
Wajah Arya benar benar panik, pucat dan gelisah. Sejak tadi dia hanya mondar mandir di depan ruang operasi Pelangi. Entah sudah berapa ratus kali kakinya melangkah untuk menenangkan hati dan fikiran yang kalut. Mengingat di dalam sana istrinya sedang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka.
Arya sama sekali tidak diperbolehkan untuk masuk kedalam dan menemani Pelangi. Dia di minta untuk menunggu di luar bersama yang lain. Bukan karena tidak di izinkan, hanya saja ketakutan Arya dengan darah dan wajah sakit Pelangi membuat dokter Sandra dan Pelangi sendiri khawatir. Maka dari itu Pelangi rela berjuang sendiri tanpa Arya. Dia tidak ingin suaminya merasa takut apalagi jika trauma itu kembali.
"Nak, duduklah dulu." Suara bunda membuat Arya menoleh sejenak, namun sedetik kemudian dia menggeleng pelan dan kembali melangkah.
"Sudah setengah jam Bun, tapi Pelangi belum keluar." Ucap Arya, benar benar nampak panik dan cemas. Bunda dan ayah sudah bingung harus bagaimana lagi untuk membujuk Arya.
"Iya, memang lama. Duduk dulu ya, bawa tenang dan berdoa. Kalau begini terus, bunda juga tambah panik ngelihat kamu." Ujar bunda. Dia langsung beranjak dari kursi dan mendekat kearah Arya. Menarik lengan menantunya itu dengan lembut dan membawa Arya untuk duduk di kursi bersama ayah.
"Duduk lah Yo. Ayah pusing lihat kamu dari tadi. Kalau vertigo kamu kumat, makin susah nanti." Ucap ayah pula.
Arya menghela nafas panjang dan akhirnya duduk di sebelah ayah.
"Enggak apa apa. Pelangi sama anak anak kamu pasti baik baik saja." Ucap ayah seraya menepuk pundak Arya dengan lembut.
Arya mengangguk pelan, dia benar benar berharap jika Pelangi dan anak anaknya akan baik baik saja dan selamat. Arya sungguh takut saat melihat Pelangi yang tersiksa seperti tadi, bahkan darah sudah mengalir dari **** *************.
Trauma itu masih ada sampai saat ini. Pantas saja Reynand begitu panik saat Nara akan melahirkan dulu. Jika rasanya seperti berada di ambang batas kematian seperti ini.
"Ayah, bunda. Bagaimana Pelangi?" Suara Nara yang baru datang membuat mereka langsung menoleh.
Nara baru tiba bersama dengan Reynand dan juga Zeze. Dia menjemput Zeze terlebih dahulu di rumah Arya.
"Pelangi masih di dalam nak, belum keluar." Jawab bunda.
"Kenapa kamu tidak masuk kedalam Yo?" Tanya Reynand. Dia memandang bingung pada Arya.
"Tidak ada yang memperbolehkan saya masuk." Sahut Arya, nada bicaranya terdengar kesal. Membuat ayah dan bunda langsung tersenyum getir.
"Bukan tidak boleh, cuma bunda yakin kamu bakalan pingsan nanti di dalam." Ucap bunda.
Reynand langsung mendengus tawa mendengar itu, begitu pula dengan Ferdi yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Sudah, enggak apa apa. Memang baiknya kamu di luar. Kamu enggak akan tahan berada di dalam." Ujar Nara pula.
"Aku tidak selemah itu Nara." Sahut Arya, masih saja mencoba untuk berkilah.
"Yo, aku saja yang seperti ini benar benar lemas ketika menemani Nara bersalin. Mengerihkan, maka dari itu aku tidak ingin menambah anak lagi." Ungkap Reynand.
Arya menghela nafas panjang sembari membuka sedikit kakinya saat Zeze mendekat dan duduk di pangkuannya.
"Saya hanya ingin menemani dia berjuang. Dia selalu berjuang sendiri untuk saya sejak dulu." Ucap Arya, terdengar begitu lirih membuat mereka semua memandangnya dengan sedih. Tapi mau bagaimana lagi, jika Arya memaksakan tubuhnya sudah pasti mereka juga yang akan kerepotan nantinya.
"Berjuang dari sini saja ya nak. Berdoa untuk Pelangi. Melihat kamu yang menyambut dia keluar dari ruangan itu saja, pasti sudah sangat bahagia." Ujar bunda.
"Benar, senyum dari suami dan kata kata cinta dari mulut kamu sudah membuat seorang istri bahagia Yo." Sahut Nara pula.
