
Pelangi sudah mulai tenang, dia tidak lagi menangis atau bergumam apapun. Tangan nya yang memeluk tubuh Arya dengan kuat kini sudah mulai melemah. Bahkan Arya rasa sudah hampir satu jam mereka duduk seperti ini disisi ranjang.
Arya menunduk, memandang Pelangi yang masih tersandar didada nya. Wajah Pelangi benar benar kacau, bahkan masih basah dan terlihat lengket karena air mata. Jarum infus yang menusuk pergelangan tangan nya juga sudah tidak lagi berbentuk bahkan sedikit mengeluarkan darah.
Arya mengusap lengan Pelangi sekilas, dia mengernyit saat melihat Pelangi hanya diam dengan mata yang terpejam.
Dia tertidur????
Arya kembali mengusap lengan Pelangi, memastikan jika Pelangi hanya terpejam atau memang sudah tertidur. Tapi sepertinya dia memang tertidur. Helaan nafas Pelangi yang tenang dan teratur membuat Arya menghela nafas.
Entah apa yang sudah terjadi hingga Pelangi bisa ketakutan seperti ini. Dia memang sudah takut dengan rumah sakit, ditambah dengan teror lelaki misterius itu. Arya benar benar penasaran dengan lekaki itu.
Entah siapa lelaki itu.
Arya merasa jika dia tidak pernah mempunyai musuh. Dan siapa yang sudah berani mengganggu hidupnya, bahkan juga mengganggu Pelangi???
Arya merebahkan tubuh Pelangi dengan pelan dan hati hati, dia takut Pelangi terbangun dan tidak mau lagi melepaskan nya.
Tapi sepertinya Pelangi memang sudah terlelap. Mungkin dia kelelahan karena menangis terus.
Arya menghela nafas dan menyelimuti tubuh Pelangi. Dia juga memencet tombol pemanggil dokter, agar ada yang membenarkan selang infus Pelangi yang sudah hampir lepas.
Selagi menunggu dokter, Arya berjalan keluar kamar. Dia ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Pelangi tadi. Apakah benar ada darah didepan ruangan nya???
Arya berjalan perlahan, dan ketika sudah didepan ruangan Pelangi, dia langsung memperhatikan lantai tempat dia berpijak. Bersih, tidak ada apapun.
Namun ketika memandang ke dinding kaca itu, Arya mengernyit. Ada sesuatu yang berbeda disini. Seperti bekas noda yang baru saja dibersihkan. Bahkan kaca yang seharusnya bening, kini malah terlihat kotor karena seperti dibersihkan dengan asal.
Arya mengusap noda itu, masih basah, noda bewarna merah kecokelatan. Apa ini darah yang dimaksud oleh Pelangi???
Tapi ini bukan darah, hanya seperti warna tekstil atau pewarna pakaian.
Sepertinya, ada orang yang memang mau mengusik kehidupan mereka.
Tapi... entah siapa. Mungkin besok jika Pelangi sudah tenang, Arya akan bertanya. Karena dia merasa jika dia tidak mempunyai musuh sejak dulu.
Tidak mungkin hanya sekedar orang iseng saja. Ini sudah keterlaluan. Dan Arya tidak terima.
Suara langkah kaki yang mendekat kearahnya membuat Arya terkesiap, dia langsung menoleh dan ternyata perawat yang berjaga datang.
"Tuan... ada apa. Apa ada sesuatu yang terjadi???" tanya perawat itu.
Arya menggeleng pelan.
"Tidak, hanya saja jarum infus di tangan istri saya hampir lepas, bahkan sudah berdarah" jawab Arya
Perawat itu mengangguk dan langsung masuk kedalam, begitu pula dengan Arya yang berjalan mengikutinya.
Istri???
Ah... sejak kapan Arya mulai mengakui Pelangi sebagai istrinya!
....
Keesokan paginya...
Masih dirumah sakit, dan hari sudah siang. Jam juga sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Pelangi terbangun dari tidur nya, itu juga karena dia merasa jika ada seseorang yang menempelkan sesuatu dilengan nya.
__ADS_1
"Anda sudah bangun nona?" sapa dokter yang memeriksa Pelangi
Pelangi hanya diam dan mengerjapkan matanya. Dia melirik sekilas kearah luar, sudah siang ternyata. Dan Pelangi juga melirik kearah dinding kaca ruangan nya, ada seorang ob yang sedang membersihkan dinding kaca itu.
Semua terlihat biasa, bahkan ruangan ini juga terlihat nyaman. Tapi kenapa malam tadi terasa begitu menyeramkan???
Lelaki berjaket hitam
Darah dan dobrakan pintu
Pelangi langsung menelan salivanya dengan berat. Jika mengingat itu rasanya masih benar benar takut. Dan beruntungnya karena Arya yang cepat datang, hingga membuat ketakutan Pelangi bisa mereda.
Yah Arya...
Berbicara tentang lelaki itu... dimana dia???
deg
Pelangi langsung tertegun, saat menoleh kearah sofa, ternyata Arya berada disana. Dan matanya juga sedang memandang kearah Pelangi, hingga kini pandangan mata mereka saling pandang satu sama lain.
Jika malam tadi jantung Pelangi berdebar karena ketakutan, maka sekarang jantungnya berdebar karena pandangan Arya.
Ya tuhan...
"Nona.. keadaan anda sudah lebih baik. Ruam merah dikulit anda juga sudah mulai mereda. Apa tidak sebaiknya anda memeriksakan........." perkataan dokter itu terhenti, dengan matanya yang melirik kearah perut Pelangi.
"Tidak dokter, saya sudah mau pulang saja pagi ini" jawab Pelangi dengan cepat. Dia tidak ingin semua terbongkar. Sekarang saja Pelangi sudah takut.
