
Pelangi masih duduk didepan ruangan Arya dengan pandangan mata yang terlihat sedih. Wajahnya pucat, lelah dan lesu. Hari sudah malam, tapi Arya belum sadar juga sampai saat ini.
Pelangi benar benar cemas dan takut.
Dokter bilang, Arya masih dalam pengaruh obat. Lukanya tidak telalu dalam, tapi karena kehilangan darah yang cukup banyak, membuat kondisi Arya lemah.
Meski Arya kejam, jahat dan selalu mengabaikan nya, tapi tetap saja, melihat Arya yang seperti ini Pelangi benar benar tidak tega. Apalagi Arya terluka juga karena menolong nya tadi.
Ya, Arya tidak jahat. Arya baik. Arya hanya masih belum menerima Pelangi. Lihatkan, dia masih mau menolong Pelangi dan mengorbankan keselamatan nya sendiri.
"Pelangi"
Suara seseorang membuat Pelangi tersadar. Dia menoleh lemah kearah Rangga yang datang dengan sebotol air ditangan nya.
"Minum dulu" ujar Rangga
Pelangi mengangguk, dia meraih botol minum itu dengan lesu. Hatinya masih begitu khawatir hingga membuat wajahnya juga ikut kusut sekarang.
"Kamu sudah menghubungi keluarga pak Arya?" tanya Rangga.
"Sudah kak, mungkin sebentar lagi nona Nara datang" jawab Pelangi
Rangga mengangguk pelan. Dia memandang Pelangi dengan pandangan tidak menentu. Sejak tadi Pelangi tidak pernah mau beranjak dari sini, bahkan hanya untuk membersihkan diri atau istirahat. Pelangi hanya meninggalkan ruangan Arya saat dia mengobati luka gores dilehernya. Itu juga karena Rangga yang memaksa. Jika tidak, mungkin Pelangi akan tetap berada disini.
"Kamu tahu siapa orang yang sudah mencelakai pak Arya Pel? Aku belum menghubungi polisi. Karena kita tidak memiliki bukti sedikitpun. Mungkin nanti mengunggu keluarga pak Arya" ucap Rangga
Pelangi terdiam sejenak. Dia memandang Rangga dengan ragu. Antara kenal atau tidak. Pelangi masih ragu.
"Apa kakak ingat dengan Jojo?" tanya Pelangi. Dan kali ini Rangga yang terdiam. Fikiran nya langsung flashback pada zaman di saat mereka masih SMA dulu.
"Jojo? Joshua maksud kamu?" tanya Rangga
Pelangi mengangguk. Dia ingat tentang lelaki itu sekarang. Teman sekelas Pelangi saat mereka masih SMA dulu. Jojo adalah salah satu lelaki yang sangat menyukai Mentari, saudara kembar Pelangi. Dia adalah salah satu orang yang sangat terpukul dengan kepergian Mentari waktu itu. Hingga rasa suka nya pada Mentari membuat perasaan itu berubah menjadi sebuah obsesi.
Tidak ada Mentari, maka Pelangi yang menjadi sasaran nya. Setiap saat dia selalu mencoba mendekati Pelangi. Namun Pelangi acuhkan dan dia lebih memilih dekat dengan Rangga dan Mia. Bahkan tidak jarang Pelangi selalu menghina Jojo dan beranggapan jika perasaan Jojo pada kakak nya hanya perasaan yang tidak serius.
Dan karena hal itu, yang membuat Jojo tidak menyukai Pelangi.
"Aku curiga itu dia kak. Suara nya mirip. Aku juga baru ingat, di waktu hari pertama aku kerja di perusahaan pak Arya, dia yang mau melecehkan aku. Dan karena itu aku ketakutan hingga lari kelantai atas keruangan pak Arya. Tapi ternyata pak Arya juga sudah meminum obat perangsang" ungkap Pelangi.
Rangga menghela nafas berat. Sakit sekali jika harus membayangkan hal itu lagi.
"Apa obat perangsang itu sengaja pak Arya minum, atau memang tidak sengaja?" tanya Rangga
"Sepertinya enggak sengaja. Aku memang gak pernah lagi membahas hal itu sama pak Arya. Tapi aku tahu, pak Arya gak akan mungkin minum obat peransang itu" jawab Pelangi.
"Aku akan cari tahu hal ini, mungkin kita bisa menyelidiki tentang Jojo dulu sekarang" ujar Rangga
"Tolong kak, aku takut dia mencelakai kami lagi. Dia bener bener keterlaluan. Aku gak bisa lihat pak Arya kayak gini" ucap Pelangi dengan wajah penuh pengharapan.
__ADS_1
Rangga tersenyum getir dan mengangguk.
"Kamu udah cinta ya sama pak Arya?" tanya Rangga
Pelangi terdiam
"Kamu gak pernah seperti ini Pel. Sejak dulu hingga sekarang, walau hanya sedikit saja orang membuat kamu tersinggung, kamu pasti menjauh dari orang itu. Termasuk sama aku. Tapi dengan pak Arya, kamu berbeda" ucap Rangga
Pelangi langsung tertunduk mendengar penuturan Rangga. Yah, dia memang berbeda, karena bagaimana pun Pelangi memang sudah mencintai Arya.
Sesakit apapun yang dia rasakan, tapi untuk pergi, hati Pelangi memang belum sanggup.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Rangga
Pelangi hanya menggeleng pelan
"Seharusnya kakak udah tahu kan" ucap Pelangi, terdengar begitu pelan.
