
Rasanya waktu cepat sekali berlalu ketika sesuatu yang dikejar belum juga menemukan hasil. Apalagi ketika detik demi detik terus bergulir untuk menghabiskan waktu yang sudah ditetapkan dan di janjikan. Namun sudah sejauh ini sedikit perubahan pun belum didapatkan oleh Pelangi.
Seminggu sudah dia menjadi istri Arya, namun selama seminggu ini Pelangi sama sekali belum bisa merubah sikap Arya. Jangankan untuk membuat Arya tersenyum, untuk membuat pria itu melihat nya sedikit saja pun Pelangi belum bisa.
Berat sekali rasanya...
Entah apa yang membuat Arya seperti batu bernafas seperti itu. Bahkan sikap dingin nya saja melebihi dingin kulkas dua pintu milik bundanya.
Hari ini hari minggu, dan Arya libur keperusahaan. Tapi sejak pagi Arya belum ada turun dari kamarnya. Bahkan Pelangi sudah selesai memasak dan berkemas rumah. Bu Nining hari ini tidak datang, dia pulang kampung karena orang tua nya meninggal. Mungkin untuk beberapa hari ini Pelangi yang akan menguasai rumah ini nanti nya.
Tidak masalah, Pelangi lebih suka sendiri dirumah ketika siang. Lagi pula rumah Arya juga tidak terlalu besar, jadi dia tidak akan terlalu lelah untuk membersihkan semua nya.
Pelangi mengetuk ngetuk meja makan didepan dengan tangan yang menopang dagu. Sesekali dia melirik keatas berharap Arya akan turun dan bisa menghabiskan waktu bersama nya. Setidaknya untuk sarapan bersama. Melihat wajah Arya dari dekat saja sudah membuat Pelangi merasa bahagia. Apalagi seandainya bisa dekat dengan pria itu. Mungkin kebahagiaan Pelangi akan sempurna.
Ah.... apa itu bisa terjadi???
Entah lah...
Baru seminggu, dan masih ada sebelas minggu lagi. Perjalanan masih panjang dan Pelangi harus bisa menjadi istri Arya seutuhnya. Merebut cinta dan hati pria itu, menjadikan dia sebuah Pelangi untuk hidup Arya yang terlihat suram.
Bisakah ???
Padahal sampai sekarang saja masih begitu sulit.
Ting tong
Suara bel rumah Arya berbunyi. Membuat Pelangi terkesiap. Ada tamu? Siapa?
Dengan cepat Pelangi berjalan keluar untuk membuka pintu rumah. Entah siapa yang datang, apa anak kecil itu lagi???
Tapi tidak mungkin karena jika dia yang datang, dia pasti akan langsung masuk begitu saja.
Pelangi membuka pintu rumah itu dengan cepat, namun dia tertegun saat melihat seorang wanita cantik berdiri memandang nya. Wanita itu juga terlihat terkejut melihat Pelangi.
Siapa dia?
"Maaf, apa Arya ada?" tanya wanita itu. Suara nya terdengar begitu lembut dan halus. Membuat jantung Pelangi seketika berdetak dengan kencang.
Siapa wanita cantik ini, apa kekasih Arya. Kenapa dia mencari Arya dirumah nya???
Sungguh, perasaan Pelangi menjadi tidak enak sekarang.
"Hei... kenapa kamu diam saja?" suara wanita itu membuat Pelangi terkesiap.
"Oh... maaf nona, pak Arya sedang....."
"Nara.... kamu datang"
Tiba tiba suara Arya kembali mengejutkan Pelangi. Ternyata dia sudah turun dari atas dan sudah rapi pula.
__ADS_1
"Masuklah" ajak Arya
Wanita yang dipanggil Nara itu mengangguk dan tersenyum. Dia langsung masuk kedalam rumah dan hanya menoleh pada Pelangi yang mematung ditempatnya.
"Permisi" ucapnya yang langsung masuk kedalam menyusul Arya menuju sofa mereka.
Pelangi masih berdiam di tempatnya. Kenapa Arya sama sekali tidak melihat keberadaan nya disini. Kenapa dengan mudahnya dia membawa masuk perempuan lain, padahal Pelangi istrinya.
Kenapa Arya sejahat ini???
Mata Pelangi langsung berair memandang Arya yang begitu tega. Apa wanita itu kekasihnya? Jika iya, apakah itu yang membuat Arya bersikap dingin pada Pelangi?
Ya Tuhan ...
Kenapa sakit sekali.
"Kenapa kamu masih disitu?"
Pertanyaan Arya membuat Pelangi terkesiap. Dia langsung tersenyum getir dan menutup pintu rumah itu.
"Maaf pak" jawab Pelangi. Dia langsung berjalan menuju kedapur seraya melirik pada wanita cantik itu yang juga memandang nya dengan lekat.
Jika dia memang kekasih Arya, bagaimana mungkin Pelangi bisa merebut hatinya. Wanita ini begitu cantik dan lembut, sangat anggun dan tentunya elegan. Lalu... jika dibandingkan dia, jelas Pelangi kalah jauh.
