
Pagi telah menyingsing, bahkan hujan badai malam tadi juga telah hilang dan berganti dengan cahaya matahari yang telah terbit dan mulai bersinar. Pelangi juga terbangun, dia membuka mata yang masih terasa berat, apalagi kepalanya yang masih benar benar pusing.
Pasti dia demam lagi malam tadi. Yah, bukan hanya demam, rasanya benar benar tidak menentu dengan kepala yang terasa seperti ingin pecah.
Pelangi mulai menggeliat, memalingkan tubuh dan menghadap kesamping ingin melihat jam berapa sekarang. Namun tiba tiba, dia terkesiap saat wajahnya menyentuh handuk basah yang ada diatas bantal. Handuk kompresan kah??
Dan belum sampai disitu, dia bahkan langsung mematung saat melihat Arya yang tertidur dengan bersandar ditempat tidur nya.
Benarkah ini???
Benarkah Arya disini???
Dia menepati perkataan nya untuk menemani Pelangi malam ini???
Mata Pelangi langsung berair dengan bibir yang tersenyum penuh haru. Pelangi tidak menyangka jika Arya ada disini, didalam kamarnya dan menemani kesakitan nya.
Ya Tuhan...
Pelangi sungguh tidak melihat percaya ini.
Padahal malam tadi sepertinya Pelangi hanya bermimpi jika ada Arya disini. Ada Arya yang seperti menggenggam tangannya, membisikkan sesuatu yang membuat mimpi buruk nya pergi. Ada Arya yang membuat tidur Pelangi lebih tenang.
Dan sekarang, kenyataan nya Arya memang ada disini. Apa malam tadi juga benar terjadi???
Ah... tidak perduli benar atau tidak, yang jelas Pelangi benar benar bahagia melihat Arya disini.
Pelangi mengusap air mata yang mengalir disudut matanya. Memandang Arya dengan penuh haru dan penuh cinta. Wajah tampan dan manis ini terlihat masih tenang dalam tidurnya.
Pelangi ingin sekali mengusap wajah ini, wajah yang membuat hatinya selalu porak poranda.
Pelangi rindu..
Rindu ingin melihat senyuman nya, rindu ingin melihat tawanya dan rindu ingin melihat sikap hangat Arya. Semua yang belum pernah Pelangi terima. Tapi... apa mungkin itu bisa.
Pelangi tersenyum, dia ingin memandang puas wajah Arya dari dekat. Wajah yang hanya terlihat tenang saat tidur. Karena jika dia sudah terbangun, maka hanya wajah dingin dan ketus Arya yang Pelangi terima.
Ya... suami yang masih belum bisa merelakan kepergian kekasih hatinya. Meski Arya sudah berkata rela, tapi Pelangi tahu jika semua itu hanya ada di bibir. Namun kenyataan nya sikap tidak rela itulah yang membuat Arya sulit untuk menerima perempuan lain dalam hidupnya.
Ze.... bisakah berbagi untuk hati Arya???
__ADS_1
Bisakah kamu beri ruang sedikit untuk Pelangi didalam rumah Arya. Agar Arya bisa tersenyum lagi seperti saat sebelum kamu pergi.
Pelangi kembali mengusap air matanya yang lagi lagi mengalir keluar. Kenapa dia jadi cengeng seperti ini hanya karena melihat wajah Arya???
Setelah mengusap wajahnya, Pelangi mengusap perutnya yang rata.
'sabar ya nak. ini ayah ada didekat kita, ayah disini temani kita' gumam Pelangi dengan menahan isak tangis yang benar benar tidak bisa dia tahan.
Rasanya sedih sekali jika mengenangkan ketika dia harus hidup sendirian nanti jika Arya tidak ingin juga menerima Pelangi sebagai istrinya.
Dan karena suara isak tangis itu, membuat Arya terbangun. Sementara Pelangi langsung menarik selimut dan menyembunyikan wajahnya didalam sana.
Arya mengernyit, mengusap matanya yang masih terasa berat. Dia memandang Pelangi dengan heran. Menarik selimut Pelangi dengan kuat, hingga wajah yang basah karena air mata itu langsung terlihat dipandangan matanya.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Arya. Apa Pelangi merasa kesakitan lagi???
Pelangi menggeleng seraya mengusap air matanya. Namun dia langsung memejamkan mata dengan kuat saat Arya menjulurkan tangan kearah wajahnya.
Arya mengernyit memandang reaksi Pelangi yang seperti ketakutan begitu.
"Apa kamu mengira jika aku akan memukulmu?" tanya Arya, yang ternyata dia hanya meraba dahi Pelangi. Dan hanya karena begitu saja sudah membuat jantung Pelangi terasa berdegup tidak beraturan.
