
Pagi ini Arya dan Pelangi sudah berada dimeja makan mereka. Arya baru saja keluar kamar. Sedangkan Pelangi juga baru selesai mandi. Dia sudah jauh lebih segar dari pada semalam. Kondisi nya sudah cukup baik dan sekarang dia sudah bisa memasak untuk Arya.
Diatas meja sudah tersaji sepiring nasi goreng dengan telur dadar juga kerupuk udang nya. Tapi lagi lagi hanya tersaji sepiring, dan juga dalam porsi banyak tentunya.
Arya menghela nafas jengah memandang piringnya, dia menoleh pada Pelangi yang nampak tersenyum secerah mentari seperti biasa. Jika sudah begini mau marah pun percuma.
"Ambil piring mu" ujar Arya
Senyum Pelangi meredup, dia langsung menggeleng pelan.
"Pelangi" tekan Arya
Pelangi menghela nafas dan mengerucutkan bibirnya sekilas.
"Saya mau sisa bapak aja" jawab Pelangi
"Kenapa selalu begitu. Apa dirumah ini kekurangan piring?" tanya Arya cukup kesal.
Pelangi terkekeh kecil dan menggeleng pelan.
"Tidak pak, tapi kan biar romantis makan sisa bapak" jawab pelangi
"Romantis dari mana. Romantis itu makan berdua, bukan makan sisa" jawab Arya, terdengar ketus.
"Ya walaupun hanya sisa, tapi bagi saya sudah sangat romantis pak" jawab Pelangi
Arya hanya mendengus dan menyerahkan piring nasi goreng nya pada Pelangi
"Makan" ujar Arya
"Loh bapak gak makan?" tanya Pelangi
"Tidak" jawab Arya yang malah meraih teh hijaunya.
"Pak... jangan begitu dong. Saya udah lapar, tapi gak makan sendirian juga" protes Pelangi.
Namun Arya hanya acuh saja dan tetap menikmati teh nya.
Dasar suami gondrong menyebalkan!
Pelangi menghela nafas kesal dan langsung beranjak dari kursinya. Dia mengambil satu piring dari dalam lemari dan meletakkan nya di atas meja.
Arya hanya melirik Pelangi.
"Bapak makan dulu sesuap, nanti baru kita bagi dua" ujar Pelangi yang kembali mendorong piring kearah Arya.
"Apa apaan itu" sahut Arya terdengar tidak suka.
"Ayolah pak, biar saya makan bekas bapak" rengek Pelangi yang sudah mulai kesal. Tapi bukan hanya Pelangi melainkan Arya juga.
"Bagi dua sekarang" ujar Arya lagi.
Pelangi berdecih. Dia langsung mengambil sendok dan menyuapkan makanan itu kearah mulut Arya.
"Makan pak" pinta Pelangi
"Kamu memaksa saya?" tanya Arya. Matanya memicing memandang Pelangi.
"Pak ayolah. Nanti tumpah" ucap Pelangi. Entah kenapa dia begitu berani pada Arya pagi ini. Apa dia tidak ingat bagaimana jika Arya sudah marah???
"Tidak mau" ucap Arya
"Pak" panggil Pelangi lagi. Terlihat begitu memaksa.
"Pelangi, kamu" Arya benar benar memandang Pelangi dengan kesal.
Pelangi kembali berdecak, dia meletakkan kembali sendok itu diatas piring dan beranjak dari kursi. Membuat Arya memandang heran Pelangi yang malah mendekat kearah nya.
"Bapak ini kenapa sih, nyebelin banget. Saya cuma minta makan sesendok aja gak mau. Sekarang ayo makan dulu, biar kita bisa cepat sarapan" kata Pelangi yang kembali menyuapkan nasi goreng itu kearah Arya.
Arya memandang heran Pelangi. Kenapa dia berani sekali??? Kenapa tidak takut lagi????
__ADS_1
"Pak... ayo. Tinggal buka mulut kan" pinta Pelangi
"Ya kenapa gak kamu aja yang makan. Apa susahnya tinggal dibagi dua. Kenapa selalu merepotkan saya?" tanya Arya yang mulai kesal. Dan tanpa sadar dia malah sudah mulai menanggapi ocehan Pelangi
"Iya, ini bapak makan dulu" pinta Pelangi yang semakin mendekatkan sendok itu pada Arya.
"Tidak mau" jawab Arya yang mengelak
Pelangi semakin merapat
"Ayo pak" seru Pelangi
"Tidak mau!!!" seru Arya pula
"Pak ayolah" Pelangi semakin memaksa, entah kenapa dia tidak bisa jika Arya tidak memakan nasi yang ada didalam sendok ini. Pelangi benar benar ingin melihat Arya memakan dari suapan tangan nya hingga dia tidak lagi memperdulikan wajah kesal Arya.
"Pelangi!!!" Arya mendorong tubuh Pelangi, namun Pelangi malah menarik jas Arya. Hingga kini mereka malah saling tarik menarik.
"Pak, issh makan dulu" seru Pelangi yang malah ingin naik ke pangkuan Arya. Namun belum sempat naik, Arya langsung berdiri hingga membuat Pelangi langsung terjatuh dan......
gubrak
"Aaaahhhhh" teriak Pelangi antara kesal dan sakit.
Dan tanpa sadar Arya malah terkekeh melihat wajah Pelangi yang tersiram nasi goreng nya sendiri.
"Dasar bodoh, makanya jangan memaksa" ucap Arya yang masih memandang lucu wajah berantakan itu. Namun Pelangi malah terperangah memandang Arya yang tertawa dan tersenyum.
