
Pelangi membuka mata, rasanya masih berat. Tapi dia sudah ingin bangun sekarang. Malam yang dingin sudah terlalui, kini matahari juga sudah mulai terbit, menyinari dan masuk melalui ventilasi udara diruangan itu.
Pelangi menggeliat, tangannya terjulur menyentuh kepala seiring dengan mata yang terbuka, memandang ruangan itu dengan bingung.
Dimana dia sekarang?
Rasanya Pelangi sudah tertidur begitu lama malam tadi.
"Kamu sudah bangun Pel?"
Suara Rangga membuat Pelangi menoleh. Memandang lelaki itu yang baru datang dari luar dan membawa se cup susu ditangan nya.
"Ini dimana kak?" tanya Pelangi seraya beranjak dan sedikit meringis memegangi perutnya.
Ah iya, perutnya. Bukankah malam tadi Pelangi mengeluh sakit perut yang benar benar sakit. Lalu bagaimana dengan anak nya sekarang?
"Kamu diruang perawatan, perutmu kram karena kelelahan dan juga stress" jawab Rangga.
Dia duduk disamping Pelangi dan menyerahkan susu itu pada Pelangi.
"Lalu bagaimana dengan..." perkataan Pelangi terhenti, dia hanya mengusap perutnya dengan ragu. Apalagi ketika melihat wajah Rangga yang terlihat tidak menentu seperti itu.
"Anak kamu baik baik saja. Hanya saja kamu jangan stres dan banyak fikrian lagi. Jika tidak, itu akan berbahaya bagi kandungan kamu" ujar Rangga
Pelangi tertunduk dengan tangan yang menggenggam cup susu yang diberikan Rangga tadi.
"Kenapa kamu tidak bilang jika kamu sedang mengandung?" tanya Rangga. Helaan nafasnya terlihat cukup berat.
Pelangi tertunduk, masih dengan tangan yang mengusap cup susu hangat itu.
"Tidak ada yang tahu kak. Dan kakak orang pertama yang tahu ini" jawab Pelangi.
Rangga langsung menoleh pada Pelangi dengan bingung.
"Lalu pak Arya? Kenapa kamu tidak memberi tahu dia?" tanya Rangga
Pelangi menggeleng pelan.
"Aku takut dia menerima ku karena terpaksa kak" jawab Pelangi
Rangga mengusap wajahnya dengan kasar.
"Pelangi, dia suami kamu. Dia wajib tahu tentang kehamilan kamu ini" kata Rangga
Pelangi menggeleng pelan.
"Nanti jika dia sudah menerima aku sebagai istrinya" jawab Pelangi
"Bagaimana jika tidak?"
deg
Pelangi tertegun. Namun sedetik kemudian dia langsung tersenyum getir dan menggeleng. Perkataan Rangga cukup menghujam jantungnya.
"Dia memang tidak perlu tahu" jawab Pelangi dengan segenap perasaan yang benar benar terasa berat. Tapi apa mau dikata, memang sudah begitu tekadnya. Pelangi akan memberi tahu Arya jika lelaki itu sudah bisa menerima Pelangi sebagai istrinya. Tapi jika tidak, mungkin Pelangi akan pergi dengan membawa anak yang akan menjadi kenang kenangan nya ini.
"Pelangi.."
Rangga benar benar tidak habis fikir dengan jalan fikiran Pelangi.
Pelangi tersenyum dan menggeleng pelan memandang Rangga.
"Tolong jaga rahasia ini kak. Dan jangan fikirkan apapun tentang aku. Aku kuat dan aku sudah yakin dengan keputusan ku ini" ucap Pelangi seraya dia yang meminum susu itu beberapa teguk. Sedangkan Rangga sudah tidak tahu lagi harus bebicara apa. Dia benar benar bingung dengan pola fikir Pelangi. Disaat gadis lain menggunakan kehamilan mereka untuk merebut hati orang yang dicintai, namun Pelangi malah berbeda.
"Bisa tolong panggilkan dokter kak. Aku mau melihat pak Arya. Dia pasti mencariku sekarang" ucapan Pelangi membuat Rangga tersadar.
__ADS_1
"Kamu sudah lebih baik??"tanya Rangga
Pelangi mengangguk
"Baiklah, tunggu disini sebentar" ujar Rangga yang langsung turun dari tempat tidur.
"Kak" panggil Pelangi sebelum Rangga berjalan.
Rangga menoleh dan memandang wajah Pelangi yang masih pucat.
"Terimakasih, dan maaf" ucap Pelangi
Rangga tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Pelangi dengan lembut. Hatinya perih, tapi untuk mengabaikan lagi lagi dia tidak bisa.
"Jangan fikirkan aku" ucap Rangga. Dan setelah mengatakan itu, dia langsung keluar dari ruangan Pelangi untuk mencari dokter serta perawat.
...
Beberapa saat kemudian....
Diruangan Arya..
Lelaki itu sudah terbangun sejak subuh hari tadi. Tidurnya tidak nyenyak. Hatinya dipenuhi oleh rasa khawatir dan juga ketakutan yang mendalam tentang keadaan Pelangi. Sampai pagi ini, tidak ada kabar apapun yang Arya terima dari orang suruhan Reynand yang mencari Pelangi.
Apa mereka tidak bisa bekerja dengan baik?
Kenapa hanya mencari Pelangi saja tidak bisa?
Dan sungguh, fikiran Arya benar benar kacau saat ini.
