
Suasana di dalam ruang perawatan Pelangi begitu ramai. Ramai dengan suara celotehan Zeze tentunya. Dia benar benar gemas dengan bayi kecil yang sekarang sedang berada di gendongan mommynya. Bayi kecil yang masih merah namun terlihat begitu menggemaskan.
Sejak tadi tangan kecil itu terus mengusap pipi merah bayi Pelangi.
"Siapa nama bayi kalian, Yo?" Tanya Reynand yang juga berada di samping Nara.
Arya memandang kedua anak nya yang berada di pangkuan bunda dan Nara bergantian.
"Iya, siapa namanya nak?" Tanya ayah pula.
Arya kembali memandang kearah Pelangi yang masih terbaring lemas di tempat tidur, wajahnya masih pucat, namun dia sudah terlihat baik baik saja.
"Nama yang sudah kita siapkan sayang?" Tanya Arya.
"Iya, mas." Jawab Pelangi.
Arya tersenyum dan kembali memandang kearah sofa dimana semua orang sudah menunggu dan begitu penasaran.
"Jangan saja nama yang jadul dan aneh. Harus yang keren dan berkelas." Ujar Reynand.
Arya langsung berdecak kesal mendengar itu.
"Ini juga namanya keren, ada doa di dalam nama yang sudah kami siapkan untuk mereka." Sahut Arya.
"Yasudah, jika begitu cepat katakan. Kami sudah tidak sabar." Ucap Reynand. Tuan muda ini benar benar tidak sabaran sekali.
"Bukan upin dan ipin kan uncle?" Tanya Zeze.
Semua orang langsung terbahak mendengar itu. Bahkan ayah benar benar tertawa lucu.
"Jangan dong Ze, masak upin ipin. Botak dong mereka nanti." Sahut bunda.
"Hehe, Zeze bercanda nenek." Jawab Zeze
Nara hanya menggeleng pelan melihat kelakuan putrinya ini. Jika ada Zevanno pasti ruangan ini akan semakin ramai. Tapi sayang, sekarang Vanno sedang pergi bersama opa dan omanya ke luar kota.
"Bukan upin dan ipin sayang, nama dedek bayi yang bersama mommy itu Daffa Aditya Bagaskara." Ucap Arya seraya memandang putranya yang di gendong Nara.
"Dan yang bersama nenek, namanya Daffi Aryasta Bagaskara." Kini Arya beralih pada putranya yang berada dalam pangkuan bunda.
"Daffi," gumam ayah pada cucunya.
"Wah keren, Daffa." celetuk Zeze pula. Nara tersenyum lucu dan sedikit menimang anak lelaki itu. Rasanya jika melihat bayi ini, dia ingin sekali punya anak lagi. Namun sayang, Reynand tidak mengizinkan.
"Lumayan bagus. Lantas bagaimana kalian bisa membedakannya, Yo??? Aku lihat mereka sama saja keduanya?" Tanya Reynand, wajahnya benar benar bingung. Di lihat dari manapun rasanya kedua anak Arya ini memang sama.
Arya menggaruk pelipisnya sejenak sembari tersenyum getir.
"Entahlah, rasanya memang sama. Tapi Daffa adalah kakaknya, dan Daffi adik." Jawab Arya.
"Jika tertukar bagaimana?" Tanya Reynand lagi.
"Daffi memiliki tahi lalat di dekat pelipisnya tuan, sedangkan Daffa tidak." Sahut Pelangi, dia yang paling tahu dengan anak anaknya.
"Wah... benarkah???" Tanya Reynand. Dia langsung menoleh kearah Ayah yang langsung memeriksa wajah cucu pertamanya itu.
"Benar, ada tahi lalatnya. Jadi itu yang membedakan ya." Ucap Ayah
"Iya ayah. Mereka kembar identik, cuma itu yang membuat beda." Jawab Pelangi.
"Keren sekali. Zeze dan Vanno saja tidak terlihat begitu mirip jika tidak diperhatikan. Tapi ini bisa sama." Gumam Reynand begitu kagum.
"Mungkin karena mereka berbeda jenis kelamin, nak." Sahut bunda.
