Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Ketakutan Pelangi


__ADS_3

Hari sudah larut malam. Hujan gerimis juga sejak tadi tidak berhenti merinyai. Suasana didalam kamar Pelangi cukup dingin dan sepi. Hingga membuat keadaan begitu lengang dan terasa hampa. Sama seperti hati Pelangi saat ini. Hati yang terasa sepi dan menyimpan harapan tiada henti. Terasa begitu hampa dan terus mendamba. Mendamba seseorang yang sama sekali tidak pernah melihat padanya sedikit pun. Seseorang yang masih begitu tenggelam dalam kenangan masa lalu nya.


Sakit...


Tentu saja..


Siapa yang menyangka jika pria yang dia sukai sejak dulu adalah seorang pria yang sudah tidak lagi memiliki hati. Bukan karena kejam nya, tapi karena hati yang sudah dia berikan pada kekasih nya.


Cinta Arya begitu kuat. Perasaan nya juga begitu dalam. Hingga tidak mampu diselami oleh siapapun yang mencoba untuk mendekat.


Pelangi cukup beruntung, karena tanpa sengaja dia bisa masuk kedalam kehidupan Arya karena kesalahan itu. Ya, begitulah yang dikatakan oleh Reynand dan Nara siang tadi.


Sudah cukup banyak yang mencoba mendekat pada Arya selama beberapa tahun ini. Tapi tetap saja, tidak ada satupun yang terlihat dimata nya. Bahkan Nina, sekretaris cantik Arya pun tidak bisa meluluhkan hati pria berambut gondrong itu.


'Bertahan tapi harus berusaha dan menahan sakit, atau pergi dan lupakan semuanya'


Perkataan Reynand dan Nara masih terus terngiang dikepala Pelangi. Untuk sekarang, dia memilih untuk tetap bertahan. Meskipun bertahan adalah pilihan yang sakit, namun untuk pergi sekarang juga terasa sulit.


Sudahlah, masih ada waktu dua bulan. Semoga dalam dua bulan ini Pelangi bisa sedikit meluluhkan hati Arya. Ya, sedikit, setidaknya agar Arya bisa menerima nya dengan sepenuh hati. Agar Pelangi bisa mengatakan pada ayah dan bunda nya jika dia memiliki suami yang sayang pada nya.


Saat ini Pelangi duduk didepan cermin kecil nya. Duduk memandangi dirinya dengan lekat. Memandangi wajahnya yang memang tidak pernah dihiasi oleh make up dan riasan.


Pelangi tidak terlalu hobi, dia memang feminim, tapi untuk urusan itu dia kurang suka.


Tapi sekarang, sepertinya dia memang harus berubah. Pelangi ingat dengan perkataan Reynand yang mengatai dirinya yang terlalu kampungan. Dan itu membuat Pelangi sedih sebenarnya. Tapi apa yang dikatakan Reynand memang benar. Mengingat bagaimana mereka semua yang terlihat anggun dan elegan. Pelangi memang harus bisa mengimbangi Arya. Setidak nya meski tidak secantik dan se anggun Zelina, dia bisa lebih baik dari yang Pelangi yang lalu.


Pelangi menghela nafas nya dengan pelan, seraya tangan nya yang menarik ikat rambut yang membalut mahkota hitam nya yang panjang. Mahkota yang selalu dia kepang tanpa pernah dia urai. Tapi sepertinya mulai sekarang, Pelangi memang harus merubah penampilan nya.


Ya, dari penampilan terlebih dahulu.


Nara bilang dia memang harus sedikit agresif, namun jangan terlalu memaksa. Selebihnya, akan mereka bantu untuk lebih mendekatkan Pelangi pada Arya.


Meski awalnya takut, tapi Pelangi cukup lega, jika ternyata Nara mau menerima dan membantu nya.


....


Sementara diluar rumah, Arya baru saja turun dari mobil nya. Dia baru pulang dari perusahaan setelah bekerja lembur. Mungkin saja hari sudah dekat jam dua belas saat ini.


Arya sedikit berlari masuk ke dalam rumah. Karena hujan semakin deras mengguyur. Ingin membuka pintu rumah, namun sudah dibuka duluan oleh Pelangi.


Seperti biasa Pelangi menyambut Arya dengan senyum nya yang manis. Padahal hari sudah larut, tapi dia masih saja menunggu disini.

__ADS_1


Arya memandang Pelangi sekilas, seperti ada yang beda dengan Pelangi. Tapi apa???


Sudah lah, apa perduli nya.


"Selamat malam pak" sapa Pelangi


Arya hanya diam dan langsung masuk kedalam rumah. Dia sudah lelah dan dia ingin beristirahat sejenak. Tapi Arya kembali menoleh, saat Pelangi terus saja mengikuti nya kedalam.


