Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Kedatangan Rangga


__ADS_3

Siang ini Pelangi sedang membersihkan lukisan lukisan nya yang ada didalam kamar. Lukisan yang selalu dia buat dikala senggang dulu. Tidak berdebu, karena bunda menyimpannya dengan rapi. Hanya saja Pelangi sekalian ingin mengenang nya kembali.


Lukisan gambar Arya dan bunga tulip nya. Sebagian besar lukisan Pelangi pasti menyangkut tentang Arya.


Dulu sebelum menikah dengan Arya, Pelangi masih mengagumi lelaki berambut gondrong itu dari jauh. Melukis dirirnya yang selalu ada dibawah pohon dan memandangi taman bunga tulip setiap hari.


Bahkan beberapa potret Arya juga ada dan Pelangi jadikan dalam satu album. Dia begitu mengagumi sosok lelaki itu sejak dulu. Sejak pertama kali melihat Arya.


Pelangi tersenyum seraya mengusap foto foto Arya yang dia ambil diam diam saat datang ke taman bunga tulip itu. Foto Arya sedang melamun tentu nya. Karena Arya memang selalu melamun mengenangkan Zelina saat berada disana.


Helaan nafas Pelangi cukup berat, dia memandang foto Arya dengan lekat. Entah bagaimana cara mengambil hati pria ini jika semua yang dia miliki sudah milik mendiang kekasih nya. Adakah sedikit harapan untuk Pelangi? Entah lah. Yang terpenting, Pelangi harus berusaha dulu.


tok tok tok


Tiba tiba pintu yang diketuk membuat Pelangi terkesiap. Dia langsung menutup album itu dan menoleh ke arah pintu. Dan ternyata bunda yang masuk.


"Nak, ada yang cari di depan" ucap bunda.


"Siapa bun?" tanya Pelangi dengan kenyitan didahi nya. Apa Mia???


"Temen lama kamu. Rangga"


Jawaban bunda membuat Pelangi mematung. Tangan nya yang sedang membereskan lukisan lukisan nya bahkan langsung terhenti.


"Kak Rangga?" gumam Pelangi.


Bunda langsung mengangguk pelan.


"Temui dulu, nanti dibereskan lagi. Bunda udah lama gak lihat dia. Dia bawa banyak makanan tuh" kata bunda dengan senyum lucu nya.


"Masih kebiasaan aja ya bun" sahut Pelangi seraya beranjak dari atas karpet.


Bunda tertawa kecil dan mengangguk.


"Kayak nya masih kayak dulu. Gak nyerah juga. Udah ganteng lagi sekarang" ungkap bunda yang memang sudah mengenal Rangga, sebab selalu main kerumah saat Pelangi masih sekolah dulu.


"Gantengan mana sama pak Arya?" bisik Pelangi


"Ya gantengan Arya. Kalau Arya botak, baru gantengan Rangga" jawab bunda dengan tawa geli nya. Membuat Pelangi juga langsung terkikik geli.


"Bunda ih, bisa aja. Udah ah, Pelangi keluar dulu" pamit Pelangi


"Iya" jawab bunda yang memandang kepergian Pelangi dengan helaan nafas yang cukup berat. Ada yang suka, tapi Pelangi tidak tertarik. Malah menyukai orang yang cukup tinggi dan sulit untuk dijangkau. Cukup sedih sebenarnya jika mengenangkan nasib putri nya ini. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah nasib badan.

__ADS_1


Pelangi berjalan keruang tamu rumah bundanya seraya mengikat rambut nya yang masih lembab, karena dia belum lama mandi. Dan ternyata memang benar Rangga yang datang dengan beberapa kotak makanan di atas meja.


"Kak Rangga" sapa Pelangi.


Membuat Rangga langsung tersenyum dan mengangguk. Senyum tulus yang selalu dia berikan pada Pelangi, namun tidak pernah dilihat.


"Tumben banget kesini. Tahu ya kalau aku lagi dirumah?" tanya Pelangi tanpa sadar seraya dia yang duduk didepan Rangga.


Rangga mengernyit bingung mendengar pertanyaan Pelangi.


"Memang selama ini kamu dimana?" tanya Rangga


Dan kali ini Pelangi yang terkesiap. Dia langsung tertawa canggung memandang Rangga. Kenapa jadi bisa kelepasan sih. Ada ada saja.


"Hehe... kadang kan aku suka main, jadi jarang dirumah" jawab Pelangi dengan senyum getir nya.


Rangga mengangguk, namun dia masih memandang Pelangi dengan bingung. Seperti ada yang disembunyikan oleh Pelanggi. Entah apa.


