Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Memilih Pergi


__ADS_3

Arya duduk mematung disisi tempat tidurnya. Memandangi kamarnya yang sama sekali sudah tidak lagi berpenghuni. Bukan seseorang yang menghuni kamar ini, melainkan foto dan figura Zelina yang selama ini menjadi penghuni kamarnya.


Tapi sekarang, kenapa sudah tidak ada?


Siapa yang sudah berani beraninya mengambil dan membuat kamar Arya menjadi kosong seperti ini?


Arya mendengus kesal. Bahkan tangan nya mengepal erat menggenggam alas tempat tidurnya.


Ini pasti ulah Nara dan Reynand. Ya, ini pasti ulah mereka.


Kenapa mereka lancang sekali???


Kenapa mereka berani masuk kedalam kamar Arya dan mengambil semua hal yang menyangkut tentang Zelina disini??


Bahkan Arya juga baru sadar, jika sudah tidak ada lagi bunga tulip didalam rumah ini.


Tidak ada apapun lagi yang menjadi kenangan nya bersama dengan Zelina disini.


Kenapa mereka tega???


Apa mereka tidak tahu jika selama ini hanya figura itu yang menjadi teman Arya dikala sepi?


Apa mereka tidak tahu jika foto foto itu yang menjadi pengobat rindu dihati Arya ketika bayangan Zelina datang dan menari didalam benak nya??


Kenapa mereka tidak mengerti?


Kenapa mereka merampas semua kenangan itu???


"Aahhhhhh Nara!!!" suara teriakan Arya membuat Pelangi yang sedang berada didalam kamar mandi langsung terlonjak kaget dan segera berlari keluar.


"Pak ada apa?" tanya Pelangi


Arya memandang Pelangi dengan wajah kesal. Hatinya panas, marah dan bergemuruh. Apalagi ketika memandang wajah Pelangi yang entah kenapa malah membuat dia semakin tidak menentu.


"Keluar!" usir Arya


Pelangi mematung sejenak.


"Keluar!!!" bentak Arya.


"Tapi pak" Pelangi mencoba mendekat.


"Keluar!!! aku tidak membutuhkan mu disini!!!!" teriak Arya begitu kuat.


Pelangi terlonjak kaget, dia langsung mematung memandang Arya dengan hati yang seperti terhantam sembilu berduri. Matanya berkaca kaca, namun dia langsung keluar dari dalam kamar Arya. Menutup pintu kamar Arya dan jatuh terduduk didepan kamar.


Pelangi takut melihat Arya yang begitu marah. Bahkan dia bisa mendengar saat Arya berteriak marah didalam sana. Begitu kuat, bahkan begitu menggema didalam kamar. Membuat jantung Pelangi benar benar berdenyut begitu ngilu. Apalagi ketika mendengar perkataan nya tadi.


Semarah itukah Arya saat sesuatu yang bersangkutan dengan Zelina disentuh seseorang? Ya, ini bukan lagi disentuh, melainkan disingkirkan.


Bahkan tidak ada apapun lagi tentang Zelina dirumah ini.


Semarah itukah dia?


Setidak rela itukah dia Zelina disingkirkan?


Padahal hanya sekedar foto dan juga bunga. Tapi kenapa sudah seperti orang yang kesetanan seperti itu???


Pelangi tertunduk dan langsung memeluk lutunya dengan erat. Tubuhnya bergetar, bukan hanya menahan takut, melainkan juga karena menangis menahan sesak didalam hatinya.


Sudah hampir tiga bulan, dan sampai sekarang Arya masih belum bisa merelakan Zelina. Bahkan hanya sekedar barang barang nya saja pun Arya tidak rela.


Ya tuhan...


Kenapa sesakit ini???


Apakah ini sudah menandakan jika perjuangan Pelangi selama ini hanya berakhir dengan sia sia?


Apakah ini menandakan jika sampai kapanpun Pelangi tidak akan pernah bisa mendapatkan cinta dan hati Arya???

__ADS_1


Lantas, untuk apa perubahan sikap Arya itu?


Untuk apa senyum yang tanpa sengaja terbit diwajahnya?


Dan apa arti dari ciuman yang Arya berikan padanya kemarin????


Pelangi menangis tertahan. Rasanya perih sekali, sakit dan begitu sesak. Suaminya sendiri menangisi wanita lain, bukan istrinya sendiri.


Pelangi menggigit bibirnya, beranjak dengan begitu berat. Sekali lagi dia memandang kamar Arya dengan perih. Menggeleng pelan dan lebih memilih untuk pergi kembali kekamar nya.


Sudah cukup,


percuma memberikan hati pada seseorang yang tidak bisa melihat kehadiran nya disini.


Sudah cukup perjuangan dan pengorbanan Pelangi untuk Arya.


Pelangi lelah. Hatinya tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


Besok pagi, Pelangi akan pergi. Pergi dari kehidupan Arya.


Pelangi kembali menangis meraung dan terisak didalam kamarnya.


Ingin pergi, tapi kenapa sesakit ini???


Bagaimana dengan calon anak nya ini??


Bagaimana nasib nya nanti??


Apa Pelangi harus hidup tanpa suami? Apa anak nya akan tumbuh tanpa seorang ayah???


Pelangi menangis begitu kuat. Dia bukan hanya menangisi nasib dirinya yang begitu malang. Namun menangisi nasib calon anak nya yang bahkan tidak berdosa namun harus menanggung beban ibunya seperti ini.


"Maaf nak....maaf" lirih Pelangi begitu pilu.


Malam itu, malam yang benar benar terasa berat bagi Pelangi dan Arya. Mereka sama sama tidak tertidur. Sama sama memikirkan perasaan yang benar benar tidak menentu. Menentukan apa yang harus dilakukan untuk hari esok. Kenapa sesakit ini? Kenapa semiris ini???


