
Pagi ini Arya bangun kesiangan. Tidak biasanya dia dan Pelangi bangun terlambat. Apalagi Pelangi, hari ini dia benar benar malas untuk membuka mata. Alhasil, Arya yang terlihat kelabakan. Bukan karena mengejar jam kantor yang sudah masuk ataupun ingin menjadi bos yang disiplin. Hanya saja, pagi ini ada rapat bersama salah satu perusahaan besar.
Perusahaan Jewelry Gem. Perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan Polie. Terdengar berbeda, sebab perusahaan properti bekerja sama dengan perusahaan perhiasan seperti jam dan aksesoris lainnya. Tapi kali ini, mereka akan membangun bisnis bersama, sebuah gedung megah untuk memproduksi dan menjual perhiasan dari perusahaan Jewelry Gem.
"Mas! Jasnya!" Seru Pelangi yang berjalan mendekat kearah Arya yang benar benar kelimpungan.
"Astaga, iya aku lupa." Sahut Arya. Dia kembali berlari mendekat kearah Pelangi. Mencium sekejap dahi istrinya dan memakai jasnya dengan cepat.
"Hati hati. Gak sempat sarapan deh jadinya." Pelangi terlihat tidak enak memandang Arya. Sebab biasanya dia pasti akan bangun tepat waktu dan menyiapkan semua keperluan suaminya.
Mendengar perkataan Pelangi, Arya langsung tersenyum dan menggeleng pelan.
"Enggak apa apa sayang. Aku bisa sarapan di kantor. kamu kalau masih ngantuk, tidur aja lagi ya." Ujar Arya. Dia menyempatkan diri untuk mengusap kepala Pelangi dengan lembut.
"Iya, mas Arya hati hati." Jawab Pelangi.
"Tentu. Aku pergi dulu." Arya kembali mencium dahi Pelangi dan tak lupa mencium perut Pelangi juga. Setelah itu tanpa berkata apapun dia kembali berlari keluar. Hanya suara teriakan nya yang memanggil Ferdi terdengar begitu menggema.
Pelangi hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan suami gondrongnya itu.
"Fer!!! Cepatan ayo. Saya udah terlambat ini!" Seru Arya. Dia langsung masuk kedalam mobil tanpa menunggu Ferdi membukakan pintu untuknya.
" Iya pak, saya udah siap dari tadi. Bapak aja sih, live streaming sampai pagi, jadi kesiangan." Sahut Ferdi, dia langsung melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Arya.
"Sialan kamu. Namanya punya istri, kamu sih belum tahu gimana rasanya." Ungkap Arya.
"Ya emang belum, makanya jangan di pancing pak." Jawabnya.
"Jawab aja kamu. Sudahlah, lebih cepat lagi, saya udah terlambat ini." Arya kembali melirik jam dipergelangan tangan nya.
Sudah jam delapan lewat, dan meeting akan dimulai jam sembilan. Jarak dari rumah keperusahaan saja hampir satu jam jika tidak macet, dan saat ini jalanan sedang macet macetnya.
Arya benar benar panik.
"Kan bapak bosnya. Kenapa panik pak?" Tanya Ferdi. Benar benar bingung melihat Arya.
__ADS_1
"Bukan masalah saya bosnya. Tapi ini rapat pertama dengan klien baru. Jika saya meninggalkan kesan buruk di pertemuan pertama, bisa bisa mereka membatalkan kerja sama ini." Ungkap Arya.
"Enggak lah pak. Mereka pasti ngerti kok, bilang saja istri bapak sedang mengidam dan tidak bisa ditinggal." Ujar Ferdi.
"Kamu gak tahu Fer, kalau tuan Alex itu terkenal disiplin, sama seperti tuan Adiputra itu." Sahut Arya.
"Tuan Alex." Gumam Ferdi.
"Iya, pemilik perusahaan Jewelry Gem." Ucap Arya.
Bruk
"Aaarrgghh! Apasih Fer!" Arya berteriak saat tiba tiba Ferdi mengerem mendadak mobilnya hingga kepalanya terhantuk kursi Ferdi.
"Maaf pak, maaf. Ada lobang." Jawab Ferdi. Entah kenapa dia menjadi terlihat gugup dan aneh.