"Nak Rangga, minum dulu. Terimakasih ya, banyak sekali bawain oleh oleh nya" ucap bunda yang tiba tiba datang dan berhasil menyelamatkan Pelangi dari rasa canggung nya.


"Iya bunda. Udah lama gak kemari. Ini juga cuma bisa bawa makanan ini aja" jawab Rangga


"Ini juga udah banyak. Kerja dimana kamu sekarang?" tanya bunda


Bunda terdiam sejenak seraya dia yang meletakkan teh didepan Rangga


"Taman bunga tulip itu?" tanya bunda


Rangga langsung mengangguk pelan. Sementara bunda langsung menoleh pada Pelangi yang tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Pelangi tidak ingin Rangga tahu sekarang jika dia sudah menikah dengan Arya, bukan karena tidak mau mengakui Arya, melainkan Rangga kerja ditempat Arya dan sudah pasti akan bertemu Arya nanti. Bisa gawat jika Rangga bertanya pada Arya. Arya pasti akan marah pada Pelangi. Dengan Nara saja dia sudah marah besar, apalagi jika karyawan nya tahu. Bisa langsung diceraikan Pelangi.


Astaga...


Mengerihkan sekali jika membayangkan itu.


"Yasudah, bunda tinggal dulu. Kalian nikmati waktu nya ya" pamit bunda


"Iya bun, terimakasih teh nya" ucap Rangga.


Bunda tersenyum sembari mengangguk, dan setelah itu dia langsung pergi meninggalkan mereka berdua diruang tamu.


"Waahh ada bronis lumer. Inget aja kesukaan aku" ucap Pelangi yang langsung meraih kotak bronis diatas meja.


"Inget lah, kamu kan gak pernah berubah dari dulu. Cuma nambah tinggi aja" ledek Rangga. Membuat Pelangi langsung terbahak mendengar itu.

__ADS_1


"Kan udah besar sekarang, ya kali nambah pendek terus" jawab Pelangi seraya memakan kue nya. Namun tiba tiba Pelangi tertegun saat dia merasa perutnya mual memakan kue ini.


"Kenapa?" tanya Rangga yang heran melihat raut wajah Pelangi berubah.


"Bentar kak" pamit Pelangi yang langsung meletakkan kue nya kembali di atas meja dan berlari masuk kedalam kamar.


Didalam kamar mandi nya, Pelangi langsung memuntahkan semua isi perutnya. Rasanya mual sekali. Serasa diaduk aduk dan terasa kram diperut bagian bawahnya.


Wajah Pelangi pucat lagi, padahal dia sudah merasa lebih baik saat bangun tidur tadi, tapi kenapa sekarang malah seperti ini??


Pelangi mencuci wajah dan mengusap nya dengan handuk kecil. Kenapa perutnya mual memakan cokelat itu. Biasanya kan cokelat itu dia paling suka karena memang itu kue cokelat kesukaan nya.


Pelangi tersandar sebentar diwastafel, dan setelah merasa lebih baik. Dia langsung berjalan kembali keluar untuk menemui Rangga. Semoga saja Rangga tidak mendengar suara kesakitan Pelangi.


"Kenapa Pel? Kamu muntah?" tanya Rangga yang cemas, karena dia mendengar. Apalagi saat melihat wajah Pelangi yang pucat.


Pelangi mengangguk pelan dan langsung duduk dihadapan Rangga kembali.


"Aku dari kemarin gak enak badan kak. Masuk angin sama demam. Jadi bawaan nya gak enak terus" ungkap Pelangi seraya bersandar di sofa. Untung saja bunda sedang dibelakang, jadi dia tidak akan panik melihat Pelangi yang seperti ini.


"Udah berobat belum?" tanya Rangga seraya dia beranjak dan pindah duduk ke samping Pelangi.


"Udah kok" jawab Pelangi.


"Makan dulu nih, mana tahu bisa ngurangi mual nya. Aku gak tahu kalau kamu gak enak badan" ucap Rangga seraya mengupaskan buah jeruk yang memang dia bawa taadi.


Pelangi menerima nya dengan senang hati. Karena sepertinya jeruk ini memang cukup enak.


"Enak?" tanya Rangga dengan tawa kecilnya.


Pelangi mengangguk dan terus menikmati buah dari Rangga.


"Kamu udah kayak orang hamil aja" ucap Rangga tanpa sadar.


Namun ucapan itu malah membuat Pelangi langsung terdiam, bahkan dia sampai mengulum buah yang ada didalam mulut nya.


Hamil???


Apa benar???


Kenapa Pelangi jadi takut sekarang.


Dia memang sudah telat menstruasi seminggu ini. Dan jika dia memang hamil, bagaimana???

__ADS_1


Oh tidak, jangan dulu!


__ADS_2