Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Harapan Dan Impian


__ADS_3

Matahari kembali menyingsing dipagi ini. Sinarnya yang menghangat dan sedikit menyilaukan masuk melalui celah celah udara dan jendela yang memang tidak tertutup rapat.


Pelangi terbangun, dia mulai membuka mata yang masih terasa berat. Entah kenapa rasanya tubuh Pelangi terasa pegal semua.


Mata yang semula mengernyit dan masih memburam tiba tiba terbuka lebar saat menyadari jika yang dia pandang bukanlah kamar nya. Melainkan kamar Arya.


Pelangi langsung duduk dengan tergesa, memandangi dimana dia berada sekarang.


Kenapa bisa ada ditempat tidur Arya???


Bukankah malam tadi Pelangi berada dibawah bersama Arya???


Kenapa sekarang bisa berada diatas sini? Siapa yang memindahkan nya?


Apa Pelangi mengigau. Tidak .... tidak mungkin. Dia bukan gadis yang suka mengigau.


Ini pasti Arya yang memindahkan nya kemari. Ya, pasti lelaki itu.


Pelangi memandangi kamar Arya, masih berserakan dan belum ada yang berubah. Bahkan darah yang berceceran diatas lantai malam tadi juga masih terlihat bekas nya dan sudah mengering.


Semua foto dan pecahan vas bunga juga masih ada dilantai. Bahkan bunga bunga tulip yang berhamburan juga masih berserakan dibawah.


Belum ada yang berubah, hanya orang nya yang entah pergi kemana.


Ya, kemana Arya???


Pelangi langsung menurunkan kakinya. Dia ingin mencari Arya. Kemana pria itu pergi, dia tidak akan membuat kegilaan seperti ini lagi kan. Karena sungguh Pelangi tidak bisa melihat Arya yang begitu terpuruk dan menangis seperti malam tadi.


Namun baru saja Pelangi menurunkan kakinya, pintu kamar mandi terbuka. Arya keluar dengan hanya menggunakan bathrobe saja. Bahkan rambut gondrong nya itu terlihat masih begitu basah dan berserakan. Wajah Arya terlihat pucat dan kusut, meski dia sudah nampak segar sekarang, tidak seperti malam tadi yang benar benar kacau.


Arya memandang Pelangi dengan pandangan tidak menentu. Namun Pelangi tersenyum dan mencoba untuk bersikap biasa. Jangan sampai Arya merasa malu atau canggung dengan kejadian malam tadi. Dia pasti tidak enak dengan Pelangi karena telah mengetahui sisi terlemah nya.


Dan begitulah kenyataan nya, Arya memang tidak menentu melihat Pelangi saat ini. Malam tadi dia benar benar kalap. Dia tidak bisa lagi menahan perasaan.


Arya kesal melihat Pelangi dekat dengan lelaki lain, meski Arya tahu itu adalah teman Pelangi. Dan karena perasaan tidak menentu itu lah yang membuat Arya uring uringan. Dia ingin marah, namun ketika tiba dirumah, lagi lagi wajah Zelina membuat fikiran Arya semakin bertambah kacau.


Antara kesal, benci, marah dan tidak tahu bagaimana menjelaskan nya. Arya masih mencintai Zelina, tapi kenapa dia begitu egois dan kejam saat melihat Pelangi bersama dengan orang lain.


"Bapak baru selesai mandi, maaf saya kesiangan pak"


Suara Pelangi membuat Arya tersadar. Dia menggeleng dan langsung berjalan menuju lemari pakaian nya. Sedangkan Pelangi hanya menghela nafas dan turun dari atas tempat tidur. Berjalan perlahan dan mulai memunguti barang barang yang berserakan dibawah.


"Pergilah kekamar mu. Saya bisa membereskan itu" ujar Arya.

__ADS_1


Pelangi mendongak memandang Arya, dia tersenyum dan menggeleng pelan seraya meraih bunga tulip yang berserakan disana.


"Kalau dibereskan berdua akan lebih cepat selesai pak" jawab Pelangi yang kembali bekerja. Meski sebenarnya dia masih mengantuk dan merasa lelah. Mungkinkarena malam tadi mereka yang kelamaan tidur diatas lantai.


"Kamu pasti ingin menertawakan saya setelah ini" ucap Arya sembari memakai pakaian nya tanpa malu.


Pelangi tersenyum dan menggeleng. Mentertawakan bagaimana??? Yang ada jika mengingat malam tadi Pelangi malah ingin menangis. Dia benar benar tidak tega melihat Arya yang seperti itu.


"Tidak, bapak selalu berfikiran buruk tentang saya. Semua orang pasti pernah mempunyai sisi lemah masing masing. Saya juga begitu, jadi saya sudah tidak heran lagi" jawab Pelangi yang berdiri dan mendekat kearah Arya dengan bunga tulip ditangan nya.


Pelangi menyerahkan bunga itu pada Arya dengan senyum teduhnya seperti biasa.


"Boleh terpuruk, tapi jangan berlarut. Kehidupan akan terus berlanjut dan kebahagiaan juga bukan hanya ada pada yang sudah pergi. Bapak hanya perlu memiliki hati yang luas dan ketenangan yang tiada batas" ujar Pelangi. Dia meraih kemeja Arya dan mulai mengancingkan kemeja itu satu persatu. Membuat Arya tertegun dan memandang Pelangi dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Tangannya memegang bunga tulip yang sudah layu dan sedikit rusak.


Pelangi mendongak dan memandang wajah Arya yang masih kusut.


