
Pelangi berjalan gontai masuk kedalam rumah. Hatinya terasa sesak dan mengambang. Apalagi ketika melihat bunga bunga tulip yang terpajang rapi disetiap sudut rumah. Bunga tulip yang menjadi lambang cinta Arya untuk kekasihnya.
Ungkapan Nara tentang Arya tadi sungguh membuat Pelangi tidak berdaya. Bagaimana mungkin dia bisa merebut hati Arya jika cinta Arya sudah begitu besar untuk kekasih nya itu. Meski sudah tidak ada, tapi Pelangi tahu jika disetiap pandangan mata Arya, hanya wajah kekasih nya lah yang dia lihat. Hingga keberadaan nya pun bagai angin lalu.
Pelangi duduk dengan mata yang berair, bahkan tidak lama air mata itu jatuh menetes membasahi wajah sendu nya. Kenapa sesakit ini. Ini adalah cinta pertama nya, tapi kenapa malah terasa sulit.
Saingan nya adalah seseorang yang telah pergi. Tapi meninggalkan sejuta kenangan dan keindahan untuk Arya yang tidak mungkin bisa untuk dilupakan.
Bagaimana caranya membuat Arya untuk bisa sedikit melihat kearahnya?
Pelangi tidak bisa mengabaikan perasaan nya begitu saja. Rasa cinta yang dia miliki sudah cukup dalam. Apalagi kini dia sudah menjadi istri Arya.
Tidak bisa kah Arya menerima nya walau hanya sedikit.
Ya sedikit saja, sepaling tidak bisa menerima dia sebagai istrinya.
Zelina... Zelina Adiputra. Adik dari suami Nara. Dan sudah jelas dia pasti seseorang yang luar biasa. Yang bisa mengikat hati Arya hingga seperti ini. Zelina pergi dengan membawa seluruh hati Arya. Dan bagaimana caranya Pelangi bisa menumbuhkan perasaan itu lagi???
Untuk menyerah, rasanya Pelangi belum ingin.
Apalagi setelah mendengar ungkapan Nara. Jika cinta maka harus bertahan dan membuat kesan dihati Arya. Bagaimana pun caranya. Tapi jika tidak, lebih baik untuk tidak berharap.
Pelangi langsung menangkup wajahnya dan menangis disana.
Untuk tidak berharap, itu tidak mungkin.
Karena cinta pasti berharap untuk dibalas.
Tapi..... bagaimana caranya jika semua yang ada didalam kepala Arya hanya tentang kekasih nya itu.
"Aaahhhh bagaimana caranya???" gumam Pelangi yang langsung terbaring diatas sofa dan menangis kesal disana.
Namun beberapa saat kemudian, dia kembali beranjak dan duduk dengan tegak. Mengusap wajahnya dengan kasar dan memandang kelantai atas, dimana hanya ada kamar Arya disana.
Seminggu lebih Pelangi menjadi istrinya, namun dia sama sekali tidak pernah naik keatas sana. Selagi Arya tidak ada, Pelangi ingin memeriksa nya. Siapa tahu tidak dikunci.
Ya ... Pelangi akan memeriksa nya.
Dia langsung beranjak dan langsung berlari menaiki anak tangga, hari sudah sore dan biasanya Arya akan pulang malam karena dia lembur. Semoga saja disini tidak ada cctv.
Mata Pelangi mengedar seiring dengan langkah kakinya yang menapaki anak tangga itu. Berharap tidak ada kamera cctv disini, jika iya. Bisa dia pastikan Arya akan marah besar nantinya. Tapi beruntung nya, memang tidak ada disini. Dan Pelangi bisa bernafas lega.
Langsung saja dia mendekat kearah kamar Arya, karena memang hanya ada satu kamar dilantai dua ini. Rumah Arya minimalis, dan tidak terlalu besar, jadi tidak perlu harus kesana kemari untuk mencari kamar.
Pelangi memutar handle pintu, namun nihil. Pintunya malah dikunci. Membuat dia langsung tersandar dengan lemas.
Menyebalkan memang....
__ADS_1
'jika kamu benar benar mencintainya, maka berusahalah untuk merebut hati Arya. Tapi jika tidak, lebih baik menyerah dan jangan berharap apapun yang akan membuat kamu terluka nantinya'
Perkataan Nara kembali terngiang dihati Pelangi.
Dia menggeleng pelan.
Tidak .... Pelangi tidak akan menyerah.
Masih ada waktu untuk dia mencoba merebut hati Arya.
Ya, jika tidak bisa membuat Arya melupakan Zelina, setidak nya bisa mendapatkan secuil cinta dan rasa simpati dari lelaki itu.
"Semangat Pelangi. Perjalanan masih panjang. Sudah sejauh ini, siapa yang akan mau dengan mu yang janda dan sudah tidak perawan. Semangat pasti bisa" gumam Pelangi pada dirinya sendiri.
Tapi ketika melihat bunga tulip lagi lagi menghiasi lantai itu, membuat Pelangi kembali lemas.
"Tapi susah........." rengek nya yang kembali menangis kesal didepan pintu kamar Arya.
....
Sementara diperusahaan....