Rangga tersenyum getir dan mengangguk
"Rasanya aneh Pel" gumam Rangga
Pelangi kembali menoleh pada lelaki ini.
"Sudah entah hari yang keberapa kita bersama sama, bahkan aku tidak lagi bisa menghitung nya. Tapi nyatanya, orang baru yang kamu temui, ternyata lebih bisa mengambil hati kamu dari pada bersama dengan ku yang sudah menghabiskan hampir seperempat usiamu" ungkap Rangga
Tapi sungguh, waktu tidak bisa menjadi jaminan untuk menumbuhkan sebuah perasaan cinta.
"Enggak apa apa, aku rela asal kamu bahagia. Tapi jika kamu gak bahagia, aku juga gak akan pergi dari hidup kamu Pelangi" ucap Rangga dengan begitu dalam.
"Aku... aku bahagia kak" ucap Pelangi
"Kamu berbohong" sahut Rangga
Pelangi tertunduk dan menggeleng pelan.
"Hanya melihat wajah kamu saja aku sudah tahu, jika selama ini kamu selalu menyembunyikan semua perasaan sedih kamu. Kita bukan baru satu bulan bertemu Pelangi" ucap Rangga
Pelangi tersenyum tipis dan mengangguk. Dia kembali memandang pada Rangga dan memandang wajah tampan itu dengan lekat.
"Kakak udah tahu gimana aku kan. Maka seharusnya kakak tahu kalau aku masih bisa senyum, itu artinya aku masih bisa menahan semuanya" jawab pelangi
"Meski itu menyiksa hati mu sendiri?" tanya Rangga
"Ya" jawab Pelangi
"Jangan jadi orang bodoh Pelangi" ucap Rangga. Dan kali ini Pelangi kembali terdiam dengan raut wajah yang mulai berubah.
"Jangan jadi orang bodoh yang terus bertahan mencintai seseorang yang gak bisa mencintai kamu, tapi dia hanya selalu membuat kamu sakit seperti ini" ujar Rangga
__ADS_1
Pelangi langsung mendengus senyum mendengar itu. Dia menggeleng pelan dan kembali memandang kearah ruangan Arya.
"Bukankah seharusnya itu ungkapan untuk kakak sendiri?" tanya Pelangi
Dan kali ini Rangga yang terdiam
"Kakak selalu menunggu hal yang gak pasti, kakak masih tetap berharap untuk hal yang mustahil. Mencintai seseorang yang cuma bisa buat kakak bersedih setiap hari" sahut Pelangi, yang malah membalikkan perkataan Rangga.
"Mencintai itu sakit. Maka dari itu aku gak mau kamu jadi orang bodoh seperti aku" jawab Rangga.
"Kalau begitu berhenti mencintai lagi kak, supaya kakak gak jadi orang bodoh yang dari dulu cuma ngarepin sesuatu dari orang yang gak bisa melihat perasaan tulus kakak" ujar Pelangi
"Apa kamu bisa berbuat seperti itu pada pak Arya?" tanya Rangga
Pelangi mendengus senyum dan menggeleng pelan.
"Entahlah, kayak nya kakak bisa jawab pertanyaan itu sendiri" jawab Pelangi.
Rangga menghela nafas. Dia juga ikut memandang kearah ruangan Arya dengan pandangan mata yang datar namun menyimpan sejuta luka yang mendalam.
Dia yang lama bersama, tapi Arya yang mendapatkan cinta Pelangi. Benar benar tidak adil.
Sungguh, posisi mereka saat ini sama. Sama sama mencintai seseorang yang mencintai orang lain. Terlihat begitu menyakitkan, tapi mau bagaimana lagi. Cinta tidak bisa di paksa.
"Kak..." panggil Pelangi saat mereka terdiam beberapa saat.
Rangga menoleh pada Pelangi yang kini juga memandang ke arahnya.
"Maaf... tapi dari dulu hingga sekarang, aku lebih suka kita yang seperti ini. Dekat dan saling berbagi tanpa menyakiti. Bisakah kakak lupakan perasaan itu?" tanya Pelangi
Rangga terdiam sejenak
"Kamu benar benar mengharapkan dia Pel?" tanya Rangga
Pelangi langsung tertunduk dan menghela nafas yang cukup dalam.
"Bagaimanapun dia suami aku kak. Tentu harapan itu akan selalu ada. Maka dari itu aku gak mau kakak terus tenggelam dalam perasaan itu. Aku bener bener gak pantas untuk dapetin perasaan itu dari kakak" ungkap Pelangi terdengar begitu sendu.
Walau bagaimanapun dia tahu bagaimana rasanya mencintai tanpa berbalas. Dan Pelangi sungguh tidak ingin Rangga merasakan apa yang dirasakan oleh Pelangi.
Sakit.... sangat sakit.
"Jangan fikirkan aku Pel. Walau bagaimanapun besarnya perasaan aku sama kamu, sampai kapanpun kita akan tetap seperti ini. Sampai kamu benar benar bahagia nanti, mungkin aku baru akan melepaskan perasaan ini" ucap Rangga
Pelangi memandang Rangga dengan perasaan tidak menentu.
Dia tahu bagaimana Rangga sejak dulu yang tidak pernah berhenti untuk mengambil hatinya. Tapi sungguh, Pelangi tidak bisa semudah itu untuk mencintai.
Hatinya sudah untuk lelaki lain. Lelaki yang bahkan masih terjerat dengan kisah masa lalu nya.
__ADS_1