
Pagi ini masih seperti pagi dimana Pelangi yang menjalankan tugasnya sebagai istri untuk Arya. Memasak sarapan, membersihkan rumah, dan tentunya membersihkan diri agar Arya tidak risih melihat penampilan nya. Yah meskipun tetap saja Arya tidak akan pernah melihatnya.
Pagi ini Pelangi cukup senang karena Arya mau memakan sarapan buatan nya. Mungkin dia lapar karena malam tadi Pelangi yang menghabiskan mie instan nya. Jadi pagi ini mau tidak mau Arya sarapan nasi goreng spesial buatan Pelangi. Dengan begitu saja, Pelangi sudah sangat bahagia.
Beruntungnya Pelangi kehamilan nya ini tidak seperti kehamilan pada umum nya. Dia sudah membaca di internet berita tentang seputar kehamilan, apalagi hamil muda seperti Pelangi saat ini. Dia tidak mengalami morning sickness, atau merasa hal yang aneh yang mengganggu aktifitasnya. Hanya terkadang keinginan gilanya saat ini adalah makan makanan sisa milik Arya. Ya, hanya itu. Tidak ada yang lain.
Mungkin karena anak yang sedang dikandung Pelangi tahu, jika ibunya memang sedang berjuang untuk mendapatkan cinta ayahnya. Dan Pelangi bersyukur sekali untuk itu.
Hari ini hari minggu, Pelangi sudah bersiap siap untuk pergi kerumah Nara. Sesuai janjinya untuk mengajari Vanno melukis. Tidak tahu jam berapa dia akan dijemput. Yang terpenting Pelangi sudah bersiap siap saja. Bahkan sejak tadi dia masih berdiri didepan cermin dan memandangi penampilan nya yang terlihat biasa, namun Pelangi yang tidak biasa.
Kenapa dia jadi gugup begini???
Entah sudah berapa kali Pelangi menarik nafasnya dalam dalam dan memandang dirinya dari cermin. Hari ini Pelangi memakai dress bunga bunga dengan rambut yang dia sepit kebelakang sedikit. Pelangi juga merias wajahnya dengan make up natural agar tidak kelihatan pucat dan kusam. Tidak tahu sejak kapan dia hobi berdandan seperti ini. Tapi sepertinya mulai dari sekarang dia memang harus memperhatikan penampilan nya. Sesuai dengan perkataan suami Nara dulunya.
Apalagi hari ini dia akan pergi kerumah mereka. Rumah seseorang yang menjadi pemilik hati Arya saat ini. Ah, jika mengingat itu, Pelangi jadi ragu. Apalagi sudah pasti dia akan bertemu dengan orang tua Zelina. Melihat Reynand saja Pelangi sudah takut, apalagi orang tua nya ya.
Apa mereka tidak akan memandang sinis nanti? Apalagi jika tahu kalau Pelangi adalah istri Arya. Ya ampun, Pelangi benar benar gugup.
Dia hanya orang biasa, orang kecil yang tidak mempunyai apa apa. Sedangkan mereka adalah orang besar. Jelas saja tidak pantas jika disandingkan dengan Zelina.
Ck... kenapa malah jadi insecure sekarang, padahal semangat nya untuk berjuang sudah mendarah daging, tapi jika mengingat perbedaan itu, Pelangi jadi malu sendiri.
Tin tin
Suara klakson mobil membuat Pelangi terkesiap.
"Aunty Pel!!!!"
Suara teriakan Zevanno terdengar kedalam, membuat Pelangi buru buru meraih tas kecilnya dan kembali memandang penampilan nya dicermin. Sudahlah, sudah cantik dari penampilan nya yang biasa. Semoga saja tidak membuat Arya malu nantinya.
Ah ... tapi apa dia perduli????
Pelangi menutup pintu kamar dan segera berlari keluar rumah setelah dia mengunci pintu. Arya sejak pagi sudah pergi entah kemana. Pelangi tidak tahu.
"Aunty... ayo naik" sapa Vanno yang melambaikan tangan nya dari dalam mobil.
"Silahkan nona" ujar supir yang membawa Vanno seraya dia membukakan pintu mobil untuk Pelangi.
"Terimakasih pak" jawab Pelangi
Pelangi masuk kedalam mobil dan duduk disamping Vanno.
