Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Anggap Saya Pembantu!


__ADS_3

Hujan rintik rintik diluar menemani malam Pelangi yang sejak tadi tidak bosan mengompres dahi Arya. Wajah Arya masih pucat, namun lama kelamaan panasnya sudah mulai turun. Meski lelaki ini masih terus saja bergumam tidak menentu.


Pelangi benar benar cemas melihat Arya yang seperti ini. Ingin membawanya kerumah sakit, tapi bagaimana caranya?


Ingin menghubungi dokter, tapi pelangi tidak punya kenalan dokter.


Dan sekarang, Pelangi hanya bisa mengompres dahi Arya dan memijat mijat kepala Arya dengan pelan. Dia bahkan sudah duduk disamping Arya saat ini. Entah bagaimana reaksi Arya jika dia bangun nanti. Mungkin akan marah sekali saat melihat Pelangi ada disini.


Tapi sudahlah, yang terpenting demam Arya bisa turun dan dia bisa sehat kembali.


Pelangi memijat kepala Arya dengan lembut seraya matanya yang memandang kesebuah foto yang dibingkai cantik dan terpajang indah didinding kamar Arya. Foto seorang gadis cantik dengan senyuman nya yang indah. Sangat cantik dan sangat indah, dan ternyata......dialah Zelina.


Pelangi tersenyum getir memandang foto itu. Pantas saja Arya tidak bisa melupakan nya, jika paras gadis ini saja begitu cantik.


Nara bilang jika dia meninggal dua Minggu sebelum mereka menikah, dan pasti foto itu diambil sesaat sebelum Zelina kecelakaan.


Yah .. mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa Arya benar benar trauma dengan pernikahan. Dan Pelangi, dia memang tidak bisa untuk memaksakan itu.


Pelangi menghela nafasnya dengan pelan dan kembali memandang Arya.


'Untuk tiga bulan ini saja pak. Biarkan saya mengisi kekosongan hati bapak. Dan sekiranya setelah tiga bulan saya juga tidak memiliki tempat sedikitpun disini, saya berjanji akan pergi dengan hati yang lapang. Mungkin kenang kenangan yang saya dapatkan dari bapak bisa menjadi kenangan terindah yang tidak akan mungkin saya lupakan. Mahkota yang selalu saya jaga untuk seseorang yang saya cintai ' batin Pelangi dengan senyum getirnya.


Tangan Pelangi mengusap wajah Arya dengan lembut. Wajah yang sudah sejak dulu dia kagumi. Namun sayang nya, wajah ini belum bisa dia miliki sepenuhnya.


Tidak apa apa, mungkin suatu saat nanti. Atau jikapun tidak bisa, mungkin Pelangi sudah sangat bersyukur bisa sedekat ini dengan Arya.


Pelangi tiba tiba terkesiap, saat Arya meraih tangan nya dan menggenggam nya dengan lembut.


"Zelina" gumam Arya. Membuat Pelangi semakin teriris perih. Hanya nama itu yang ada didalam hati dan fikiran Arya.


Pelangi hanya membiarkan Arya terus bergumam dengan menggenggam tangan nya. Bahkan dia juga membalas genggaman tangan itu dengan lembut, hingga membuat Arya bisa tenang dan kembali tertidur.


Apa dia fikir ini tangan Zelina?


Huh.... sesakit inikah mencintai seseorang yang masih terikat dengan masa lalunya???


Jika iya... apa yang harus Pelangi lakukan sekarang?


Cukup lama tangan Pelangi ada didalam genggaman tangan Arya. Hingga hampir satu jam kemudian, dia benar benar sudah merasa pegal karena terus duduk dan memperhatikan Arya saja. Pelangi menarik tangan nya perlahan lahan. Hingga akhirnya tangan itu terlepas, namun malah membuat Arya terbangun.


"Uuggh" lenguh Arya seraya tangan nya yang langsung menegang kepalanya. Pelangi dengan sigap langsung turun dari tempat tidur Arya dan berdiri memandang Arya dengan perasaan takut. Apalagi ketika melihat Arya yang mulai membuka mata dan memandang nya dengan terkejut.


"Kamu.... kenapa kamu ada disini?" tanya Arya dengan ringisan diwajahnya. Dia menarik handuk kecil yang sedari tadi menempel di dahi dan kembali memandang Pelangi dengan pandangan yang lemah. Kepala nya benar benar terasa pusing.


"Maaf pak, bapak demam. Jadi saya terpaksa masuk kedalam sini" jawab Pelangi.


"Sudah saya bilang jangan sok baik pada saya" ucap Arya. Namun dengan mata yang terpejam.


Pelangi hanya diam dan langsung berlalu keluar. Meninggalkan Arya yang nampak menghela nafas dan kembali memejamkan matanya. Karena untuk marah, dia masih belum sanggup. Bahkan dia merasa jika tubuhnya terasa remuk semua sekarang.