"Apalagi, kau tidak lihat ini sudah malam. Aku mau istirahat" kesal Arya


Pelangi tersenyum getir dan menggeleng.


"Saya mau kedapur. Mau buatkan teh untuk bapak" jawab Pelangi


"Tidak perlu" sahut Arya yang langsung meninggalkan Pelangi yang mematung ditempat nya. Lagi lagi dia hanya bisa memandang pedih pada Arya yang sudah naik kelantai atas.


Hanya helaan nafas panjang yang bisa Pelangi keluarkan untuk mengurangi rasa sedihnya.


Namun tiba tiba...


duarrr!!!!


Pelangi terlonjak kaget dan langsung menutup kedua teliga nya saat suara petir begitu kuat menyambar di luar. Bukan hanya sekali, namun berkali kali membuat Pelangi ketakutan. Bahkan hujan dan kilat juga semakin deras dan kuat.


Dia takut, dia tidak suka hujan. Pelangi tidak suka petir dan kilat. Pelangi tidak suka!


Pelangi mengetuk pintu Arya beberapa kali seraya memanggil manggil nama Arya dengan suara yang bergetar takut. Bahkan sesekali dia meringis dan menutup kedua telinga nya karena guntur dan petir yang terus saling bersahutan.


"Pak Arya" panggil Pelangi lagi. Namun sama sekali pintu tidak dibuka oleh Arya.


"Pak" seru Pelangi semakin kuat.


Wajahnya memucat, apalagi dengan petir dan kilat yang semakin besar. Entah kenapa bisa ada petir sekuat ini. Padahal tadi tidak ada.


"Pak Arya" panggil Pelangi.


Ceklek


Pintu terbuka dan menampakkan Arya yang masih mengenakan handuk nya. Mungkin dia masih akan hendak mandi.


"Apa, aku sudah bilang jangan mengangguku!" seru Arya. Wajahnya terlihat begitu kesal.

__ADS_1


"Saya.... saya takut pak" ucap Pelangi seraya memandang Arya dengan wajah memelas nya.


"Takut apa lagi ha?" tanya Arya. Dia sudah lelah, tapi gadis ini masih saja selalu mengganggu nya.


"Takut petir" jawab Pelangi.


Arya langsung mendengus kesal mendengar itu. Bahkan ingin sekali dia menarik rambut gadis ini dengan kuat.


"Jangan bercanda kau. Kurang kerjaan saja. Pergi sana!" usir Arya yang ingin kembali menutup pintu nya. Namun langsung ditahan oleh Pelangi.


"Pak, izinkan saya disini sebentar. Sebentar saja, setidak nya sampai hujan reda" pinta Pelangi.


"Jangan banyak alasan untuk mendekati ku Pelangi. Jangan selalu membuat aku marah. Kesabaran ku tidak sebanyak itu untuk tidak berlaku kasar padamu" geram Arya. Bahkan dia memandang Pelangi dengan pandangan tajam nya.


Pelangi langsung mematung mendengar itu.


"Tapi hanya sebentar pak. Saya benar benar takut" ucap Pelangi lagi. Bahkan matanya sudah berkaca kaca sekarang.


Namun Arya sama sekali tidak mempercayai itu. Dia beranggapan jika Pelangi hanya mencari alasan untuk mendekati nya saja.


"Pergi dari sini atau kau tidur diluar malam ini" ancam Arya


"Pak" lirih Pelangi. Dia memandang Arya dengan begitu memelas. Namun Arya sama sekali tidak perduli. Bahkan dia langsung menutup pintu itu dengan kuat hingga membuat Pelangi memejamkan matanya.


duarrr


Lagi ...


Bunyi petir yang begitu menggelegar membuat Pelangi kembali ketakutan. Dia langsung jatuh terduduk didepan pintu kamar Arya. Meringkuk ketakutan dengan tangan yang langsung menutup kedua telinga nya dengan wajah yang dia sembunyikan dibalik lutut.


"Bunda... Pelangi takut, Pelangi takut" gumam Pelangi terus menerus. Bahkan tubuhnya langsung bergetar ketakutan apalagi dengan petir dan kilat yang saling menyambar begitu kuat diluar sana.


Pelangi tidak suka ini. Bayangan wajah kakak nya langsung terlintas dikepalanya.


Hujan,


petir,


kilat


dan juga....... darah....

__ADS_1


Semua membuat Pelangi ketakutan....


Hingga akhirnya dia menghabiskan malam didepan kamar Arya yang tertutup rapat dan tidak ingin lagi terbuka.


__ADS_2