
Pelangi mengusap air mata yang sejak tadi terus menetes. Hatinya benar benar sedih atas perlakuan Arya. Lagi lagi dia meninggalkan Pelangi ditengah jalan seperti ini. Apa Arya tidak berfikir jika Pelangi takut kalau lelaki berjaket hitam itu datang dan mencelakai dia???
Entah apa salah Pelangi. Arya yang mencari masalah duluan, tapi dia juga yang marah. Seharusnya Pelangi yang marah, karena Arya dengan begitu tega menceritakan segala masalah rumah tangga nya pada Nina. Ya, meskipun Pelangi juga salah.
Tapi... tidak seharusnya Arya memperlakukan dia seperti inikan!
Pelangi mengusap perutnya dengan perasaan tidak menentu. Hanya tinggal dua Minggu lagi. Tapi jika Arya seperti ini terus, apa Pelangi bisa mengharapkan keajaiban itu?
Rasanya benar benar mustahil.
Pelangi kembali mengusap air matanya, menoleh kesegala arah. Dan sialnya Arya menurunkan Pelangi didaerah sepi yang tidak ada pemukiman penduduk satupun. Meski pengendara jalan yang lain masih ada, tapi kan mereka hanya lewat. Mereka tidak akan mau menumpangi Pelangi.
Tas Pelangi tertinggal di mobil Arya. Lalu sekarang, bagaimana dia akan pulang????
Jalan kaki kerumah Arya???
Ya Tuhan...
Kenapa sedih sekali nasib nya. Kenapa cinta ini benar benar menyiksa.
...
Sementara didalam mobil ...
Wajah Arya memandang datar kedepan. Dadanya masih terlihat naik turun menahan kesal. Lagi lagi dia tidak bisa mengontrol emosi saat Pelangi menyebut nama Rangga. Apalagi ketika Pelangi berkata jika Rangga adalah lelaki baik dan juga mencintai dia. Kenapa Arya begitu kesal???
Arya memukul setir mobil dengan kuat. Wajahnya menggeram kesal.
Sialan sekali..
Ada apa dengan nya?
Kenapa Arya merasakan hal seperti ini???
Apa Arya cemburu???
Arya tidak suka mendengar Pelangi membanggakan lelaki lain.
Benarkah dia cemburu???
Bukankah cemburu itu adalah tanda suka dan cinta???
Apa Arya sudah menaruh hati pada Pelangi???
Arya menggeleng pelan dan semakin mencengkram kemudinya dengan kuat.
Jika iya...
Bagaimana dengan Zelina.
Dan tanpa sadar. Akhir akhir ini, sedikit demi sedikit, Pelangi memang sudah bisa mengusir bayangan Zelina dari kepala Arya. Dan dia, sudah bisa membuat Arya menjadi tidak menentu seperti sekarang.
Pelangi...
Kenapa dia bisa semakin menambah beban Arya???
Arya menghela nafas dengan berat. Dia menepikan mobilnya dipinggir jalan. Memijat pelipisnya yang terasa berat. Semua perasaan ini benar benar membuat Arya tidak menentu.
Benarkah dia sudah menyukai Pelangi?
Jika begitu, bagaimana dengan Zelina??
__ADS_1
Apa itu adil???
Arya kembali menghela nafas dan menoleh kesamping, dia tertegun saat melihat tas Pelangi yang tergeletak diatas kursi.
Tiba tiba dia jadi mencemaskan gadis itu.
Sialan!
Hari sudah semakin senja, jalanan diarea sini juga semakin sepi. Bagaimana Pelangi pulang? Dan bagaimana jika lelaki berjaket hitam itu datang lagi???
Ck... Arya langsung berdecak kesal.
Sial sekali entah kenapa dia tidak bisa mengontrol emosi nya sekarang.
Dan tanpa fikir panjang lagi, Arya langsung memutar mobilnya menuju ketempat Pelangi dia tinggalkan tadi.
Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan beberapa menit kemudian, dia sudah bisa melihat Pelangi yang sedang ditarik oleh seseorang. Namun ada juga lelaki lain yang datang padanya.
Mata Arya memicing dan dia langsung memberhentikan mobilnya.
Orang yang menarik Pelangi adalah lelaki berjaket hitam, dan orang yang ingin menolong nya adalah Rangga.
Jadi lelaki misterius itu bukan Rangga????
Kurang ajar!
Ternyata dugaan nya salah!!!
Arya langsung keluar dari mobil dan berlari kearah Pelangi.
"Tolong jangan!!!" teriakan Pelangi benar benar membuat hati Arya tidak menentu.
Dan memang benar, Pelangi benar benar ketakutan sekarang. Dia mencoba memberontak, namun lelaki berjaket hitam itu malah menodongkan pisau di leher Pelangi hingga membuat Rangga berhenti.
"Jangan ikut campur!" bentak orang itu
Mata Pelangi langsung melebar saat mengenali suara ini.
"Ka... kamu" gumam Pelangi dengan air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya.
"Lepaskan dia" bentak Arya pula
Pelangi semakin menangis saat melihat Arya yang datang kembali padanya.
"Pak Arya..." gumam Pelangi. Tubuhnya sudah bergetar menahan takut. Apalagi saat mata pisau itu sudah terasa menggores kulitnya.
