
Suara goresan kuas dan juga tawa kecil sesekali keluar dari mulut Vanno. Dia benar benar nampak senang melukis bersama Pelangi. Dan begitu pula dengan Pelangi, bersama Vanno dia bisa melupakan sedikit raa sedih dan juga perasaan tidak enak nya disini. Setelah tadi ketika berada dimeja makan dia sempat merasa ingin pulang saja mendengar perkataan Reynand dan juga tuan Abas.
Pelangi tahu jika mereka berkata seperti itu agar Pelangi lebih bisa berusaha untuk mengambil hati Arya. Tapi tetap saja, perkataan mereka seolah olah takut jika Pelangi ingin memanfaatkan Arya.
Yah menyedihkan memang, apalagi Pelangi yang tidak sepadan dengan mereka. Jelas mereka pasti berfikir yang negatif tentang Pelangi.
Berada dirumah ini benar benar tidak nyaman. Rasanya Pelangi terlalu kecil di antara orang orang besar ini. Meski Nara dan mama Zelina cukup baik padanya. Namun tetap saja berbeda.
Rasa sedih, rasa canggung dan rasa tak pantas membuat hati Pelangi menjadi tidak menentu. Mungkin seperti ini rasanya berada dirumah mertua. Seperti yang Pelangi tonton di acara tv. Lucu sekali.
Tapi ini bukan seperti itu, ini lebih terasa menyakitkan. Dia berada dirumah gadis yang menjadi kesayangan dan harapan suami nya sendiri. Dirumah gadis pemilik hati suaminya. Ah... jika mengingat itu, rasanya Pelangi ingin menangis. Apalagi karena kehamilan ini, rasanya perasaan Pelangi memang lebih sensistif dari biasa.
"Aunty.. ini warna apa yang bagus?"
Pertanyaan Vanno membuat Pelangi yang sedang melamun langsung terkesiap kaget. Dia langsung menoleh pada Vanno dan memperhatikan lukisan burung yang sedang dia buat.
"Ini warna biru, campurkan sedikit dengan warna merah agar terlihat hidup dan lebih gelap. Mau buat burung cendrawasih ini kan" kata Pelangi seraya mencampurkan warna di wadah yang Vanno pegang.
"Yes... ini akan menjadi lukisan pertama Vanno aunty. Sejak dulu Vanno ingin sekali membuat ini. Tapi daddy tidak mau mengajari Vanno" adu Vanno. Wajah tampan nya yang cemberut itu begitu menggemaskan membuat Pelangi langsung tertawa kecil, seraya dia yang menoleh kedalam rumah dimana Reynand dan tuan Abas sedang duduk dan berkumpul disofa. Pelangi dan Vanno duduk diluar, tepat nya di pinggir kolam renang.
"Daddy kan sibuk, jadi dia tidak sempat mengajari Vanno. Mungkin untuk melukis sendiri, daddy juga tidak sempat kan" ucap Pelangi seraya menyerahkan kuas pada Vanno.
Vanno langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya, aunty benar" jawab Vanno
"Pegang seperti ini, dan lukis dengan cepat agar membentuk ekor yang indah" ujar Pelangi seraya memperagakan tangannya dikain kanvas itu.
Vanno mengangguk dan langsung membuat seperti yang dikatakan oleh Pelangi.
"Wow... keren" seru nya dengan girang saat dia berhasil membuat ekor burung seperti yang dia inginkan. Pelangi juga langsung tertawa melihat Vanno. Menggemaskan sekali. Sudah tampan, pintar dan cepat mengerti apa yang Pelangi katakan. Pelangi sungguh kagum melihat anak lelaki Nara ini. Semoga saja anak nya nanti seperti Vanno.
"Kamu memang hebat. Jika sudah besar nanti Vanno pasti bisa melukis sesuatu yang sangat indah" ucap Pelangi seraya mengusap kepala Vanno dengan lembut.