Arya kembali membuka matanya dan melirik jam yang ada didinding kamar. Sudah pukul setengah sebelas malam. Selama itukah dia tertidur? Rasanya Arya sudah tidak mengingat apapun lagi.


Arya kembali menarik selimut dan bergelung disana. Jika sudah sakit seperti ini, dia selalu merasa sepi dan lemah. Sial sekali.

__ADS_1


Baru saja Arya akan memejamkan matanya, tiba tiba suara langkah kaki kembali terdengar. Arya tidak menoleh, dia hanya membuka matanya dan melihat ternyata Pelangi yang datang dengan membawa nampan berisi mangkuk dan juga segelas air putih.


"Bapak makan dulu ya, sehabis itu minum obat supaya kepala bapak tidak pusing lagi" ujar Pelangi seraya meletakkan nampan nya diatas meja dan menggeser sedikit foto Zelina ketengah agar tidak terjatuh. Jangan sampai foto ini lecet, jika tidak mungkin Arya akan mengamuk nanti.


"Pergi" usir Arya


"Pelangi mematung sejenak, namun sedetik kemudian dia tersenyum dan menggeleng.


"Saya akan pergi kalau bapak sudah makan dan minum obat" jawab Pelangi.


"Pergi saya bilang" usir Arya lagi.


Namun Pelangi tetap menggeleng.


"Bapak harus sembuh. Kalau bapak sakit, bapak tidak bisa pergi bekerja besok. Ayo makan dulu" ajak Pelangi seraya menarik selimut dari tubuh Arya. Namun Arya langsung menepis tangan Pelangi, membuat gadis itu langsung terkesiap kaget.


"Sudah saya bilang jangan sok baik pada saya. Kamu tidak mengerti juga?" tanya Arya dengan tangan yang memegang kepalanya.


"Pak... saya bukan sok baik. Tapi kan ini memang sudah tugas saya" jawab Pelangi.


Namun Arya masih diam.


"Pak" panggil Pelangi lagi.


Arya masih memejamkan mata dengan tangan yang memegang kepalanya yang terasa ingin pecah dan sangat pusing.


"Saya tidak apa apa jika bapak belum bisa menganggap saya sebagai istri" ucap Pelangi, membuat Arya tertegun ditengah rasa sakit kepalanya.


"Saya tahu saya tidak akan pernah bisa menggantikan posisi nona cantik ini sampai kapanpun. Tapi saya mohon pak, untuk tiga bulan ini saja, cobalah lihat kehadiran saya disini. Biarkan saya melayani bapak. Setidak nya jika bapak tidak menganggap saya istri, bapak bisa menganggap saya sebagai pembantu!" ucap Pelangi, terdengar begitu serius.


"Seperti bapak yang dekat dengan Bu Nina, kenapa bapak tidak bisa berbuat seperti itu pada saya?" tanya Pelangi.


Berharap Arya menganggap nya sebagai istri, rasanya itu tidak mungkin. Tapi setidaknya berharap Arya bisa melihatnya sedikit meski hanya sebagai pembantu. Tidak apa apa. Pelangi sudah pasrah.


Pelangi tersenyum memandang Arya yang terdiam dengan pernyataan nya.


"Sekarang makan dulu ya pak. Jangan berfikir yang aneh aneh. Saya janji, saya tidak akan lagi mengganggu bunga tulip bapak" ucap Pelangi seraya membantu Arya untuk duduk dan bersandar ditempat tidur.


Arya memandang wajah Pelangi dengan perasaan tidak menentu. Dia tahu ini salah, Pelangi istrinya dan seharusnya dia bisa melihat walau sedikit. Tapi sungguh, Arya masih belum bisa menerima orang baru. Dan tentang permintaan Pelangi tadi, Arya benar benar tidak tahu harus berkata apa.


"Ayo pak, saya suapi dulu. Bapak harus sembuh supaya bisa bekerja lagi besok" ujar Pelangi seraya menyuapkan kuah sup dan nasi yang dia campur menjadi satu.


Arya memandang Pelangi sekilas dan kembali memandang sendok nasi itu. Dengan ragu Arya membuka mulut dan menerima suapan dari Pelangi. Membuat Pelangi langsung tersenyum senang. Sepertinya mendekati Arya memang harus secara perlahan lahan.


"Nona Zelina cantik ya pak" ucap Pelangi seraya memandang foto Zelina diatas meja. Meski hatinya teriris perih, tapi senyum tidak pernah pudar dari wajahnya. Seolah semua baik baik saja.


Arya langsung menoleh kearah foto itu. Dan bisa Pelangi lihat jika ada senyum tipis yang tak terlihat diwajah pucat itu.


"Darimana kamu tahu namanya?" tanya Arya


Pelangi terdiam sejenak.


