
Siang ini Pelangi baru saja selesai mandi. Pagi tadi dia benar benar malas mandi. Entah kenapa hari ini bawaan tubuhnya tidak sesemangat biasa. Mungkin karena bawaan bayi. Atau mungkin karena bawaan diri sendiri???
Entahlah...
Pelangi bersenandung kecil sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Sesekali dia tersenyum ketika mengingat hal yang membuat hatinya bahagia.
Ya, siapa lagi jika bukan Arya. Apalagi dia tahu jika sebentar lagi mereka akan menyelenggarakan pesta pernikahan. Pelangi sangat bahagia. Impian nya sejak dulu untuk bisa menikah dengan Arya, dan sekarang malah di rencanakan untuk membuat sebuah pesta mewah.
Siapa yang tidak bahagia???
Bahkan untuk sampai di titik ini saja Pelangi masih tidak menyangka. Memang tidak lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat Arya menyadari perasaannya, hanya tiga bulan. Tapi tiga bulan itu saja sudah membuat Pelangi hampir menyerah. Tapi ternyata, Tuhan masih begitu baik padanya untuk membukakan pintu hati Arya agar bisa menerima nya.
Tuhan ...
Terimakasih...
Ting tong
Tiba tiba Pelangi sedikit terkesiap saat bel rumah itu berbunyi. Dengan cepat dia menyisir rambutnya dan berjalan keluar.
Entah siapa yang datang, tidak mungkin Arya karena suaminya itu pasti akan sore pulangnya.
Ceklek
Saat pintu di buka, Pelangi langsung terkesiap dan tersenyum lebar melihat siapa yang datang.
"Aunty Pel!!!" seru seorang anak lelaki kecil. Bahkan dia langsung memeluk Pelangi dengan gemas.
"Vanno" sapa Pelangi yang juga ikut memeluk Vanno.
"Jangan kuat kuat memeluk perut aunty Vanno" ujar Nara yang baru turun dari mobil.
"Tahu nih kakak, di perut aunty ada Dedek nya. Benar kan aunty" sahut Zeze pula.
Pelangi tertawa kecil dan mengangguk pelan seraya tangan nya yang mengusap kepala Vanno dengan lembut. Bocah lelaki ini terlihat sangat merindukan nya.
"Adik bayinya cewe atau cowo aunty?" tanya Vanno
"Belum tahu sayang, aunty belum periksa" jawab Pelangi.
"Ayo masuk, mari nona" ajak Pelangi. Dia menarik tangan Vanno yang memang sangat dekat dengannya. Sedangkan Zeze sudah berlari kesana dan kemari mengelilingi rumah itu.
"Kenapa aunty tidak periksa. Kalau sudah tahu, Vanno ingin kasih hadiah untuk adik bayi ini" ucap Vanno. Kini mereka duduk di sofa bersama sama.
"Kamu mau kasih hadiah apa hmm?" tanya Nara pula.
"Sebuah PC mommy. Atau mungkin alat lukis" jawab Vanno terdengar yakin. Namun itu malah membuat Nara dan Pelangi tertawa mendengarnya.
"Bayi aunty belum bisa apa apa sayang. Nanti kalau sudah besar seperti Vanno, baru bisa melakukan sesuatu" jawab Pelangi.
"Yes, Vanno tahu aunty. Vanno bertanya karena Vanno ingin mempersiapkan nya dari sekarang. Tabungan Vanno sudah ada untuk itu" sahut Vanno.
"Ooohh manisnya" Pelangi langsung mencubit gemas pipi Vanno. Anak lelaki tampan ini benar-benar selalu bisa membuat Pelangi terpana.
"Padahal tidak usah menabung, tinggal minta mommy" ucap Zeze yang juga ikut duduk dan bergabung bersama mereka. Di tangannya memegang sebuah boneka kecil.
"Mana bisa begitu, supaya lebih berkesan. Namanya untuk adik Vanno. Benarkan aunty?" tanya Vanno
"Bukan adik Vanno, tapi adik Zeze. Nanti adik bayi nya perempuan!" seru Zeze yang malah tidak terima.
