
Pelangi berdiri memandangi Arya yang sedang diperiksa oleh dokter. Keadaan Arya sudah lebih baik, dan Pelangi sangat bersyukur karena luka Arya juga tidak terlalu parah.
Sudah tiga hari mereka berada dirumah sakit, dan kini Arya juga sudah bisa duduk dengan baik. Mungkin lusa mereka sudah bisa pulang kerumah.
Pelangi benar benar sudah bosan berada dirumah sakit ini. Dia benci rumah sakit. Karena menurutnya rumah sakit adalah tempat yang paling menyeramkan.
Ada banyak kesedihan, harapan dan ketakutan didalam sini. Dan Pelangi tidak suka.
Sudah tiga hari ini pula, Pelangi tidak pernah meninggalkan Arya sedetikpun. Dia hanya pergi untuk mandi dan menebus obat saja. Selebihnya Pelangi berada didalam ruangan ini bersama Arya. Bahkan Pelangi juga tidak tahu pada siapa Arya meminta tolong untuk menyediakan semua pakaian dan perlengkapan Pelangi selama disini. Arya sama sekali tidak mengizinkan Pelangi untuk keluar dan menghilang dari pandangan matanya terlalu lama.
Dengan alasan Jojo yang sampai saat ini belum ditemukan.
Ya, teman SMA Pelangi yang juga merupakan lelaki berjaket hitam itu sampai saat ini belum juga ditemukan. Baik Rangga bersama pihak kepolisian maupun Reynand dan orang orang nya, sampai saat ini belum bisa menemukan dimana lelaki itu berada.
Padahal hanya Jojo, lelaki culun yang sering di bully ketika sekolah dulu, tapi entah kenapa dia bisa mengelabui semua orang seperti ini.
Pelangi benar benar heran dan tentunya juga takut.
Beruntungnya dia, karena Reynand sudah menempatkan orang orang nya dirumah sakit ini untuk menjaga mereka. Jika tidak, mugnkin Jojo sudah akan mendatangi mereka lagi.
"Nona, kami permisi dulu. Jika ada apa apa nona bisa memanggil kami"
Ucapan dokter yang memeriksa Arya membuat Pelangi langsung terkesiap kaget dan tersadar dari lamunan nya.
"Ah iya, baik dokter terimakasih. Sudah tidak ada yang serius lagi kan?" tanya Pelangi
"Tidak ada. Semua sudah baik baik saja" jawab dokter itu.
"Syukurlah. Terimakasih dokter" ucap Pelangi seraya mengangguk dan tersenyum pada dokter itu.
"Sama sama nona, permisi" pamitnya.
Pelangi hanya tersenyum saja seraya memandang kepergian dokter dan perawat itu keluar dari ruangan Arya. Meninggalkan mereka berdua dalam keheningan lagi.
Arya beranjak, duduk dan bersandar ditempat tidur dengan perlahan lahan. Namun dengan sigap Pelangi membantunya untuk memperbaiki posisi Arya agar terasa nyaman.
"Pak.. boleh gak saya keluar" pamit Pelangi tiba tiba
"Tidak boleh" jawab Arya dengan cepat.
"Tapi saya pengen makan rujak buah pak. Kepengen yang seger seger" ucap Pelangi.
Wajahnya begitu memelas.
"Kamu sudah seperti orang hamil saja" dengus Arya
Pelangi langsung tertegun dan tersenyum getir.
Dia kan memang sedang hamil.
Ini juga karena keinginan anak nya.
"Bosen pak makan makanan berat terus. Biasa kalau dirumah bunda panas panas gini enak nya makan rujak" jawab Pelangi
Arya hanya diam dan memandang televisi yang sejak tadi hidup diruangan itu.Membuat Pelangi yang merasa diabaikan langsung mencetut kesal.
"Pak.." panggil Pelangi.
Arya tetap diam. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Pelangi jika keinginan nya tidak dituruti.
__ADS_1
"Pak Arya..." Pelangi mulai merengek dan memandang Arya dengan kesal. Namun Arya ,masih tetap saja mengabaikan nya.
"Pak Arya!" seru Pelangi, dan kali ini Arya terkesiap kaget.
"Kenapa malah berteriak" tanya Arya
"Bapak gak mau dengerin saya. Saya mau rujak buah pak" kata Pelangi lagi. Dan entah kenapa dia benar benar berani pada Arya sejak kehamilan nya ini semakin besar. Apalagi jika sedang menginginkan sesuatu seperti sekarang.
Dan memang selama tiga hari ini, Arya sama sekali tidak ada marah ataupun memasang wajah dingin lagi. Meski tetap saja wajahnya datar. Tapi setidaknya, dia sudah mulai mencair. Mungkin seingat Pelangi perubahan sikap Arya ini terjadi sejak kejadian Arya yang mengamuk dikamarnya waktu itu. Dan sampai sekarang, sifatnya sedikit demi sedikit sudah mulai berubah.
Meskipun jika marah, tetap saja mengerihkan.
"Sudah saya bilang kalau jangan keluar kan. Kamu sudah tidak ingin lagi mendengarkan perkataan saya" ucap Arya
Pelangi terduduk disamping ranjang Arya dengan mata yang berkaca kaca.
"Saya bosan, saya cuma minta rujak. Kenapa bapak pelit sekali" gerutu Pelangi yang mulai menangis. Menangis kesal.
Arya memandang Pelangi dengan bingung.
"Kenapa malah menangis?" tanya Arya
"Saya mau rujak buah" ucap Pelangi. Persis seperti anak anak yang sedang menginginkan sesuatu namun tidak dituruti. Dia merengek dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
"Sudah seperti anak anak saja" gerutu Arya yang langsung memalingkan wajahnya dari Pelangi. Geli sekali melihat wajah Pelangi yang seperti itu.
