
Pelangi memandang jalanan yang mereka lewati dengan bingung. Pasalnya dia tidak pernah melewati jalanan ini, bahkan untuk bermimpipun tidak ingin.
Mereka memasuki komplek perumahan elite yang benar benar mewah dan megah. Rumah rumah disini sangat cantik dan besar, bahkan pagarnya saja begitu tinggi menjulang. Entah kemana Arya akan membawanya, padahal rasanya Pelangi sudah ingin pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
"Mas, kenapa kita ke tempat ini?" Pelangi bertanya untuk yang kesekian kali.
"Kejutan untuk kamu sayang." Jawab Arya. Dia meraih tangan Pelangi dan menggenggamnya dengan lembut.
Pelangi hanya bisa menghela nafas pasrah. Tidak tahu kejutan apa yang akan diberikan oleh Arya. Semoga saja bukan hal yang membuat jantungnya lepas nanti.
"Kamu pasti senang Pel." Sahut Mia dari depan.
"Kamu udah tahu, Mia?" Tanya Pelangi
"Tahu, aku juga pulang kemari karena di jemput sama bang Ferdi sebenarnya. Pak Arya yang pengen aku nyambut kamu." Jawab Mia.
Pelangi langsung menoleh kearah Arya yang tersenyum simpul.
"Iih mas. Kenapa gak ngomong ngomong sih. Pantesan aja Mia bisa ada disini." Sahut Pelangi. Dia memukul lengan Arya dengan kesal.
Arya terkekeh pelan sambil mengecup dahi Pelangi.
Dia mencubit gemas pipi chubby istrinya itu dengan gemas.
"Kan udah di bilang, kalau kejutan mana boleh bilang bilang." Jawab Arya.
Pelangi hanya mendengus gerah mendengar itu. Menyebalkan sekali memang.
Tin tin
Ferdi mengklakson mobilnya beberapa kali, hingga tidak lama kemudian, gerbang besar itu terbuka dan mereka masuk kedalam sana.
Mata Pelangi memicing, memandang rumah mewah yang mereka datangi ini.
"Yuk, kita turun." Ajak Arya.
Ferdi dengan sigap keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Arya. Sedangkan Mia membukakan pintu untuk Pelangi.
"Silahkan nyonya." Goda Mia, dia membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan Pelangi, seperti gerakan pada pelayan pelayan di sebuah istana.
Pelangi mendengus senyum dan keluar dari dalam mobil. Matanya langsung memandang penuh kagum rumah mewah dengan desain yang cukup unik ini. Desain eropa modern, pasti mahal. Batinnya.
"Rumah siapa?" Tanya Pelangi saat Arya mendekat ke arahnya dan mereka yang mulai berjalan masuk kedalam rumah.
"Rumah kamu." jawab Arya.
Langkah Pelangi langsung terhenti. Dia menoleh, dan memandang Arya dengan kesal.
"Ditanya serius juga." Sahut Pelangi.
Arya dan Mia langsung terkekeh melihat wajah kesal Pelangi.
"Beneran rumah kamu sayang. Ini kejutan dari aku buat kamu. Aku persembahkan rumah ini untuk istri tercinta aku." Ucap Arya.
Mata Pelangi mengerjap beberapa kali.
"Mas jangan bohong. Malu tahu. Ini rumah mewah, besar lagi. Pasti mahal. Emang mas punya uang sebanyak itu?" Tanya Pelangi, bahkan dia berkata seperti itu dengan sedikit berbisik.
Arya langsung tersenyum masam dan menggaruk kepalanya sebentar. Kenapa istrinya ini polos sekali?
"Aku udah kerja siang malam selama ini lho sayang. Cari uang gak tahu buat apa. Tapi sejak kenal kamu, aku jadi punya tujuan hidup, apalagi sekarang kita udah mau punya dua anak. Rumah ini aku siapin untuk kamu dan anak anak kita." Ungkap Arya. Binar matanya terlihat begitu bangga saat dia mengatakan itu. Apalagi melihat wajah Pelangi yang benar benar terperangah tidak percaya.
