Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Kegalauan Arya


__ADS_3

Arya mengetuk ngetuk jari tangan nya di atas meja. Siang ini dia baru saja selesai rapat bersama para petinggi perusahaan yang lain. Dan sekarang, Arya nampak duduk melamun di meja kerjanya.


Wajahnya nampak bimbang, ragu dan merasa bingung untuk melakukan hal yang sudah dia rencanakan. Hingga perasaan tidak enak itu membuat Arya menjadi tidak fokus Hari ini.


Bahkan pekerjaan yang ada di depan mejanya pun sama sekali belum dia sentuh. Pikirannya seperti tidak berada disini.


Tok tok tok


Suara pintu yang di ketuk membuat Arya menoleh dengan malas. Dan ternyata Nina yang masuk. Wajah gadis tua itu terlihat cemberut, dan selalu seperti itu jika mereka hanya berdua.


Entah ada apa dengan sekretaris cantiknya ini. Yang jelas, sejak dia tahu tentang hubungan Arya dan Pelangi, Nina berubah menjadi sedikit ..... Aneh.


"Pak... Setengah jam lagi ada meeting bersama tuan Geno" ucap Nina seraya dia yang meletakkan berkas berkas yang dia bawa ke atas meja Arya.


"Batalkan sajalah" jawab Arya seenak nya. Bahkan nada bicaranya terdengar begitu lesu.


Nina memandang Arya dengan mata yang memicing, sejak pagi tadi lelaki gondrong ini benar benar membuat nya sibuk. Dan sekarang, apalagi ini?? Membatalkan meeting, yang benar saja!


"Pak... Gak bisa gitu dong. Kan udah janji, gak enak lah sama mereka" sahut Nina.


"Ck... Saya lagi males. Batalkan saja, lagipula baru pertemuan pertama" jawab Arya


Nina mendengus kesal. Memandang Arya dengan pandangan mata yang ingin marah. Tapi.... tidak bisa.


"Bapak ini kenapa sih, dari pagi udah buat repot saya terus. Meeting gak fokus, banyak jadwal yang kacau, marahin karyawan seenak nya, dan sekarang, apalagi? Batalin meeting penting itu. Ya ampun. Lama lama saya stress tahu pak ngadepin bapak" omel Nina panjang lebar. Bahkan nafasnya terlihat memburu naik turun memandang Arya.


"Kenapa kamu yang stress? Saya yang sedang stress sekarang. Kenapa juga kamu ikut ikut?" tanya Arya.


Nina langsung terperangah mendengar itu. Kenapa Arya malah bertanya kenapa???????


"Kok malah nanyak, ya saya stress karena ngadepin sikap bapak hari ini" sahut Nina


Arya menghela nafas, menopang dagunya dengan tangan dan memandang acuh ke depan.


"Setia sekali kamu ya. Mau merasakan apa yang saya rasa" jawab Arya


Brak


Arya langsung terlonjak kaget saat Nina tiba tiba menggebrak mejanya dan langsung duduk di hadapan Arya. Memandang nya dengan penuh kesal.


"Kenapa sih, saya terkejut tahu?" tanya Arya


"Nanyak lagi kenapa. Bapak tuh yang kenapa. Ngeselin banget emang. Saya udah capek tahu pak, bapak nambahin kerjaan saya!" seru Nina


"Ya kan memang sudah tugas kamu. Kenapa kamu marah marah. Lagi pms?" tanya Arya.


Dan sungguh demi apapun, Nina benar benar ingin mencakar wajah bos gondrong nya ini.


Senang sekali Nina saat melihat Arya yang sudah mulai menghangat dan banyak bicara seperti dulu, seperti sebelum kemalangan itu menimpa dirinya.


Tapi Nina juga stress karena Arya yang menyebalkan seperti ini. Selalu saja membuat Nina kesal karena ulah nya. Apa Arya tidak tahu jika Nina sudah mati matian menahan rasa sakit hati, kesal dan cemburu???


Kenapa Arya tidak mengerti juga.


"Heh"


Nina terkesiap dan langsung mengerjapkan matanya.


"Kenapa lagi malah melamun. Sudah sana batalkan meeting itu. Saya benar benar lagi tidak fokus" ujar Arya.


"Gak fokus kenapa? Pasti gara gara udah punya istri" tuding Nina. Wajahnya benar benar terlihat kesal.


"Iya, saya lagi mikirin Pelangi." jawab Arya dengan helaan nafas yang panjang.


"Makanya jangan beristri. Biar gak pusing" sahut Nina.


"Kalau tidak beristri semakin pusing saya" jawab Arya


Nina langsung mencebikkan bibirnya sekilas dan mendengus gerah.


"Dari pada punya istri tapi bapak malah jadi begini. Semua berantakan karena istri bapak itu" dengus Pelangi.

