Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Wajar Jika Cemburu


__ADS_3

Pelangi masih tertidur dengan begitu lelap diatas ranjang nya. Dia sama sekali tidak lagi terbangun ataupun terganggu dengan kehadiran orang orang yang sudah berkumpul didalam ruangan itu.


Bunda bahkan sejak tadi terus duduk di samping Pelangi dan sesekali membenarkan selimut ditubuh anak semata wayangnya.


Pelangi tertidur karena diberi obat penenang oleh dokter agar dia bisa beristirahat dengan baik malam ini. Kejadian di taman kota tadi sepertinya benar benar membuat mentalnya sedikit terguncang.


Lautan manusia yang berlarian kesana dan kemari, ketakutan, tangisan, teriakan dan juga tekanan yang membuat tubuhnya terombang ambing membuat Pelangi benar benar merasa trauma dan juga ketakutan. Apalagi dengan dia yang sempat terpisah dari Arya, membuat dia benar benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Hingga kini malah berpengaruh pada kandungan nya.


Dan beruntungnya jika kandungan Pelangi baik baik saja. Jika tidak, mungkin Arya pasti akan sangat menyesal.


Saat ini Arya baru saja membersihkan diri dan mengganti perban di lengan nya yang kembali berdarah karena menggendong Pelangi tadi.


Dia duduk disofa bersama dengan Rangga dan juga ayah. Sedangkan Reynand sudah pulang beberapa waktu yang lalu. Tuan angkuh itu tidak bisa berlama lama berpisah dengan Naranya. Heran sekali Arya melihat tuan muda Adiputra satu itu.


"Kenapa kau masih disini? Sudah larut. Sebaiknya kau pulang saja, kau juga butuh istirahat karena sudah membantu kami malam ini" tanya Arya pada Rangga.


Rangga yang sedang mengotak atik ponselnya langsung menoleh pada Arya. Mereka di pisahkan oleh ayah yang duduk di tengah tengah mereka.


"Bapak mengusir saya ya?" tanya Rangga


"Bukan mengusir, hanya meminta mu untuk pulang" jawab Arya


Ayah nampak menoleh kesana dan kemari memandang dua orang ini yang sejak tadi tidak pernah akur. Selalu ada saja yang mereka perdebatkan. Meski awalnya berbicara serius, namun lama kelamaan pasti akan bertengkar.


Lihat saja sebentar lagi.


"Sama saja" gumam Rangga


"Lagi pula ini sudah tengah malam, bukan lagi tengah malam, tapi sudah hampir pagi." sahut Arya


Rangga menghela nafas berat dan mengangguk pelan.


"Iya, saya juga sudah mau pulang. Disini juga hanya lelah karena terus berdebat dengan bapak" jawab Rangga.


"Kau yang sejak tadi selalu membuat ku kesal" sahut Arya


"Bukan saya, tapi bapak sendiri yang sensitif sekali. Seperti perempuan" ucap Rangga.


"Apa kau bilang?" sahut Arya dengan kesal. Bahkan dia langsung melebarkan kedua matanya. Memandang Rangga dengan pandangan mata yang tajam. Jika tidak mengingat kalau Rangga yang menolong mereka malam ini. Ingin sekali Arya hajar batang hidung nya. Atau, sekalian saja di pecat agar Rangga bisa pergi jauh dari kehidupan Pelangi.


Ayah hanya bisa menghela nafas dan mengusap pelipisnya yang tiba tiba berat. Apa begini rasanya punya dua anak laki laki???


"Bukan apa apa pak. Kenapa emosian sekali." jawab Rangga


Arya langsung memicingkan matanya memandang Rangga.


Sial sekali ayah mempunyai menantu seperti pak Arya ini" bisik Rangga pada ayah.


Ayah hanya terkekeh geli dan menggeleng pelan.


"Ayah yang sial karena berada di tengah tengah kalian seperti ini. Benar benar berisik. Sana pergi berduel di depan rumah sakit. Agar ada suster ngesot yang menjadi wasit" ujar Ayah


Arya dan Rangga langsung mendengus mendengar perkataan Ayah. Sedangkan bunda yang sejak tadi memperhatikan mereka hanya tersenyum simpul dan menggeleng pelan. Tidak tahu lagi harus berkata apa jika kedua orang ini sudah berkumpul.


"Ayah tidak tahu saja jika sejenis suster ngesot itu kan memang teman pak Arya" sahut Rangga seraya beranjak dari tempat duduk nya.


"Kau tidak lama lagi benar benar aku pecat Rangga" ancam Arya.


Rangga langsung terkekeh pelan dan menggaruk tengkuk nya sekilas.


