
Hujan diluar sudah mulai mereda. Namun masih menyisakan dingin yang begitu menggigit. Suasana hening dan sunyi membuat Arya hanya bisa terdiam dan menikmatinya. Segelas kopi hangat yang baru saja diseduh menemani Arya malam itu.
Dia duduk disofa rumah dengan pandangan mata yang memandang keatas meja dengan tangan yang menggenggam gelas kopinya.
Sepi dan sunyi, dan Arya hanya ditemani oleh rasa rindu dan kenangan Zelina yang bermain didalam fikiran dan angan nya. Meski sudah lima tahun berlalu, tapi gadis itu masih saja menjadi penghuni hati dan fikiran Arya.
Ah Ze... kapan kita akan bertemu lagi?
Jika saat sepi seperti ini bayangan mu pasti selalu mengusik hati dan perasaan Arya. Sudah tiga hari ini tidak ada yang mengalihkan perhatian Arya dari bayang bayang Zelina. Meski benci dan kesal, tapi sebenarnya tanpa Arya sadari kehadiran Pelangi sedikit demi sedikit sudah bisa membuat perhatian nya teralih.
Tapi sekarang, rasa sepi itu datang lagi. Rasa rindu yang begitu menggebu itu juga kembali. Jika biasanya ulah Pelangi yang selalu membuat nya kesal bisa sedikit mengalihkan dunia Arya, tapi sudah tiga hari ini rumah terasa sepi.
Tidak ada lagi senyum secerah mentari ketika dia pulang bekerja. Tidak ada lagi segelas teh hijau dan juga sarapan dipagi hari yang menyambut nya ketika bangun. Tidak ada lagi lantunan lantunan suara Pelangi disaat dia bosan, dan tidak ada lagi ulah Pelangi yang membuat Arya selalu marah marah.
Sekarang rumah sudah sepi kembali seperti saat Pelangi belum masuk kedalam hidupnya. Rumah dan hati Arya yang kembali hanya bisa mengenang Zelina nya.
Ck... kenapa malah mengingat Pelangi???
Dan tanpa sengaja Arya malah menoleh kearah kamar yang tertutup. Kamar Pelangi. Kamar yang memang ada didekat ruang tamu itu. Rumah Arya yang kecil dan minimalis membuat dia hanya mempunyai dua kamar saja. Dan sekarang satu kamar itu sudah ada penghuni nya.
Penghuni yang entah sampai kapan akan menempati kamar itu. Kamar yang dia gantungi berbagai macam aksesoris. Aneh sekali.
Arya menghela nafas berat dan langsung tersandar di sandaran sofa. Dia memijat pelipisnya yang terasa berat. Namun saat akan memejamkan mata, tiba tiba suara pintu rumah Arya diketuk dari luar. Membuat Arya langsung beranjak dan berjalan untuk membuka pintu.
Mungkin saja itu petugas PPL yang bertugas ditaman bunga nya.
Dan ketika membuka pintu, memang benar. Seorang pemuda berambut cepak berdiri dengan senyum ramah nya memandang Arya. Ditangan nya membawa sebuah tas yang berisi berkas berkas dan dokumen penting.
"Selamat malam pak Arya" sapa pemuda itu dengan ramah.
"Malam, kamu petugas PPL itu?" tanya Arya.
Pemuda itu langsung mengangguk dengan cepat, seraya dia yang menjulurkan tangan nya pada Arya.
"Benar pak. Saya Rangga, petugas PPL baru yang menggantikan pak Ridwan" jawab pemuda itu. Yang tidak lain adalah Rangga.
"Oh baiklah, pantas saya tidak pernah melihat mu. Ayo masuk" ajak Arya saat sudah menjabat tangan Rangga.
Rangga mengangguk dan langsung berjalan masuk kedalam mengikuti Arya. Duduk disofa dan mulai mengeluarkan berkas yang dia bawa.
"Ada masalah apa? Maaf saya meminta mu untuk datang malam ini. Karena besok saya ada urusan diluar kota. Tidak tahu kapan akan kembali" ucap Arya.
Rangga tersenyum dan menggeleng. Seraya dia yang menyerahkan berkas yang dia bawa pada Arya.
__ADS_1
"Tidak apa apa pak. Saya kemari untuk memberikan berkas berkas ini. Ada beberapa point yang membutuhkan persetujuan dari bapak. Juga saya mau menyampaikan tentang masalah lahan yang ingin kita beli" ungkap Rangga.
Arya mengangguk sembari tangannya yang mulai membuka berkas itu dan membaca nya dengan teliti.
"Masalah bibit tidak ada masalah lagi?" tanya Arya
"Tidak pak, sudah dapat diselesaikan dengan baik. Saya baru mendapatkan supliyer bibit dari Jepang sore ini" jawab Rangga.
Arya hanya mengangguk dan kembali membaca berkas berkas itu. Sedangkan Rangga, dia menoleh sekilas kearah lain. Dimana ternyata dirumah ini dipenuhi oleh bunga tulip juga.
Ternyata Arya penyuka bunga lambang keabadian ini, pantas saja dia membangun taman bunga tulip dan sekarang sudah menjadi taman bunga yang terbesar yang ada dinegara ini. Keren sekali. Bukan hanya keren, tapi sebenarnya lucu juga.
Tapi tiba tiba disaat melamunkan Arya, ekor mata Rangga melihat sebuah benda asing didekat pintu kamar. Sebuah gantungan yang dia kenali. Gantungan berbentuk kuda poni kecil yang terbuat dari ukiran kayu. Bahkan mata Rangga sampai memicing memandang gantungan dipintu itu.
