Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Kemalangan Arya


__ADS_3

Malam yang dingin dan begitu menyedihkan kini sudah berganti dengan pagi yang menyingsing. Hangat nya matahari juga sudah mulai masuk kedalam rumah untuk menghangatkan tubuh yang masih bergelung di atas lantai. Wajahnya pucat, rambutnya acak acakan tidak tentu arah, penampilan nya kusut dan terkesan berantakan.


Ditangan nya masih menggenggam bunga mawar yang sudah layu bahkan nyaris mati. Sepucuk surat tergeletak begitu saja tidak jauh dari tempat dia terbaring.


Rasa dingin lantai yang hanya dilapisi karpet tipis tidak lagi membuat nya kedinginan. Rasa sakit luka dipinggang nya juga tidak lagi dia rasakan, karena ada rasa sakit lain yang membuat hatinya kembali terbunuh untuk yang kedua kali.


Sakit, terluka dan tidak berdaya. Semua membuat dia lemas serasa tidak lagi bertulang. Disaat perasaan mulai bersemi disaat itu pula dia kembali dihempaskan.


Kali ini bukan lagi permainan takdir. Melainkan karena kesalahan nya sendiri. Kesalahan yang membuat dia kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Tuhan....


Dosa besar apa yang dia lakukan hingga dia harus selalu merasakan kehilangan yang bertubi tubi dihidupnya. Tidak cukupkah sekali saja. Kenapa harus berkali kali???


Dia hanya tidak tahu bagaimana cara untuk sembuh. Dia hanya terlambat menyadari semuanya. Tapi kenapa cepat sekali kehilangan itu datang lagi.


Sungguh ... bisakah dia lebih memilih untuk mati sekarang???


Arya....


Dia mulai membuka mata. Lingkar matanya menghitam, matanya bahkan nyaris sayu dan meredup seperti tidak ada lagi cahaya dan semangat untuk hidup. Tapi nyatanya sampai saat ini Tuhan masih memberikan dia nafas untuk menghadapi kejam nya dunia.


Arya mengernyit, saat memandang dimana dia berada sekarang. Tergeletak dilantai dan masih berada didalam kamar Pelangi.


Dia langsung tersenyum miris.


Kamar Pelangi. Berarti malam tadi bukan lagi mimpi, melainkan sebuah kenyataan??


Arya beranjak bangun dengan sedikit ringisan diwajahnya. Matanya langsung memandang bunga mawar yang dia pegang sejak semalam. Bunga mawar layu yang bahkan nyaris mati.


Arya menempelkan bunga mawar itu dihidung nya. Meski sudah layu namun aroma nya masih terasa menyegarkan.


Dan .... Arya mulai terbuai.


Namun sayang, bunga ini sudah layu dan mati.


Arya terlambat untuk merawatnya, Arya terlambat untuk menyiram nya. Dan Arya terlambat untuk menyadari kehadiran nya dirumah ini.


Arya tertunduk dengan tangan yang meremas bunga mawar itu dengan erat.


Tidak...


Tidak bisa dibiarkan. Pelangi masih ada, Pelangi masih hidup dan Arya masih bisa bertemu dengan nya. Selagi masih ada waktu, Arya akan datang dan menjemputnya kembali.


Mereka masih berada dilangit yang sama. Mereka masih berpijak dibumi yang serupa. Dan Arya masih bisa memperbaiki semuanya.


Arya beranjak dan berlalu keluar dari kamar Pelangi. Dia naik ke lantai atas dengan perlahan lahan. Pinggang sialan ini membuat langkah nya terhambat. Tapi tidak akan membuat dia berhenti.


Arya tidak ingin kehilangan lagi. Tidak!


Dengan cepat Arya membersihkan diri, mengganti pakaian dan langsung keluar rumah. Dia sudah berniat untuk menjemput Pelangi kembali.


Jalanan pagi yang cukup macet tidak membuat langkah Arya terhenti. Dia bahkan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan agar bisa lebih cepat tiba kerumah Pelangi.