Ya Tuhan...
Benarkah ini???
Benarkah Pelangi melihat Arya tertawa???
Meski hanya tawa kecil dan senyum tipis, tapi ini adalah yang pertama kalinya. Ini yang pertama kali Pelangi melihat Arya tersenyum, bahkan dia tertawa.
Ya ampun...
Tawa dan senyum Arya, benar benar sangat .... manis.
"Ayo naik, kenapa malah memandang saya seperti itu. Lihat wajahmu, sudah jelek, tambah jelek" perkataan Arya membuat Pelangi tersadar. Dia mendengus dan langsung meraih tangan Arya yang terjulur dan membantu nya berdiri.
Tidak apa jika dia jelek dan berantakan. Karena dengan kejelekan ini Pelangi bisa melihat senyum Arya.
Ya tuhan terimakasiih...
Tapi tiba tiba...
prang
Pelangi dan Arya langsung terlonjak kaget saat tiba tiba sesuatu menghantam jendela rumah mereka. Pelangi langsung merapat kearah Arya dan menoleh keluar.
"Pak... Apa itu???" tanya Pelangi. Dia mulai takut sekarang. Apalagi teror beberapa waktu lalu masih terus membayangi ingatan nya.
Arya menggeleng pelan. Dia ingin berjalan keluar, namun Pelangi segera menarik lengannya.
"Pak.. saya takut" ucap Pelangi
"Kita lihat dulu" ajak Arya
Pelangi menggigit bibirnya dan langsung mengikuti langkah Arya menuju luar rumah mereka. Sebuah batu besar sudah ada didalam rumah bersamaan dengan pecahan jendela.
"Ulah siapa lagi ini?" gumam Arya
Dia membuka pintu rumah sedangkan Pelangi masih memandangi batu dan pecahan kaca itu.
"Pak ada surat nya" ucap Pelangi.
Arya menoleh kearah Pelangi
"Disana" tunjuk Pelangi pada kaca jendela yang bolong dan pecah. Ada sebuah kertas yang tersangkut disana. Mungkin saat melempar, kertas itu dibalutkan pada batu nya hingga akhirnya malah tersangkut dikaca yang pecah.
__ADS_1
Arya mengambil surat itu dengan hati hati. Wajahnya terlihat bereaksi saat melihat kertas itu sudah begitu kusut.
"Ada tulisan nya" gumam Pelangi yang juga ikut mendekat pada Arya.
Arya membuka kertas itu, dan mata mereka langsung melebar membaca isinya. Tulisan dengan tinta merah..
Kalian harus mati
Tidak ada yang boleh merebut kebahagiaan ku!!!
Harus ada darah dan tangisan untuk membayar semuanya!!!
deg
Jantung Pelangi langsung berdetak dengan cepat bahkan terasa begitu sakit saat membaca surat itu. Wajahnya memucat bahkan dia langsung mundur kebelakang dan menggeleng pelan.
"Si... siapa yang melakukan ini" gumam Pelangi
"Ini pasti hanya orang kurang kerjaan. Saya akan menyelidikinya nanti" ucap Arya yang langsung meraih batu besar itu dan mencampakkan nya keluar. Sementara kertas itu langsung dia simpan dibalik saku nya.
Ini tidak bisa dibiarkan.
Arya harus segera mencari pelakunya. Orang ini pasti tahu sesuatu tentang Arya dan Pelangi. Bisa bisanya dia meneror mereka berdua secara bergantian. Dan sekarang bersamaan.
"Pak... bagaimana kalau ancaman itu memang benar?" tanya Pelangi
Arya menghela nafas dan menggeleng pelan.
"Mudah mudahan tidak. Saya pasti akan menyelidikinya dan mencari tahu siapa orang itu" jawab Arya
Pelangi memandang jendela yang pecah itu dengan pandangan khawatir.
"Coba kamu ingat ingat lagi. Siapa yang tidak menyukai mu. Mungkin saja ini musuh kamu" tanya Arya
Pelangi terdiam, dia mengingat ingat siapa orang itu. Tapi Pelangi memang tidak merasa mempunyai musuh.
"Jangan bilang jika orang itu saya lagi" sahut Arya saat melihat Pelangi yang hanya terdiam.
Pelangi menggeleng pelan dan memandang Arya dengan sendu.
"Saya tidak pernah merasa punya musuh pak. Saya tidak pernah bermasalah dengan orang lain. Teman saya juga cuma kak Rangga dan Mia" jawab Pelangi
Arya langsung terdiam.
Rangga...
Kenapa Arya jadi curiga dengan lelaki itu.
Bukan kah dia sepertinya memang menyukai Pelangi.
Apa dia tidak suka melihat Pelangi menjadi istrinya????
Apa mungkin dia lelaki berjaket hitam itu???
"Pak... mungkin orang yang tidak menyukai bapak" ucapan Pelangi membuat Arya tersadar.
"Musuh bapak mungkin" ucap Pelangi lagi.
Arya menggeleng.
"Tidak mungkin. Saya tidak pernah punya musuh. Kamu lihat sendiri kan, dia juga meneror kamu. Sudah jelas ini adalah orang yang mengenal kita berdua" jawab Arya.
"Siapa" gumam Pelangi
"Saya curiga dengan teman lelaki mu itu" ucap Arya
Pelangi tertegun
"Kak Rangga" gumam nya
Arya langsung mengangguk pelan.
__ADS_1