Arya mengangguk pelan sembari memeluk gadis kecil di pangkuannya itu. Sedangkan Reynand langsung menoleh pada Nara dan membisikkan sesuatu di telinganya.
'I Love You '
Nara langsung melebarkan matanya memandang Reynand. Memang tidak tahu tempat dan situasi tuan muda satu ini.
Cukup lama mereka menunggu, hingga di saat Arya kembali panik, terdengar suara bayi dari dalam ruang operasi Pelangi. Suara bayi yang melengking begitu kuat hingga terdengar keluar ruangan itu.
"Dedek bayi!!" Seru Zeze, dia langsung beranjak dari pangkuan Arya dan melompat kegirangan. Begitu pula dengan Arya yang langsung tersenyum haru mendengar suara anaknya yang ternyata sudah lahir.
"Cucu kita udah lahir bun." Ayah pun tak kalah bahagia mendengar suara cucu pertamanya itu.
"Zeze punya teman." Sahut Reynand.
Arya dan Zeze berdiri di depan pintu ruang operasi. Mereka benar benar tidak sabar untuk melihat pintu itu terbuka.
Arya sungguh tidak sabar untuk melihat anak anaknya dan juga istrinya. Hingga tidak sampai setengah jam kemudian, pintu terbuka. Menampakkan seorang perawat yang keluar dan memandang kearah Arya dengan senyum ramahnya.
"Suster, bagaimana istri dan anak anak saya?" Tanya Arya tanpa berbasa basi lagi.
__ADS_1
"Istri dan anak bapak selamat dan baik baik saja. Selamat ya pak, kedua putra bapak sehat dan lucu." Ucap perawat itu.
Arya benar benar tidak bisa menahan rasa haru mendengar itu.
"Bisakah saya melihatnya sekarang?" Tanya Arya.
"Belum pak, kami akan memindahkan istri dan anak bapak ke ruang perawatan dulu. Bapak dan yang lain bisa menunggu disana." Ujar perawat itu.
Arya hanya bisa mengangguk pasrah. Namun ketika mendengar kabar baik itu, hati yang sempat cemas dan panik kini mulai tenang.
Dia berjalan ke arah bunda dan langsung memeluk ibu mertuanya. Menangis haru bagai sehabis menerima sebuah hadiah yang paling indah.
"Bunda, Arya sudah jadi ayah sekarang." Ucap Arya dengan Isak tangis yang tertahan. Dia benar benar tidak bisa menahan air matanya ini. Bahkan Nara pun tidak bisa untuk tidak meneteskan air mata. Dia ikut bahagia melihat kebahagiaan Arya.
"Iya nak, kamu sudah jadi ayah. Kamu harus bahagia, agar selalu bisa bahagiakan anak dan istri kamu ya." Ujar bunda, dia memeluk Arya dan mengusap pundak menantunya itu dengan lembut.
Mereka semua benar benar tidak bisa untuk tidak menahan haru. Apalagi mereka tahu, bagaimana kisah hidup Arya.
Dan Nara, dia yang paling tahu semuanya.
Kini, rasa sakit yang pernah di rasakan oleh Arya sudah berganti dengan kebahagiaan yang tak terhingga.
Meski bukan dengan orang yang sama, namun kebahagiaan itu rasanya memang pantas untuk Arya dapatkan.
Reynand merangkul pundak Nara dan tersenyum lembut pada istrinya. Terkadang, masih ada perasaan aneh di dalam hati tentang semua yang terlihat. Masih selalu terlintas perkataan 'andai saja' di dalam benaknya. Ya, andai saja adik nya masih hidup, mungkin saat ini kebahagiaan itu pasti berbeda.
Tapi kembali lagi, Zelina lebih bahagia di atas sana. Dan disini, adalah jatah Pelangi bersama Arya.
Tuhan tahu yang terbaik.
Mereka semua berbahagia dengan kehadiran Pelangi. Karena dengan adanya Pelangi, semua terasa lebih indah. Terutama untuk Arya.
Pintu yang terbuka membuat Arya langsung menoleh, dia langsung berlari mendekat kearah Pelangi yang sudah di bawa keluar oleh para perawat dan dokter .
__ADS_1
Bahkan tanpa segan dan malu dia menciumi dahi istrinya yang masih pucat itu sembari mengucapkan kata terimakasih yang begitu besar atas semua perjuangan nya. Sementara yang lain, sibuk melihat kedua putra Arya yang masih berada didalam box bayi.
"Terimakasih untuk segalanya sayang, terimakasih sudah berjuang untuk ku dan anak anak kita. Aku mencintaimu." Ucap Arya.