
Masih dimalam yang sama, malam yang indah untuk sepasang pengantin yang nampak memukau layaknya raja dan ratu yang menguasai malam indah itu. Senyum ceria penuh kebahagiaan tidak pernah luput dari wajah mereka masing masing. Kebahagiaan yang mereka rasakan tentunya menular pada semua orang yang turut hadir dalam acara resepsi pernikahan itu.
Namun tidak untuk Rangga dan Nina. Dua orang yang benar benar nampak patah hati dengan kebahagiaan Pelangi dan Arya. Jika Rangga masih bisa memaksakan senyum nya pada semua orang, namun berbeda dengan Nina. Sejak sore tadi, dia terlihat murung, bahkan dia hanya tersenyum sekedarnya pada semua rekan bisnis Arya yang menyapa.
Rasanya sakit dan perih, dia sudah menunggu Arya membuka hati selama bertahun tahun, namun kenyataan nya Arya malah terpikat pada pesona Pelangi. Gadis muda yang jauh usianya dari mereka.
Nyatanya, bagaimanapun cara yang sudah Nina lakukan untuk meraih hati Arya, tapi sama sekali tidak bisa membuat Arya melihat cintanya. Cinta yang sudah di pendam selama bertahun tahun.
Nina rela menjadi perawan tua demi Arya, Nina rela menolak semua laki laki yang ingin mendekat padanya hanya karena dia yang ingin bersama Arya. Bahkan Nina rela selalu menjatuhkan harga dirinya demi untuk mencari perhatian Arya, namun kenyataannya dia malah kalah.
Kalah dan memang harus pasrah dengan takdir yang rasanya begitu kejam.
Nina mengusap air mata yang lagi lagi tidak bisa dia tahan untuk tidak jatuh. Berdiri sendiri di samping meja makanan penutup yang sedikit sepi karena sekarang orang orang sedang melihat acara pemotongan kue Arya dan Pelangi.
Dan Nina, lebih memilih untuk menyendiri disini. Sebenarnya dia sudah ingin pergi, tapi entah kenapa hatinya malah tidak rela jika harus pergi dari tempat ini. Meski sakit, tapi dia masih ingin berada di sini. Setidaknya, untuk beberapa saat lagi.
Nina sedikit terkesiap, saat tiba tiba seseorang memberikan sehelai sapu tangan padanya. Nina segera menoleh, dan dia langsung mengernyit saat melihat seorang pemuda yang dengan wajah datar mendekat padanya.
Sepertinya dia kenal pemuda ini, bukankah dia....
"Rangga" gumam Nina
"Jangan menangis disini bu. Malu" ucap Rangga
Nina mendengus, dia langsung meraih sapu tangan dari Rangga dan mengusap wajahnya perlahan.
"Kalau sedih, kenapa juga masih disini terus?" tanya Rangga
"Kamu juga, kenapa masih disini?" tanya Nina
Rangga yang sedang memandangi kebahagiaan Pelangi langsung menoleh kearah Nina.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Rangga
Nina mendengus senyum tipis. Kali ini dia memandang kearah Rangga dengan wajah sendunya. Dan sepertinya Rangga juga begitu.
__ADS_1
"Kita sama" ucap Nina
Dan kini Rangga yang mendengus senyum. Mereka bersama sama memandang kearah Pelangi dan Arya yang nampak tertawa bahagia disana. Seperti tidak ada lagi beban yang mereka pendam saat ini. Tertawa dan tersenyum dengan lepas, sangat indah untuk di pandang, namun begitu menyakitkan jika di rasa.
"Padahal aku yang selalu ada untuk dia selama bertahun tahun. Menemani kemanapun dia pergi dan menemani kesendiriannya ketika dia terpuruk. Tapi ternyata, waktu yang lama tidak membuat dia bisa jatuh cinta padaku" ungkap Nina. Terdengar begitu lirih dan sendu.
Rangga tertegun, dia menghela nafas panjang dan mengangguk pelan.
"Ya, nyatanya waktu tidak bisa merubah perasaan seseorang. Sekuat apapun berusaha tapi jika takdir sudah berkata, manusia bisa apa" sahut Rangga pula.
Nina tersenyum tipis, namun nampak getir.
