
Siang ini Arya sedang menyuapi Pelangi makan siang sembari mereka yang berbincang bincang ringan berdua. Ayah sudah pulang kerumah, karena harus mengurus ternak ternak nya. Sedangkan bunda juga ikut pulang untuk menyiapkan makan malam mereka nantinya. Jadi Arya dan Pelangi hanya tinggal berdua di rumah sakit. Tapi.... Bersama Ferdi tentunya. Supir Arya itu begitu setia menunggu di depan ruangan, takut takut jika Arya memerlukan sesuatu.
Mereka sudah merasa tenang, karena akhirnya Jojo sudah berhasil di tangkap polisi. Meski belum tahu bagaimana hukuman yang akan dia dapatkan, namun setidaknya Jojo sudah tidak lagi berkeliaran di sekitar mereka.
Semoga saja tidak akan ada lagi teror yang mengganggu mereka.
Arya benar benar ingin hidup tenang dan memulai semuanya dari awal lagi bersama Pelangi.
"Udah mas" ucapan Pelangi membuat Arya mengangguk pelan.
"Dikit banget, kan belum habis" sahut Arya seraya menyerahkan air putih pada Pelangi.
"Gak sanggup lagi, lagian gak ada rasanya" jawab Pelangi. Bibirnya nampak mengerucut kesal, membuat Arya tersenyum dan meletakkan semua sisa makanan Pelangi di atas meja.
"Berarti Jojo bakal di penjara lama ya mas?" tanya Pelangi
Arya mengangguk
"Iya, dia terbukti bersalah. Apalagi dengan kasus semalam, dia sudah menjadi provokator dan menyebabkan satu kota heboh hingga mengalami kerugian. Sudah jelas dia kena sanksi yang berat. Belum lagi percobaan pembunuhan dan teror yang dia lakukan pada kita" ungkap Arya.
"Pelangi jadi kasihan sama adik adiknya. Dia punya dua adik perempuan. Masih kecil dan masih butuh biaya, mereka sama sekali gak punya keluarga dekat. Kalau sudah begini, pasti sulit untuk mereka" ucap Pelangi
"Jangan sedih, orang orang tuan Reynand sudah mengamankan kedua adik Jojo. Mereka sudah di pindahkan ke tempat yang layak dan tidak ada yang tahu dimana mereka, itu di lakukan agar tidak ada awak media yang mencari tahu keberadaan mereka. Kamu tahu sendiri kan, sejak pagi berita Jojo dan kekacauan festival lampion itu terus yang berseliweran di layar tv" kata Arya
Pelangi mengangguk pelan. Dia memandang Arya yang sedang meminum obatnya.
Obat luka untuk lengan nya yang terluka.
"Apa mereka tidak akan mencari kita juga mas? Kan karena kita Jojo berbuat seperti itu?" tanya Pelangi. Dia menjadi sedikit khawatir sekarang.
"Entahlah, tapi sepertinya iya" jawab Arya dengan tawa kecilnya.
"Apa itu tidak apa apa?" tanya Pelangi.
"Tidak, jangan risau gitu dong. Suami kamu ini paling hanya akan menjadi artis saja untuk beberapa waktu kedepan" jawab Arya dengan wajah tengil nya itu.
Puk
Satu tamparan langsung mendarat di lengan Arya yang tidak terluka.
"Artis dari Hongkong. Yang ada ribet mau kesana kemari tapi di kejar kejar wartawan" gerutu Pelangi.
"Udah pernah, jadi gak heran lagi" jawab Arya.
"Hah... beneran? Kapan? Kok Pelangi gak tahu?" tanya Pelangi
"Dulu, beberapa tahun yang lalu. Mungkin sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu lah, aku lupa" jawab Arya.
"Mas ngapain, kok bisa masuk tv? Tapi kok Pelangi gak tahu ya?" tanya Pelangi lagi.
"Gak masuk tv, cuma koran aja karena bisa di atasi dan gak separah ini." jawab Arya
"Gara gara apa?" tanya Pelangi
"Gara gara tuan Reynand dan Nara" jawab Arya
Pelangi mengernyit bingung memandang Arya. Dia memang tidak pernah tahu bagaimana kisah kedua orang itu. Yang Pelangi tahu mereka adalah sepasang suami istri yang terlihat saling mencintai satu sama lain. Bahkan Pelangi benar benar kagum pada mereka.