"Mana ada lobang. Udah, cepetan. Kamu malah buat saya semakin terlambat ini." Seru Arya lagi.
Ferdi menarik nafas dalam dalam dan langsung mengangguk cepat.
"Iya pak, iya. Pegangan pak." Ujar Ferdi.
"Astaga Fer!, kamu mau bunuh saya ya!" Seru Arya. Dia semakin panik saat Ferdi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan tanpa ragu untuk menyalip kendaraan yang lain. Dan sekarang malah masuk kedalam jalanan kecil yang entah akan kemana.
"Fer, ini kemana lagi!!" Seru Arya. Wajahnya memucat, tangannya berpegang kuat pada kursi Ferdi.
"Jalan pintas pak. Bapak pasti tepat waktu. Tenang aja." Jawab Ferdi. Matanya benar benar fokus kedepan, bahkan tangan nya begitu lihai memainkan kemudi. Ferdi sama sekali tidak melihat wajah tegang Arya. Rasanya dia sudah seperti di ambang batas dunia dan alam gaib sekarang.
"Fer, kalau saya mati, saya gentayangin kamu seumur hidup." Ancam Arya.
"Kalau bapak mati, jelas saya mati juga pak." Sahut Ferdi dari depan.
"Makanya pelan pelan, bodoh. Saya belum ngelihat anak saya, masak iya istri saya jadi janda muda." Seru Arya.
"Enggak apa apa pak, masih ada Rangga!" Sahut Ferdi.
__ADS_1
Buk
Arya langsung menendang kursi Ferdi dengan kuat. Sialan sekali supirnya ini.
Dan tidak lama kemudian, benar apa yang di katakan Ferdi. Mereka tiba tepat sebelum jam sembilan kurang lima menit. Setelah perjalanan yang hampir membuat jantung Arya copot.
"Fer, kamu buat saya hampir mati." Gerutu Arya saat dia akan keluar dari mobil.
"Yang penting belum mati pak." Jawab Ferdi.
"Sialan. Jawab aja kamu. Gaji kamu saya potong nanti." Ancam Arya. Dia keluar dari mobil dan melengos memandang Ferdi yang berdiri dihadapannya dengan senyum yang menyebalkan.
Arya berjalan dan sedikit berlari kedalam, meninggalkan Ferdi yang masih berdiri di depan lobi perusahaan.
Matanya memandang sebuah mobil mewah yang terparkir rapi di tempat parkir khusus. Dan dia tahu siapa pemilik mobil itu.
Karena tidak ada lagi urusan, Ferdi ingin kembali masuk kedalam mobil. Namun suara seseorang yang terjatuh membuat dia langsung menoleh.
"Auh." Suara lenguhan orang itu membuat Ferdi langsung mendekat kearahnya.
"Mia, kenapa?" Tanya Ferdi yang langsung membantu Mia berdiri. Tumpukan kertas yang dibawa gadis itu terlihat berhamburan di atas lantai.
"Bang Ferdi, saya kesandung." Jawab Mia. Wajahnya meringis memegangi kaki yang sedikit nyeri. Sedangkan Ferdi memunguti kertas yang berserakan itu.
"Ini, lain kali hati hati. Jalan mulus kok malah bisa jatuh." Dia menyerahkan tumpukan kertas itu pada Mia. Sepertinya ada pekerjaan yang dia lakukan di luar kantor.
"Iya bang, makasih." Jawab Mia sekenanya.
Namun tiba tiba, mata Ferdi memicing saat melihat pergelangan tangan Mia yang membiru bahkan memar parah.
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Ferdi.
Mia segera menyembunyikan tangannya dibalik kertas. Dia menggeleng cepat dan tersenyum getir memandang Ferdi.
"Enggak apa apa bang, saya masuk dulu. Terimakasih." Tanpa menunggu jawaban dari Ferdi, Mia langsung berlari masuk kedalam gedung.
__ADS_1
Meninggalkan Ferdi yang memandangnya dengan curiga. Seperti bekas pukulan yang kuat. Tapi... kenapa bisa seperti itu?
Sungguh, Ferdi benar benar penasaran dengan gadis itu. Bukan sekali ini saja dia melihat luka di tubuh Mia. Tapi setiap kali bertemu, gadis muda itu pasti terluka.