Dia kenal kuda kayu itu, sangat mengenal nya. Apalagi dengan ekor kuda yang unik yang sedikit terangkat keatas. Tidak asing, karena itu seperti mainan kuda kudaan yang pernah Rangga berikan pada ..... Pelangi.
Ya itu mirip seperti kuda kudaan yang pernah Rangga berikan pada Pelangi saat mereka berpisah dulunya. Tidak mungkin salah. Meski melihat dari jauh, tapi Rangga yakin itu adalah ukiran yang sama. Ukiran yang dia buat sendiri untuk Pelangi, gadis cantik yang sudah dia sukai sejak dulu.
Rangga memberikan itu sebelum dia pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliah nya.
Tapi kenapa bisa ada disini??? Apa mungkin itu benda yang berbeda? Tapi benar benar mirip. Ekor kuda itu, sudah menunjukkan jika itu adalah mainan kuda buatan nya.
"Melihat apa?" tanya Arya. Dan pertanyaan Arya membuat Rangga tersentak kaget. Dia langsung tersenyum canggung memandang Arya.
Arya langsung menoleh dan memandang gantungan yang dimaksud oleh Rangga. Matanya sedikit memicing. Apanya yang unik????
"Jadi masalah lahan itu bagaimana? Mereka tidak ingin menjual nya pada kita?" tanya Arya
Rangga mengangguk pelan. Dia mengabaikan rasa penasaran nya dari gantungan pintu itu dan kembali fokus pada Arya.
"Benar pak, mereka bilang sudah ada yang menawar lahan itu lebih dulu sebelum kita" ungkap Rangga
"Siapa?" tanya Arya
"Pemborong dari pihak perusahaan Bimantara" jawab Rangga.
Arya terdiam, perusahan Bimantara??? Bukankah itu perusahaan milik Bima? Kenapa malah dia yang ingin membeli?
"Mereka bilang pihak perusahaan itu ingin membangun beberapa vila dilahan itu. Hanya saja mereka belum serah terima tanda jadi pak" ucap Rangga lagi.
"Untuk masalah ini biar saya yang atasi. Kamu urus saja masalah bibit dan juga pupuk. Jangan sampai terbengkalai. Kamu sudah tahu kan pekerjaan mu apa saja disana" ujar Arya
Rangga mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Sudah pak, saya pasti akan bekerja dengan baik" jawab Rangga dengan yakin.
"Ya, saya harap juga begitu. Dan jika kamu mempunyai usul untuk perkembangan taman kita. Kamu boleh mengajukan pada saya" ujar Arya
"Tentu pak, saya hanya penasaran kenapa bapak hanya membudidayakan bunga tulip saja, kenapa tidak yang lain" jawab Rangga
Arya mendengus senyum tipis dan menggeleng seraya dia yang meletakkan berkas yang dia pegang diatas meja.
"Karena saya menyukai bunga itu. Memang harus bunga apa lagi yang ada disana" tanya Arya seraya bersandar di sandaran sofa nya.
"Seperti nama tempat itu Ze in Florist, jika membudidayakan bunga lain pasti akan semakin menambah peminat, ya meskipun taman ini saja setiap tahun nya sudah pasti penuh oleh pengunjung." ungkap Rangga.
"Mawar misal nya" kata Rangga lagi. Membuat Arya kembali tertegun.
Kenapa lagi lagi harus mawar???
"Kenapa harus mawar" gumam Arya tanpa sadar
"Karena bunga ini juga memiliki daya tarik yang tinggi pak" jawab Rangga
Arya sedikit terkesiap dan menghela nafas. Duduk dengan tegak dan kembali memandang pada Rangga.
"Mawar dan tulip. Apa bisa digabungkan? Tidak kan" ucap Arya. Namun Rangga tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Tidak bisa memang. Mereka bunga yang berbeda dan memiliki keindahan tersendiri. Bukan untuk digabungkan atau dibandingkan pak, hanya saja kita buat tempat tersendiri disana. Tempat baru khusus untuk bunga mawar. Tapi mawar dengan bibit premium, seperti mawar Musk, mawar kubis atau Eden. Jadi taman bunga itu bisa memiliki dua keindahan sekaligus" ungkap Rangga
Arya terdiam, dia bertanya bukan hanya tentang bunga. Melainkan lambang dari bunga itu sendiri. Tapi Rangga, dia tidak mengerti apapun.
"Saya belum bisa memikirkan ada bunga lain disana" ucap Arya.
Rangga tersenyum dan mengangguk.
"Iya pak, saya mengerti. Jika sudah cinta memang susah. Itu hanya pemikiran saya saja pak" jawab Rangga
Arya mengangangguk pelan.
"Ya, tidak masalah. tunggu lah sebentar. Saya ambil air minum dulu untuk mu" ujar Arya seraya beranjak dari sofa
"Oh, tidak perlu repot repot pak" ucap Rangga terlihat tidak enak.
"Tidak masalah, masih banyak yang harus kita bahas" jawab Arya yang langsung berjalan menuju dapur nya. Meninggalkan Rangga yang hanya bisa menghela nafas pelan. Namun perhatian nya kembali terarah pada gantungan pintu kamar Pelangi.
Dia masih begitu penasaran dengan gantungan kuda kudaan kayu itu. Apa sudah banyak yang mempunyai mainan seperti itu hingga bisa berada dirumah bos nya???
__ADS_1
Dan Rangga belum tahu, jika kamar itu, adalah kamar milik gadis pemilik kuda kayu itu. Bagaimana jika dia tahu nanti???