"Iya, benar juga bun." Jawab Reynand.
__ADS_1
"Cepat besar ya dedek Daffa. Nanti kita main bareng bareng, tapi gak boleh nakal kayak kak Shaka dan kak Vanno ya." tiba tiba celotehan Zeze membuat mereka semua langsung menoleh kearah gadis kecil itu.
"Nanti kalau sudah besar, Zeze harus akur sama adik adik ya nak." Ujar Nara
"Tentu mommy, Zeze kan sayang adik. Nanti bisa ada yang Zeze suruh suruh deh." Ucap nya begitu polos membuat semua orang langsung tertawa geli.
"Gawat," gumam Arya
"Mana boleh di suruh suruh sayang, harus bekerja bersama sama dong." Sahut Nara.
"Kan adik, kak Vanno aja sering suruh suruh Zeze sesuka hati." Ungkap gadis kecil itu.
Sungguh, perkataan Zeze benar benar membuat mereka tidak bisa berhenti untuk tertawa dan tersenyum. Rasa bahagia hari ini benar benar lengkap sudah. Arya sangat bahagia dengan semua yang dia dapatkan saat ini.
Rasa sedih yang pernah dia rasa ternyata bisa berganti dengan rasa bahagia yang tidak terhingga seperti ini.
Ze... aku sudah menemukan kebahagiaan ku di sini. Semoga kamu juga bahagia di atas sana ya. Salam rindu dari kami untuk mu.
....
Satu tahun kemudian...
Suasana di rumah Arya benar benar sudah ramai dan penuh. Dekorasi bernuansa putih dengan balon balon yang tersebar disetiap tempat benar benar menambah ramai suasana rumah itu.
Hari ini adalah hari ulang tahun yang ke satu untuk anak kembar mereka. Semua orang sudah berkumpul dan nampak begitu bahagia.
Apalagi semua bisa hadir dalam acara ini. Acara yang di adakan memang untuk berkumpul dan bersilaturahmi karena mereka sudah cukup lama tidak bertemu.
Pelangi tersenyum lucu saat melihat kedua anak nya yang menjadi perebutan orang orang disana. Kini Daffa sedang berada di tangan mama Reynand, para orang tua duduk berkumpul di satu tempat. Ada eyang putri juga di sana. Mereka terlihat berbincang hangat dengan ayah dan bunda.
Sementara Daffi berada di tangan Nara yang di kelilingi oleh Naina dan Gendis. Para nona muda itu terlihat begitu antusias dengan anaknya. Apalagi Naina, dia hanya memiliki satu anak dan itupun sudah remaja. Jadi ketika melihat bayi dia benar benar sumringah.
Sungguh, kebahagiaan yang tiada terkira. Tidak pernah menyangka jika jalan hidupnya akan seperti ini. Dulu, dia sempat menyerah dan tidak ingin membayangkan hal indah bersama Arya, namun kenyataan nya semua ini bisa dia dapatkan setelah dengan perjuangan yang tidak mudah tentunya.
"Sayang... kenapa melamun?" Pertanyaan Arya membuat Pelangi sedikit terkesiap.
Dia menoleh dan langsung tersenyum pada Arya.
"Pelangi nunggu Mia sama kak Rangga, mas. Katanya mereka kan mau datang." Ungkap Pelangi.
"Oh iya, benar juga. Kenapa belum sampai ya, apa mereka pacaran dulu?" Tanya Arya
Pelangi langsung menampar lengan Arya dengan gemas. Bisa bisanya berfikiran seperti itu.
"Apaan sih, mereka itu temenan dari jaman sekolah dulu, ya gak mungkinlah pacaran. Lagian juga tadi pagi Pelangi minta bang Ferdi yang jemput Mia." Gerutu Pelangi.
Arya langsung tertawa kecil dan mencium sekilas dahi Pelangi.
