
Disepanjang perjalanan menuju kerumah, tidak ada dari Arya ataupun Pelangi yang membuka mulut. Pandangan mata Arya fokus kedepan, wajahnya datar dan dingin dan itu yang membuat Pelangi tidak tahu harus berbicara apa.
Wajah dingin Arya itu benar benar seperti ingin marah, dan menahan kesal. Ya, Pelangi tahu, jika Arya pasti sedang menahan kesal karena Pelangi yang datang kerumah itu. Kerumah mendiang kekasih Arya. Menggantikan posisi Zelina tanpa persetujuan dari dia. Tapi mau bagaimana lagi, Pelangi juga tidak bisa untuk menolak, ini permintaan Nara langsung. Bahkan Nara juga meminta Pelangi saat didepan Arya kemarin, jadi bukan salah dia kan.
Pelangi menghela nafas pelan dan menoleh kearah jendela mobil. Memandangi jalanan sore yang bahkan sudah hampir senja. Perutnya lapar, saat dirumah Nara tadi dia benar benar tidak bisa makan dengan baik. Rasanya benar benar tidak nyaman dan tidak berselera. Dan sekarang, dia benar benar sudah kelaparan.
Saat berhenti dilampu mereah, mata Pelangi memandang sebuah penjual martabak bangka. Rasanya dia benar benar ingin memakan itu. Apalagi rasa jagung keju, pasti enak sekali. Pelangi bahkan sampai mengusap perutnya karena ingin.
"Pak Arya" panggil Pelangi pada Arya
"Hmm" gumam Arya
"Boleh berhenti didepan sana tidak, saya ingin membeli martabak itu" ucap Pelangi. Terdengar begitu memelas.
"Kalau mau pergi sendiri. Jangan merepotkan saya. Saya masih ada pekerjaan lagi dirumah" jawab Arya dengan begitu tega.
Pelangi langsung mengerucutkan bibirnya dan memandang Arya dengan kesal.
"Tapi saya ingin sekarang pak, sebentar saja" pinta Pelangi lagi. Namun Arya langsung menoleh kearah Pelangi dengan pandangan kesal nya.
"Pergi sendiri saya bilang kan. Kamu tidak dengar" seru Arya dengan kuat. Membuat Pelangi terkesiap kaget dan langsung memalingkan wajahnya.
"Sekalian lewat pak" gumam Pelangi
Arya yang sudah menjalankan mobil nya langsung menepi, bahkan dia mengerem mobil itu dengan kasar membuat Pelangi lagi lagi terkejut.
"Turun!" usir Arya
Pelangi memandang Arya dengan heran, tempat martabak itu masih didepan lagi. Kenapa Arya meminta Pelangi untuk turun disini.
"Turun sekarang!!!" bentak Arya. Pelangi langsung terkesiap kaget dan memandang Arya dengan matanya yang berkaca kaca.
"Pak" Pelangi mulai takut melihat wajah marah Arya.
"Kamu selalu bisa memancing emosi saya Pelangi. Turun dan beli sendiri!" seru Arya.
"Cepat" bentak nya lagi saat Pelangi hanya terdiam mematung.
Pelangi mengangguk seraya menggigit bibirnya dan membuka pintu mobil. Air matanya menetes tanpa terasa, hatinya benar benar sakit mendengar bentakan dari Arya. Dan tanpa berkata apapun lagi dia langsung keluar dari mobil. Berdiri mematung di pinggir jalan dan memandang mobil Arya yang langsung melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Pelangi seorang diri.
"Jahat sekali" gumam Pelangi seraya mengusap matanya yang basah.
Sedangkan Arya benar benar kalap. Tidak tahu kenapa hatinya kesal. Bahkan dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi seolah dia tidak lagi takut untuk mati.
Melihat Pelangi dirumah Zelina, membuat hati Arya tidak menentu. Dan disaat dia ingin meredam perasaan nya Pelangi seakan membangkitkan emosi yang tertahan. Hingga sedikit saja perkataan Pelangi yang sebenarnya tidak salah, langsung membuat Arya lupa diri.
