
Tiada hal yang paling membahagiakan hati Pelangi ketika melihat orang yang dia cinta dan dia harapkan ada dihadapan nya saat ini.
Menemani rasa sakitnya, melayani apa yang dia butuhkan, dan tentunya, tidak pergi meninggalkan nya meski dia terlihat jengah.
Ya, bahkan sampai di siang hari Arya hanya dirumah. Dia sama sekali tidak ada pergi kemanapun meninggalkan Pelangi. Bahkan makanan pun Arya yang memasak.
Seperti saat ini, dia masuk ke dalam kamar dengan semangkuk bubur ditangan nya. Masih panas karena uap nya masih terlihat mengepul. Sebenarnya Pelangi sudah bisa berjalan sendiri, hanya saja, entah kenapa melihat Arya yang seperti ini membuat Pelangi tidak ingin beranjak dari tempat tidur. Tidak ingin terlihat sehat dan tidak ingin terlihat kuat.
Dia masih betah dengan perlakuan Arya hari ini. Meski wajah Arya ketus dan dingin, tapi tetap saja Arya yang mau menemaninya membuat Pelangi tidak ingin melewati momen momen seperti ini.
"Makanlah" ujar Arya seraya meletakkan mangkuk bubur diatas meja.
Pelangi beranjak dan duduk menyandar ditempat tidur. Memandang bubur yang dibuat oleh Arya. Pelangi tidak suka bubur sebenarnya, dia benci makanan lembek dan cair seperti itu. Tapi ini adalah hasil tangan Arya. Tidak mungkin dia lewatkan.
"Terimakasih banyak pak, maaf saya merepotkan" ucap Pelangi seraya meraih mangkuk bubur itu dan memandang nya dengan pandangan getir.
Penampilan nya benar benar tidak menarik.
"Habiskan" kata Arya lagi. Bahkan nada bicaranya terdengar begitu memaksa.
Pelangi mengangguk pelan dan mulai menyendok bubur itu. Bubur dengan toping irisan ayam yang sedikit kering. Tidak tahu Arya mendapatkan resep ini dari mana. Yang jelas untuk ukuran seorang lelaki, ini sudah cukup bagus.
"Bapak sudah makan?" Tanya Pelangi
"Sudah" jawab Arya yang kini memandangi bunga mawar Pelangi yang ada diatas meja. Bunga mawar layu.
"Makan mie instan lagi?" Tebak Pelangi
"Itu yang ada" jawab Arya seadanya.
"Maaf ya pak. Saya belum bisa memasak untuk bapak hari ini" ucap Pelangi
"Kapan kamu akan memakan bubur itu jika sejak tadi berbicara terus" tanya Arya.
"Masih panas pak" jawab Pelangi
Arya mendengus dan memandang jengah pada Pelangi.
"Kamu sudah bisa banyak bicara, berarti kamu sudah sembuh kan. Siang ini saya ada rapat penting. Dan jangan lagi merepotkan saya" ujar Arya
"Iya pak. Saya sudah baik baik saja. Apalagi sudah makan bubur ini" jawab Pelangi dengan senyum secerah mentari.
Arya hanya mencebikkan bibirnya sekilas dan menoleh kearah meja kembali.
"Setelah ini minum obat mu. Jangan sakit lagi, jika kamu sakit, maka saya akan memulangkan mu kerumah orang tuamu" ancam Arya
"Iya pak. Terimakasih sudah berbaik hati menjaga saya" ucap Pelangi
"Jangan besar kepala. Saya melakukan ini hanya karena rasa kemanusiaan. Tidak mungkin saya menelantarkan kamu yang sedang tinggal dirumah saya" sahut Arya.
Dan lagi lagi, perkataan Arya itu benar benar membuat hati Pelangi kembali sedih. Kenapa suka sekali berkata yang menyakitkan seperti itu.
__ADS_1
"Iya pak, saya tahu. Tapi terimakasih " ucap Pelangi masih dengan senyum nya. Meski lagi lagi dia harus menahan hati.
Arya hanya diam dan membalikkan tubuhnya. Namun baru berjalan beberapa langkah, dia kembali menoleh pada Pelangi.
"Saya pergi sekarang, jangan biarkan siapapun kerumah ini. Atau jangan membuat sesuatu yang membuat saya repot" tekan Arya.
Pelangi mengangguk pelan.
"Iya pak, baik." Jawab Pelangi
Arya kembali berjalan keluar kamar. Namun ketika sampai di ambang pintu seruan Pelangi membuat nya kembali menoleh.
"Bapak hati hati, jangan lupa makan siang" ucap Pelangi.
"Tidak usah sok perhatian" sahut Arya. Yang bahkan dengan tega langsung pergi melengos dan meninggalkan Pelangi.
Meninggalkan Pelangi yang hanya bisa menghela nafas panjang dan memandang kepergian nya dengan pandangan nanar.
Pelangi kembali menoleh kearah mangkuk buburnya. Mengambil sesendok bubur itu dan mulai memakan nya dengan tidak berselera. Tapi ketika sudah dirasa, kenapa bubur ini terasa nikmat sekali???