"Bercanda sayang, kamu kayak cemburu aja aku bahas Rangga sama Mia." Sahut Arya
"Cemburu dari mana? Ya ampun, yang ada mas yang cemburu kalau Pelangi sebut nama kak Rangga." Balas Pelangi
Arya berdecak kecil
"Aku memang gak suka kamu sebut nama lelaki lain selain aku," sahut Arya
"Kebiasaan deh mas, kan udah Pelangi bilang, kalau Pelangi itu cintanya cuma sama mas Arya." Ucap Pelangi.
"Beneran?" Tanya Arya.
"Jadi gak percaya nih?" Tanya Pelangi kembali.
Arya tertawa kecil dan langsung merangkul pundak istrinya dengan lembut.
"Percaya sayang." Jawab Arya
__ADS_1
"Ehem... ehem... Apa kami sudah terlambat?"
Tiba tiba suara seseorang membuat Arya dan Pelangi sedikit terkesiap. Mereka langsung menoleh keasal suara, dan ternyata Rangga yang datang, tapi..... kenapa bersama Nina???
"Kak Rangga udah datang," sapa Pelangi
"Iya, maaf terlambat. Tapi jemput Nina dulu." Jawab Rangga.
Arya dan Pelangi langsung saling pandang bingung.
Kenapa panggilan itu sudah berubah???
Arya langsung tersenyum usil memandang Nina yang tampak malu.
"Sepertinya ada udang di balik bakwan ini" Ucap Arya
"Di balik batu kali pak," sahut Nina
"Heh sama saja. Tadi saya minta kamu untuk datang lebih cepat, tapi kamu malah terlambat dan sekarang datang bersama Rangga. Sepertinya saya mencium bau bau tidak sedap sekarang." Ungkap Arya.
Pelangi langsung terkekeh mendengar itu.
"Pelangi!!!" Tiba tiba seruan Mia membuat mereka kembali menoleh. Dan kini mereka kembali memicingkan mata saat melihat Mia yang datang bersaa Ferdi, dan yang membuat mereka aneh adalah, kenapa Mia dan Ferdi memakai pakaian dengan warna yang sama??? Kebetulan kah, atau????
"Hei, aku udah nungguin kamu dari tadi tahu." Sahut Pelangi yang langsung memeluk Mia sesaat.
"Maaf, macet di jalan." Jawab Mia.
Arya hanya diam dan mendekap tangannya di depan dada, dia memandang kearah Ferdi dan Nina bergantian. Ada hal yang tidak beres yang harus dia tahu sekarang. Dua karyawannya ini sepertinya sudah menyimpan sesuatu yang tidak mereka ketahui.
"Siapa yang mau menjelaskan duluan," ucap Arya langsung tanpa basa basi. Membuat Ferdi dan Rangga saling pandang sejenak.
"Menjelaskan apa?" Tanya Mia yang masih terlihat bingung.
"Kami akan menikah seminggu lagi." Ucap Rangga
"Apa!!!" Pelangi dan Mia langsung berseru bersamaan membuat beberapa orang langsung memandang kearah mereka.
"Kak, kamu serius???" Tanya Pelangi
"Beneran??" Tanya Mia pula.
"Iyalah, masak bohongan. Nih undangan nya udah jadi." Jawab Rangga dengan tawa kecil seraya dia yang mengeluarkan sebuah undangan dari dalam saku jasnya.
Arya geleng geleng kepala melihat ini.
"Nina, kamu termakan doa saya ya." gumam Arya
Nina tertawa kecil dan sedikit membenarkan rambutnya yang terurai. Wajahnya merona dan terlihat malu.
"Jodoh kan gak ada yang tahu pak," Jawab Nina
"Iya, kami juga gak mau kalah sama bapak." Sahut Rangga yang langsung meraih tangan Nina dan menggenggamnya dengan lembut.
Mia dan Pelangi benar benar terperangah melihat ini.
"Kamu, apa yang mau kamu kasih tahu sama saya, kamu mau menikah juga?" Kini Arya beralih pada Ferdi yang tertawa canggung.
"Menikah belum pak, tapi saya dan Mia sudah resmi berpacaran." jawab Ferdi.
"Apa!!!!" Teriak Pelangi sekali lagi.
Sungguh, dia benar benar ingin pingsan sekarang.
TAMAT
__ADS_1