Salah sendiri kan, kenapa mempunyai wajah yang seperti ingin marah terus. Pelangi jadi trauma dan takut.
Pelangi menggeleng dengan cepat.
"Enggak pak. Jangan, saya gak mau kerumah sakit. Saya udah baik baik aja kok. Cuma sedih ingat sama kakak, tadi malam saya mimpi dia" jawab Pelangi yang sedikit berbohong. Dan memang berbohong yang sudah menjadi kebiasaan nya sekarang.
"Ya, dan kamu sampai mengigau karena itu. Merepotkan saya saja" ucap Arya yang lagi lagi terdengar begitu ketus.
"Maaf pak" jawab Pelangi dengan senyum getirnya.
"Jika kamu tidak mau kerumah sakit setidak nya kamu bangun untuk meminum obatmu, jangan merepotkan saya terus. Saya juga harus bekerja hari ini" ujar Arya yang langsung keluar dari dalam kamar, meninggalkan Pelangi yang bahkan belum sempat menjawab apapun.
Pelangi hanya bisa menghela nafas perih dan tersenyum getir seraya dia yang beranjak dari tempat tidur dengan memegangi kepala yang masih pusing.
Kenapa kejam sekali, bahkan Pelangi rasa untuk berjalan ataupun membuat sarapan Pelangi tidak akan mampu jika seperti ini.
Lama Pelangi terduduk disisi ranjang. Berharap pusing dikepalanya bisa sedikit berkurang agar dia bisa bangun dan membuat sarapan. Ini hari senin sudah jelas Arya pasti akan sibuk diperusahaan. Dan Pelangi, dia memang tidak boleh merepotkan suami nya itu. Kasihan Arya, dia sudah tidak beristirahat dengan benar satu malaman ini karena harus menjaga nya. Dan Pelangi memang harus memakasakan diri untuk bangun.
__ADS_1
Pelangi menghela nafas panjang, setelah hampir setengah jam hanya duduk saja, dia mulai berdiri dan berjalan kekamar mandi. Kepalanya yang masih pusing dan berat membuat langkah Pelangi terhuyung, hingga dia oleng dan....
brak
"Auuhhh" Pelangi langsung meringis saat tubuhnya dengan kuat terhempas kelantai, membuat kepalanya semakin pusing, bahkan perutnya juga terasa nyeri. Namun tiba tiba dia terkesiap saat tangan kekar seseorang membantu nya untuk berdiri.
"Memang keras kepala, sudah saya bilang kerumah sakit saja" gerutu Arya yang membantu Pelangi untuk berdiri.
Pelangi menggeleng dengan mata yang terpejam menahan pusing.
"Saya cuma butuh istirahat saja pak" jawab Pelangi dengan lemah.
Arya hanya diam dan membantu Pelangi berjalan kekamar mandi. Dekapan Arya membuat jantung Pelangi semakin tidak menentu. Apalagi harum aroma maskulin ini, yang entah kenapa bisa sedikit mengurangi rasa sakit dikepalanya.
Pelangi tersandar didekat bak mandi, memandang Arya yang menurunkan handuk untuknya.
"Bisa sendiri kan?" tanya Arya
Pelangi mengangguk pelan seraya meraih handuk dari tangan Arya.
Namun Pelangi masih mengernyit, saat Arya tidak juga keluar dari dalam sini.
"Kenapa malah diam?" tanya Arya
"Saya ... saya mau buang air pak" jawab Pelangi dengan senyum getir nya.
Arya mendengus dan hanya berbalik arah
"Cepatlah" ujar Arya
Pelangi memandang Arya dengan heran. Bagaimana mungkin dia bisa buang air dan membersihkan diri jika Arya ada disini.
"Tapi..." Pelangi benar benar ragu,.
"Kamar mandi ini licin, jika kamu jatuh bagaimana. Saya tidak ingin ya dituntut orang tua kamu. Tinggal buang air apa susahnya" sahut Arya terdengar begitu kesal.
"Tapi saya malu pak" jawab Pelangi, dia juga ikutan kesal sekarang.
"Apa yang kamu malu. Saya sudah melihat semuanya malam tadi" jawab Arya dengan seenak nya. Tanpa tahu jika wajah Pelangi sudah memerah bagai tomat rebus. Dia bahkan langsung memandang tubuhnya sendiri yang memang sudah berganti pakaian. Bahkan dia baru sadar jika ternyata dia tidak memakai dalaman????
__ADS_1
Astaga.....
Ini memalukan!!!!