"Jangan dong pak. Saya kan hanya bercanda. Begitu saja sudah di anggap serius" ucap Rangga


"Melihat wajahmu saja sudah membuat ku kesal, apalagi jika kau mengajak ku bercanda" sahut Arya begitu jujur. Membuat Ayah langsung terkekeh kecil, apalagi saat melihat wajah kesal Rangga.

__ADS_1


"Bunda"


Tiba tiba suara lirih Pelangi membuat mereka semua langsung menoleh ke arah ranjang. Dan ternyata Pelangi yang sudah bangun. Kenapa cepat sekali???


Arya langsung beranjak dan mendekat kearah Pelangi. Sedangkan Rangga hanya mematung di tempatnya berdiri. Memandang perih Arya yang terlihat sigap dan begitu perhatian pada Pelangi.


"Kamu kok udah bangun nak?" tanya bunda


"Pasti karena Rangga berisik ya" sahut Arya pula.


Rangga langsung memicingkan matanya mendengar itu.


Kenapa jadi dia pula yang di salahkan. Bukankah sejak tadi Arya yang selalu menggerutu tidak menentu???


"Pelangi haus" gumam Pelangi


Dengan sigap Arya langsung meraih gelas yang diserahkan bunda padanya. Membantu Pelangi untuk duduk sebentar dan kemudian berbaring kembali.


"Kalau begitu saya pulang dulu ya yah" pamit Rangga pada ayah. Dia langsung menyalami punggung tangan ayah dengan sopan.


"Iya, hati hati ya. Hari sudah malam sekali" ujar Ayah


Rangga mengangguk patuh.


"Kamu pulang kerumah atau ke rumah mama mu nak?" tanya bunda pula saat Rangga menyalami nya.


"Kerumah Rangga ajalah bun. Lebih dekat. Udah malam, besok juga sudah harus kerja. Takut di pecat pak Arya kalau Rangga minta cuti" jawab Rangga seraya menoleh pada Arya yang masih sibuk mengusap perut Pelangi.


Ya ampun....


Ini pemandangan yang manis, tapi sungguh benar benar terasa sakit untuk hatinya yang masih mencoba untuk menerima.


"Ya sudah, kamu hati hati ya. Salam sama mama kamu" ucap bunda.


"Meski kau menyebalkan, tapi aku berterimakasih padamu untuk malam ini. Aku pasti akan membayar kebaikan mu pada kami" kata Arya pula.


Rangga menggeleng pelan.


"Jangan fikirkan pak. Saya hanya kebetulan ada disana. Lagipula, saya juga tidak ingin Pelangi terluka karena manusia gila itu" jawab Rangga, seraya dia yang memandang Pelangi dengan lembut. Dan tentu saja, pandangan mata itu membuat Arya tidak senang.


Pandangan mata yang menyimpan perasaan yang terpendam.


Astaga...


Kenapa jadi kesal lagi.


Apa begini yang di rasakan Pelangi dulu saat Arya tidak pernah memperdulikan nya namun malah masih terus mengingat Zelina nya???


"Kamu cepat sembuh ya. Jangan banyak fikiran. Semua sudah selesai. Aku pamit pulang dulu" ucap Rangga pada Pelangi.


Pelangi mengangguk dan tersenyum tipis.


"Iya kak. Terimakasih banyak. Kakak hati hati ya" ujar Pelangi


"Iya" jawab Rangga. Yang lagi lagi dengan senyum teduhnya membuat Arya semakin kesal.


"Sudah pergilah, kau bilang dari tadi ingin pergi, tapi malah masih disini. Tidak baik tersenyum seperti itu pada istri orang" ucap Arya begitu ketus.


"Mas" tegur Pelangi


"Sepertinya menantu bunda sangat sangat pemarah. Apa perlu di ruqiyah ya bun?" tanya Rangga, wajahnya cukup serius, namun itu malah membuat bunda dan Pelangi tertawa. Begitu pula dengan ayah yang duduk di sofa.


"Kau kira aku kerasukan setan. Sialan sekali"  dengus Arya, dia ingin menendang kaki Rangga, namun Rangga langsung mengelak dengan cepat.

__ADS_1


"Rangga, kamu memang ingin membuat satu rumah sakit terbangun karena ulah kalian ya. Sudah tahu nak Arya pemarah, masih saja di ganggu. Kamu di pecat beneran baru tahu nanti" sahut Ayah dari sofa.


Rangga terkekeh dan menggeleng pelan.