Mungkin dia akan mendapatkan kemarahan dari orang tua Pelangi, mungkin dia akan diusir karena sudah menyia nyiakan Pelangi. Tapi tidak apa, itu memang sudah menjadi resiko. Arya memang jahat, Arya memang kejam. Selama tiga bulan ini dia benar benar tidak pernah melihat kehadiran Pelangi didalam hidupnya. Padahal Arya baru menyadari jika Pelangi selama ini sudah mampu mengalihkan perhatian nya dari luka karena kehilangan Zelina.


Ah Ze....


Bahagialah disana ...


Dan biarkan aku menjemput kebahagiaan ku disini. Seperti yang pernah kau ucapkan saat kita bertemu waktu itu.


Dua jam kemudian, Arya sudah tiba didepan rumah orang tua Pelangi. Dengan cepat Arya langsung turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam pekarangan rumah.


Tapi....


Kenapa rumah ini terlihat sepi????

__ADS_1


Arya mengedarkan pandangan matanya kesegala arah. Dan memang rumah itu sangat sepi seperti tidak ada penghuni didalam nya.


Arya masuk kedalam teras. Matanya mengernyit saat melihat pintu rumah yang tergembok dari luar.


Kemana Pelangi dan orang tuanya???


Arya mencoba mengetuk pintu beberapa kali.


Nihil..


Tidak ada sahutan dari dalam sana.


Arya mengetuk kembali, berharap pintu rumah ini akan terbuka dan wajah Pelangi lah yang dia lihat. Tapi sampai tangan nya merasa perih pun, pintu rumah ini tidak juga terbuka.


"Mas cari siapa?"


Tiba tiba suara sapaan seseorang membuat Arya terkesiap. Dia menoleh, memandang seorang wanita paruh baya yang lewat dengan keranjang sayur di tangan nya.


"Dimana orang dirumah ini bu?" tanya Arya


"Oh gak ada mas. Udah pergi dari semalam sore. Katanya mau pulang kampung"


deg


Jantung Arya serasa berdenyut begitu ngilu.


Pulang kampung?


Apa itu berarti mereka akan lama pergi???


"Rumah ini juga sudah di jual mas"


Lagi... perasaan Arya semakin tidak menentu. Kenapa secepat ini???


"Apa ibu tahu dimana kampung mereka???" tanya Arya. Suaranya terasa berat dan tercekat ditenggorokan.


"Saya gak tahu mas, saya baru disini" jawab nya.


Arya menghela nafas berat dan menangguk pelan.


Kakinya melangkah lunglai kearah mobil. Namun sebelum masuk kedalam mobil, dia kembali memandang rumah Pelangi dengan pandangan yang perih.


Pelangi...


Kenapa kamu pergi sebelum Arya mengatakan semuanya.


Kenapa kamu pergi secepat ini???


Arya menghela nafas dan kembali masuk kedalam mobil. Kembali melajukan mobilnya untuk pulang kembali. Karena diapun tidak tahu harus kemana mencari Pelangi.


Mereka menikah sudah tiga bulan. Tapi sama sekali Arya tidak tahu siapa dan bagaimana Pelangi yang sebenarnya. Arya hanya tahu jika Pelangi adalah gadis asing yang masuk kedalam kehidupan nya dan merebut semua perhatian Arya dari Zelina.


Arya tidak tahu siapa istri yang dia nikahi itu.


Ya tuhan...


Rasanya lelah sekali. Lelah hati dan batin. Tubuhnya lemas karena tidak ada makan dan minum sejak pulang dari rumah sakit kemarin. Sudah dua hari terhitung hingga hari ini. Sepertinya Arya akan beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaga sebelum dia kembali mencari Pelangi.


Ya... Arya harus mencari Pelangi dan membawanya kembali.


Pelangi masih ada, dan Arya masih bisa mencarinya.


Dan akhirnya, Arya kembali kerumah. Rumah yang rasanya sudah ada dua luka didalam nya. Jika kemarin dia masuk dengan bayangan Zelina yang menyambut, maka sekarang bayangan Pelangi yang membuat Arya semakin tidak berdaya.


Senyum cerianya yang selalu menyambut Arya pulang benar benar masih terngiang dikepala. Tidak bisa dilupa, bagaimana bahagia nya gadis itu setiap kali melihat Arya pulang.


Arya menghela nafas, dia langsung berjalan kedapur untuk minum sedikit air. Tenggorokan nya sudah mulai kering, perutnya juga sudah mulai lapar.