"Harus laki laki. Tidak enak punya adik perempuan. Apalagi adik perempuan seperti mu. Menyebalkan " sahut Vanno pula
"Enak saja. Zeze ini yang paling baik dan paling manis. Benarkan mommy???" tanya Zeze
__ADS_1
"Iya nak iya. Tapi mau adiknya laki laki atau perempuan, tidak boleh berkelahi dong. Kan belum keluar juga" jawab Nara
Pelangi hanya terkekeh geli memandang kedua bocah ini. Sangat menggemaskan. Pelangi bahkan sampai mengusap perutnya dengan lembut seraya membatin dalam hati, berharap anaknya nanti akan setampan dan secantik kedua anak Nara ini. Pasti bahagia sekali.
Eh... Tapi kan bibitnya berbeda!
"Mommy sih tidak mau kasih adik lagi, coba aja kasih adik juga. Pasti Zeze sama kakak gak akan berkelahi" celetuk Zeze.
Nara langsung tertegun hingga akhirnya dia hanya bisa tersenyum getir.
"Jatahnya hanya dua sayang. Mommy sudah punya kalian, dan sekarang giliran aunty Pel" jawab Nara.
Pelangi langsung mengangguk dengan cepat.
"Harus dua juga ya aunty" pinta Zeze
"Belum tahu sayang, kan belum di periksa" jawab Pelangi.
"Sudah sudah, sekarang kalian pergi main dulu oke. Mommy mau berbicara dengan aunty" ujar Nara yang langsung menghentikan perdebatan masalah anak ini. Jika di biarkan berlarut kedua anak nya pasti tidak akan berhenti mengoceh. Apalagi mereka yang begitu antusias dengan kehamilan Pelangi. Yang mereka anggap, Pelangi sedang mengandung adik untuk mereka.
Ada ada saja.
"Oke mommy... Vanno juga ingin melukis sesuatu. Selagi tidak ada Daddy" jawab Vanno yang langsung melompat turun dari sofa itu dan duduk meleseh di atas karpet. Begitu pula dengan Zeze yang menyusul kakaknya.
Ternyata Vanno membawa alat alat lukis sendiri.
"Apa tuan Reynand masih tidak mengizinkan Vanno untuk melukis nona?" tanya Pelangi
"Mengizinkan, hanya saja jangan terlalu sering. Reynand ingin Vanno belajar dan menjadi seperti dia" jawab Nara. Helaan nafasnya terdengar panjang.
"Tuan Reynand pasti ingin yang terbaik untuk Vanno" sahut Pelangi.
"Kamu benar, tapi ya begitu. Dia terlalu keras mendidik Vanno. Untung saja ada opa dan Omanya. Jadi Vanno masih bisa bermain seperti anak yang lain" ungkap Nara.
"Pelangi" panggil Nara. Hingga membuat perhatian Pelangi langsung kembali padanya.
"Besok desainer gaun pengantin mu akan kerumah. Mereka datang untuk mengukur tubuhmu. Kamu bisa pilih gaun pengantin yang kamu inginkan" ujar Nara, seraya dia yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya. Sebuah majalah.
"Oh... Bukan saya yang ke butik ya nona?" tanya Pelangi.
Nara tersenyum dan menggeleng pelan.
"Tidak perlu, kamu sedang hamil. Jangan terlalu kelelahan" jawab Nara seadaanya. Tidak ingin dia berkata, jika Arya yang tidak mengizinkan. Lelaki itu sepertinya benar benar takut dan masih trauma.
"Cantik cantik sekali" gumam Pelangi
"Pilihlah yang kamu suka. Itu hanya beberapa model. Jika tidak ada yang cocok, kamu bisa merancang nya sendiri" ujar Nara.
Pelangi langsung menggeleng dengan cepat.
"Tidak nona, ini juga sudah sangat bagus. Saya suka. Suka semuanya" jawab Pelangi. Bahkan matanya terlihat berbinar memandangi banyak nya gaun pengantin dengan bentuk yang sangat indah ini. Benar benar impian setiap wanita.
"Tapi... Apa jika memakai gaun ini perut saya tidak kelihatan ya nona. Kan sudah nampak besar juga" tanya Pelangi sembari mengusap perutnya yang membuncit.
Nara langsung tersenyum dan menggeleng pelan.