"Jangan menyalahkan takdir ya pak. Setiap kehidupan yang telah terjadi itu memang sudah ada yang mengatur. Termasuk dengan kepergian nona Zelina dan kedatangan saya kedalam hidup bapak" kata Pelangi lagi


Arya masih terdiam dan terus memandang Pelangi.


"Saya tidak pernah ingin menyingkirkan nona Zelina dari hati bapak. Karena sampai kapanpun, dia akan selalu ada didalam sini" ucap Pelangi seraya mengusap dada Arya dengan lembut.


"Saya juga tidak memaksa bapak untuk menerima saya. Tidak pak, karena saya tahu itu bukan hal yang mudah. Saya hanya berharap, dalam waktu sebulan pernikahan kita, ada sesuatu yang bisa sedikit merubah hidup bapak karena kehadiran saya" kata Pelangi lagi


"Setidaknya, kehadiran saya tidak akan sia sia, meski hanya sekedar menjadi seseorang yang selalu membuat bapak kesal" ucap Pelangi dengan tawa kecilnya.


"Kamu memang selalu membuat saya marah dan kesal" jawab Arya akhirnya.


Pelangi tersenyum dan mundur beberapa langkah dari Arya untuk memandang penampilan lelaki itu kembali.


"Bukankah karena kekesalan itu perhatian bapak bisa sedikit teralihkan" sahut Pelangi.


Arya langsung memandang Pelangi dengan lekat. Hingga membuat Pelangi kembali tersenyum


"Jangan marah lagi pak. Saya mau membereskan kamar ini dulu" sahut Pelangi dengan cepat. Bahkan dia langsung menunduk dan mengutipi pecahan pecahan vas bunga dan kaca disana.


Arya hanya menghela nafasnya dengan pasrah. Ingin marah, tapi apa lagi alasan nya untuk marah pada Pelangi????


Karena sadar atau tidak, malam tadi dekapan Pelangi lebih bisa menenangkan dari pada beberapa butir obat yang dia minum seperti biasa.


"Auhhh" ringisan Pelangi membuat Arya menoleh kearah nya. Dia langsung meringis saat melihat jari Pelangi yang berdarah.


"Dasar bodoh, sudah saya bilang biar saya saja kan" ucap Arya terlihat kesal.

__ADS_1


Pelangi tersenyum dan langsung menggenggam jarinya yang terluka. Apalagi saat Arya berlutut dihadapan nya.


"Lihat sini" ujar Arya


Pelangi menggeleng


"Enggak apa apa pak, cuma tergores aja" jawab Pelangi


"Kalau infeksi kamu bisa demam dan merepotkan saya lagi" sahut Arya


"Tangan bapak juga terluka, bukankah sebaiknya di obati juga" ucap Pelangi pula. Membuat Arya juga langsung menoleh kearah punggung tangan nya yang memang penuh dengan luka sayatan dan juga tancapan benda tajam.


"Ini hanya luka kecil" ucap Arya


"Sama, punya saya juga. Bukan kah kita sudah biasa menghadapi luka yang lebih besar dari ini. Jadi jangan khawatir. Saya juga kuat seperti bapak" jawab Pelangi dengan senyum lebarnya.


Arya menghela nafas jengah mendengar ungkapan Pelangi. Bukan kalimat yang bagus, itu pasti kalimat untuk menyindirnya! Menyebalkan memang.


Hingga akhirnya, pagi itu mereka berdua membereskan kekacauan dikamar Arya. Tidak ada yang aneh dan spesial, hanya saja, pagi ini Pelangi bisa merasakan perubahan sikap Arya.


Wajahnya sudah tidak sedingin biasa. Dan sikapnya juga tidak seketus dan sekejam kemarin.


Tidak tahu kenapa, mungkin saja karena kejadian malam tadi. Dan semoga saja, setelah ini Pelangi bisa menjadi teman untuk mengurangi kesedihan Arya. Setidak nya itu saja dulu, karena itu sudah bisa membuat Pelangi senang.


Dia tidak ingin Arya terpuruk lagi, Pelangi tidak ingin Arya mengkonsumsi obat penenang itu lagi. Pelangi ingin menjadi obat penenang untuk segala kegundahan dan kesedihan hatinya.


Ya... semoga saja bisa. Meski untuk merebut hati Arya, itu masih terlalu jauh.


"Nah, sudah selesai pak, tinggal mengepel saja. Nanti setelah selesai membuat sarapan saya lanjut lagi ya. hari sudah siang dan perut saya sudah lapar. Bapak juga kan" ucap pelangi saat telah selesai membersihkan kamar Arya.


"Hmm" Arya hanya bergumam saja dan meraih karung bekas pecahan dan sampah yang berhasil mereka pungut. Dia keluar terlebih dahulu untuk membuang pecahan pecahan vas dan kaca karena ulah nya malam tadi, meninggalkan Pelangi yang kini hanya sendiri didalam sana.


Pelangi tersenyum tipis seraya memandang luka ditangan nya yang memang sudah penuh dengan sayatan namun Pelangi balut dengan sebuah handuk kecil agar darahnya tidak mengalir kemana mana.


Perih???


Tentu saja,


Sama dengan hatinya yang perih saat melihat beberapa foto Zelina yang tersusun rapi diatas meja. Bahkan Arya yang memunguti foto foto itu tadi.


Terlalu spesial... hingga begitu sulit untuk direlakan.


Bisakah Pelangi ada di antara foto foto itu nantinya???

__ADS_1


Entah lah, harapan yang hanya tinggal impian.


Bisa melihat Arya bersikap baik padanya saja sudah membuat Pelangi begitu bersyukur


__ADS_2