Dia melihat Pelangi yang menangis, dia melihat wajah sedih Pelangi. Dia melihat Pelangi yang begitu terpukul. Dia tahu itu, dan hatinya juga tidak tega. Tapi kenapa sampai sekarang dia tidak bisa untuk meredam sedikit saja emosinya???
Kenapa dia bisa sekejam ini???
__ADS_1
Ya tuhan...
Arya tahu ini salah. Arya tahu ini sebuah dosa karena dia memperlakukan istrinya seperti itu. Tapi kenapa rasanya benar benar tidak bisa menahan diri???
Ah Ze....
Tolong... tolong untuk sekali ini saja, datanglah walau hanya sebentar. Tolong katakan apa yang harus Arya lakukan untuk Pelangi!!!
...
Sementara kini Pelangi duduk disebuah kursi panjang yang berada dipinggir taman, memandangi anak anak yang sedang bermain dengan orang tua nya disana.
Mata Pelangi kembali berair, namun dia sudah tidak ingin lagi menangis. Rasanya sudah lelah, lagipula Pelangi juga tidak ingin dilihat orang orang yang berada disini.
Pelangi mengusap perutnya dengan lembut.
"Sabar ya nak. Bantu ibu untuk kuat. Kita hanya perlu bertahan satu bulan lagi sayang. Semoga ayah bisa berubah dan menerima kita ya" gumam Pelangi.
Rasa lapar nya tadi sudah hilang seketika. Bahkan rasa ingin makan martabak yang benar benar tidak bisa ditahan tadi juga sudah menguar. Yang ada kini hanya rasa hambar dan sedih mengenangkan nasib nya yang benar benar menyedihkan seperti ini.
Pelangi menghela nafas dan mengusap wajahnya yang kusut. Arya benar benar tega, dia meninggalkan Pelangi disini sendirian, bahkan mungkin sebentar lagi hari sudah mau hujan. Jahat sekali memang.
Namun tiba tiba Pelangi terkesiap saat sebuah ice krim ada didepan wajahnya. Dia langsung memandang kearah orang yang menyodorkan ice cream itu.
"Kak Rangga" gumam Pelangi
"Kok bisa ada ice cream?" tanya Pelangi yang langsung mencicipi ice cream rasa vanilla itu. Untung saja tidak rasa cokelat, karena entah kenapa semenjak hamil Pelangi benar benar tidak suka dengan apapun yang berbau cokelat.
"Beli diminimarket didepan" jawab Rangga. Wajahnya datar dan cuek, sepertinya dia masih kesal dengan Pelangi. Bahkan Pelangi masih ingat wajah marah Rangga saat Pelangi berkata jika dia dan Arya sudah menikah. Apalagi saat Pelangi minta agar Rangga berpura pura tidak tahu jika sedang bersama Arya.
Tapi sekarang, lelaki ini ternyata masih mau mendatangi nya. Bahkan masih mau bersikap baik meski dengan wajah kesal. Lucu sekali.
"Makasih ya, tahu aja kalau aku lagi kesal" ucap Pelangi
"Tahu lah, dari jauh juga wajah kamu udah ditekuk. Habis nangis juga kan" jawab Rangga
"Enggak, cuma kesal doang" jawab Pelangi
"Pembohong" gumam Rangga
Pelangi terkekeh pelan seraya menikmati ice cream nya.
"Kakak kok bisa ada disini?" tanya Pelangi
"Tadi lewat, singgah diminimarket buat beli pengharum mobil. Gak sengaja lihat kamu disini. Yaudah aku samperin. Meskipun awalnya males mau nyamperin istri orang" jawab Rangga terdengar ketus, namun wajah kesal nya itu entah kenapa malah begitu lucu dimata Pelangi.
"Tahu males, disamperin juga" sahut Pelangi
"Kasihan duduk sendiri udah mau maghrib. Entar diculik setan lampu merah lagi" jawab Rangga.
