Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Sarapan Pagi


__ADS_3

Hal yang tidak pernah terduga oleh Pelangi, dia bisa tinggal di rumah mewah seperti ini. Rumah yang sejak dulu selalu menjadi khayalan dan impian. Rumah besar dan dan luas, bergaya eropa modern dengan taman yang di penuhi dengan tanaman bunga mawar di belakangnya. Dilengkapi dengan kolam berenang dan juga tempat bersantai. Dan yang lebih membuatnya antusias adalah rumah ini memiliki dapur yang sangat canggih, dan tentunya juga sudah mempunyai fasilitas alat alat masak yang lengkap.


Pelangi benar benar tidak menyangka jika Arya akan mengajaknya tinggal di rumah ini. Bahkan Pelangi tidak habis fikir saat Arya menyerahkan surat rumah ini padanya. Surat rumah atas nama Pelangi sendiri, benar benar aneh suaminya itu. Apa Arya fikir Pelangi akan pergi jika tidak diberi rumah?? Lucu sekali.


Pelangi tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya jika mengingat malam dimana Arya menyerahkan surat rumah itu. Masih tidak menyangka Arya akan berbuat seperti itu.


"Sayang," Suara Arya membuat Pelangi sedikit terkejut. Dia yang sedang memasak sup di depan meja kompor langsung menoleh dan kembali tersenyum melihat Arya yang ternyata sudah bangun.


"Kamu kenapa ninggalin aku sih?" Tanya Arya begitu manja. Bahkan dia langsung memeluk Pelangi dari belakang dan mencium gemas pundak Pelangi yang sedikit terbuka.


"Udah siang mas. Pelangi kan harus buat sarapan untuk kita makan." Jawab Pelangi.


"Kan aku udah bilang, jangan masak dan jangan ngelakuin apapun. Kalau kamu kecapean gimana?" Arya semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Pelangi, sekaligus tangannya yang terus mengusap perut buncit Pelangi dengan lembut.


"Enggak capek kok, kan cuma masak aja. Yang beresin semua juga bu Nining sama yang lain." Jawab Pelangi. Arya hanya mendengus pasrah. Pelangi benar benar keras kepala, dia sangat bersemangat sekali berkutat di dapur sekarang. Apalagi dengan semua peralatan baru ini. Benar benar antusias.


"Aku jadi gemuk kamu masakin terus." Ucap Arya.


"Enggak apa apa, gemuk juga gak ngurangi kegantengan mas Arya kok." Jawab Pelangi.


Arya terkekeh mendengar itu.


"Bisa banget gombalan kamu. Aku gak bisa nolak kalau kamu yang masak. Soalnya selalu enak, bahkan bawaan nya pengen pulang cepat kalau lagi di luar." Ungkap Arya.


"Seenak itukah masakan Pelangi?" Tanya Pelangi.


"Iya, semua yang kamu kasih itu enak. Bukan cuma masakan kamu aja, tapi servis kamu juga." Bisik Arya.


Pelangi langsung mendengus senyum dan menggeliat saat Arya malah mencium tengkuknya. Nafas hangat Arya membuat bulu roma Pelangi meremang.


"Mas, ih. Mesum banget. Masih pagi juga." Ucap Pelangi sambil tangannya yang mematikan kompor.


"Karena masih pagi itu sayang, tingkat kemesuman seorang lelaki bertambah berkali lipat. Kamu kayak gak tahu aja deh." Sahut Arya.


Pelangi membalikkan tubuhnya dan memandang Arya dengan gelengan kepala.


"Iya iya, tahu kok. Udah paham juga kalau tenaganya malah bertambah kuat ketika pagi hari. Apalagi kalau di kasih usapan sayang." Ucap Pelangi, dia tertawa geli dengan ucapannya sendiri.


"Nah kalau udah tahu gitu kenapa malah pergi, bukannya kasih usapan dulu sama temennya anak anak." Kata Arya. Tangannya terus saja bermain di perut Pelangi.


"Kok temennya anak anak sih?" Tanya Pelangi.


"Ya karena dia yang sering jenguk anak kita kan" Sahut Arya dengan tawa kecil.


Pelangi mendengus senyum dan menampar dada Arya dengan gemas.


"Bisa aja deh kalau nyahut. Udah yuk kita sarapan, udah siang nih." Ajak Pelangi. Dia ingin mendorong tubuh Arya untuk menjauh, namun Arya malah mendekap tubuh Pelangi kearahnya.

__ADS_1


"Yuk, tapi aku mau sarapan ini dulu." Ucap Arya.


Belum lagi Pelangi sempat menjawab, Arya sudah menyambar bibirnya dan menciumnya dengan lembut, membuat Pelangi melebarkan matanya sekilas. Dia ingin mendorong dada Arya, namun tangan itu malah semakin menahan tubuhnya, hingga mau tidak mau Pelangi melayani keinginan Arya dulu. Bukannya menyudahinya dengan cepat, Pelangi malah terbuai dengan ciuman Arya. Bahkan dia sampai lupa dengan sarapan yang sudah dia buat.


Hingga tiba tiba...


"Astaga, maaf pak saya gak lihat!" Seru seseorang.