__ADS_1


Arya mengambil roti dari dalam lemari dan juga segelas air hangat. Duduk sendirian dimeja makan dengan wajah yang lesu.


Lagi lagi bayangan Pelangi membuat hati Arya gelisah. Bahkan dia mengunyah roti ini pun terasa terbayang Pelangi yang selalu mengharapkan makanan sisa darinya.


Arya menggeleng pelan dan meletakkan kembali roti itu diatas meja. Dia meminum airnya dengan cepat hingga tandas.


Lihatlah, baru sehari Pelangi pergi Arya sudah tidak bisa makan dengan baik. Bayangan itu membuat hatinya tidak menentu.


Ah Pelangi... apa jika kamu tidak kembali Arya tidak akan pernah bisa makan dengan baik? Atau apa mungkin Arya akan mati????


Arya beranjak. Kepalanya benar benar sakit. Dia butuh istirahat sekarang. Rasanya lelah sekali.


Tapi bukan nya naik ke kamar, Arya malah masuk kembali kedalam kamar Pelangi.


Memandangi kamar itu dengan perasaan yang sedih. Andai waktu bisa diulang Arya tidak akan mungkin menyia nyiakan Pelangi jika dia tahu akhirnya akan seperti ini.


Arya berjalan kearah lukisan Pelangi yang terletak disamping meja rias. Lukisan taman bunga tulip yang belum sempat dia pajang dirumah ini.


Pelangi benar benar menuruti perkataan Arya yang meminta agar tidak menjual lukisan ini. Dan kini, lukisan ini sudah ada disini.


Menjadi kenang kenangan disaat Pelangi sudah pergi.


Dan perkataan nya memang benar. Hanya jejak dan bayangan Pelangi yang menemani Arya sekarang.


Menyedihkan sekali.


Arya mengusap lembut lukisan itu seraya dia yang duduk dikursi meja rias Pelangi. Harum aroma parfum gadis itu bahkan masih menguar di penciuman Arya. Harum aroma vanila yang menyegarkan.


Arya tersenyum tipis, dia kembali memandangi bunga mawar yang sudah layu. Bahkan air di vas bunga ini juga sudah menguning karena belum sempat diganti.


Semua memang sudah terlambat. Layu dan akhirnya mati.


Tangan Arya tanpa sadar meraba semua perlengkapan Pelangi. Alat alat make up yang sepertinya memang tidak dia bawa. Dan terakhir Arya menarik laci meja itu.


Matanya mengernyit saat melihat kartu kredit yang dia berikan pada Pelangi ada disini. Arya mengambilnya dan memandang pedih kartu itu.


Tidak pernah ada nominal besar yang keluar dari kartu ini. Arya tahu jika Pelangi hanya menggunakan nya untuk berbelanja bahan bahan makanan mereka saja setiap minggunya. Untuk yang lain, sepertinya tidak pernah.


Dan Arya baru menyadari hal itu.


Belum sampai disitu tangan nya menjelajah. Matanya terpandang sebuah amplop cokelat yang ada dibawah kartu kreditnya.


Entah amplop apa. Tapi .... kenapa ada stempel rumah sakit nya disampul amplop ini.


Arya yang penasaran langsung meraih amplop itu. Membuka nya dengan jantung yang kembali bergemuruh hebat.


Jangan bilang jika Pelangi sakit. Jangan bilang jika dia akan menyesal seperti Reynand yang menyia nyiakan istrinya disaat istrnya sedang sekarat.


Tidak... tidak mungkin itu terjadi kan.


Arya menarik isi amplop itu. Ada tiga lembar kertas didalam sana. Dia mengernyit bingung memandang lembar pertama yang dia belum mengerti isi nya. Namun ketika membaca lembar kedua, jantung Arya serasa terhantam sesuatu.


Positif hamil???


Atas nama Pelangi Nur Afsha


deg


deg


deg


"Apa apaan ini" gumam Arya dengan suara yang bergetar, bahkan tangan nya juga ikut bergetar memandangi surat itu.


Apalagi ketika dia melihat tanggal dan hasil usg janin Pelangi. Wajah Arya langsung memucat pasih.


"Tidak .... tidak mungkin" gumam nya dengan tubuh yang langsung terkulai lemas.

__ADS_1


__ADS_2