"Dari foto disana" jawab Pelangi seraya menunjuk figura besar Zelina. Karena jika dia bilang dari Nara, pasti akan menjadi masalah nantinya.

__ADS_1


"Nona Zelina suka bunga tulip?" tanya Pelangi seraya kembali menyuapkan makanan pada Arya.


Arya mengangguk pelan. Namun wajahnya nampak sendu. Sepertinya luka kehilangan itu memang cukup besar.


"Dia pasti senang melihat bunganya selalu ada disisi bapak" ucap Pelangi. Dia menyerahkan segelas air putih pada Arya karena Arya yang sudah tidak ingin lagi makan.


"Dan pasti akan semakin senang jika bapak bahagia disini" tambah Pelangi lagi seraya menyerahkan obat pada Arya.


"Bahagia ku adalah dia, bagaimana mungkin aku bisa bahagia tanpa dia" jawab Arya seraya menelan obatnya.


Pelangi tersenyum seraya meletakkan mangkuk yang dia pegang ke atas meja.


"Meski tidak ada dilangit yang sama. Tapi dia pasti bisa melihat bapak dari atas sana. Saya juga pernah kehilangan orang yang saya sayang. Sakit... sakit sekali. Tapi kata bunda, saya harus bahagia disini, agar dia yang disana bisa bahagia juga. Kalau saya terus bersedih, dia pasti ikut bersedih" ungkap Pelangi.


Arya memandang Pelangi dengan lekat.


"Disana tempat yang indah pak. Apalagi jika yang pergi adalah orang baik. Tuhan pasti sudah menyiapkan tempat terbaik untuk mereka. Bahkan lebih baik daripada saat ada bersama kita. Bapak percaya jika surga itu adakan?" tanya Pelangi.


Namun Arya masih diam dan hanya mendengarkan saja. Fikiran nya melayang membayangkan Zelina nya.


"Saya yakin jika nona Zelina sudah bahagia disana. Apalagi jika melihat bagaimana cintanya bapak, dia pasti orang baik. Dan tempatnya pasti tempat yang indah" kata Pelangi lagi.


"Kamu berbicara seperti itu, seperti sudah merasakan apa yang saya rasa saja" dengus Arya.


Pelangi tersenyum dan meraih gelas dari tangan Arya.


"Saya tahu rasa sakitnya pak. Mungkin memang bukan kekasih. Tapi saudara. Saudara yang sudah sejak didalam kandungan kami bersama sama hingga di usia kami yang ke 17 tahun dia pergi. Sudah selama itu, saling berbagi apapun dan saling sayang. Dan ketika dia pergi, rasanya saya juga ingin pergi. Tapi bunda bilang, ini memang sudah takdir Tuhan. Waktunya memang hanya sebatas itu didunia. Dan kita yang ditinggalkan hanya bisa menerima dan melanjutkan hidup. Meski berat, tapi kehidupan terus berjalan. Meratapi kepergian nya juga tidak akan bisa membuat dia kembali" ungkap Pelangi panjang lebar.


Arya langsung menghela nafas berat. Dia memandang kembali figura Zelina.


Zelina memang sudah pergi, tapi kenangan nya itu yang membuat Arya sangat sulit untuk melanjutkan kehidupan yang terasa begitu panjang ini.


"Cara mencintai seseorang yang telah pergi cuma mengikhlaskan nya pak, dan selalu mengirim doa untuk mereka. Dengan begitu, hidup kita pasti bisa sedikit lebih tenang" ujar Pelangi.


Pelangi memandang Arya yang masih melihat kearah figura mantan kekasihnya itu. Rasanya sakit, tapi mau bagaimana lagi. Arya masih terlihat begitu berat.


"Sekarang bapak istirahat lagi ya. Atau mau saya temani?" tanya Pelangi.


Arya menggeleng pelan. Dia langsung merebahkan tubuhnya kembali. Dan dengan sigap Pelangi menyelimuti tubuh Arya.


Entah kenapa Arya tidak lagi protes dan dia hanya diam.


"Jika membutuhkan sesuatu, saya ada didepan pak" ucap Pelangi seraya meraih nampan diatas meja.


Arya hanya diam dan memandangi kepergian Pelangi dengan pandangan yang getir. Sudah terlalu lama, tapi sampai saat ini, Arya memang tidak bisa jauh dari bayang bayang Zelina.


Aku lelah Ze .....


...


Sementara diluar kamar..


Pelangi terduduk dan tersandar didinding kamar Arya. Air mata langsung mengalir dengan deras, air mata yang sudah berusaha untuk dia tahan sejak tadi.

__ADS_1


Rasanya sakit sekali, ketika melihat orang yang dicintai masih begitu mencintai kekasihnya. Bahkan semuanya hanya tentang Zelina.


Bagaimana mungkin Pelangi bisa mengambil hati Arya jika begini. Belum berjuang, tapi rasanya dia sudah kalah dengan masa lalu Arya.


__ADS_2