__ADS_1


"Bukan karena dia. Tapi karena fikiran saya sendiri. Ah ... Kamu tidak akan mengerti. Sudah sana pergi, kenapa sekarang pemarah sekali. Kamu tidak takut wajah mu itu cepat tua?" tanya Arya.


"Saya memang udah tua, dan semua karena bapak" sahut Nina dengan cepat.


"Lah kenapa malah jadi karena saya. Kan kamu yang marah marah terus" ucap Arya dengan heran.


Jika biasanya dia akan marah dan mengusir Nina jika Nina berani berbicara banyak atau bahkan sedikit saja berani melawan nya, maka sekarang, Arya malah menanggapi nya dengan santai.


Benar benar Arya yang menyebalkan sudah kembali!


"Ya saya marah marah karena bapak, saya cepat tua karena bapak. Bahkan sekarang saya jadi perawan tua juga karena nunggu bapak!" jawab Nina. Dia benar benar kesal sekarang. Kenapa Arya jadi menyebalkan sekali.


Sedangkan Arya hanya terkekeh geli melihat wajah kesal itu.


"Saya terus, saya terus. Kan sudah saya bilang jangan nunggu saya sejak dulu. Kamu ngeyel. Apalagi sekarang saya sudah punya Pelangi. Kalau kamu masih seperti ini, marah marah gak jelas, ngomel terus, nanti saya pindah tugaskan kamu ke perusahaan cabang saja lah" ujar Arya


Nina langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Kenapa malah di pindahkan?" tanya Nina


"Ya habisnya kamu bukannya bantu ngurangi beban saya. Tapi malah menambahi" jawab Arya.


Nina langsung berdecak kesal dan beranjak dari kursi nya.


"Iya iya!!! saya gak lagi marah marah. Saya batalin meeting hari ini. Biar bapak puas!!" sahut Nina


Arya hanya mengernyitkan dahinya dan memandang Nina dengan aneh.


"Permisi!" ucap Nina sembari dia yang melengos dan langsung pergi meninggalkan Arya yang terperangah dan menggeleng pelan.


"Kenapa dia jadi pemarah sekali" gumam Arya.


Ya, bahkan wajah kesal Nina terbawa sampai ke luar ruangan Arya. Dia bahkan tidak lagi memperhatikan atau memperdulikan beberapa ob atau petinggi perusahaan yang lewat disana.


Duduk dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kursi.


"Kenapa Nina?"


"Oh selamat siang nona. Maaf saya tidak melihat kedatangan nona" jawab Nina dengan senyum getir nya.


"Bagaimana mau melihat, sejak tadi saya lihat kamu kesal begitu. Kenapa? Arya buat ulah lagi?" tanya Nara.


Nina menghela nafas berat dan mengangguk pelan. Wajahnya masih terlihat begitu kesal dan itu yang membuat Nara tersenyum lucu. Entah apa yang sudah di katakan Arya pada sekretaris nya ini. Yang jelas, pasti sesuatu yang membuat kesal.


Nara sudah tahu kelakuan Arya sejak dulu.


"Pak Arya hari ini gak fokus nona. Rapat berantakan, karyawan di marahi, pekerjaan di alihkan sama saya semua, bahkan sekarang dia membatalkan meeting penting dengan perusahaan GN" ungkap Nina


Nara hanya bisa menghela nafas dan mengangguk pelan mendengar penuturan Nina. Dia tahu apa yang menyebabkan Arya seperti itu. Pasti karena rencana yang sudah mereka bahas beberapa waktu lalu.


"Yasudah, untuk hari ini kamu handle dulu ya. Arya sedang pusing, biar saya yang melihat kedalam" ujar Nara.


Nina hanya mengangguk pelan. Dia tersenyum tipis memandang Nara yang pergi masuk ke dalam ruangan Arya.


Hanya Nara yang bisa membuat Arya menurut dan berpikiran waras.


Dan benar saja, saat masuk kedalam ruangan itu, Nara bisa melihat Arya yang sedang menopang dagu dan memandang keluar dinding kaca ruangan nya. Bahkan sama sekali dia tidak menyadari kehadiran Nina disana.


Wajah Arya terlihat menyimpan beban, bahkan seperti rasa ragu dan takut.


"Kenapa melamun?" tanya Nara. Dan tentu saja Arya yang sedang melamun langsung terkesiap kaget.


Dia menoleh kearah Nara dengan cepat. Nona muda ini langsung duduk di hadapan nya.


"Kamu sudah seperti hantu Nara. Mengejutkan saja" gerutu Arya.


Nara mendengus senyum dan menggeleng pelan. Dia langsung mengeluarkan beberapa foto dari tasnya.


"Nih, aku Nemu beberapa tempat yang pas untuk pesta kalian nanti" ucap Nara.


Bukan nya meraih foto itu, namun Arya malah semakin bingung. Bahkan dia merebahkan kepalanya diatas meja. Membuat Nara semakin bingung memandang Arya.