"Hai Vanno, kamu yang jemput ya" ucap Pelangi seraya mengusap gemas kepala Vanno
"Yea, mommy sedang memasak bersama oma. Jadi Vanno yang jemput aunty. Kalau pak supir yang pergi sendiri, mommy takut aunty tidak ingin pergi" jawab Vanno.
Pelangi langsung tertawa mendengar perkataan polos bocah kecil ini. Anak lelaki tampan yang benar benar mirip dengan ayahnya. Tampan dan sedikit galak tentunya.
"Aunty pasti pergi. Kan sudah berjanji" ucap Pelangi
Vanno tersenyum dan mengangguk dengan senang.
Pelangi kembali menghela nafas nya dengan berat. Bahkan disepanjang perjalanan entah sudah berapa kali dia seperti itu. bahkan ketika sedang berbicara dengan Vanno dia juga sesekali menarik nafas.
__ADS_1
"Aunty kenapa sih?" tanya Vanno yang heran melihat Pelangi
"Aunty gugup sekali. Takut berbuat salah dan ayah kamu marah" jawab Pelangi.
"Tenang saja aunty, kan ada Vanno" jawab nya dengan begitu datar. Ya ampun, Pelangi benar benar gemas.
"Lagian oma juga sudah ingin bertemu dengan aunty" ucap Vanno lagi. Membuat Pelangi langsung melihat kearahnya dengan bingung.
"Ingin bertemu dengan aunty, untuk apa?" tanya Pelangi
"Kata oma ingin melihat seperti apa istri uncle Aryo" jawab Vanno.
Pelangi langsung tersenyum getir dan memalingkan wajahnya keluar mobil. Kenapa oma Vanno berkata seperti ini? Apa dia ingin membandingkan Pelangi dengan mendiang putrinya? Sudah jelas Pelangi kalah jauh kan.
Ya Tuhan...
Pelangi semakin gugup saja sekarang.
Bahkan tangan Pelangi sudah dingin. Wajahnya juga sudah memucat. Benar benar takut dan merasa tidak enak.
Dan tidak lama kemudian, mereka telah memasuki halaman rumah mewah milik keluarga Adiputra.
Astaga... rumah ini benar benar mewah. Belum masuk saja rasanya Pelangi sudah ingin pingsan sekarang. Dia kembali menunduk dan memandang penampilan nya.
Apa pantas dia masuk kedalam sana???
Rumah ini benar benar besar, megah dan tentunya mewah. Sangat cocok sekali dengan gaya keluarga ini. Pelangi semakin bertambah insecure.
Pelangi lagi lagi hanya bisa tersenyum getir dan mengangguk. Kaki nya benar benar lemas saat turun dari mobil. Apalagi ketika berjalan masuk kedalam rumah mewah itu. Rumah yang isinya memang hanya ada barang mewah saja. Pilar pilar besar dan tentunya pajangan dari kristal dan perak.
Tapi sebenarnya bukan itu saja yang membuat Pelangi berdecak kagum, melainkan beberapa vas yang juga berisi bunga tulip segar juga menghiasi setiap sudut rumah. Sama seperti rumah Arya, dirumah ini juga ternyata masih begitu mengenang tentang sosok Zelina. Bahkan sebuah figura besar foto keluarga mereka juga ada disini. Zelina nampak tersenyum begitu indah disana.
Sangat cantik dan tentunya berkelas.
Apalah Pelangi, sangat tidak bisa disandingkan dengan keindahan pemilik bunga tulip itu.
"Aunty Pel... aunty sudah datang ya" sapa Zeze yang ternyata sedang bermain diruang tengah bersama mainan nya yang berserakan.
"Zeze... kamu bermain apa?" tanya Pelangi yang langsung mendekat kearah Zeze.
"Main dokter dokteran. Zeze kan mau jadi dokter jika sudah besar nanti" jawab Zeze, membuat Pelangi tersenyum gemas. Setidaknya dia harus bisa menetralkan perasaan nya disini. Jangan sampai terbawa suasana. Dia harus bisa menjaga sikap, meski sebenarnya hatinya memang sudah tidak menentu.
Ya, bagaimana tidak, jika sekarang dia sedang berada dirumah kekasih suami nya sendiri. Rumah yang menyimpan sejuta kenangan untuk Arya, hingga sampai saat ini dia tidak bisa juga untuk menerima kehadiran Pelangi didalam hidupnya.
Sangat sulit dan cukup sulit. Apalagi ketika melihat semua ini.
"Pelangi, sudah datang ternyata. Maaf ya, saya lagi dibelakang tadi" sapa Nara yang baru datang dari dapur rumah itu.