Arya dan Pelangi terkejut, mereka langsung melepaskan ciuman mereka dan menoleh keasal suara. Memandang Ferdi yang ternyata sudah berdiri di ruang makan itu.


"Ferdi! Kenapa gak permisi dulu kalau masuk." Ucap Arya.


"Tahu nih bang Ferdi, jadi ngelihat adegan dewasa kan." Sahut Pelangi pula. Wajahnya memerah, namun dia berusaha untuk meredam rasa malunya.


Ferdi tertawa canggung sembari mengusap tengkuknya yang meremang.


"Maaf pak, non. Saya tadi udah tanya bu Nining, katanya kalian di sini. Jadi saya langsung kemari aja." Jawab Ferdi.


"Ck, sudahlah. Untung saja kami gak lagi main disini." Ucap Arya yang langsung duduk di kursi makan.


"Ya paling saya lihat adegan dewasa live streaming pak." Sahut Ferdi.


"Sembarangan, kamu kira kami apa." Ucap Arya.


"Iya bang, Pelangi kan bukan Miyabi." Sahut Pelangi, dia berjalan ke meja makan sembari membawa supnya.


"Gak kenal, cuma tahu." Jawab Pelangi.


"Heh... kamu diam diam pasti nakal." Mata Arya memicing memandang Pelangi.


Pelangi tertawa malu dan langsung menggeleng pelan.


"Enggak kok, mana ada. Pelangi kan polos anaknya." Ucap Pelangi. Tangannya mulai mengambil makanan untuk Arya.


"Polos dari mana non, bisa kenal Miyabi gitu." Sahut Ferdi pula.


"Ck... udah ah, kenapa malah bahas dia. Sarapan dulu nih, bang Ferdi ayo duduk. Kita sarapan bareng bareng." Ajak Pelangi, dia mengelak untuk tidak lagi membahas tentang artis panas itu.


Namun pandangan mata Arya masih terus memandang Pelangi dengan curiga. Dia tersenyum simpul dan menarik pinggang Pelangi untuk mendekat kearahnya.


"Kamu sering nonton dia ya." Bisik Arya.


"Mas ih" Pelangi menampar lengan Arya dengan kesal. Wajah merahnya tidak bisa berbohong.


"Ngaku sayang." Ujar Arya.


"Iya, biar tahu gaya apa aja yang bikin suami senang." Bisik Pelangi, terdengar ketus, namun mampu membuat wajah Arya merona.

__ADS_1


Ferdi yang masih berdiri di hadapan mereka hanya bisa mengusap dada. Kenapa kelakuan pasangan suami istri ini random sekali. Apa mereka tidak ingat jika disini masih ada orang???


"Ehmmm... pak, masih ada saya lo disini." Ucap Ferdi akhirnya.


Arya langsung menoleh kearahnya, wajahnya santai dan tidak merasa bersalah sama sekali. Benar benar menyebalkan di mata Ferdi.


"Oh, saya lupa." Jawab Arya.


Lihatlah, jika bukan bos. Sudah ingin sekali Ferdi ajak bergelut sekarang.


Pelangi tertawa dan menyiapkan sarapan untuk Ferdi sekarang.


"Udah bang, sini duduk. Maafin kelakuan kami ya. Tapi kan abang memang udah terbiasa lihat mas Arya begitu." Ucap Pelangi sembari menyerahkan semangkuk sup buatannya di dekat Ferdi.


"Iya non, karena lihat kemesraan kalian setiap hari saya jadi pengen cepat nikah." Jawab Ferdi.


"Ya nikah saja. Umur kamu juga udah tua. Jangan kelamaan, entar kadaluarsa kamu." Sahut Arya.


Ferdi langsung berdecak kesal mendengar itu, sepertinya Arya lupa diri.


Pelangi tertawa dan menggeleng pelan.


"Udah duduk, sarapan. Ngapain masih berdiri." Kata Arya lagi.


"Gak apa apa nih pak. Kebetulan emang belum sarapan." Ucap Ferdi, dia tersenyum malu memandang Arya dan Pelangi.


"Sok malu malu kamu. Duduk sajalah." Kata Arya lagi.


Ferdi mengangguk dan langsung duduk di kursinya. Begitu pula dengan Pelangi.


"Padahal bang Ferdi ganteng, kenapa belum nikah?" Tanya Pelangi. Dia makan semangkuk berdua dengan Arya. Kebiasaan yang tak pernah tertinggal.


"Kamu kok malah muji dia sih sayang." Arya terlihat kesal. Namun Pelangi dan Ferdi malah tertawa.


"Bukannya muji mas, cuma heran aja. Rasanya bang Ferdi lebih cocok jadi bos dari pada jadi supir kan." Ungkap Pelangi.


Uhuk uhuk uhuk


Ferdi langsung tersedak mendengar itu.


"Tuh lihat, langsung tersedak orangnya." Sahut Arya.


Pelangi terkekeh dan menyerahkan air putih pada Ferdi.


"Bang Ferdi ih, baru gitu juga. Udah kayak orang kaya yang hampir terbongkar penyamarannya aja." Ucap Pelangi.


"Enggak non." Jawab Ferdi terlihat canggung.

__ADS_1


__ADS_2