"Tidak... ini gaun khusus untuk yang sudah hamil. Lihat saja modelnya, semua mengembang di bagian perut, ada juga yang memakai Selayar untuk menutupi bagian perut jika memang sudah besar. Kamu bisa memilihnya" jawab Nara
"Ah nona memang paling terbaik" sahut Pelangi
"Harus yang terbaik untuk kalian berdua" jawab Nara pula.
Pelangi benar benar bahagia. Dia terus memperhatikan setiap model gaun yang ada disana. Semuanya sangat cantik dan tentunya benar benar mewah. Memang sangat sesuai dengan pilihan Nara yang memang nampak elegan.
__ADS_1
Gaun pengantin putih, dengan berbagai bentuk. Dari yang terbuka hingga tertutup.
Jika memakai ini, Pelangi pasti kelihatan cantik. Ya ampun.... Kenapa dia jadi tidak sabar.
Dan jika memakai gaun ini, apa Arya akan bahagia melihat nya???
Deg
Tiba tiba Pelangi tertegun, tangan nya yang sejak tadi tidak berhenti mengusap foto di majalah itu kini terhenti. Pikirannya melayang, teringat akan sesuatu.
Gaun pengantin putih....
Bukankah Arya kehilangan Zelina saat melakukan fitting gaun pengantin???
Ya, bahkan Pelangi pernah melihat foto Zelina yang terpajang indah di kamar Arya. Gadis itu mengenakan gaun pengantin putih yang sangat indah.
Dan jika Pelangi memakai gaun itu juga, apa itu tidak apa apa?
Bukankah Arya begitu trauma dengan kejadian itu???
Pelangi langsung menghela nafas berat. Tangan nya kembali mengusap foto gaun pengantin yang menurutnya paling sesuai dengan keinginan Pelangi.
"Hei... Kenapa melamun?"
Pertanyaan Nara membuat Pelangi sedikit terkesiap. Dia memandang Nara dengan pandangan getir nya.
"Nona... Apa jika memakai gaun ini tidak apa apa?" tanya Pelangi, terdengar begitu ragu.
"Kenapa memangnya?" tanya Nara pula.
"Saya ingat, kalau mas Arya... Pasti masih trauma dengan gaun pengantin putih ini. Bukankah nona Zelina pergi saat dia mencoba gaun pengantin ini?" tanya Pelangi
Dan kali ini Nara yang terlihat terdiam. Dia memandang Pelangi dengan pandangan tidak menentu. Karena ternyata Pelangi mengerti jika Arya yang memang sedang melawan trauma nya.
"Tidak apa apa. Kejadian itu sudah lama berlalu. Kamu jangan khawatir. Meski takut, tapi Arya sudah bisa menerima nya" ungkap Nara akhirnya.
"Tapi saya tidak ingin membuat mas Arya kembali teringat dengan kejadian itu lagi nona" ucap Pelangi.
"Pelangi, mau bagaimanapun, Arya memang harus melawan rasa trauma nya. Pernikahan kalian tetap harus berjalan. Tidak apa apa. Jangan fikirkan apapun oke" ujar Nara.
"Semua sudah di persiapkan. Kamu hanya tinggal menyiapkan diri. Arya pasti baik baik saja. Dia sangat ingin melihat kamu bahagia" tambah Nara lagi.
Pelangi kembali tertunduk dan memandang gaun pengantin itu.
"Bolehkah warna gaun ini di ganti?" tanya Pelangi.
"Diganti???" gumam Nara
Pelangi langsung mengangguk dengan cepat.
"Saya ingin warna pink muda nona. Bukankah itu cantik juga?" tanya Pelangi
Nara langsung tersenyum dan mengangguk.
"Bisa, besok kita bicarakan dengan Vale" jawab Nara.
Pelangi mengangguk pelan.
Putih memang cantik. Tapi dia menyimpan kenangan pahit untuk Arya. Dan Pelangi, Pelangi tidak ingin bahagia sendiri sedangkan Arya malah harus melawan rasa trauma itu.
Tidak apa apa terlihat berbeda. Yang terpenting semua berjalan dengan baik dan lancar.
Ya semoga
__ADS_1