"Memang mereka berbuat apa? Bukan nya mereka tipe pasangan yang harmonis seantero jagat raya?" tanya Pelangi.
Arya langsung tertawa mendengar perkataan Pelangi. Dia mengacak gemas pucuk kepala istrinya itu.
"Mereka juga punya kisah yang kelam Pelangi. Kemesraan yang kamu lihat sekarang adalah hasil dari perjuangan mereka berdua untuk bersatu. Gak seindah di awal. Bahkan lebih tragis dan membuat sport jantung jika di ceritakan" jawab Arya.
"Benarkah? Pelangi jadi penasaran. Karena jika di lihat lihat, sepertinya kehidupan mereka baik baik aja kan ya. Sama sama baik dan punya karir yang bagus" ungkap Pelangi
__ADS_1
Arya mengangguk pelan.
"Iya, dan aku bersyukur bisa mengenal Nara. Karena dia aku bisa berada dititik ini sekarang. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan punya apa apa sekarang " jawab Arya
"Pelangi kira dulu mas memang saudaraan sama nona Nara" ucap Pelangi
Arya menggeleng dan tersenyum simpul.
"Enggak, dia itu atasan aku. Tapi kami memang sudah kenal sejak kecil. Orang tua Nara cukup baik, mereka menganggap aku seperti anak mereka sendiri. Memperlakukan aku seperti mereka memperlakukan Nara, apalagi setelah orang tua ku meninggal. Mereka lah yang menjadi pengganti orang tua ku" ungkap Arya
"Mertua Pelangi ya" sahut Pelangi
Arya langsung tersenyum lebar dan mengangguk cepat.
"Iya mertua kamu, nanti kalau udah sehat aku kenalin kamu sama mereka" ujar Arya.
"Iya. Pelangi juga penasaran sama kisah nona Nara dan tuan Reynand" kata Pelangi
"Mau dengar?" tanya Arya
Pelangi langsung mengangguk dengan cepat.
"Tapi janji jangan menangis " pinta Arya.
Pelangi mengernyit bingung.
"Menangis?" gumam Pelangi.
Arya mengangguk pelan.
"Iya, kisah mereka cukup tragis. Penuh drama, air mata bahkan darah. Ah jika di kenang kenang, aku bahkan tidak menyangka jika bisa sampai di tahap ini sekarang" ungkap Arya. Helaan nafasnya cukup panjang, begitu berat jika mengenang lagi kisah kisah pahit itu.
Kisah perjuangan Nara untuk mendapatkan cinta Reynand, benar benar penuh perjuangan. Bagaimana dia yang hampir mati dan bagaimana dengan perjuangan Reynand saat Nara sudah menyerah.
Dan bukan hanya itu saja, di balik kisah percintaan dan perjuangan Nara dan Reynand, terselip juga kisah manis antara Arya dan Zelina. Tapi malah berakhir dengan nasib tragis yang menimpa mereka.
"Pelangi benar benar penasaran" ucap Pelangi.
Arya mendengus senyum sembari meraih tangan Pelangi dan menggenggamnya dengan lembut.
"Biar aku ceritakan" ucap Arya.
Pelangi langsung mengangguk dengan antusias.
Namun belum sempat lagi Arya membuka mulut, tiba tiba pintu yang di ketuk membuat perhatian mereka teralihkan.
Pelangi dan Arya langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka.
Dan ternyata, orang yang sedang mereka bicarakan yang datang. Ya ampun ... apa mereka tahu jika sedang di bicarakan???
Bahkan mereka datang bersama dengan Bimantara dan juga Gendis.
Para pemeran dari cerita yang akan Arya ceritakan pada Pelangi tadinya.
Pelangi langsung tersenyum menyambut Nara dan juga Gendis yang mendekat kearah nya. Mereka terlihat membawa sesuatu di tangan mereka masing masing. Tidak, bukan di tangan mereka. Melainkan di tangan suami mereka.
Dua nona cantik yang benar benar terlihat anggun dengan gaya mereka masing masing. Pelangi bahkan selalu kagum melihat mereka. Apalagi Nara yang memang selalu tampil cantik dan modis. Cocok sekali berpasangan dengan tuan angkuh itu.
"Bagaimana kabar kamu Pelangi? Sudah baik baik saja kan?" tanya Nara.
"Sudah nona, hanya masih sedikit kram jika di bawa bergerak terlalu banyak" jawab Pelangi
"Harus banyak istirahat. Jangan stress lagi" ujar Nara seraya duduk di kursi disamping ranjang Pelangi.
