Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Pingsan


__ADS_3

Sekuat itukah cintamu pada dia dan kenangan nya?


Hingga tidak lagi kau bisa melihat keindahan lain selain dirinya yang telah pergi.


Seberapa kuat rasa sakit itu tuan?


Coba katakan padaku dan lihat sedikit kearahku,


agar kau tahu, jika bukan hanya kau saja yang terluka dalam kisah ini.


Tapi ada aku...


Aku yang tak sengaja terlanjur masuk kedalam luka mu!


~Pelangi~


...


Malam panjang yang begitu menakutkan telah usai. Hujan badai yang terasa ingin menghancurkan bumi malam itu juga sudah tidak lagi bergemuruh. Kini hanya tingga menyisakan jejak jejak basah pada tanah dan tumbuhan yang ada diluar.


Pelangi mengusap kepala dan wajah nya yang pucat. Dia terbangun dengan kepala yang terasa begitu berat, tubuh yang terasa remuk dan hati yang terasa perih.


Satu malaman ternyata dia menghabiskan malam didepan kamar Arya. Bahkan tertidur disana berharap mencari perlindungan hati agar sedikit tenang. Namun nyatanya, bahkan sampai matahari mulai bersinar, Arya juga tidak ada membukakan pintu untuk nya.


Menyedihkan sekali bukan...


Tapi sudah lah...


Tidak mudah menjadi Arya...


Pelangi tidak akan mempermasalahkan itu.


Dua bulan ini, dia memang harus mencoba untuk menahan hati.


Pelangi mulai beranjak dan berdiri dengan perlahan. Kepala nya terasa pusing dan berat. Perut nya juga mual. Apa dia masuk angin karena tertidur diluar dan dilantai seperti ini?


Ah ... iya mungkin saja.


Dengan cepat Pelangi pergi dari depan kamar Arya. Dia benar benar ingin muntah sekarang.


Dengan hati hati dia menuruni anak tangga satu persatu, hingga ketika tiba dilantai bawah Pelangi langsung berlari kedapur. Dia memuntahkan semua isi perutnya diwastafel. Pagi itu suasana masih begitu sepi, hingga hanya suara kesakitan Pelangi yang memenuhi setiap sudut rumah.


Dia memuntahkan semua isi perutnya, hingga rasanya tidak lagi tersisa apapun didalam sana. Pelangi jatuh terduduk di atas lantai. Rasanya lemas sekali, kepala nya benar benar pusing. Bahkan wajahnya juga semakin pucat, keringat dingin pun sudah mulai membasahi wajah dan tubuhnya.

__ADS_1


Ah... apa dia akan sakit?


Biasanya memang begitu. Setiap dia ketakutan yang berlebihan. Besok nya Pelangi pasti akan demam.


Dia butuh bunda nya sekarang...


Pelangi langsung memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya dibalik lengan. Menahan rasa pusing dan rasa tidak enak didalam hati.


Dia butuh istirahat, tapi Arya juga butuh sarapan.


Pelangi mengusap wajahnya dengan pelan. Tidak ... dia tidak boleh lemah. Dia harus tetap kuat. Setelah membuatkan Arya sarapan, dia bisa istirahat.


Pelangi beranjak dengan pelan tanpa melihat kedepan. Namun karena kepala nya yang pusing, tubuhnya jadi oleng dan sempoyongan hingga rasanya dia akan terjatuh dan membentur meja.


Bahkan karena reflek, Pelangi langsung memejamkan matanya, karena sudah pasti dia akan.......


grep


Pelangi terkejut bukan main, saat tiba tiba tubuhnya bukan membentur meja melainkan terjatuh dalam dekapan seseorang yang menarik nya dengan cepat.


Dia membuka mata perlahan, dan langsung tertegun karena ternyata Arya yang menangkap nya.


"Apa kau tidak bisa berdiri dengan benar" ucap Arya, terdengar begitu ketus. Seraya dia yang segera melepaskan tubuh Pelangi.


"Pergi sana kekamarmu. Jangan membuat orang susah" usir Arya


"Tapi sarapan bapak?" tanya Pelangi, suaranya terdengar lemah, bahkan dia berbicara dengan menahan rasa sakit dikepala. Membuat Arya langsung memandang wajah Pelangi yang memang benar benar pucat.


"Apa kau kira aku anak kecil yang tidak bisa melakukan apapun. Selama ini aku juga bisa sendiri" sahut Arya seraya berjalan menuju kesebuah lemari penyimpanan yang memang ada disana.


Pelangi tersenyum kecut dan mengangguk pelan. Jangan bersedih Pelangi, anggap saja ini sebagai bentuk perhatian Arya padamu.