__ADS_1
"Jahat bener deh. Mana ada setan yang mau nyulik aku. Yang ada kakak yang nyulik aku entar" jawab Pelangi
Rangga mendengus senyum dan mengangguk.
"Mau nya gitu. Nanti kalau kamu udah pisah sama pak Arya." jawab Rangga
Pelangi langsung menampar lengan Rangga dengan kesal.
"Sembarangan aja kalau ngomong. Bukan nya doain yang baik baik, malah nyumpahin aku jadi janda" gerutu Pelangi. Dan tanpa sadar Rangga malah tertawa dan mengusap kepala Pelangi dengan gemas.
Sakit hati memang, bahkan sangat sakit. Tapi untuk mengabaikan Pelangi dan menjauh darinya, sungguh Rangga tidak akan bisa. Apalagi ketika mendengar tentang perjanjian pernikahan tiga bulan itu. Membuat harapan kecil tumbuh didalam hati Rangga.
"Giliran gitu aja baru ketawa. Dari tadi muka nya masam terus. Kayaknya orang orang hari ini memang buat darah aku tinggi deh" ucap Pelangi seraya dia yang melemparkan bungkus ice cream itu kedalam tong sampah.
"Udah ah, heran aku sama kamu. Kenapa jadi ngomel aja. Kamu kenapa disini, gak mau pulang. Udah mau malam lo. Hari juga bakalan hujan deras ini" ucap Rangga seraya memandang keatas langit dimana kilat juga sudah keluar dan sesekali menyambar di atas sana.
Pelangi juga langsung menoleh keatas sana. Dia kembali menghela nafas berat. Pelangi benar benar membenci hujan.
"Mau pulang, tapi kayak nya beli martabak dulu deh" ucap Pelangi seraya memandang penjual martabak yang ada diujung jalan itu. Tadi dia sudah tidak ingin lagi. Tapi ketika mood nya kembali baik, kenapa malah menginginkan itu lagi. Memang aneh.
"Yaudah yuk, aku temani" ajak Rangga yang langsung beranjak dari duduk nya. Tapi tiba tiba Pelangi terdiam, dia baru mengingat sesuatu. Dia kan tidak punya uang sekarang, didalam dompet nya hanya ada kartu pemberian Arya. Dan jika memakai itu, rasanya Pelangi sudah ragu, apalagi ketika mengingat perkataan tuan Abas dan Reynand siang tadi.
"Kenapa?" tanya Rangga, dia memandang Pelangi dengan bingung.
Pelangi tersenyum getir memandang Rangga dan menggeleng pelan.
"Gak jadi deh kak" ucap Pelangi
"Kok gak jadi?" tanya Rangga
"Aku lupa, kalau aku gak bawa uang cash" jawab Pelangi dengan senyum yang semakin masam.
Rangga menghela nafas jengah dan menggeleng pelan.
"Kan ada aku. Gimana sih. Yaudah yuk, biar cepat pulang. Nanti kehujanan kamu" ujar Rangga yang bahkan langsung menarik tangan Pelangi menuju tempat martabak itu.
Pelangi hanya menurut saja dan memandangi Rangga dengan sedih. Andai saja Arya sebaik Rangga, pasti Pelangi akan begitu bahagia. Tapi kenyataan nya, untuk sekedar menunggu nya membeli martabak saja, Arya juga tidak mau.
Sedih sekali.
"Pak martabak dua ya, rasa apa Pel?" tanya Rangga
"Jagung keju pak, keju nya yang banyak ya, sampai tumpah tumpah kalau bisa" ucap Pelangi begitu bersemangat. Membuat Rangga dan penjual martabak itu langsung tertawa bersama.
"Udah kayak orang ngidam aja. Dulu juga suka nya cokelat keju. Sekarang udah beda ya" sahut Rangga
"Beda lah, tukar selera dulu" jawab Pelangi dengan asal. Padahal sebenarnya dia kan memang sedang ngidam.
Huh... seharusnya suami nya yang memenuhi keinginan Pelangi, tapi ini malah orang lain. Semoga saja anak Pelangi tidak membenci ayahnya nanti.
__ADS_1