"Siapa kau, berani berani nya meneror kami?" tanya Arya. Dia berdiri disamping Rangga yang memang tidak tahu apa apa tentang ini.
"Aku orang yang akan menghancurkan kalian, sama seperti kalian yang menghancurkan hidupku!" jawab nya.
Arya dan Pelangi saling pandang dengan bingung.
Siapa orang ini. Sungguh, Arya benar benar tidak pernah merasa jika dia sudah melakukan suatu kejahatan pada orang lain.
Ck... tidak penting itu. Yang terpenting sekarang, adalah bagaimana cara menyelamatkan Pelangi.
Arya kembali memandang Pelangi yang masih menangis ketakutan, apalagi saat lelaki itu mulai menarik Pelangi jauh dari pinggir jalan.
"Pak... bagaimana ini?" bisik Rangga
Arya menarik nafas dalam-dalam. Ayo Arya, fikirkan bagaimana caranya. Ini bukan yang pertama. Dulu Arya juga sudah pernah berada disituasi genting seperti ini.
__ADS_1
Dan sekarang, dia juga harus bisa menolong Pelangi.
"Jika kau mau dia selamat, maka kau yang harus ikut dengan ku" ucap pria itu pada Arya.
Pelangi menggeleng pelan.
"Lepaskan dia maka aku akan ikut dengan mu" jawab Arya tanpa ragu.
"Pak .. jangan" lirih Pelangi. Namun Arya hanya diam. Dia ingin tahu, apa mau lelaki ini.
"Mendekat padaku, sendirian" ujar lelaki itu
Arya langsung berjalan tanpa ragu. Apa dia fikir Arya takut mati? Sejak dulu kematian lah yang selalu ditunggu Arya. Hanya saja dia masih diberi umur panjang oleh Tuhan dan harus menghadapi hari ini.
Pelangi menggeleng pelan, namun Arya hanya mengerjapkan matanya sekilas.
Tatapan matanya yang tajam memandang manik hitam lelaki itu. Yang entah siapa, Arya memang tidak mengenal nya. Dan lagi lagi, wajahnya ditutupi oleh masker.
Saat sudah berada didekat Pelangi, Arya menggigit bibirnya sendiri, berharap Pelangi mengerti kode itu.
Dan benar saja, meski gemetar dan takut, Pelangi langsung menggigit tangan lelaki itu sekuat tenaga nya hingga lelaki itu dengan reflek melepas pisau dari leher Pelangi.
Arya dengan sigap menarik tangan Pelangi dengan kuat dan langsung menghempaskan tubuh Pelangi pada Rangga. Membuat Rangga juga dengan sigap menangkap tubuh Pelangi.
Namun sialnya, lelaki berjaket itu juga dengan cepat mengayunkan pisau itu pada Arya hingga ....
jleb
"Uuuh"
Arya langsung terpejam saat pisau itu menembus pinggang nya. Namun masih dia tahan dan menendang tubuh lelaki berjaket itu dengan kuat.
"Pak Arya!!" teriak Pelangi begitu kuat saat melihat Arya jatuh terduduk di atas tanah seraya memegang pinggang nya yang berdarah. Sedangkan lelaki berjaket itu sudah kabur dengan langkah seribu nya.
"Pak Arya" Pelangi langsung berlari mendekat kearah Arya. Begitu pula dengan Rangga. Dia ingin mengejar lelaki itu, namun dia juga tidak mungkin mengabaikan Arya yang terluka.
"Pak... bapak berdarah" ucap Pelangi begitu panik. Tangan nya bergetar menyentuh luka Arya.
"Pak kita kerumah sakit" ajak Rangga yang langsung membantu memapah tubuh Arya.
Arya hanya diam, dan langsung merangkul bahu Rangga. Rasanya sakit, tapi kenapa lebih sakit saat melihat Pelangi hampir celaka tadi???
Pelangi menahan tangis nya dan dengan cepat dia berlari untuk membukakan pintu mobil untuk Arya.
Dan akhirnya, dengan susah payah, akhirnya mereka sudah masuk kedalam mobil dan membawa Arya kerumah sakit.
"Pak... bapak berdarah." ucap Pelangi yang masih menangis takut melihat darah yang semakin banyak.
"Jangan cengeng, saya tidak apa apa" jawab Arya. Namun wajahnya sudah memucat dan terlihat lemas.
"Tapi saya takut" ucap Pelangi lagi.
Arya tersenyum tipis dan menggeleng. Dia tersandar lemas disandaran kursi. Membuat Pelangi benar benar tidak berdaya melihat Arya yang seperti ini.
Rangga hanya fokus pada kemudinya. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali melirik Arya dan Pelangi dari balik kaca depan mobil.
Terlihat jelas Pelangi yang benar benar menangis takut melihat Arya yang sudah hampir tidak sadarkan diri.
"Pelangi tenanglah" ujar Rangga
"Aku takut kak" ucap Pelangi. Bahkan Isak tangis itu masih terdengar begitu jelas.
__ADS_1
"Pak Arya pasti baik baik saja" kata Rangga lagi, namun dengan hati yang terasa perih. Apalagi saat melihat Pelangi mengusap wajah Arya yang sudah mulai tidak sadarkan diri.