"Bawa ini, disana ada obat yang kau butuhkan." Arya melemparkan sebuah kotak obat kecil keatas meja. Tepat disamping Pelangi.


Pelangi kembali tersenyum dan mengangguk. Sementara Arya langsung berjalan menuju meja kompor untuk membuat teh nya sendiri.


"Terimakasih pak. Maaf merepotkan" ucap Pelangi.


Namun Arya hanya diam dan terus fokus pada pekerjaan nya. Dia seolah mengabaikan perkataan Pelangi barusan.


Pelangi tersenyum getir, dia meraih kotak obat itu dan langsung berjalan menjauh dari ruang makan. Langkah nya nampak sempoyongan dan lemah. Sepertinya dia memang benar benar sedang tidak baik baik saja.


Sebenarnya Arya tahu, dia mendengar suara kesakitan Pelangi saat muntah muntah tadi, hingga itu yang membuat dia keluar kamar dan melihat apa yang terjadi pada gadis itu. Bahkan Arya juga tahu jika malam tadi Pelangi tidur didepan kamarnya. Hanya saja Arya mengabaikan nya dan seolah tidak tahu. Arya benar benar tidak ingin membuat gadis itu berharap apapun pada Arya. Karena sungguh, hatinya belum rela untuk menerima siapapun selain Zelina.

__ADS_1


Brak


Tiba tiba Arya terkesiap saat mendengar suara benda terjatuh. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan memandang kearah luar ruangan makan itu, yang memang hanya dibatasi oleh rak barang saja.


Matanya memicing, saat melihat Pelangi yang ternyata sudah terkulai diatas lantai dengan kotak obat yang nampak berserakan disekitar nya.


Arya langsung mematikan kompornya dan dengan cepat berjalan kearah Pelangi. Jangan sampai gadis itu kenapa kenapa, jika tidak, mungkin dia bisa dituntut oleh orang tua Pelangi.


Arya langsung berlutut didekat Pelangi. Wajah Pelangi sangat pucat, bahkan matanya sudah terpejam rapat dengan keringat yang terus keluar.


"Hei..." panggil Arya seraya mengguncang bahu Pelangi.


"Pelangi" panggil Arya lagi. Namun nihil, Pelangi sudah pingsan dan tidak mengingat apapun lagi.


Arya beranjak dan berjalan menuju kamar Pelangi, dia membuka pintu kamar itu dan kembali lagi pada Pelangi. Mengangkat tubuh Pelangi dan membawanya masuk kedalam kamar.


Arya merebahkan tubuh Pelangi diatas tempat tidur. Tubuh nya terasa hangat, dan sepertinya dia demam.


Lalu apa yang harus Arya lakukan? Tidak mungkin dia meninggalkan Pelangi dalam keadaan seperti ini kan? Bagaimana jika dia mati? Bisa mati juga Arya nanti.


Astaga...


Kenapa jadi melenceng jauh sekali.


Hingga akhirnya Arya memutuskan untuk menyelimuti tubuh Pelangi dan mengompres dahinya. Mungkin itu bisa sedikit mengurangi demam nya. Arya juga mengolesi minyak kayu putih dihidung Pelangi.


Hingga lama kelamaan Pelangi sadar, namun tidak membuka matanya. Dia hanya bergumam dan bergelung dalam selimut. Memeluk tubuhnya sendiri dan terus memanggil manggil bunda nya.


Arya menghela nafas berat, dia duduk disamping Pelangi dan memandangi wajah gadis belia itu dengan pandangan yang tidak bisa di artikan. Matanya juga tertuju pada beberapa tangkai bunga mawar yang berada didalam satu vas kaca diatas meja.


Arya tersenyum tipis dan menggeleng.


Tulip dan mawar


Bagaimana bisa disatukan?


Sebenarnya Arya kasihan melihat gadis ini. Dia tidak ingin bersikap kasar. Arya hanya ingin Pelangi menyerah dan pergi dari kehidupan nya. Hidup Pelangi terlalu berharga jika harus hidup bersama Arya yang tidak akan pernah bisa melepaskan bayang bayang mantan kekasih nya.


Arya sadari itu.


Apalagi Pelangi masih begitu muda, sangat jauh perbedaan usia mereka.


Bukankah pergi dari kehidupan nya bisa lebih baik? Dari pada harus terkurung disini dan tersiksa setiap hari? Terkadang Arya tidak habis fikir.

__ADS_1


Tapi satu hal yang tidak Arya tahu, jika Pelangi sudah mencintai dia dalam diam sejak tiga tahun yang lalu. Arya tidak pernah tahu itu. Dia hanya menganggap Pelangi gadis asing yang tiba tiba masuk kedalam kehidupan nya yang menyakitkan ini.


__ADS_2