__ADS_1
"Jadi ini serius, ini rumah kita?" Tanya Pelangi.
Arya mengangguk cepat.
"Iya, ini rumah kita. Rumah masa depan kita." Jawab Arya.
"Rumah impian kamu kan Pel. Kamu bilang dulu pengen punya rumah yang mewah dan bergaya klasik. Lihat sekarang, impian kamu tercapai lho." sahut Mia pula.
Pelangi menggeleng tidak percaya melihat ini. Ini benar benar di luar akal pikirannya. Semua ini terasa seperti mimpi.
"Mia, coba cubit aku. Aku takut ini mimpi." pinta Pelangi.
Arya langsung tertawa geli mendengar itu.
"Beneran tahu, ya ampun. Nih rasain." Sahut Mia yang langsung mencubit lengan Pelangi dengan keras.
Pelangi hanya meringis dan mengusap lengannya yang perih. Namun pandangan matanya terus memandang kearah rumah mewah yang sudah ada di depan matanya.
"Ayo sekarang buka pintunya." Pinta Arya.
"Mas, ini beneran rumah kita?" Tanya Pelangi.
"Iya sayang, rumah kita." jawab Arya.
"Ayo buka." titah Arya kembali.
Pelangi mengangkat tangannya, menggenggam gagang pintu yang begitu besar itu dan terasa dingin. Mendorongnya dengan pelan namun sedikit bertenaga.
Hingga tiba tiba...
"Selamat datang dirumah Pelangi!!!!" Seruan dari dalam rumah membuat Pelangi terkesiap, bahkan dia langsung mundur kebelakang karena terkejut.
"Selamat datang nak." Ucap bunda yang langsung memeluk Pelangi dengan erat. Dia nampak merindukan putri semata wayangnya ini.
"Iya, untuk menyambut kamu bareng mereka. Lihat." ucap bunda seraya melepaskan pelukannya dan membawa Pelangi masuk.
Semua orang terdekat mereka sudah berkumpul. Ada Nara dan Reynand, Bima dan Gendis, dan juga mereka kedatangan eyang putri, nenek Bima.
"Aunty Pel, selamat datang di rumah baru. Rumah aunty cantik sekali." Zeze langsung berlari dan memeluk Pelangi dengan manja.
Mata Pelangi langsung berkaca kaca melihat semua ini. Mereka semua berkumpul disini demi untuk menyambutnya.
"Kalian semua disini." ucap Pelangi. Dia sudah ingin menangis sekarang.
"Iya, kami disini. Selamat datang dirumah ya. Kenapa malah mau menangis? Harus senang dong." ucap Nara sambil mengusap bahu Pelangi dengan lembut.
"Iya, aunty gak boleh nangis. Apa uncle jahat?" Tanya Zevanno pula. Dia terlihat tidak suka melihat Pelangi menangis.
"Enggak sayang, aunty nangis karena aunty bahagia." jawab Pelangi.
"Beneran, kalau uncle jahat, aunty bilang sama Vanno ya." pinta Vanno.
"Benar itu, Aryo gak akan bisa macam macam sekarang. Sudah ada bodyguard yang jaga Pelangi." sahut Bima. Dia menggendong Putri kecilnya yang baru berusia dua tahun.
"Saya suami yang paling baik tuan. Mana mungkin jahat sama istri sendiri." ucap Arya dengan bangganya.
"Heh... Kamu lupa kemarin sempat buat Pelangi pergi. Dasar bocah gemblung." Sahut Eyang putri terlihat ketus.
Reynand dan Bima langsung terbahak mendengar itu.
"Iya kan itu masa lalu eyang. Waktu itu saya khilaf." jawab Arya. Dia meraih tangan eyang putri dan mencium punggung tangan itu dengan lembut.