"Bagaimana tidak stress, aku yakin jika si gondrong ini yang menjadi penyebab nya" sahut Bimantara
__ADS_1
"Memang benar. Lihat saja itu, dia semakin gemuk, tapi istrinya yang semakin kurus" ucap Reynand pula.
Arya langsung mendengus kesal mendengar itu.
"Memang tidak ingat dengan diri masing masing. Padahal lebih parah" sahut Arya, dia langsung berjalan menuju sofa, dan juga di ikuti oleh Reynand bersama Bimantara. Membiarkan ketiga. istri mereka bersama sama diranjang Pelangi.
Gendis langsung tertawa melihat kelakuan tiga pria itu.
"Sepertinya mereka akan mulai lagi nona" ucap Gendis pada Nara
Nara mengangguk pelan dengan helaan nafas jengah.
"Tidak heran, ruangan ini hanya akan penuh dengan perdebatan mereka saja. Bukan nya menjenguk Pelangi, tapi malah saling adu mulut" jawab Nara
"Tidak apa apa nona, saya malah senang melihat mereka yang seperti itu. Apalagi mas Arya yang memang sangat jarang banyak bicara itu" sahut Pelangi
"Benar, lima tahun ini Arya seperti orang lain. Tapi sejak menikah dengan kamu, apalagi akhir akhir ini, dia sudah berubah, bahkan sepertinya telah kembali. Benar kan nona?" ungkap Gendis sembari menoleh pada Nara
Nara mengangguk pelan.
"Benar, aku juga sebenarnya bahagia melihat Arya yang seperti itu. Rasanya sudah tenang melihat dia menemukan obat lukanya. Dan semua karena kesabaran kamu Pelangi. Terimakasih ya" ucap Nara
Pelangi tersenyum memandang Nara.
"Jangan begitu nona. Saya juga belum bisa menjadi istri yang baik untuk mas Arya. Masih perlu banyak belajar. " jawab Pelangi.
"Istri yang baik itu, adalah istri yang bisa membuat suami bahagia Pelangi. Selebihnya hanya bentuk perjuangan dan bonus saja" ungkap Gendis
Nara langsung mengangguk setuju.
"Iya nona, semoga saya bisa seperti kalian yang menjadi kebahagiaan untuk suami" jawab Pelangi
"Pasti bisa" ucap Nara seraya mengusap lengan Pelangi dengan lembut.
"Kenapa juga kalian menangkap orang itu sampai begitu lama?"
Tiba tiba suara Bimantara membuat mereka langsung menoleh ke arah sofa.
"Orang itu begitu licik. Dia seperti punya kaki seribu. Bahkan lebih susah dari pada David asal kau tahu" jawab Reynand
"Benar, bahkan beberapa kali dia meneror kerumah" sahut Arya pula.
"Ya, dan karena kelakuan nya yang membuat heboh festival lentera itu, kami juga terkena imbas nya" kata Bimantara
"Tuan juga disana?" tanya Arya
Bima mengangguk
"Iya, niat hati ingin menyenangkan istri, tapi malah harus menerima kesialan karena harus berkerumun di dalam lautan manusia yang begitu banyak. Untung saja, kami berada di pinggir area, jika masih berada di tengah tengah sudah ku pastikan aku dan Gendis juga akan ikut berdesakan seperti itu" ungkap Bima
Reynand langsung terbahak mendengarnya.
"Saya juga tidak tahu kenapa dia bisa berbuat nekad seperti itu" gumam Arya
"Tapi sekarang sudah tenang kan?" tanya Bima
Arya mengangguk
"Sudah, hanya tinggal masalah awak media itu" jawab Arya.
"Iya, bahkan di depan juga masih ada awak media yang berkumpul. Tugas mu itu, aku hanya bisa menghalangi mereka untuk masuk kedalam" ujar Reynand.
Arya menghela nafas berat dan mengangguk pasrah.
"Wah... Kau akan menjadi artis dadakan ndrong" sahut Bima
__ADS_1
"Ya, dan tuan harus menonton saya nanti" sahut Arya.
"Malas sekali. Artis karena sensasi, bukan prestasi" jawab Bimantara dengan wajah yang menyebalkan. Suka sekali mereka menggoda Arya sekarang. Padahal itu adalah tugas Arya dulu nya.