"Keadaan mu masih belum baik baik saja Pelangi" sahut Arya yang malah datang dan mendekat kearah Pelangi. Membuat Pelangi semakin canggung saja, apalagi dengan tatapan dokter ini yang memandang nya dengan bingung.
"Enggak pak, saya mau pulang. Saya takut disini" jawab Pelangi. Wajahnya memelas.
"Bagaimana dokter, apa dia memang sudah boleh pulang sekarang?" tanya Arya pada dokter itu. Membuat Pelangi langsung meringis dan mengangguk memandang dokter itu yang terlihat melirik nya.
"Jika terjadi sesuatu dengan nona dalam dua puluh empat jam, bapak bisa membawa nona kembali kesini" jawab dokter itu.
Pelangi langsung tersenyum senang mendengar nya.
"Tentu dokter" jawab Pelangi, bahkan Arya belum sempat menjawab apapun.
Apa Pelangi memang benar benar trauma hingga dia begitu ingin cepat pulang??? batin Arya.
Dan akhirnya, hari itu juga, Arya membawa Pelangi pulang. Setelah berbagai macam bujuk rayu Pelangi pada dokter itu. Akhirnya, kehamilan nya tidak terungkap. Dan beruntung nya, karena keadaan Pelangi memang tidak terlalu parah, karena dia sudah sempat memuntahkan apa yang dimakan nya semalam. Hanya lemas saja, dan itu yang membuat dokter itu juga mengizinkan Pelangi pulang dan juga menuruti permintaan nya.
Disepanjang jalan menuju rumah mereka, seperti biasa, tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara. Pelangi hanya tersandar dan memandang keluar kaca jendela mobil, sedangkan Arya masih fokus pada kemudinya.
Fikiran mereka sama. Sama sama sedang memikirkan tentang siapa lelaki berjaket hitam yang sudah berani meneror mereka berdua.
Hingga akhirnya...
"Pak"
"Pel"
Mereka malah bertanya bersamaan, membuat Pelangi maupun Arya sedikit terkesiap dan canggung.
"Ada apa?" tanya Arya akhirnya.
Pelangi tersenyum getir seraya tangan nya yang sedikit membenarkan rambut yang berantakan.
__ADS_1
"Kira kira siapa lelaki itu ya? Saya sudah dua kali melihatnya dirumah" ucap Pelangi
Arya menghela nafas pelan.
"Sudah dua kali? Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Arya
"Tidak ada, yang pertama kali, saya melihat nya didepan rumah, dibawah pohon mangga tetangga. Dia cuma memandang kerumah. Dan saya kira dia memang tetangga kita. Tapi sepertinya bukan" ungkap Pelangi
"Apa kamu punya musuh???" tanya Arya
Pelangi terdiam, alisnya terlihat bertaut, dan beberapa detik kemudian dia menggeleng pelan.
"Enggak pak, saya gak merasa punya musuh selama ini. Lagian kan selama ini saya juga dirumah aja. Keluar juga hanya ke taman bunga, bertemu Mia dan kak Rangga" jawab Pelangi
Arya langsung menoleh kearah Pelangi. Kenapa dia selalu kesal ketika nama petugas PPL itu disebut. Sialan memang.
"Coba kamu ingat ingat lagi, mungkin saja ada orang yang tidak menyukai mu" ujar Arya
Pelangi mengerucutkan bibirnya sekilas, dan dia kembali menoleh pada Arya.
"Yang tidak menyukai saya kan bapak" jawab Pelangi. Terdengar begitu polos tapi sangat mengesalkan ditelinga Arya. Bahkan dia langsung memandang Pelangi dengan kesal.
"Jadi kamu mau bilang jika saya yang sudah meneror kamu, begitu??" tanya Arya terdengar begitu ketus.
Pelangi menggeleng pelan.
"Enggak, bukan begitu. Kan bapak bertanya, siapa yang tidak menyukai saya. Jadi saya jawab bapak, karena bapak orang nya. Kenapa bapak malah marah???" tanya Pelangi kembali
"Kalau saya tidak menyukai mu, sudah saya tendang kamu dari rumah saya dan saya biarkan kamu dijalanan sana" dengus Arya.
"Jadi bapak menyukai saya???" tanya Pelangi dengan begitu senang. Bahkan wajah pucatnya terlihat berbinar.
Arya menghela nafas jengah.
"Kenapa bodoh sekali" gumam Arya tidak habis fikir.
Senyum Pelangi langsung meredup.
"Maksud saya menyukai itu bukan masalah hati Pelangi. Tapi saya bertanya, mungkin ada orang yang membencimu maka dari itu dia meneror mu sekarang" ucap Arya terdengar begitu gemas dan kesal.
Pelangi kembali menunduk
"Ya, orang itu juga bapak kan" jawab Pelangi
Dan sungguh demi apapun, rasanya ingin sekali Arya menenggelamkan dirinya di palung mariana sekarang.
"Terserahlah, saya memang bisa cepat mati jika bersama dengan mu terlalu lama" dengus Arya terdengar pasrah dan putus asa.
Dan tanpa Arya sadari, Pelangi tertunduk namun senyum tipis terukir dibibirnya.
....
Setengah jam kemudian mereka telah tiba didepan rumah Arya. Setelah selama itu saling berdiam diri karena Arya yang sudah kembali kesal dengan Pelangi.
Namun mereka dikejutkan oleh seseorang yang sudah berdiri didepan rumah mereka.
Rangga...
Kenapa dia disini???
__ADS_1
Pelangi langsung menghela nafas berat melihat pemuda itu. Pasti akan ada drama lagi setelah ini. Apalagi ketika melihat raut wajah Arya yang sudah berbeda!