"Tentu saja, tapi apa mungkin. Daddy meminta Vanno untuk belajar dan belajar. Bagaimana mungkin Vanno bisa melukis terus" bisik Vanno
Pelangi tersenyum gemas melihat anak ini.
"Kalau sedang berlibur kan bisa. Seperti saat ini. Di hari weekend Vanno bisa menghabiskan waktu untuk melukis" jawab Pelangi
"Hah... hidup Vanno pasti akan membosankan seperti daddy nantinya" gerutu Vanno. Dan sungguh Pelangi tidak bisa untuk berhenti tertawa.
"Jangan seperti itu, tidak boleh. Jika didengar daddy, nanti dia marah" bisik Pelangi
"Daddy memang sudah selalu marah setiap hari aunty. Dia hanya baik pada mommy saja. Rasanya Vanno ingin mencari daddy baru saja" jawab Vanno
Pelangi langsung membungkam mulutnya saat dia hampir kelepasan tertawa. Memang lucu sekali anak ini.
"Hei... kamu ini. Tidak boleh seperti itu. Daddy begitu pasti karena ingin kamu menjadi anak yang baik" ucap Pelangi
__ADS_1
Vanno mengendikkan bahunya dan kembali melukis.
"Entahlah, Zeze saja lebih memilih meminta apapun pada uncle Aryo dari pada dengan daddy" ucap Vanno lagi.
Pelangi tersenyum dan mengangguk. Pantas saja Zeze begitu manja pada Aryo. Lagipula melihat wajah datar dan dingin Reynand siapa yang tidak takut. Pelangi saja takut. Apalagi kedua anak nya. Mungki hanya Nara yang bisa menjadi pawang lelaki itu. Ya, dia terlihat begitu mencintai Nara.
Pelangi benar benar salut pada Nara. Tapi wajar saja kan, Nara cantik, anggun dan berkelas. Bahkan Pelangi baru ini melihat perempuan cantik selama hidupnya. Jelas saja dia bisa memiliki hati seorang tuan Adiputra.
Apalah Pelangi, yang hanya orang kampung dan tidak memiliki apapun. Sekolah saja hanya tamat SMA. Bagaimana mungkin bisa pantas masuk kedalam keluarga ini. Menjadi istri Arya yang seharusnya menjadi menantu mereka.
Ah ... ya ampun. Kenapa jadi mengingat itu lagi.
"Aunty apa lagi?" tanya Vanno
Pelangi kembali fokus pada Vanno dan kembali memandang lukisan nya. Tanpa tahu didepan Arya sudah tiba dirumah itu. Entah dari mana dia menghilang seharian, tapi yang jelas, Arya menyempatkan diri melihat taman bunga nya.
Dan sekarang dia malah di minta Nara untuk datang kerumah ini. Menjemput Pelangi.
Wajah Arya datar saat masuk kedalam rumah. Namun dia langsung tersenyum saat Zeze yang datang berlari dan memeluk nya seperti biasa.
"Uncle Aryo!!!" seru Zeze
"Sedang apa?" tanya Arya
"Main sama bibi" jawab Zeze
"Uncle dari mana. Kenapa baru datang sekarang?" tanya Zeze seraya memeluk leher Arya dengan manja.
"Tuh dibelakang sama opa. Lagi lihatin kakak melukis sama aunty Pel" jawab Zeze
Arya hanya mengangguk dan membawa Zeze kebelakang. Dan bisa dia lihat jika Reynand dan tuan Abas sedang berbincang disofa. Nara dan mama sedang didapur membuat sesuatu. Dan Pelangi.... dia sedang melukis bersama Vanno.
Arya menghela nafas dalam dalam. Dia ingin marah, kenapa Nara membawa Pelangi kerumah ini. Tapi percuma, mereka sepertinya malah membela gadis itu.
Dan Arya hanya bisa pasrah sekarang. Melihat Pelangi ada dirumah ini, hati Arya benar benar tidak menentu. Tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi yang jelas Arya benar benar belum siap menggantikan posisi Zelina nya.