....


Keesokan paginya...


Pagi pagi sekali Nara sudah datang kerumah Arya. Pelangi memberi pesan pada Nara jika Arya mengamuk karena foto Zelina yang menghilang.


Pelangi tidak ingin Arya berbuat nekad seperti beberapa waktu lalu. Pelangi tidak ingin terjadi sesuatu pada Arya.


Meski hatinya sakit, tapi Pelangi tetap ingin Arya baik baik saja.


Dia tidak mungkin bisa menenangkan Arya, jadi Pelangi hanya bisa berharap pada Nara.


Dan benar, Nara bahkan langsung masuk kedalam rumah, karena ternyata pintu rumah mereka yang memang sudah tidak dikunci sejak semalam.


Bahkan tanpa basa basi apapun lagi, Nara langsung naik kelantai atas dimana kamar Arya berada.


Ceklek


Dia membuka pintu kamar, dan langsung tertegun saat melihat Arya yang duduk dilantai dan tersandar dipinggiran tempat tidurnya.


Wajah Arya kusut dan pucat. Bahkan bantal dan juga alas tempat tidurnya sudah berserakan tidak tentu arah.


"Aryo, ada apa dengan mu?" tanya Nara yang langsung berjalan mendekat pada Arya


Arya hanya diam. Hanya pandangan matanya saja yang memandang tajam kedepan.


"Aryo!!" seru Nara seraya mengguncang bahu Arya dengan kuat.


"Kenapa kamu menyingkirkan semua foto Zelina di sini?" tanya Arya. Nada bicaranya terdengar begitu dingin.


"Untuk apa lagi kamu menyimpan foto itu ha?" tanya Nara


Arya langsung memandang Nara dengan lekat.

__ADS_1


"Untuk apa katamu" gumam Arya


"Untuk apa katamu Nara??? Kamu yang paling tahu betapa pentingnya dia untuk ku!!!" bentak Arya hingga suaranya langsung menggema keluar. Membuat Pelangi yang sudah berdiri didepan kamar Arya langsung mematung dengan jantung yang serasa berhenti berdetak.


"Dia sudah tidak ada Aryo!! Buka mata kamu!! Zelina sudah tidak ada. Zelina sudah pergi. Sampai kapan kamu akan seperti ini terus ha!!" Suara Nara juga tidak kalah nyaring, dan ini adalah pertama kalinya Nara berbicara dengan nada kuat. Dia sudah benar benar emosi melihat Arya yang buta seperti ini.


"Dia tidak bisa aku lupakan Nara. Dia yang menjadi temanku didalam kesendirian selama ini. Bagaimana aku bisa lupa ketika semuanya sudah ada padanya" ungkap Arya terdengar begitu frustasi.


Air mata kembali jatuh membasahi wajah Pelangi yang pucat.


"Aryo, kamu sudah ada Pelangi. Coba lihat dia sedikit saja. Dia nyata Yo. Dia yang menjadi istri kamu sekarang" ucap Nara begitu dalam


Arya menggeleng pelan.


"Kenapa bukan Zelina???" gumam Arya


deg


Pelangi semakin sakit mendengar ini.


"Aryo, jangan bodoh. Kamu tidak bisa begini terus" ujar Nara


"Kenapa takdir begitu kejam Nara. Kenapa takdir ini begitu kejam. Tuhan serasa tidak adil untuk ku" ucap Arya


plak


Satu tamparan langsung mendarat diwajahnya.


Nara memandang Arya dengan geram.


Sementara Pelangi sudah tidak mampu lagi untuk mendengarkan hal yang lebih menyakitkan dari ini. Dan dia... memilih untuk pergi.


Pergi jauh tanpa menunggu apapun lagi.


Bukankah Arya memang tidak pernah menganggapnya sebagai istri. Maka tidak perlu ada kata talak lagi diantara mereka kan.


Pelangi membawa tas yang memang sudah disiapkan nya sejak semalam. Dan pagi ini, mendengar perkataan Arya brusan, sudah membuat Pelangi yakin, jika memang dia sudah harus pergi.


Tidak ada yang bisa dipertahankan lagi disini.


Arya tidak akan pernah bisa menerima Pelangi sebagai istrinya.


Pelangi menggigit bibirnya, sekali lagi dia memandang rumah Arya yang penuh dengan kenangan pahit dimana dia yang selalu menahan hati untuk bisa mendapatkan perhatian Arya. Namun nyatanya, semua berakhir dengan sia sia.


Pelangi terisak, dia mengusap perutnya dengan batin yang begitu perih.


"Maafkan ibu nak. Kita pergi.. maafkan ibu yang gak bisa bujuk ayah untuk menerima kita. Maafin ibu.... " Pelangi menggeleng dan menangis semakin pilu. Langkah kakinya terasa begitu berat, tapi dia memang sudah harus pergi.


Pergi jauh meninggalkan Arya dan semua kenangan nya.


....


"Memang berat untuk meninggalkan mu. Karena seluruh cinta dan harapan ku ada padamu.


Tapi hatimu sudah seperti batu yang begitu kokoh, yang meskipun sudah setiap hari aku siram, namun tak juga kau bisa melunak.


Aku ingin menjadi Pelangi didalam hidupmu yang kelam, tapi yang kau harapkan malah seuntai senja.


Aku menyerah, namun cintaku akan tetap selalu ada.


Aku pergi dengan membawa kenangan indah ini bersamaku.


Terimakasih cinta, terimakasih sudah memberikan luka dan hadiah terindah dalam hidupku.


Aku kalah dengan masa lalumu,


dan kini... aku memilih untuk berlalu"


~Pelangi

__ADS_1


__ADS_2