Dengan mata yang berkaca-kaca Pelangi memakan bubur itu. Bubur keramat buatan Arya. Yang rasanya benar benar tiada dua.
Pelangi tidak suka bubur, tapi dengan bubur buatan Arya dia mau memakan nya. Apa ini juga karena bawaan bayi?
Apa anak yang Pelangi kandung juga merindukan ayahnya, hingga dia mau memakan bubur yang tanpa rasa ini??
Pelangi memakan bubur itu dengan air mata yang terus meleleh.
Benar benar haru mendapatkan hal sesederhana ini. Meski perkataan Arya juga selalu menyakiti hati.
...
Malam hari nya....
Hari sudah cukup larut. Namun Arya belum pulang kerumah. Pelangi sudah lebih baik, meski badan nya masih tidak enak.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dan beruntungnya karena malam ini hujan tidak lagi turun. Jadi Pelangi bisa merasa nyaman dan tenang meski sendirian.
Dia duduk diruang tamu, berbalut selimut tebal menunggu Arya pulang. Semoga saja suami nya itu bisa cepat pulang. Setidaknya meski tidak tidur satu kamar, ada bersama Arya dalam satu rumah, sudah membuat Pelangi tenang.
...
Sementara di tempat lain....
Arya masih berada disebuah restauran. Duduk sendirian dengan tangan yang masih mengaduk aduk air minumnya.
Dia baru saja selesai makan malam dengan Bimantara tadi. Dan sekarang, Bimantara sudah pulang, namun Arya yang masih betah duduk disini untuk menghabiskan waktu.
Arya masih malas untuk pulang. Dirumah itu dia hanya merasakan dilema yang berkepanjangan. Dan Arya benar benar tidak suka.
Ada Zelina, dan ada Pelangi. Benar benar membuat saraf di dalam kepalanya seperti benang kusut yang entah kapan akan selaras lagi. Benar benar menjengkelkan. Bahkan Arya sampai tidak tahu lagi harus mengungkapkan isi hatinya yang rumit ini.
__ADS_1
Satu bulan lebih beberapa hari, perjanjian pernikahan nya dengan Pelangi akan usai. Dan setelah itu Arya akan kembali sendirian dirumah itu. Kembali sepi dan hanya ditemani oleh bayang bayang Zelina nya.
Gadis kecil yang menjadi harapan Arya dulunya. Tapi sekarang, semua telah sirna.
"Pak Arya"
Suara seseorang membuat Arya sedikit terkesiap.
Dia langsung menoleh keasal suara. Alisnya sedikit mengernyit melihat siapa yang menyapanya.
Ternyata Rangga, dia datang dengan seorang gadis. Mungkin kekasihnya.
"Sendirian saja pak" sapa Rangga
"Ya, tadi bersama teman tapi sudah pulang duluan" jawab Arya
Rangga mengangguk dan mengedarkan pandangan matanya keruangan itu yang ternyata sudah penuh dan terisi. Hanya ada beberapa bangku kosong dipojok resto. Dan Rangga tidak suka.
"Boleh bergabung pak, masih penuh kelihatan nya" tanya Rangga dengan senyum canggungnya. Sedangkan gadis yang bersama Rangga, memandang lekat pada Arya.
"Ya, duduk lah. Saya juga sudah selesai" jawab Arya.
"Ah apa kami menganggu waktu santai bapak?" Tanya Rangga
"Tidak, saya memang sudah selesai. Bahkan sudah habis dua gelas kopi. Duduklah saya pamit dulu" ucap Arya yang langsung beranjak dari duduk nya.
"Baiklah pak, hati hati. Saya kira bapak pergi dengan kekasih bapak tadi" ucap Rangga pada Arya.
Arya mematung sekilas memandang Rangga
"Saya tidak memiliki kekasih" jawab Arya
"Oh mungkin istri ya pak" sahut gadis itu pula.
Arya terdiam, namun sedetik kemudian dia menggeleng pelan dan langsung meninggalkan Rangga dan gadis itu yang memandang nya dengan pandangan tidak menentu.
"Lihatkan, dia tidak mau mengakui Pelangi sebagai istrinya" gerutu gadis itu. Gadis yang tidak lain adalah Mia.
Rangga menghela nafas dan juga duduk dikursi dengan pandangan mata yang memandang kepergian Arya keluar dari resto itu.
"Bagus lah jika begitu" jawab Rangga. Membuat Mia langsung memandang Rangga dengan aneh.
"Bagus dari mana kak" tanya Mia begitu heran.
"Ya bagus, karena ketika mereka sudah pisah nanti aku masih punya kesempatan untuk memiliki Pelangi, atau mungkin sekarang saja aku merebutnya" jawab Rangga
Mia langsung menempelkan tangan nya didahi Rangga.
"Masih waras gak sih kak? Mau jadi Pebinor?" Tanya Mia.
Rangga terkekeh kecil dan mengendikkan bahunya sekilas.
__ADS_1
"Jika perlu" jawab nya begitu santai.