"Siapa dia?" tanya Nara. Dan Pelangi masih mendengar nya, karena kini dia berdiri disebalik dinding mendengar percakapan Arya dan wanita yang bernama Nara itu.
Tidak terdengar jawaban dari Arya, membuat Pelangi kembali tertunduk sedih.
"Ini bukan pagi lagi Yo. Sudah siang. Kamu tidak lihat jam sudah jam berapa" protes Nara.
"Aku tidak lihat jam" jawab Arya
"Kamu terlihat lelah dan kurus, kamu pasti lembur lagi setiap malam kan?" tanya Nara.
Pelangi langsung tersenyum miris mendengar itu. Perhatian sekali wanita ini.
"Pekerjaan diperusahaan banyak. Lagipula kamu tahu hal itu yang membuat aku tenang" jawab Arya
"Tapi jangan terlalu lelah, kamu bisa sakit nanti" kata Nara lagi
Tangan Pelangi langsung mengepal dengan erat mendengar perkataan Nara. Sebagai istri yang mencintai suami tentu dia sakit hati mendengar ini. Sialan sekali... astaga.
"Kamu yang jangan terlalu lelah. Jika perlu apa apa kamu bisa menghubungi ku saja, biar aku yang datang kerumah mu" ujar Arya
Bibir Pelangi langsung bergetar, antara menahan geram dan menahan tangis. Kenapa Arya juga perhatian sekali? Bahkan nada suaranya tidak sedingin saat bersama Pelangi.
Jahat sekali dia!
"Tidak... aku pasti menjaga kesehatan ku dengan baik. Aku kesini sekalian lewat. Malam nanti mama mengundang mu untuk makan malam dirumah. Kamu harus datang" ujar Nara
__ADS_1
"Iya, tentu aku datang. Apa mama memasakkan ayam bakar madu lagi?" tanya Arya.
"Tentu saja, dia memang sudah hafal makanan kesukaan kamu" jawab Nara, membuat Arya terkekeh kecil.
Dan tentu saja hal itu membuat hati Pelangi menjadi semakin sedih, bahkan air mata sudah menggenang dipelupuk matanya.
Tidak salah lagi, pasti perempuan ini adalah kekasih Arya.
Ya Tuhan...
Bagaimana caranya untuk mengambil hati Arya jika sudah begini? Apa dia sanggup. Padahal Arya sudah memiliki istri, tapi sama sekali Arya tidak ingin menghargai nya sedikit saja.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Ini untuk mu. Aku membuat madeleine pagi tadi" ujar Nara seraya dia yang menyerahkan kotak makanan yang ada diatas meja pada Arya.
"Ya... aku memang sudah lapar" jawab Arya.
Nara tersenyum dan langsung beranjak dari sofa. Bahkan saat berjalan kedepan rumah pun Arya mengantarnya. Huh... manis sekali, tapi terasa pahit dan perih saat Pelangi melihat nya.
"Jangan lupa datang" seru Nara sebelum dia masuk kedalam mobil.
"Iya .... aku pasti datang" jawab Arya. Dia melambaikan tangan nya sekilas pada Nara yang sudah pergi keluar dari pekarangan rumah mereka.
Dan ketika melihat itu dengan cepat Pelangi langsung menghapus air matanya. Dia menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskan nya dengan cepat. Berjalan mendekati Arya yang sudah kembali masuk.
"Pak... sarapan yuk. Saya sudah membuat nasi goreng seafood pagi ini" ajak Pelangi dengan senyum secerah mentari nya.
"Kamu saja, saya mau kekamar" jawab Arya yang langsung berjalan melewati Pelangi dengan tangan yang terus memegang kotak makanan itu.
Mata Pelangi kembali berair dan memandang Arya dengan sedih.
"Apa wanita itu kekasih bapak?" tanya Pelangi. Dan pertanyaan itu membuat langkah kaki Arya langsung terhenti. Dia kembali menoleh pada Pelangi yang memandang nya dengan mata yang berkaca kaca. Namun itu malah membuat Arya bingung.
"Kenapa memang nya?" tanya Arya.
Namun pertanyaan itu malah membuat Pelangi semakin bersedih.
"Apa karena dia yang membuat bapak sampai sekarang tidak bisa memandang saya sebagai istri?" tanya Pelangi
Arya terdiam
"Apa karena dia yang membuat bapak tidak bisa menerima pernikahan ini?" tanya Pelangi lagi. Air mata sudah ingin tumpah membasahi wajahnya.
Arya menghela nafas dan menggeleng pelan.
"Saya sudah bilang pada kamu kan. Jangan berharap apapun dari saya" ucap Arya seraya memandang Pelangi dengan lekat.
"Tapi kenapa?" tanya Pelangi begitu lirih.
"Karena saya tidak pernah berharap untuk sebuah ikatan pernikahan"
__ADS_1
deg