"Kenapa kamu tidak ingin merebutnya, bukan kah kamu punya kesempatan itu dulu?" tanya Nina, yang sedikit banyak dia tahu tentang Rangga dan Pelangi. Sebab, sebagai sekretaris dan tangan kanan Arya, sedikit banyak Nina memang harus tahu dimana Arya dan apa yang dia lakukan. Apalagi beberapa kali Nina dan Rangga memang pernah bertemu hanya untuk membahas tentang taman bunga Ze in Florist milik Arya disaat Arya tidak ada.
"Saya memang punya waktu untuk dekat dengan Pelangi, tapi saya tidak pernah punya celah untuk merebut hatinya bu" jawab Rangga.
Nina kembali menoleh pada Rangga.
"Cinta Pelangi pada pak Arya cukup besar. Bahkan setelah dia merasa di sakiti dan di abaikan oleh pak Arya, tapi dia lebih memilih sendiri untuk hidupnya. Dia benar benar tidak bisa meletakkan dua nama di dalam hati meski sebagai pelampiasan ataupun obat hatinya yang terluka" ungkap Rangga lagi.
"Takdir begitu kejam" gumam Nina
"Bukan takdir yang kejam, hanya kita yang kurang beruntung. Kita hanya menjadi figuran di cerita mereka bu, bukan pemeran utamanya" sahut Rangga
Nina mengangguk pelan, matanya kembali memandang pada Arya yang tertawa saat sedang menyuapi sepotong kue pada Pelangi.
"Sekarang mereka sudah bahagia, dan saya juga bahagia melihat senyum di wajah orang yang saya cintai" ucap Rangga dengan senyum yang terlihat begitu getir.
"Meski kebahagiaan mereka adalah luka untuk kamu?" tanya Nina
Rangga mengangguk pelan.
"Ya, hanya masalah waktu" jawab Rangga
"Aku tidak yakin bisa, sudah banyak waktu yang aku habiskan hanya untuk menunggu cintanya" kata Nina pula.
__ADS_1
"Mungkin ini akhir dari penantian ibu" sahut Rangga
Nina tersenyum miris dan menggeleng pelan.
"Jangan sampai cinta ibu menjadi sebuah obsesi untuk menghancurkan kebahagiaan mereka" kata Rangga lagi.
Nina mendengus senyum dan menggeleng pelan.
"Awalnya iya, tapi semakin kesini aku semakin bisa melihat, jika pak Arya memang sudah menemukan kebahagiaan nya. Bagaimana mungkin aku tega menghancurkan dia. Aku yang paling tahu bagaimana terpuruknya dia saat pernah kehilangan. Meski sakit, tapi seperti yang kamu bilang, aku juga bahagia melihat dia bahagia" ungkap Nina.
Ya, dia bahagia melihat Arya bahagia. Dia yang pertama kali mengenal Arya, dia yang paling tahu sakitnya Arya saat di tinggal Zelina. Bagaimana Arya yang setiap malam bekerja sampai larut, bahkan tidak jarang dia menemani Arya menginap di perusahaan demi untuk menemani lelaki itu. Nina yang paling tahu bagaimana Arya. Dan untuk menghancurkan kebahagiaan itu, mana mungkin Nina sanggup.
Tidak... dia tidak sejahat itu. Meski hatinya yang harus memendam luka dan kekecewaan yang begitu besar.
"Kalau begitu ayo kita ucapkan selamat pada mereka. Setelah itu kita bisa pergi dari sini" ajak Rangga
Nina tersenyum dan memandang Rangga dengan lucu.
"Aku tahu, kamu juga sudah tidak tahan lagi berada disini bukan?" tanya Nina
Rangga terkekeh kecil seraya dia yang mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Menahan hati itu tidak mudah bu, saya takut saya bisa menangis jika berada berlama lama disini" ungkap Rangga.
"Kamu benar, dan setelah itu lebih baik kita habiskan kegalauan ini dengan minum kopi. Bagaimana?" tawar Nina
"Yah, ide yang bagus. Teman ngopi saya saat sedang galau kebetulan sedang tidak ada" jawab Rangga
"Dan ya, saya jadi pelarian lagi" ucap Nina
Mereka langsung tertawa bersama, namun terdengar getir dan dengan mata yang berkaca kaca pula. Mengenangkan nasib yang sepertinya memang sama.
Sama sama harus merelakan orang yang mereka cintai sejak dulu.
Cinta memang semenyakitkan itu!
__ADS_1