__ADS_1


"Kamu tahu aku takut Nara. Sangat takut" gumam Arya.


Nara tertegun, memandang Arya dengan pandangan yang berubah sendu.


"Aryo.... Tapi ini Pelangi. Bukan Zelina. Dan tidak mungkin kejadian serupa terulang lagi" ucap Nara


"Tapi aku masih trauma dengan kejadian itu. Bisakah tidak usah ada pesta. Cukup meresmikan pernikahan kami saja" tawar Arya, dia memandang Nara dengan pandangan mata begitu memelas.


"Yo... Kamu tidak mau membahagiakan Pelangi? katanya kamu sudah cinta dengan dia?" tanya Nara.


Arya menghela nafas berat dan menegakkan kembali tubuhnya.


Bukan tidak mau membahagiakan, hanya saja kejadian itu benar benar membekas di hati Arya. Kejadian dimana hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia, tapi malah menjadi hari yang begitu berat untuk Arya ingat.


"Nara... Justru karena aku sudah mencintai Pelangi. Aku benar benar takut dan trauma jika itu terulang lagi" jawab Arya


Nara tersenyum tipis dan mengusap lengan Arya yang ada di atas meja.


"Tuhan tidak sejahat itu dengan kamu Yo. Percayalah padaku. Aku juga sedih dan takut, tapi kita juga tidak bisa mengabaikan Pelangi. Dia juga seorang wanita, dan setiap wanita pasti ingin yang terindah dalam pernikahan mereka. Kamu tidak ingin membuat dia bahagia dengan hal itu?" tanya Nara.


Arya tertunduk lirih. Mendengar perkataan Nara hatinya benar benar tidak menentu. Siapa yang tidak ingin membahagiakan istrinya sendiri. Bahkan jika bisa, seluruh dunia pasti akan Arya berikan pada Pelangi agar dia bahagia.


Tapi...


Arya takut...


Sangat takut.


"Biar aku dan bunda Pelangi yang mengurus. Kamu hanya perlu tentukan dimana pesta yang ingin kalian selenggarakan. Jangan pikirkan hal yang lain. Itu hanya akan membuat kamu stress. Kamu tidak ingin kan membuat Pelangi bersedih karena kamu yang seperti ini?" tanya Nara lagi.


Arya langsung menggeleng pelan.


"Jika begitu, percayalah. Dan teruslah berdoa agar niat baik kita terlaksana" ujar Nara.


"Tapi jangan ada fitting Gaun Pengantin lagi" pinta Arya.


Nara tersenyum dan mengangguk pelan.


"Iya, tidak akan ada. Aku dan desainer nya yang akan kerumah untuk mengukur tubuh Pelangi. Kamu tenang saja. Pelangi tidak akan kemanapun sebelum hari pernikahan itu" jawab Nara.


Untuk yang kesekian kali, Arya hanya mampu menghela nafas panjang dan mengangguk pelan.


"Jangan pikirkan apapun oke. Kamu harus fokus. Jangan buat kekhawatiran kamu mempengaruhi semuanya. Apalagi Pelangi sedang hamil saat ini. Jangan sampai karena sikap kamu ini dia jadi stress. Kamu tahu dampak nya tidak bagus untuk calon anak kalian" ujar Nara


"Iya, aku tahu" jawab Arya.


"Sibukkan dirimu tentang Pelangi dan calon anak mu. Pasti semua akan baik baik saja" ujar Nara lagi.


Arya mengangguk pelan. Rasanya masih trauma dan takut akan rencana pesta pernikahan. Tapi jika tidak di buat, Pelangi pasti bersedih. Dan Arya tidak ingin membuat Pelangi bersedih.


Ya Tuhan...


Semoga kali ini semua bisa berjalan dengan lancar.


"Kamu sudah kerumah bunda?" tanya Arya, setelah mereka terdiam beberapa saat.


"Mungkin sore ini. Aku masih menunggu Reynand. Kami akan kesana untuk membicarakan masalah pernikahan kalian" jawab Nara.


"Terimakasih Nara, tanpa kamu dan tuan angkuh itu, aku benar benar tidak tahu harus berbuat apa" ungkap Arya


Nara tersenyum dan menggeleng pelan.


"Kita saudara Yo. Jangan seperti itu. Aku senang bisa melihat mu dan Pelangi menikah. Sekarang kamu tidak sendiri lagi. Kamu akan merasakan apa yang aku rasa, memiliki keluarga sendiri, dan juga kebahagiaan yang lengkap" jawab Nara.


Arya mengangguk, bibirnya mulai tersenyum mendengar perkataan Nara.


"Kamu benar, aku bersyukur Tuhan memberikan kita nikmat yang pernah hilang dengan yang baru" ucap Arya.


"Kamu baru merasakan nya sekarang?" tanya Nara dengan tawa kecilnya. Hingga membuat Arya langsung tersenyum malu dan mengangguk.


"Aku benar benar bodoh" jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2