"Iya, sepertinya jika bertemu dengan dia emosi saya langsung meningkat berkali lipat yah" sahut Arya


"Ya saya kan tidak mau kesal sendiri pak" ucap Rangga. Arya langsung mengernyit memandang Rangga. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki ini.


"Yasudah bun, yah, Rangga pamit dulu. Sampai ketemu besok" pamit Rangga, dia melepas senyum pada ayah bunda dan setelah itu langsung berjalan keluar meninggalkan Arya yang memandang nya dengan kesal.


Lelaki satu itu benar benar bisa membuat Arya menjadi darah tinggi. Semoga saja dia tidak terkena strok nanti.


"Udah dong mas kesalnya. Pelangi ngerih deh lama lama ngelihat wajah jelek itu" ucap Pelangi.


Arya menghela nafas dan kembali menoleh pada Pelangi.


"Aku gak suka dia" jawab Arya dengan jujur.


"Gak suka kenapa? Kak Rangga kan gak berbuat apa apa yang bikin mas rugi kan?" tanya Pelangi


"Cemburu ya?" goda bunda pula


Arya menghela nafas dan menopang dagu diranjang Pelangi.


"Wajar kan bun kalau saya cemburu. Pelangi kan istri saya" tanya Arya


Pelangi langsung tersenyum simpul mendengar itu, apalagi bunda.


"Wajar kok. Nama nya juga kamu suami Pelangi. Cemburu itu hal yang wajar. Bahkan bagus karena itu tandanya kamu sayang sama Pelangi. Tapi jangan sampai cemburu kamu itu buat hubungan kalian tidak harmonis lagi lo nak" ujar bunda.


"Enggak kok bun. Saya cuma kesal aja lihat Rangga dekat dekat Pelangi. Apalagi saya tahu kalau dia juga suka sama Pelangi" jawab Arya


Bunda kembali tersenyum simpul memandang Arya. Tidak pernah dia sangka jika Arya akan sampai seperti ini dalam mencintai anak nya. Padahal bunda sudah cukup khawatir saat Pelangi pergi kerumah dan memutuskan untuk berpisah dengan Arya dulunya.


"Jangan khawatir. Rangga memang suka dengan Pelangi, tapi kan mereka tidak berjodoh. Bahkan sudah sejak lama, sejak mereka sama sama SMA. Tapi ternyata yang di pilih Pelangi malah kamu" ungkap bunda.


"Gak percaya sama perasaan Pelangi ya mas?" tanya Pelangi pula


"Bukan gak percaya. Aku percaya kok. Tapikan aku juga takut kamu capek sama aku, apalagi aku yang udah jahat sama kamu dulu" jawab Arya begitu jujur. Bahkan sangat jujur dia berkata di hadapan orang tua Pelangi.


"Tapikan sekarang mas udah berubah" sahut Pelangi


"Benar... sekarang, perbaiki lagi hubungan kalian. Harus bisa sama sama belajar untuk menerima satu sama lain. Dan masalah Rangga, kamu jangan khawatir nak, Rangga tidak akan mau merebut Pelangi. Meski dia suka, tapi dia lebih mengutamakan hubungan keluarga dengan kami dari pada perasaan. Apalagi sekarang dia sudah tahu kalau ternyata Pelangi lebih memilih kamu dari pada dia. Dia tidak akan berbuat hal yang kelewat batas. Percaya dengan bunda" ujar bunda


Arya mengangguk pelan.


"Iya bun, mungkin saya yang terlalu berburuk sangka" jawab Rangga


"Perasaan itu gak bisa di paksa, mau bagaimana pun baik nya kak Rangga, tapi kalau hati Pelangi lebih milih mas dari pada dia, mau gimana. Lagian dari dulu Pelangi juga udah anggap kak Rangga seperti kakak Pelangi sendiri" ungkap Pelangi.


Arya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Dia meraih tangan Pelangi dan menggengamnya dengan lembut. Tanpa malu lagi ada bunda di samping mereka.


"Maaf ya, aku percaya sama kamu. Hanya saja terkadang aku cemburu" jawab Arya


Pelangi mengangguk pelan. Namun saat akan membuka mulut, mereka langsung di buat terdiam dengan sebuah suara.


Suara dengkuran????


Dan ketika melihat kearah sofa, ternyata ayah yang sudah tertidur dengan begitu lelap. Mulutnya bahkan sedikit terbuka dan mendengkur dengan kuat.


"Ya ampun ayah... kebiasaan" gumam bunda


Arya dan Pelangi langsung tersenyum lucu memandang ayah yang ternyata kelelahan. Lagi pula hari memang sudah sangat larut, bahkan sudah hampir dini hari.

__ADS_1


__ADS_2