__ADS_1
"Jangan di ulangi lagi. Untung Pelangi masih mau sama kamu. Kalau enggak, udah jadi gila kamu sekarang." Ujar eyang putri.
"Iya eyang, gak akan saya ulangi lagi kok. Saya kapok." jawab Arya.
"Eyang, terimakasih sudah mau datang." kini giliran Pelangi yang menyalami punggung tangan wanita sepuh itu.
"Pasti datang. Aku mau lihat bocah gemblung ini. Kalau dia masih gak waras, bilang sama eyang." ujar eyang putri sembari dia yang mengusap perut buncit Pelangi.
Pelangi hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Dengar itu Yo. Harus jadi suami yang baik." Sahut Reynand.
"Kamu bilangin orang, awas saja jika kamu lupa diri." Ucap Eyang putri pula.
Bima kembali terbahak melihat itu. Jika sudah ada eyang putri, tuan muda ini tidak akan selamat.
"Eyang jangan begitulah. Kita kan sudah berdamai. Saya kan sudah jadi suami yang baik untuk Nara sekarang. Benar kan sayang." kata Reynand.
Eyang putri langsung mendengus gerah mendengar itu.
"Sudahlah, kita sama tuan. Jangan saling sindir." ucap Arya.
"Benar, kalian itu sama. Cuma aku yang paling benar." Sahut Bimantara dengan bangganya.
Eyang putri langsung meraih telinga Bimantara dengan kuat.
"Jangan sombong kamu, kemarin Gendis nangis karena kelakuan kamu yang gak pulang pulang. Apa itu namanya!" Seru eyang putri.
Arya dan Reynand kini tertawa begitu lepas melihat Bima. Begitu pula dengan yang lain. Bahkan Pelangi yang tadinya ingin menangis malah tidak jadi karena melihat tingkah mereka yang begitu lucu. Kenapa jika sudah berkumpul seperti ini, mereka selalu saja seperti anak anak. Apalagi jika sudah ada eyang putri.
"Tarik terus uyut!! Biar lepas telinga om Bima!!" Seru Zeze. Dia tertawa begitu lepas melihat Bima yang seperti itu.
"Ahhh eyang, kenapa eyang malah buka kartu sih!" Seru Bima begitu kesal. Dia mengusap telinganya yang memerah.
"Biar tahu mereka, kalau kamu juga gak sempurna sayang." ucap Gendis sambil tertawa lucu melihat wajah kesal Bima.
"Haha... Maka dari itu jangan sombong tuan. Sudahlah, ayo kita ke ruang tengah." ajak Arya.
"Ayo, Pelangi pasti lelah." Ajak Nara pula.
Mereka semua berjalan masuk keruang tengah, dimana disana sudah di suguhkan dengan makanan dan minuman untuk mereka santap.
Duduk bercengkrama dan bercanda bersama sembari berbagi oleh oleh yang Pelangi dan Arya bawa dari Jepang.
Bunda dan ayah sangat senang mendapatkan oleh oleh dari negeri orang itu. Apalagi mereka yang memang tidak pernah keluar negeri.
Begitu pula dengan anak anak yang ada disana.
Namun tiba tiba, Pelangi baru teringat sesuatu.
"Loh, bunda. Mia kemana?" Tanya Pelangi.
Arya yang duduk di dekat Pelangi juga langsung menoleh ke arah bunda.
"Tadi dia keluar, katanya mau ajak Ferdi minum. Tapi sampai sekarang belum kemari lagi." Jawab bunda.
"Teman kamu itu kelihatan banyak masalah ya." Sahut Eyang putri pula.
"Banyak masalah?" Gumam Pelangi.
Eyang Putri mengangguk pelan.
__ADS_1
"Iya, hidupnya kacau. Bahkan lebih pedih dari pada rasa sakit yang pernah kamu alami selama kamu hidup" jawab eyang.
Pelangi langsung tertegun mendengar itu.