyum dan kemudian mencium punggung tangan Winda.


Tak ada jawaban, Winda hanya membalas dengan senyuman, hari ini dirinya benar-benar senam jantung. Mendapat pernyataan cinta di suasana senja sore hari, benar-benar serasa mimpi, mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.


Flash back off


Saat ini di dalam gudang sekolah Winda duduk sambil mencengkram baju di dadanya, napasnya serasa sesak, sakit seperti ada duri-duri kecil yang menusuknya dari dalam. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini sudah meluncur dengan bebas, membasahi pipi, sudah tak tertahankan lagi dan akhirnya terdengar suara tangisan dari mulut Winda.


Winda melipat kedua kakinya, menundukkan kepala, meletakkan kepala di atas lututnya, menangis dengan suara yang kecil. Menangis entah menangisi apa ? Menangis karena salah paham dengan teman-teman ? Atau menangis karena sikap cuek dari Noel ? Entahlah ? Hanya saja, kedua-duanya sungguh menyakitkan dada Winda.


" Winda...!!! "


Sebuah panggilan tiba-tiba terdengar di telinga Winda dan Winda tau , siapa pemilik suara tersebut. Winda begitu malu mengangkat wajahnya, dirinya benar-benar merasa buruk saat ini dan tidak mau menunjukkan wajah menangisnya pada siapa pun.


" Menangis saja. Keluar kan semuanya " Niko menghampiri, duduk di sebelah dan menepuk kepala Winda dengan lembut.


Benar saja, setelah kedatangan Niko, tangisan Winda semakin menjadi, tangisannya mulai terisak-isak, sesekali bahu Winda sedikit terangkat karena gerakan spontan. Niko meraih kepala Winda, menyandarkan ke dadanya, satu tangan di pundak Winda dan satu tangan menggenggam tangan Winda.


*


Niko membuka matanya terlebih dahulu, membuka mata berlahan, dirinya merasakan pundaknya terasa berat dan sedikit kaku kram. Menoleh, lalu tersenyum, melihat wajah tidur Winda yang begitu pulas, terlihat sangat imut dan cantik.


{ Jadi begini, wajah mu kalau tidur ? } batin Niko.


Niko memandangi wajah Winda yang tertidur, diamatinya baik-baik, alis, bulu mata, bentuk hidung dan terakhir fokus pada bibir Winda. Niko menelan air liurnya, seketika timbul keinginan untuk mencium bibir Winda. Saat keinginan lebih besar, tentu saja anggota tubuh akan bergerak untuk mewujudkannya.


Kini bibir mereka sudah bersentuhan, Niko begitu menikmatinya, walau Winda dalam keadaan tertidur, hati Niko tak memungkiri dirinya merasa senang. Niko menghentikan tindakannya, kala Winda menggeliat dan menggerakkan kepalanya.


Selang beberapa detik kemudian, secara berlahan Winda membuka matanya, menyesuaikan pandangan dengan berkedip beberapa kali. Tampak sedikit terkejut saat pandangan keduanya saling bertemu, memperhatikan posisi duduk mereka beberapa saat dan saat mulai sadar, Winda mulai duduk tegak.


Baik Winda atau pun Niko saling diam, sedikit canggung dan salah tingkah, dengan pikirannya masing-masing. Niko merasa malu kalau sampai ketahuan, dirinya tadi mencium Winda, sementara Winda merasa malu karena tertidur di pundak Niko.


" Em... Kak..." panggil Winda lirih.

__ADS_1


" Ya " jawab Niko.


Winda memainkan jari jemarinya, dirinya ragu-ragu mau mengucapkan kata dari mulutnya, serasa berat untuk keluar. Niko menepuk punggung tangan Winda, seolah mengerti apa yang akan Winda ucapkan.


" Aku tidak akan cerita siapa-siapa. Tapi..." kata Niko.


Winda menatap Niko, tapi apa ? Kenapa ada syaratnya ?


" Coba cerita. Kamu menangis, karena apa ? " tanya Niko.


" Tidak apa-apa, hanya salah paham saja " ucap Winda lirih.


Niko menundukkan kepalanya, menghadap wajah Winda, tersenyum dan kemudian memeluk Winda. Menepuk kecil pundak Winda.


" Baiklah kalau belum siap cerita, gak apa-apa, tapi... kalau mau curhat, aku siap dengarkan. Mengerti...!!! " kata Niko.


" Hem " jawab Winda.


Niko melepaskan pelukannya dan saat itu Winda mulai sadar, segera meraih hp untuk melihat jam. Pandangan mata seketika melebar, melihat jam yang tertera di layar hp. Sudah hampir waktunya pulang sekolah ? Mereka berdua bolos dong ?


Winda menatap Niko tapi Niko santai saja, gak ada panik-paniknya sama sekali. Niko malah tersenyum, mengangkatnya kedua bahunya, memberi isyarat, apa mau dikata, sudah terlanjur, ya sudah bolos saja.


" Kak...!!! " ucap Winda.


" Sesekali, gak apa-apa " jawab Niko.


Keduanya tersenyum dan tertawa kecil. Santai banget reaksinya ? Biar lah, gak ada salahnya ? Begini juga boleh. Gak buruk.


.


.


.


( bersambung )

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗


__ADS_2