"Nona, tidak apa apa. Saya juga baru sampai" jawab Pelangi.
Nara tersenyum dan langsung menarik tangan Pelangi berjalan kedalam rumah.
"Ayo, kita kenalan dulu dengan mama dan papa" ujar Nara
__ADS_1
"Nona, saya benar benar gugup" bisik Pelangi
Nara langsung menghentikan langkah nya dan memandang Pelangi dengan senyum nya yang tenang.
"Gugup kenapa hmm?" tanya Nara
"Saya merasa tidak pantas ada disini" ucap Pelangi terdengar begitu lirih.
"Kamu ini berbicara apa. Kenapa pula kamu tidak pantas disini. Bahkan saya lihat sangat pantas, lihat penampilan mu hari ini sangat cantik dan berbeda dari biasa" puji Nara
Pelangi hanya menghela nafas pelan dan mengusap wajah nya sekilas.
"Tidak apa apa, mereka sudah tahu siapa kamu. Mereka hanya ingin kenal" ucap Nara lagi.
"Mereka tidak apa apa? Bagaimana pun saya kan sudah mengambil posisi..."
"Pelangi... jangan begitu" sahut Nara yang langsung mematahkan perkataan Pelangi.
"Dia sudah tenang dan bahagia disana. Jangan lagi diungkit ya. Ayo" ucap Nara. Dia kembali menarik tangan Pelangi dan membawanya menuju ruang makan dimana papa dan mama Zelina sudah menunggu disana.
Jantung Pelangi semakin tidak menentu saat mereka memandang kearah nya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Benar benar lekat, hingga rasanya Pelangi ingin menghilang saja dari sini.
"Selamat siang nyonya, tuan" sapa Pelangi seraya membungkukkan sedikit tubuhnya didepan tuan Abas dan juga mama Zelina. Dia mendekat dan langsung menjulurkan tangan nya pada mama Zelina.
Mama Zelina tersenyum sendu dan meraih tangan Pelangi. Dia sedikit tertegun saat Pelangi mencium punggung tangan nya. Dan bergantian dengan tuan Abas.
"Kamu Pelangi?" tanya mama Zelina
"Iya nyonya" jawab Pelangi. Suaranya terdengar bergetar, karena dia memang benar benar takut dan gugup sekarang.
"Kamu cantik sekali nak" ucap mama Zelina, membuat Pelangi langsung tersenyum getir mendengar pujian itu. Cantik dari mana, bahkan sangat tidak setimpal jika dibandingkan dengan putri mereka.
"Ayo duduk dulu, tadi mama sudah membuat kue untuk kita makan bersama" ujar mama Zelina. Terlihat begitu ramah, bahkan Pelangi tidak menyangka jika dia akan disambut dengan begitu hangat.
"Terimakasih nyonya" ucap Pelangi seraya dia yang duduk disamping Nara yang menuangkan segelas teh untuk kedua mertuanya.
"Kenapa baru datang sekarang, bahkan kami baru tahu ini jika Arya sudah memiliki istri" ucap tuan Abas. Dan Pelangi tidak tahu harus menjawab apa.
"Tidak apa apa, mulai sekarang kamu sudah harus sering main kesini ya." ujar mama Zelina
Pelangi hanya tersenyum dan mengangguk saja
"Kamu harus bisa meraih hati Aryo Pelangi. Tapi juga jangan buat dia bersedih lagi. Luka nya karena kehilangan adik ku benar benar besar. Kamu lihat sendiri kan bagaimana sikapnya" Reynand tiba tiba datang dan membuat mereka menoleh.
"Iya tuan" jawab Pelangi
"Dulu dia itu orang yang ramah dan murah tawa, bahkan dia yang selalu membuat rumah ini ramai. Tapi sekarang, dia sudah berubah jauh. Jika kamu memang benar benar ingin menjadi istrinya, kamu harus bisa membuat Arya kembali seperti dulu. Jangan hanya diam dan menikmati pemberian Arya saja" ujar tuan Abas
Pelangi tertegun mendengar itu, namun dia tetap mencoba tersenyum seperti biasa. Apa mereka berfikir jika Pelangi hanya memanfaatkan semua fasilitas yang diberikan Arya saja. Apa mereka takut jika Pelangi hanya memanfaatkan Arya dalam kesempatan ini???
Ya tuhan...
Kenapa terasa mengusik hati???
__ADS_1