Dia ingin pergi dan mencari Pelangi sendiri, tapi luka ini benar benar tidak bisa membuat dia berjalan. Bahkan untuk sekedar bergerak pun rasanya begitu sakit. Mungkin karena lukanya cukup dalam, jadi membuat Arya memang harus beristirahat disini tanpa bisa kemanapun.
Sial sekali.
Arya menghela nafas, memandang langit langit kamar dengan perasaan tidak menentu. Kenapa dia bisa sekhawatir ini? Kenapa juga bisa setakut ini?
Apa ini karena pertemuan kita semalam???
ceklek
Pintu yang terbuka membuat Arya tersadar. Dia langsung menoleh kearah pintu, dan tiba tiba jantung nya serasa berdetak begitu kencang, namun hatinya yang terasa begitu lega.
Pelangi...
dia kembali???
Arya terdiam, dia hanya mampu memandang Pelangi dengan wajah datarnya. Hanya hatinya yang mengucap syukur saat melihat Pelangi yang baik baik saja.
Arya bahkan sampai memandang Pelangi dengan lekat, seluruh tubuhnya, dari kepala hingga kaki.
Tapi....
kenapa wajah Pelangi pucat??
Pelangi yang dipandangi seperti itu justru merasa takut. Dia takut jika Arya akan marah karena dia yang menghilang semalaman.
"Pak.." sapa Pelangi. Dia berjalan ragu mendekat pada Arya. Namun Arya hanya diam dan memandang nya saja.
"Maaf, malam tadi saya..."
"Kamu membiarkan saya sendiri disini. Apa seperti itu istri yang baik?" tanya Arya dengan cepat.
Pelangi tertegun mendengar itu.
"Dari mana kamu?" tanya Arya lagi.
__ADS_1
Pelangi tertunduk, dia bingung harus menjawab apa.
"Ob itu sampai saat ini belum ditemukan, apa kamu tidak takut jika dia akan mencelakai kamu lagi?" tanya Arya kembali. Terdengar marah ditelinga Pelangi. Padahal yang sesungguhnya Arya sangat cemas.
"Maaf pak, saya tidak kemana mana. Saya masih berada dirumah sakit ini" jawab Pelangi
Arya mendengus dan langsung memalingkan wajahnya dari Pelangi.
Rasanya kesal sekali. Dia mengkhawatirkan Pelangi, tapi Pelangi sama sekali tidak mengingat dia. Ah kenapa Arya jadi seperti ini??
Mereka terdiam beberapa saat dengan fikiran masing masing. Namun tiba tiba ekor mata Pelangi terpandang pada bubur yang ada diatas meja. Belum tersentuh sedikitpun. Sepertinya Arya belum makan.
"Bapak belum sarapan. Makan dulu ya" ujar Pelangi seraya meraih mangkuk bubur itu dan berdiri disamping Arya.
"Untuk apa memperdulikan saya. Bukankah kamu lebih memilih pergi dari pada menemani saya disini" ucap Arya terdengar begitu sinis.
Pelangi memandang Arya dengan heran.
Apa maksudnya itu???
"Pergi saja sana dan..." perkataan Arya langsung terhenti saat tiba tiba matanya malah terpandang pada punggung tangan Pelangi yang tertempel plaster.
"Kenapa tangan mu itu?" tanya Arya kembali
Pelangi terkesiap, dia langsung menurunkan tangan nya dari mangkuk dan menggeleng dengan cepat.
"Tidak apa apa pak, hanya tergores" jawab Pelangi.
Namun Arya tidak percaya, dia langsung menarik tangan Pelangi hingga membuat Pelangi jatuh terduduk disamping Arya dengan sedikit ringisan diwajahnya. Apalagi saat Arya menarik cepat plaster yang menutupi punggung tangan Pelangi.
"Bekas jarum infus" gumam Arya. Dia memandang Pelangi dengan lekat. Dan memang wajah Pelangi masih pucat.
"Katakan ada apa dengan mu!" ujar Arya
Pelangi menggeleng pelan.
"Tidak apa apa pak" jawab Pelangi
"Pelangi" tekan Arya
Pelangi tertunduk dan menghela nafas dengan pelan.
"Saya kelelahan. Tensi saya rendah, jadi saya lemas dan harus diinfus. Tapi sekarang sudah lebih baik" jawab Pelangi akhirnya. Dan lagi lagi dia harus berbohong.
"Kamu berbohong" tuding Arya
Pelangi menggeleng pelan dan menarik tangan nya dari cengkraman Arya seraya dia yang meletakkan mangkuk bubur di atas meja.
"Tidak pak. Saya tidak berani berbohong" jawab Pelangi tanpa ingin memandang wajah Arya.
"Sekarang bapak sarapan dulu ya, saya sudah sarapan tadi. Ayo saya bantu" ujar Pelangi seraya menopang kepala Arya dengan bantal.
Arya sedikit meringis namun pandangan mata itu memandang lekat pada wajah Pelangi yang nampak berbeda. Atau entah karena selama ini Arya memang tidak pernah memandang wajah ini dari jarak yang begitu dekat.
"Masih sakit sekali pak?" tanya Pelangi
Arya menghela nafas dan menggeleng pelan.
"Kamu tdak menjawab pertanyaan saya" ucap Arya
Pelangi hanya tersenyum dan meraih mangkuk bubur itu kembali.
"Jangan perdulikan saya. Rasa sakit saya tidak sebesar rasa sakit yang bapak alami" jawab Pelangi seraya menyuapkan bubur itu pada Arya.
Dan Arya...
__ADS_1
Dia hanya bisa terdiam mendengar perkataan Pelangi yang terdengar begitu ambigu.