Ya, seharusnya Zelina yang ada bersama mereka saat ini. Seharusnya Zelina yang tertawa bersama Vanno disana. Dan seharusnya, Zelina yang melengkapi kebahagiaan keluarga ini. Bukan Pelangi, bukan gadis asing yang Arya temui tanpa sengaja.
"Kenapa kau baru datang sekarang?" tanya Reynand
Arya langsung duduk disofa single setelah sebelum nya menurunkan Zeze terlebih dahulu.
"Saya dari rumah tuan Bima tuan. Ada sedikit keperluan disana" jawab Arya
"Kenapa kau menyembunyikan hubungan mu dengan gadis itu?" tanya tuan Abas tanpa basa basi lagi.
Arya terdiam dan menghela nafasnya dengan berat
"Pernikahan ini tidak akan lama tuan" jawab Arya
__ADS_1
"Kau membuat pernikahan seperti sebuah permainan Yo" ucap tuan Abas.
Namun Arya hanya tersenyum tipis dan menggeleng.
"Karena saya tidak ingin seperti itu, maka saya akan segera mengakhiri semuanya" jawab Arya.
Reynand menghela nafas dan menggeleng pelan seraya memandang kearah Pelangi yang masih asik bersama Vanno.
"Aku takut kamu menyesal. Kamu harus bisa belajar dari kisah ku dulu Yo" ujar Reynand.
Namun Arya hanya diam dan juga menoleh kearah Pelangi.
"Saya tahu tuan" ucap Arya
"Uncle, ini minum untuk uncle" tiba tiba Zeze datang dan memberikan segelas minuman kaleng untuk Arya. Membuat Reynand lagi lagi mendengus kesal. Jika Arya sudah datang anak perempuan nya ini pasti lebih memilih bersama Arya. Bahkan dia saja tidak pernah diperlakukan seperti itu.
"Terimakasih. Sekarang bisakah kamu panggil aunty pel. Uncle sudah ingin pulang" ujar Arya. Zeze langsung mengangguk cepat, bahkan dia langsung berlari keluar mendekati Pelangi dan Vanno yang memang baru saja menyelesaikan lukisan mereka.
"Hei kenapa cepat sekali. Kau baru tiba Yo" sahut tuan Abas
"Saya masih banyak pekerjaan tuan" jawab Arya. Dia benar benar tidak bisa berlama lama berada dirumah ini. Apalagi ada Pelangi disini. Benar benar tidak bisa.
"Kenapa sudah mau pulang?" tanya Nara yang juga datang dengan sepiring kue madeleine ditangan nya.
Arya hanya diam memandang Nara. Namun Nara tahu arti dari pandangan nya itu.
"Yo... sebentar lagi lah nak. Masih sore juga" sahut mama pula.
"Takut hujan ma" jawab Arya yang langsung berdiri saat Pelangi sudah tiba disana.
Pelangi memandang Arya dengan pandangan lembut, namun berbeda dengan Arya.
"Kami permisi dulu, tuan, mama" ucap Arya, bahkan dia langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan itu. Membuat Pelangi langsung tersenyum canggung pada semua orang yang ada disana.
"Saya pamit dulu nyonya, nona, dan tuan" pamit Pelangi seraya memandang satu persatu orang orang disana.
Mama Zelina mengusap bahu Pelangi dengan lembut.
"Hati hati" ucap mama Zelina
Pelangi hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Dia berjalan keluar di antar oleh Nara.
"Maafkan sikap Arya ya Pel" ucap Nara
"Tidak apa apa nona. Saya mengerti" jawab Pelangi
"Kamu harus lebih sabar lagi. Suatu saat Arya pasti bisa menerima kamu. Jangan menyerah ya" ujar Nara lagi
Pelangi hanya tersenyum dan mengangguk. Untuk sekarang dia memang belum ingin menyerah. Tapi... tidak tahu kedepan nya.
__ADS_1
Bukan hal yang mudah untuk mengambil hati Arya.