Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Gundah


__ADS_3

Tangan Arya bergetar ketika menggantikan pakaian Pelangi yang basah. Bukan karena menahan hasrat melihat tubuh polos Pelangi. Hanya saja dia cemas melihat darah yang keluar dari hidung gadis ini. Wajah Pelangi pucat, bahkan sangat pucat. Tubuhnya juga dingin dan begitu lemas. Membuat Arya benar benar khawatir.


Kenapa Pelangi bisa seperti ini?


Kenapa hanya karena ketakutan dia sampai pingsan dan berdarah???


Arya memindahkan Pelangi keatas ranjang nya setelah sebelum nya dia meletakkan Pelangi dibawah karena untuk menggantikan pakaian nya yang basah. Dia menyelimuti tubuh Pelangi dengan selimut tebal. Tidak tahu harus berbuat apa, Arya bingung sekarang.


Hujan diluar masih terus mengguyur dengan deras, bahkan petir dan guntur terus menyambar dengan kuat. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang.


Lagi lagi dengan tangan yang bergetar Arya mengusap hidung Pelangi yang sudah tidak lagi mengeluarkan darah, namun masih berbekas.


Ketika mengingat Pelangi yang seperti ini, Arya jadi mengingat tentang Reynand. Dulu saat dirumah eyang putri, Reynand juga seperti ini. Dia trauma melihat darah Nara, hingga dia lemas dan juga berdarah. Apa Pelangi juga seperti itu??


Apa dia memiliki trauma dengan hujan dan petir???


Mungkin saja, bukan kah beberpaa waktu lalu dia juga ketakutan dan memilih tidur didepan kamar Arya karena hujan badai seperti ini.


Arya menghela nafas dengan berat. Kenapa dia tidak menyadari ini. Jika sudah seperti ini, dia yang repot kan. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Pelangi, bisa bisa Arya dituntut oleh kedua orang tua Pelangi.


Dan kenapa pula dia bisa emosi tadi hanya karena melihat Pelangi diantar pulang oleh seorang lelaki????


Sial...


Yang jelas dia bukan cemburu, Arya hanya kesal dan tidak suka.


Jika ingin dengan lelaki lain kenapa masih pulang kerumah ini???


Ya, itulah alasan nya, bukan karena cemburu!


Arya kembali ingin mengusap wajah Pelangi, namun tiba tiba tangan nya menggantung saat melihat mata Pelangi yang terbuka. Sangat sayu dan terlihat lemah. Apa dia baik baik saja? Kenapa Arya jadi khawatir.


Mata Pelangi langsung bisa memandang wajah datar Arya yang memandang nya dengan lekat.


"Pak Arya" gumam Pelangi namun hanya terdengar seperti bisikan saja. Karena Pelangi memang benar benar lemas, bahkan dia juga merasa kepalanya benar benar sakit.


Pelangi kembali memejamkan matanya dengan helaan nafas yang nampak berat.


"kita kerumah sakit saja" ujar Arya. Dia tidak bisa melihat Pelangi yang seperti ini. Bagaimana jika keadaan nya benar benar serius. Apalagi eyang putri pernah berkata jika orang yang mengalami trauma itu tidak bisa dianggap enteng. Apalagi sampai berdarah dan tidak sadarkan diri.


Arya menarik selimut Pelangi dan ingin menarik lengan Pelangi untuk dia angkat. Namun Pelangi menggeleng dan meraih tangan Arya dengan lemah.


"Tidak pak" ucap Pelangi yang kembali memandang Arya dengan sendu.


"Kamu seperti ini karena saya, dan saya tidak ingin kamu mati disini" sahut Arya dengan begitu tega.

__ADS_1


Pelangi tersenyum tipis dan menggeleng.


"Saya janji, saya tidak akan mati disini" jawab Pelangi seraya melepaskan kembali tangan Arya, hingga Arya juga melepaskan tangan nya dari lengan Pelangi.


"Kamu lemah Pelangi, kamu berdarah" ucap Arya lagi.


Pelangi memandang wajah Arya dengan lekat. Meski terlihat ketus dan terdengar jahat, tapi bisa Pelangi lihat jika ada kecemasan diwajah Arya. Ya mungkin saja dia takut karena Pelangi seperti ini juga karena ulah nya.


"Saya hanya ingin tidur dan istirahat saja pak. Tidak apa apa. Tapi tolong, biarkan saya disini" pinta Pelangi. Wajahnya benar benar lemah dan memelas. Membuat Arya memalingkan wajah nya dan menghela nafas panjang.


"Jika kamu sesuka hati diantar oleh orang kerumah ini, maka saya tidak akan lagi membiarkan kamu tinggal disini. Saya tidak suka ada yang mengetahui jika saya tinggal disini" ucap Arya


"Iya pak, saya janji" jawab Pelangi dengan senyum tipis yang terukir diwajah pucat nya itu.


Terkadang Arya bingung, sudah sakit masih saja terus tersenyum. Apa Pelangi tidak bosan untuk tersenyum meski sudah sering diacuhkan???


Pelangi menarik selimut nya dan kembali memejamkan mata. Kepalanya masih terasa sakit, bahkan terasa berdenyut denyut. Bukan tidak ingin kerumah sakit, tapi jika kerumah sakit, sudah dipastikan kalau Arya bisa mengetahui jika Pelangi tengah mengandung anak nya.