Hari sudah senja bahkan sudah mulai gelap. Arya nampak merenggangkan otot ototnya yang terasa pegal dan kaku. Padahal belum malam, tapi entah kenapa dia merasa tubuhnya tidak begitu sehat hari ini. Apa karena sudah lama tidak meminum vitamin? Atau karena sudah setiap malam dia yang lembur?
Entahlah...
Ceklek
Pintu yang terbuka membuat Arya menoleh. Ternyata Nina yang datang dengan segelas kopi ditangan nya.
"Pak wajah bapak pucat. Bapak tidak enak badan?" tanya Nina seraya meletakkan kopi dimeja Arya.
Arya mengangguk
"Sepertinya saya akan pulang saja sekarang" jawab Arya
"Apa perlu saya belikan obat dulu pak?" tanya Nina. Namun Arya menggeleng dan langsung beranjak dari tempat duduk nya.
"Saya mau pulang saja. Kamu tolong bereskan ya. Barang barang saya biar saja disini" ujar Arya yang langsung meraih jas dan juga ponsel nya di atas meja.
"Iya pak. Tapi ini kopinya bagaimana?" tanya Nina seraya menunjuk kopi yang sudah dia buat.
"Minum saja, saya tidak mau minum kopi malam malam lagi" jawab Arya yang langsung keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Nina yang nampak cemberut dan memandang kesal punggung Arya.
"Aku kan tidak mungkin meletakkan obat peransang disini. Kalau aku yang menjadi istrinya iya" gerutu Nina yang langsung membereskan meja Arya yang berantakan.
Sementara Arya langsung keluar dari gedung perusahaan itu menuju mobil nya. Dia menyetir sendiri, Arya tidak suka disupirin oleh orang lain.
__ADS_1
Entah lah, sejak dulu dia memang tidak suka dekat dan dilayani oleh orang orang. Meskipun sekarang dia sudah mempunyai segalanya. Tapi Arya memang tidak suka kemewahan dan dilayani.
Satu jam lebih beberapa menit, Arya sudah tiba dirumah nya. Kepala nya benar benar pusing, dan sepertinya dia memang akan demam sekarang. Sepertinya dia kelelahan karena tidak ada beristirahat akhir akhir ini.
ceklek
Belum sempat Arya membuka pintu, Pelangi ternyata sudah lebih dulu membukakan pintu untuk Arya. Dan lagi lagi senyum secerah mentari itu tersemat diwajahnya saat menyambut kepulangan Arya.
"Selamat malam pak" sapa nya.
Namun Arya hanya diam dan langsung masuk kedalam rumah. Tapi tiba tiba matanya memicing saat melihat pemandangan aneh yang ada disudut dinding diatas meja hias ruangan itu.
Ada setangkai bunga mawar yang terselip diantara rimpun tulip yang sudah tersusun indah.
Arya langsung menoleh pada Pelangi yang berjalan mengikutinya.
"Siapa yang meletakkan bunga mawar itu disana?" tanya Arya. Wajahnya terlihat tidak suka dan kesal. Membuat Pelangi langsung tertunduk takut.
"Saya pak" jawab Pelangi dengan suara yang terdengar begitu pelan.
Rahang Arya langsung mengeras dan memandang Pelangi dengan tajam.
"Saya sudah bilang padamu kan. Lakukan apapun yang kamu suka, tapi jangan sentuh apapun milik saya. Kamu tidak dengar!" ucap Arya terlihat begitu menggeram. Dia bahkan langsung mencabut mawar itu dan menghempaskan nya kelantai.
Membuat Pelangi langsung terkesiap dengan pandangan yang sedih.
"Jangan mencoba mengganti apapun yang ada dirumah ini" desis Arya, dan setelah mengatakan itu dia langsung berbalik arah meninggalkan Pelangi.
"Tapi saya tidak mengganti nya pak. Hanya menyelipkan nya diantara bunga bunga itu" seru Pelangi.
Langkah kaki Arya langsung terhenti dan kembali menoleh pada Pelangi.
"Saya tidak berniat untuk mengganti, saya hanya ingin bapak melihat ada bunga lain didalam rumah ini" ucap Pelangi lagi. Namun kini dengan suara yang melemah memandang Arya dengan pandangan yang sendu.
Arya tersenyum sinis dan menggeleng.
"Tidak akan ada bunga lain dirumah ini. Apapun itu!" tegas Arya, dan dia langsung meninggalkan Pelangi yang nampak mematung.
Langkah kaki Arya yang menapaki anak tangga itu seolah terasa menapaki hatinya yang terasa begitu sakit dan sesak.
Air mata kembali menetes diwajah Pelangi seiring dia yang berjongkok dan meraih bunga mawar yang dibuang Arya kelantai.
Sakit sekali....
Ini hanya sekuntum bunga, tapi Arya sudah memiliki bunga lain yang menjadi penghuni hatinya.
Bukan sekedar rumah, tapi hati yang sudah memiliki penghuni nya sendiri.
__ADS_1
Apakah bisa dia menumpang dirumah yang penghuni nya sudah begitu menguasai semua nya??? Hingga sang pemilik tak lagi bisa melihat keindahan lain???