"Pak"
"Boleh ya, sebentar saja. Didepan ada kok" rengek Pelangi yang langsung merangkul lengan Arya dan terus berusaha untuk merayunya.
"Pak Arya" panggil Pelangi
"Tidak boleh" ucap Arya
"Biar saja" jawab Arya
Pelangi mendengus dan langsung menghempaskan lengan Arya dengan kesal.
"Jahat sekali memang. Padahal rujak buah cuma 20 ribu. Tidak akan buat bapak miskin, memang pelit" ucap Pelangi yang mulai terisak.
Sialan sekali, anak Arya ini benar benar membuat Pelangi jadi cengeng hanya karena rujak buah.
"Jangan menangis" ujar Arya yang langsung mengulum bibir menahan senyum
"Saya cuma keluar sebentar pak" lirih Pelangi
"Kemarikan ponsel saya" pinta Arya
Pelangi mengernyit heran.
"Cepat" ucap Arya
Dan mau tidak mau Pelangi meraih ponsel Arya yang ada diatas meja dan menyerahkan nya pada Arya.
Dia mengusap air matanya dengan kasar seraya memandang Arya dengan bingung. Namun Pelangi langsung mengernyit saat mendengar Arya yang menghubungi seseorang untuk membawakan rujak buah kekamarnya.
"Sudah" ucap Arya begitu santai
Mata Pelangi memicing memandang Arya.
__ADS_1
"Kenapa tidak dari tadi, kenapa harus menunggu saya merengek" tanya Pelangi. Wajahnya terlihat begitu kesal.
"Biar saja, saya memang ingin melihat kamu kesal" jawab Arya begitu santai.
Namun tiba tiba...
"Auuhh"
Arya terkesiap saat Pelangi menggigit lengan nya dengan kuat, bahkan hingga lengan itu berbekas karena gigitan Pelangi.
"Pelangi!" seru Arya
"Biar tahu rasa" dengus Pelangi
Arya memandang Pelangi dengan tajam, dan disaat Pelangi ingin beranjak, dengan cepat pula dia langsung menarik lengan Pelangi dengan kuat hingga membuat Pelangi terjatuh kembali keranjang Arya, namun sedikit menimpa tubuh Arya.
Pandangan mata mereka saling pandang dengan lekat. Membuat debar jantung langsung bergemuruh dengan hebat.
Jantung siapa?
Jelas jantung Pelangi.
Tapi... kenapa jantung Arya juga????
"Kamu sudah berani dengan saya???" tanya Arya. Dia menahan pinggang Pelangi dengan erat hingga membuat Pelangi tidak bisa lagi bergerak.
"Saya hanya ingin ada yang bapak ingat ketika sudah tidak lagi bersama saya" ucap Pelangi
Arya tertegun. Pandangan matanya memandang Pelangi semakin tajam dan begitu dalam. Entah kenapa, ada gejolak hati yang tidak bisa dia jelaskan rasanya ketika Pelangi mengatakan hal itu. Apalagi ketika ingat jika waktu mereka memang sudah tinggal beberapa hari lagi.
Arya memandang wajah Pelangi dengan lekat. Wajah yang jika semakin dipandang semakin membuat penasaran.
Pelangi cantik, Arya akui.
Dan jika dia pergi nanti, bagaimana dengan Arya???
Kenapa ada perasaan tidak rela jika mengingat itu.
Arya menghela nafas dengan berat dan langsung menarik tengkuk Pelangi. Hingga membuat Pelangi langsung melebarkan matanya saat tiba tiba Arya ******* bibirnya dengan penuh perasaan yang bergejolak.
Pelangi ingin menghindar, namun Arya semakin menguatkan rangkulan nya. Bahkan dia mengabaikan rasa sakit di luka nya.
Cukup lama Arya menikmati bibir itu, hingga saat dia merasa Pelangi mulai kehabisan nafas barulah Arya melepaskan Pelangi.
Arya tersenyum simpul melihat wajah Pelangi yang memerah. Bahkan nafasnya juga tersengal. Mereka masih saling memandang namun Pelangi sudah mulai menjauh dari Arya seraya mengusap bibirnya.
"Kenapa bapak melakukan itu?" tanya Pelangi dengan suara yang sedikit bergetar. Bahkan detak jantungnya juga benar benar tidak bisa terkendali sekarang.
Dia terkejut, dan sangat terkejut dengan tindakan Arya yang tiba tiba. Selama ini Arya memang tidak pernah ingin menyentuhnya. Tapi kenapa sekarang malah dia melakukan ini dengan seenak nya. Ini adalah sentuhan kedua setelah malam itu.
Arya menghela nafas dan memalingkan wajahnya dari Pelangi. Jika ditanya kenapa, Arya sendiri juga tidak tahu. Gejolak perasaan itu benar benar kuat. Apalagi ketika membicarakan tentang sebuah perpisahan. Rasanya benar benar tidak menentu.
Dia yang ingin Pelangi pergi. Tapi kenapa hatinya seakan tidak rela???
Jika Pelangi pergi, apa Arya akan sendiri lagi? Apa dia akan kesepian lagi? Dan apa dia tidak akan merasakan sesuatu yang berbeda lagi.
ceklek
Pintu yang terbuka membuat suasana yang tadinya canggung dan tidak nyaman mulai menguar.
__ADS_1
Pelangi dan Arya langsung menoleh kearah pintu bersamaan. Dan bisa mereka lihat, jika Nara dan Reynand yang masuk kedalam.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Reynand dengan bingung. Apalagi ketika melihat wajah Arya dan Pelangi yang terlihat canggung dan memerah.