Pelangi belum ingin itu terjadi. Dia tidak ingin Arya menerima nya karena terpaksa.


Sedangkan kini, Arya mematung memandangi Pelangi yang kembali terpejam. Bahkan sesekali dia nampak meringkuk dan menenggelamkan wajah nya didalam selimut ketika suara guntur menggelegar diluar sana.


Setakut itukah dia???


Dan ucapan itu membuat Pelangi membuka matanya, memandang Arya dengan pandangan yang tidak percaya.


"Hanya malam ini, saya tidak ingin kamu mati karena ketakutan" jawab Arya dengan ketus. Apalagi ketika melihat pandangan Pelangi yang seperti itu.


Pelangi tersenyum lebar dan mengangguk pelan.


"Terimakasih pak" ucap Pelangi.


Arya hanya diam dan beranjak menuju sebuah kursi kecil yang ada dekat meja rias Pelangi. Kursi kecil tempat Pelangi duduk untuk melukis.


Melihat Arya yang duduk disana, Pelangi tersenyum tipis dan kembali memejamkan matanya. Meski berjauhan, setidaknya Pelangi sedikit tenang melihat Arya yang ada disini.


Lihatlah...


Arya itu adalah lelaki baik, namun dia hanya tertutupi dengan luka hati yang cukup besar.


Sama seperti yang dikatakan oleh tuan Abas, jika Arya seperti ini karena luka kehilangan seseorang yang dia cintai. Mungkin jika Pelangi bisa mengambil hatinya, Arya pasti bisa berubah menjadi lelaki yang hangat dan lembut lagi seperti dulu.


Tapi apa itu mungkin?? Susah kan...


Masih ada waktu..

__ADS_1


Bertahanlah Pelangi..


Setidak nya malam ini meski harus merasakan ketakutan dan kesakitan yang luar biasa, tapi Pelangi sudah bisa mendapatkan sisi baik Arya. Entah itu karena keterpaksaan atau karena rasa bersalah. Pelangi tidak perduli...


Seperti ini saja, Pelangi sudah cukup bahagia.


Beberapa saat kemudian....


Pelangi sudah tertidur, mungkin. Karena dia sudah nampak tenang. Dan hujan diluar juga sudah mulai reda, begitu pula dengan guntur dan kilat yang sudah mulai menghilang.


Arya beranjak dari kursi nya setelah cukup lama dia duduk termenung disana dan memperhatikan kamar Pelangi. Yang memang tidak ada yang spesial. Tapi sejak tadi pandangan matanya hanya tertuju pada satu vas bunga mawar yang sudah layu diatas meja rias Pelangi. Mungkin sejak pulang dari rumah orang tuanya, Pelangi belum sempat mengganti bunga itu.


Arya berjalan menuju ketempat tidur Pelangi. Ingin memastikan jika gadis itu sudah bisa ditinggal atau belum. Arya juga sudah lelah, dan dia ingin beristirahat. Namun ketika tiba didekat Pelangi, Arya mengernyit memandang Pelangi yang berkeringat. Wajahnya masih pucat, bahkan dia nampak menggigil sekarang.


Arya meraba dahi Pelangi. Terasa panas...


Pelangi demam...


Lagi lagi Arya menghela nafasnya dengan berat, jika sudah begini, Arya dibuat bingung kembali. Astaga...


Tapi mungkin dengan mengompres dahinya, panas Pelangi bisa turun. Seperti yang kemarin dia lakukan. Dan akhirnya malam itu Arya tidak bisa beristirahat dengan tenang, karena dia memang berada dikamar Pelangi satu malaman. Mengompres dahi gadis itu dan membiarkan nya tidur dengan tenang.


Pantas saja kedua orang tua Pelangi berkata jika Pelangi pasti akan merepotkan nya jika dia sedang ketakutan. Ternyata memang beginilah yang terjadi. Arya memang dibuat repot oleh gadis ini. Tapi untuk meninggalkan nya, mana Arya tega.


Arya duduk disamping tempat tidur Pelangi. Duduk dibawah ranjang nya yang hanya beralas karpet bulu yang memang Pelangi letakkan disana. Bersandar dengan helaan nafas yang cukup panjang.


Masih tidak tahu harus apa, jika melihat Pelangi yang seperti ini Arya tidak tega. Tapi disisi lain, masih ada Zelina yang menjadi pemilik hatinya.


Lelah sekali jika berada dalam dilema seperti ini.


Nasehat Nara selalu terkenang didalam kepala Arya, tapi kenapa dia sungguh tidak bisa menerima begitu saja???


Entah lah Arya bingung.


Pelangi gadis yang baik...


Dia memang tidak secantik dan se anggun Zelina, tapi Pelangi adalah istrinya sekarang.


Arya sadar jika dia salah karena memperlakukan Pelangi seperti ini. Mengacuhkan nya, mengabaikan nya, memarahi nya, bahkan membentaknya sesuka hati.


Tapi.... Bagaimana cara untuk bisa menerima ini semua????


Arya memejamkan matanya dan kembali menghela nafas panjang.


Fikiran nya yang kusut, dan juga tubuhnya yang lelah, membuat Arya tanpa sadar malah tertidur disana.

__ADS_1


__ADS_2